
Kabar kepulangan Papa Calvin dan Mam Jes tanpa kejelasan, Gemal memutuskan untuk menyusul bersama Genta, Shin dan Atika. Mereka ingin menangkap Lian yang menjadi dalang utama penculikan Shin.
Diana tidak bisa ikut karena kedua Putranya sedang dalam pembelajaran ketat, berbeda dengan Putri semata wayangnya yang tidak ingin sekolah khusus.
"Kak Gem, lebih baik Rindi juga dibawa. Bisa saja dia membantu, dan menjadi jalan untuk memecahkan misteri Shin." Di berbisik pelan kepada suaminya yang menghubungi Kakaknya.
"Bagaimana dia bisa bermanfaat sayang? lihat saja tingkahnya yang seperti anak-anak."
"Kak, dia memang tidak normal, tapi memiliki ingatan yang sangat kuat, selama bisa memancingnya bicara kita bisa mendapatkan banyak informasi." Di meminta Genta juga mendekati Rindi yang bisa mengingat kejadian sejak usianya tujuh tahun.
Sebelum Genta lahir, Rindi sudah lahir lebih dulu. Dia memiliki keterbatasan khusus sejak bayi, dan memiliki keistimewaan yang dimanfaatkan oleh banyak orang.
"Rindi, kamu juga ikut kita ke luar negeri." Gemal memintanya bersiap.
"Aku harus memberitahu suami, selamat tinggal kawan." Rindi ingin pergi menemui Arjuna.
"Teman, hati-hati di jalan." Isel melambaikan tangannya.
Diana yang melihat Putrinya menatap sinis, Putrinya sama gilanya seperti Rindi yang hanya tahu bermain.
Langkah Rindi mundur, berlari kencang bersembunyi di belakang Isel yang kebingungan melihat Aliya datang bersama Ria yang cemberut.
"Dia Aliya, aku takut." Tangisan Rindi terdengar.
"Jangan takut teman, Mami Aliya baik. Hanya saja dia monster." Isel berlari mengambil pedang.
Ria yang melihat Isel ingin berperang melemparnya menggunakan buah apel yang dibawanya, sampai Isel terhentak jatuh akhirnya menangis histeris.
Rindi yang melihat Isel disakiti langsung berlari ke arah Ria, tatapan mata Ria tajam langsung berlari kejar-kejaran dengan Rindi yang sudah mengamuk.
Tawa Ria terdengar, menjambak-jambak rambut Rindi, menariknya kuat. Aksi bergulat terjadi, Aliya berjalan mendekat menarik telinga Ria sampai teriak histeris.
"Tidak bisa satu hari saja tenang, kamu diminta memanggil Tika tapi hilang, sekarang bertengkar. Aku bisa gila, ini lagi perempuan dari mana? sudah tua tingkahnya kekanakan." Al menatap tajam Rindi yang bersembunyi dari Aliya.
__ADS_1
"Kak Rindi, teman Isel." Ghiselin membantu Rindi berdiri.
Gemal memijit kepalanya, melihat kekacauan rumahnya seperti melihat banyak orang-orang aneh.
Suara langkah kaki menuruni tangga terdengar, Isel berlari memperkenalkan temannya kepada Kedua Kakaknya yang hanya tersenyum tipis.
"Kenapa teman kamu tua sekali, Isel?" Ian mengusap kepala Adiknya untuk pergi dari pembicara orang tua.
"Memangnya kita berteman harus sesuai umur Kak?"
Ian tersenyum, mencium tangan Aliya dan yang lainnya diikuti oleh Gion yang hanya diam saja karena banyak angka di kepalanya setelah belajar dengan Ian.
"Berteman memang tidak pandang usia, tapi harus bisa membedakan sopan santun karena orang yang lebih tua harus dihormati, dihargai bukan hanya menemani kamu bermain." Ian memintanya mengikuti dirinya ke perpustakaan untuk belajar.
"Kawan, mau ke mana?"
"Isel belajar dulu bersama Kak Ian, nanti kita main lagi." Isel melambaikan tangannya, naik ke punggung Ian minta digendong.
"Kakak sudah tua, Kenapa berteman dengan Isel? apa kalian sama-sama gila? keluarga ini semakin aneh." Gion geleng-geleng kepala, mengacak-acak rambutnya mengikuti Ria yang meminta Gion membantunya.
"Kak Di, apa dia ...."
"Iya, dia anak kecil yang dulunya membocorkan rahasia King dan Melly." Di meminta Rindi santai saja melihat dirinya dan Aliya.
"Apa dia tahu soal kematian Maminya?"
"Entahlah, itu tidak penting. Gemal, Genta dan Shin akan pergi ke tempat Papa Calvin, dan minta keamanan di sini tiga kali lipat, terutama anak-anak." Di menatap Al yang cukup kaget karena tidak tahu apapun yang terjadi.
Atika keluar dari ruangan pribadi Diana, meminta semuanya langsung ke bandara. Tika sudah mengetahui keberadaan Papa Calvin, bahkan Lian sekalipun.
Mereka tidak punya banyak waktu, Tika ingin mempercepat semuanya selesai. Tika juga sangat yakin, jika Melly ada di sana bersama Irish.
Soal Liana, Genta sudah mengirim beberapa orang untuk mengawasi. Bawahan Melly juga masih aktif melakukan pencarian Rindi maka pilihan terbaik jika Rindi tetap berada di sisi Tika dan Shin.
__ADS_1
"Kak Gem, aku rasa cukup aku yang pergi. Tolong awasi Liana, kita tidak tahu rencana apa yang dia siapkan." Genta merasa tidak tenang jika Gemal juga ikut pergi.
"Kamu yakin Gen, ada Shin dan Tika yang harus dilindungi." Bagi Gemal keselamatan jauh lebih penting dari misi apapun.
"Tunggu dulu, sebenarnya ada masalah apa? kenapa aku tidak tahu apapun?"
"Shin dan Genta dua bersaudara kandung, dan kasus kematian orang tua Genta juga penculikan Shin orang dalam keluarga Leondra." Gemal bicara tegas tanpa menutupi hubungan Shin dan Genta yang ada hubungan darah.
Tika yang mendengar bagai tersambar petir, ponsel yang dipegang juga sampai jatuh. Betapa bodohnya dirinya yang bisa tidak mengetahui hubungan dua Kakak Adik, bahkan Tika cemburu dengan Shin yang ternyata adik kandung Genta.
"Dua bersaudara, ya Allah. Beratnya ujian kalian berdua, cepat selesaikan masalah ini jangan ditunda-tunda lagi." Al menatap sedih Shin namun ada bahagia juga karena Shin memiliki seorang Kakak.
Senyuman Shin terlihat menatap Tika yang pucat, mengusap wajahnya sendiri yang tidak peka sama sekali. Bibir Tika cemberut, duduk di lantai menyalahkan dirinya sendiri yang bodoh.
"Kenapa kamu Tika?" Di menatap Tika yang sedih.
"Aku tidak tahu, makan berdua, tidur berdua, ke mana-mana berdua, tapi Atika tidak tahu. Aku berpikir Om tua menyukai Shin." Tika menghela napasnya kesal.
"Aku memang menyukainya sebagai adik, apa kami terlihat menyukai berlebihan?" senyuman Genta terlihat menatap Tika yang mengerutkan keningnya.
Kepala Tika geleng-geleng, berdiri memeluk Maminya karena hatinya hancur melihat sahabatnya menyembunyikan rahasia besar hidupnya, tapi Tika lebih marah kepada dirinya sendiri yang tidak punya kepekaan sama sekali.
"Atika bodoh sekali Mi,"
"Kenapa juga kamu harus tahu? memangnya kamu suka Genta?" Al mengerutkan keningnya menatap tajam Putrinya.
"Tika pikir orang gila hanya Isel dan Rindi, dan yang stres hanya Ria, tapi ternyata salah. Atika juga." Senyuman Tika terlihat, dirinya sudah gila jika sampai menyukai Genta.
Gemal tertawa, Atika belum tahu rasanya memakan ucapan sendiri. Diana juga dulu mengatakan tidak akan mencintai dirinya, tapi kenyataannya dapat tiga anak.
Ucapan, hati dan pikiran tidak akan pernah sejalur, pasti akan melebar ke tempat lain. Menjaga ucapan lebih baik, daripada mengutarakan ketidaksukaan.
"Kak Gem, Tika pernah mencintai menggunakan hati, tapi hasilnya sakit yang diterima. Sekarang Tika akan menggunakan logika, agar tidak tahu rasanya sakit hati." Senyuman manis Tika terlihat, menatap sinis Genta dan Shin yang membohonginya.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira