
Satu-persatu turun keluar dari jet, langsung melewati jalur darurat agar tidak terganggu bertemu banyaknya wartawan.
Di dalam rumah sudah ramai, Calvin langsung mencari keberadaan Mamanya yang duduk diam menatap suaminya.
"Ma, Calvin pulang." Tangan Calvin mengusap lengan Mamanya.
"Sudah sampai semuanya nak, ganti baju. Di mana cucu Nenek?"
Diana mengandeng tangan Putrinya, meminta Isel, Gion dan Ian mendekati Oma. Menghibur Omanya agar kuat setelah ditinggal Opa.
"Opa, kenapa Opa tidur di situ?" Isel menatap wajah Kakeknya. Memeluknya yang sudah tertutup.
Gemal yang melihat Putrinya hanya bisa meneteskan air matanya, mendekati Neneknya sambil memeluk erat.
Aliya melihat Putranya, Juna langsung berdiri. Memeluk Maminya sangat erat, Altha mengusap kepala Putranya.
Tika mencium tangan Juna, langsung memeluknya. Tika sangat merindukan Kakaknya yang bertahun-tahun tidak pulang.
Juna langsung menggendong Ria, mengusap kepala Juan yang sudah memeluk pinggangnya.
Suasana sedang berduka, tidak ada yang bisa melepaskan rindu. Suara tangisan Nenek terdengar, Isel yang mendengar langsung berlari ke arah Aliya, meminta digendong.
Selesai semua acara, Nenek masih memeluk putranya. Berat baginya kehilangan suaminya yang sudah puluhan tahun hidup bersama.
Secara tiba-tiba Nenek jatuh pingsan, tidak mengatakan apapun. Calvin menahan Gemal yang ingin menggendong Neneknya.
"Astaghfirullah Al azim, Mama. Ma ... Ma, setidaknya ucapan satu kata perpisahan untuk Calvin Ma." Tangisan Calvin pecah, memeluk Mamanya.
Diana langsung mendekat, memegang tangan. Mencari detak jantung, hembusan nafas juga tidak terasa lagi.
Saat Nenek menarik nafas, lalu menghembuskan terakhir kalinya bernafas. Ingin hidup semati dengan suaminya.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun." Di menatap seluruh keluarga.
Tangisan langsung pecah, Mam Jes teriak histeris. Gemal sama terpukulnya, menggenggam tangan Neneknya.
Waktu begitu kejam, diambil langsung melangkah keduanya. Tidak ada kata perpisahan, Nenek hanya mengatakan ingin ikut suaminya.
Tubuh Calvin melemas, langsung melangkah mundur. Duduk di kursi, sambil tertunduk menangis.
__ADS_1
"Gemal, Hendrik, Genta dan kamu Arjuna. Bagi tugas, Gemal bicara dengan wartawan, Juna yang pimpin jalan ke tempat pemakaman, Hendrik atur semua persiapan. Sedangkan kamu Genta kawal semua pengawal untuk menjaga keluarga saat perjalanan ke pemakaman." Calvin masih tertunduk, menarik nafas. Dadanya terasa sesak, harus memakamkan kedua orangtuanya sekaligus.
Kepala Gemal masih tertunduk, air matanya terus menetes, begitupun dengan Hendrik yang belum bisa bergerak, tinggal bersama Nenek dirinya merasa sosok ibu, sekarang ditinggalkan secara bersamaan.
Tangan Genta juga gemetaran menahan air matanya, menyembunyikan kehancuran. Saat mendapatkan kabar Kakek sakit, dirinya langsung pulang, tapi ternyata saat tiba, kabar duka yang didapatkan.
Melihat semuanya masih berdiri, Calvin langsung mendekat. Memeluk bersamaan ketiga Putranya yang langsung meneteskan air mata, merasa sangat kehilangan.
"Kalian masih mempunyai Papa, jangan berlarut dalam kesedihan. Jalanan tugas terakhir kalian sebagai cucu." Calvin menepuk pundak, Gemal, hendrik dan Genta.
Calvin langsung memeluk Juna, bisa merasakan kesedihan dari sentuhan Juna, tapi dia menunjukkan sisi kuatnya.
Segala persiapan dilakukan, dua jenazah sekaligus yang harus Calvin antar. Hancur, sangat hancur hatinya. Tetapi kedua orangtuanya bahagia, dipersatukan dunia akhirat.
Tatapan Mam Jes melihat suaminya yang menatap langit, sejak kecil Calvin selalu diajarkan untuk melihat langit.
"Tidak ada yang tahu batas usia seseorang, iya aku percaya." Calvin bicara dengan hatinya, mempertanyakan sekuat apa dirinya tanpa Papa disisi-Nya, tanpa Mamanya juga.
Tangan Dimas merangkul, dirinya pernah mengalami apa yang Calvin rasakan saat ini. Bedanya Ayahnya meninggal karena mengalami kecelakaan, tapi di hari yang sama Ibunya juga meninggal bunuh diri.
Hari itu dunia Dimas hancur, dirinya belum paham kejamnya dunia, sampai akhirnya bertanya kepada langit, sekuat apa dirinya.
"Dulu aku harus hidup demi adikku Dika, kamu juga harus hidup lama, sehat agar bisa menuai bersama istri, anak, menantu juga cucu." Air mata Dimas juga menetes.
Kepala Calvin mengangguk, meminta seluruh keluarga berkumpul untuk mengiringi kepergian jenazah.
"Di mana Shin?" Calvin melihat Atika.
Tika langsung berjalan mendekati, membisikkan jika Shin memiliki trauma soal kematian, dia tidak bisa melihat kabar duka.
"Sekarang Shin ada di mana? apa di kamar?" Calvin berbicara pelan.
Tangan Tika menunjukkan ke arah atas Mansion, tempat pemberhentian jet pribadi. Shin tidak turun dari bangunan.
Alarm keberangkatan terdengar, ribuan orang yang melihat langsung keluarga Leondra kehilangan generasi ke empat yang sudah berpulang.
Seluruh keluarga mengiringi sampai ke pemakaman, keamanan sangat ketat membuat tidak ada orang yang bisa melihat proses pemakaman.
Hampir satu jam, bunga akhirnya ditabur. Gemal menatap pemakaman setiap generasi yang dimakamkan bersama pasangan.
__ADS_1
"Ma, sekarang sudah bahagia, Papa juga sudah bahagia bisa bertemu Mama juga keluarga yang lain." Calvin menaburkan bunga.
Gemal membawa Putrinya untuk mengucapkan perpisahan bersama Oma dan Opa, Gemal berjanji dirinya akan sering berkunjung, membawa anak-anaknya untuk mendoakan.
"Papa, di sini banyak bukit." Isel menatap sekelilingnya.
"Bukan bukti sayang, ini namanya pemakaman." Mam Jes tersenyum melihat Isel yang tidak mengerti.
Hujan turun deras secara tiba-tiba, tidak ada satupun keluarga yang beranjak meskipun diguyur hujan sangat lebat.
Anak-anak juga mandi hujan, Ria sangat senang terkena hujan. Keheningan masih terasa, tangisan terdengar sesenggukan di bawah derasnya air hujan.
Satu-persatu meninggalkan makam, langsung kembali ke Mansion yang masih ramai. Senyuman Calvin terlihat, menepuk dadanya benar-benar berusaha melepaskan.
"Selamat jalan Mama, Papa. Sekarang Calvin menjadi yatim, tetapi hidup Calvin tidak akan kesepian." Air mata yang mengalir di pipi langsung ditepis.
Jessi memeluk lengan suaminya, tangan Calvin mengusap kepala istrinya yang pastinya juga merasa kehilangan yang sama besarnya dengan Calvin.
***
Berjam-jam Shin menatap orang-orang yang berkeliaran di bawah, dirinya bisa melihat semuanya, bahkan persiapan keberangkatan jenazah.
Dari pergi hingga kembali, Shin memperhatikan semuanya. Tika menepuk pundak Shin, Papa Calvin meminta Shin untuk bergabung bersama.
"Kenapa kamu takut kematian Shin?"
"Kakak meninggal di depan Shin," jawab Shin singkat.
Tika langsung duduk, mengusap punggung sahabatnya. Menghargai trauma Shin, dan tidak akan mengungkitnya.
Keduanya menatap langit, Tika melihat Genta lagi setelah tiga tahun. Pria yang membawa dirinya dan Shin hampir mati, ternyata anak angkat Papa Calvin.
"Kenapa kamu terlihat kecewa? apa dia semakin tampan?" Shin penasaran dengan Genta setelah tiga tahun.
"Tentu ada perubahan, dia bertambah tua." Tika menjulurkan lidahnya.
Bibir Shin langsung manyun, sudah tiga tahun Shin belum juga bertemu suaminya. Padahal Shin sudah siap dilamar.
"Apa yang kalian berdua lakukan?" Gemal meminta Shin bergabung bersama keluarga.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira