
Anak-anak sudah terlelap tidur, Altha sudah memindahkan Ria, dan Tika. Juna juga sudah membawa Juan dan Dean tidur.
Helen dan Yandi juga sudah pamitan pulang, Dika dan Salsa juga memutuskan untuk pulang karena mereka harus kerja pagi.
Hanya masih ada Dimas dan Anggun, Altha Aliya, Calvin Jessi dan dua bucin yang sibuk mengobrol berdua.
Aliya membawakan minuman hangat, menatap Diana yang berdebat pelan dengan Gemal.
"Di mana mobil kamu Di? kata Dika kamu meninggalkan mobil, lalu pulang sama siapa?" Tanya Dimas yang memperhatikan putrinya sibuk sendiri.
"Kamu punya pacar Di?" Alt juga penasaran, karena Diana sempat di dekati oleh dokter baru di rumah sakit.
Diana tersenyum, menatap Gemal yang harus menjelaskan kepada keluarganya siapa pria yang Di temui.
"Siapa pria yang mendekati kamu? baru ditinggal satu bulan sudah tebar pesona." Gemal menggeleng kepalanya, sungguh tidak percaya.
"Dia dokter ahli jantung, dan sempat bertemu beberapa kali di seminar." Di tidak tahu banyak soal Alber.
Suara keduanya berdebat terdengar, mengabaikan para orang tua yang menunggu jawaban soal hubungan keduanya.
"Kalian berdua sudah cukup dewasa, Diana sebentar lagi 28tahun, dan kamu Gemal juga sudah 26tahun. Kenapa masih sibuk berdebat?" Anggun menyerahkan minuman untuk suaminya.
Diana memonyongkan bibirnya, seharusnya Mommy tidak menyebutkan usia. Terlihat sekali Diana lebih tua dari Gemal.
"Diana pergi bersama Gemal, kita tidak sengaja bertemu." Di ingin menjelaskan soal ucapan Dika.
"Dan kita sudah pacaran, lebih tepatnya aku akan segera melamar." Ucapan Gemal singkat padat dan jelas, tanpa basa-basi.
Kerutan kening Dimas terlihat, Gemal tidak semudah itu untuk mendapatkan putrinya. Sekalipun Dimas mengenal baik Gemal.
Calvin meminta maaf kepada Dimas dengan sikap Gemal yang bicara spontan, tanpa menyaring ucapnya.
Tanpa mengurangi rasa hormat, dan dengan menjaga kehormatan Diana dan keluarga. Calvin mewakili Gemal ingin meminang Diana.
"Aku tahu setiap ayah berat melepaskan putrinya, tapi izinkan kami juga menjaga putri keluarga Dirgantara selayaknya putri kami." Ucapan Calvin lebih jelas, dan penuh wibawa.
Cara bicaranya tenang, dan menunjukkan sopan santun sebagai keluarga terhormat dan dihormati.
"Apa ini lamaran?"
"Bukan Dim, kami hanya menyampaikan niat baik kami. Jika mendapatkan izin, Gemal dan keluarga akan melamar."
Dimas terdiam, menatap Diana dan Gemal yang tersenyum melihat cara bicara Calvin yang di dugaan.
__ADS_1
"Boleh aku tahu tujuan kalian pindah ke sini?"
Senyuman Calvin terlihat, menatap istrinya yang hanya menunjukkan senyuman manis dan meminta suaminya yang menjawab.
Sebenarnya Calvin tidak sepenuhnya pindah, dia memiliki pekerjaan yang bisa ditinggalkan. Terkadang harus kembali ke negaranya, bisa juga menetap lama di sana, bisa juga lama di sini.
"Aku tidak berniat sombong, tapi sebagai generasi keempat, aku memilih tugas dan kewajiban. Tapi di sisi lain aku seorang ayah dan suami." Calvin tidak ingin mengambil kehidupan Gemal, dan memaksanya untuk menjadi seseorang yang baru.
Alasan pertama pindah, pastinya karena Gemal. Puluhan tahun tinggal terpisah setidaknya Calvin ingin merasakan tinggal satu hari, tahun atau sepuluh tahun mungkin sampai menutup mata bisa menghabiskan waktu bersama.
Keduanya karena keinginan Jessi, dia merasakan kehidupan seperti istri orang lain yang memiliki kebebasan. Dan mempunyai banyak teman.
"Sayang, Jessi memiliki alasan lain."
"Apa alasan kak Jes?"
"Sebenarnya penjelasan Calvin benar, tapi lebih tepatnya aku ingin dekat dengan menantu dan menanti cucu lahir." Senyuman Jessi terlihat.
Karena Diana Putri satu-satunya, Jessi tidak ingin menguasainya seorang diri, dengan rumah berdekatan bisa bersama-sama tidak kehilangan anak, tetapi menambah anak.
"Ucapan kak Jes benar, Anggun setuju."
"Ma, membuat anak tidak mudah. Bagaimana jika lama seperti Mama? apa Gemal juga harus menambah istri?" Kedua tangan Gemal menutup telinganya, seluruh perempuan berteriak.
"Jika istrinya model kamu, belum masuk istri muda sudah hilang kepalannya." Tawa Gemal terdengar meminta maaf.
"Jangan main-main Gemal, kamu tidak tahu sakitnya menikah dengan wanita yang tidak dicintai." Tatapan mata Calvin tajam, bercanda Gemal tidak pada tempatnya.
"Benar, aku tahu sakitnya. Pulang ke rumah saja malas." Alt menutup mulutnya keceplosan, Aliya sudah menganga melipat tangan di dada.
Anggun sudah tertawa, melihat Aliya memukul Altha yang bicara tidak cintanya sangat besar.
"Itu dulu sayang, sekarang sudah cinta mati, kamu wanita satu-satunya." Altha merangkul Al yang sudah emosi.
"Aku mencintai dua wanita yang hadir dalam hidupku." Dimas memalingkan pandangannya, tidak berani melihat istrinya.
"Oh, jika dia kembali dan mengatakan aku masih mencintai kamu, lalu kamu akan menikahi dia. Apa sampai detik ini aku masih yang kedua?" Anggun langsung berdiri langsung berlalu pergi.
Dimas langsung memeluk istrinya, Dimas berani bersumpah jika dia sangat mencintai Anggun. Apa yang dia bicara bukan membandingkan, tetapi hanya mengatakan perasaan awal bertemu.
"Sayang, kamu tidak boleh meragukan cinta kak Dimas. Aku tidak mungkin melepaskan pasangan yang sudah sempurna."
Anggun duduk kembali, memaafkan Dimas asal tidak mengulangi ucapannya.
__ADS_1
"Lucu, Papa punya dua istri, pak Altha juga dua, pak Dimas juga dua, lelaki memang selalu unggul." Gemal bertepuk tangan, langsung menutup wajahnya menghindari tatapan mematikan.
"Kenapa? kamu ingin mencoba dua juga. Aku bisa membawa lima lelaki ke dalam kamar kamu." Di tersenyum sinis.
Gemal menganggukkan kepalanya, dia setuju Diana membawa empat lelaki, satunya lagi harus perempuan.
"Kita buat lima anak." Tangan Gemal menunjukkan lima jari.
"Jika kamu bisa hebat Gemal, karena keluarga kita hanya bisa memiliki satu keturunan."
"Kenapa? Gemal tidak percaya mitos."
Calvin juga saat masih muda tidak percaya, tapi kenyataannya dia tidak bisa memiliki anak meskipun sudah melakukan banyak cara salah satunya bayi tabung dan mencoba menyimpan sel telur untuk dibuahi.
"Papa yakin, tidak seru sekali jika hanya satu."
"Urusan anak jangan dipikirkan, tidak ada yang tidak mungkin selama berusaha dan berdoa."
Calvin melanjutkan ucapannya yang sempat tertunda untuk hubungan Gemal dan Diana. Calvin berharap keduanya tidak memutuskan untuk berpacaran lama.
"Anggun setuju, jika bisa percepat nikah. Benar tidak Di?"
"Lalu bagaimana soal dokter yang mengejar cinta Diana?" Aliya mengingat namanya.
"Delta Alber, dia dokter baru di rumah sakit. Delta seorang duda beranak satu, dan kabarnya dia pindah karena perceraian."
"Tuan Calvin mengenal Delta Albar?" Di tidak pernah menyebut nama Delta.
Calvin menganggukkan kepalanya, tidak mungkin dia tidak mengenal bawahannya. Orang-orang yang bekerja di rumah sakitnya.
Diana menelan ludah, calon mertuanya pemilik dari rumah sakit. Calvin memang pria misterius yang statusnya tidak bisa diduga.
Aliya juga kaget, karena setahu mereka tidak ada yang mengenal pemilik rumah sakit yang katanya hanya seorang dokter biasa.
"Kak Alin, terima saja. Lumayan bisa bolos kerja."
"Nona Aliya, segera kirimkan laporan saham, karena kami tidak bisa bekerja dengan perusahaan yang lambat."
Al menatap tajam Calvin yang bukan hanya berkuasa di negaranya, tapi juga di berbagai negara.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1