
Hujan turun rintik-rintik, seorang pemuda berlari sambil menarik kopernya. Membuka mobilnya yang memang sudah terparkir di bandara.
Mobil melaju pergi, melewati jalanan yang macet karena jam pergi kerja, juga hujan rintik-rintik.
Langit panas, tetapi hujan gerimis. Kondisi Juna sama dengan cuaca yang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Arjuna terpaksa pulang tanpa pemberitahuan, karena sebuah alasan. Dirinya bahkan tidak mengabari keluarganya.
Wajah Juna terlihat banyak pikiran, bekali-kali mengusap wajahnya. Mobilnya akhirnya bisa berjalan bebas setelah melewati macet.
Tatapan Juna melihat seorang wanita tua yang berjalan tertatih setelah dibebaskan secara bersyarat, pintu mobil Juna terbuka langsung berjalan mendekat.
Pandangan wanita tua di depan Juna melihat ke arah pintu lapas, setelah mendapatkan kurungan puluhan tahun, dirinya dibebaskan karena penyakit.
Tubuh Citra berbalik, menatap Juna sudah ada di depannya. Senyuman Juna terlihat, langsung memeluk Mamanya yang meneteskan air matanya.
"Arjuna, kamu sudah pulang?" tangan Citra mengusap punggung Putranya.
Citra melihat kearah mobil, berharap bisa melihat putrinya Atika yang sudah berusia dua puluh tahun, Citra tidak pernah melihat Tika sekalipun.
"Maafkan Juna datang sendirian, nanti aku akan memberitahu Tika." Juna merangkul Mamanya untuk masuk ke dalam mobil.
Tangan Citra menahan Juna, tidak mengizinkan Arjuna memberitahu adiknya soal kebebasan Citra. Hidup Tika sudah bahagia, tanpa harus mengenal dirinya.
"Juna, terima sudah datang Nak, kamu boleh pergi Juna, biarkan Mama menjalankan hidup sendirian." Citra memohon kepada Juna agar tidak mempedulikan dirinya, bisa melihat Juna saja lebih dari cukup.
Kepala Juna menggeleng, dirinya berkewajiban menjaga dan melindungi Mamanya. Dirinya bahkan melakukan penerbangan secara tiba-tiba, saat pengacara Anggun menghubunginya.
"Ma, izinkan Juna melindungi Mama, karena dulu Juna tidak bisa melakukannya. Maafkan Juna yang belum bisa berbakti, tapi mulai hari ini Mama punya Juna." Senyuman Juna terlihat, menutup kepala Mamanya agar tidak terkenal hujan.
Air mata Citra menetes, dirinya tidak ingin menjadi beban untuk Juna. Saat kecil Citra mengabaikan anak-anaknya, dan tidak seharusnya Juna bertanggung jawab untuk hidupnya.
"Masuk mobil Ma, soalnya sebentar lagi hujan lebat." Juna mempersilahkan.
__ADS_1
Tidak ingin Putranya hujan-hujanan, Citra langsung masuk mobil. Juna menarik nafas, mengontrol dirinya sendiri untuk kuat.
Mobil meninggalkan lapas, menuju apartemen sederhana yang menjadi tempat Juna pulang, karena lebih dekat dengan rumah sakit.
Arjuna meminta maaf, karena apartemennya tidak besar. Juna akan setiap hari menemui Mamanya sepulang bekerja, karena jarak yang dekat.
"Apartemennya bagus Juna, ini sudah sangat bagus." Citra melangkah masuk, melihat rumah yang rapi dan bersih.
Meksipun rumah terlihat kosong, karena Juna lama di luar negeri. Sesekali ada pembersih yang datang seminggu sekali untuk melakukan perawatan.
"Ma, ini kamar Mama untuk beristirahat, nanti kita beli baju dan perlengkapan lainnya." Senyuman Juna terlihat, mempersilahkan Mamanya masuk.
"Juna, terima kasih. Kamu tidak perlu repot, baju Mama masih bagus, dan Mama yang akan membersihkan rumah." Citra duduk di pinggir ranjang, dirinya sudah lama tidak menyentuh tempat tidur yang nyaman.
Melihat tubuh kurus Mamanya membuat hati Juna hancur, tapi dirinya harus lebih banyak bersyukur karena diberikan kesempatan bertemu Mamanya lebih lama.
"Ma, Juna sudah membaca soal sakit Mama, nanti kita lakukan perawatan." Juna melihat laporan yang dirinya terima.
"Mama, kenapa begitu kejam kepada Juna? setidaknya Mama harus diobati demi Juna, Mama cukup ikuti arahan Juna. Izinkan aku yang mengurusnya, tolong jangan ditolak terus." Mata Juna berkaca-kaca, langsung menutup matanya mengatur nafasnya.
"Maafkan Mama yang membuat beban pikiran kamu, tapi Mama tidak ingin menyusahkan Juna." Citra mengusap kepala Putranya.
Tangisan Citra terdengar, dirinya menjadi beban Putranya, dan Citra sadar kebahagiaan Juna terhalangi oleh dirinya.
Air mata Juna akhirnya menetes, ucapan Mamanya tidak salah jika Juna memiliki banyak beban, dirinya mencoba menyelesaikan satu-persatu agar bisa bernafas dengan bebas.
Arjuna tidak ingin menggunakan ego, mencoba mengalah dari rasa marah demi agar dirinya tidak menyesal. Jika bukan Juna yang mengurus, lalu siapa? Mamanya tidak memiliki keluarga, kecuali anak-anaknya.
"Juna bahagia memiliki Mami Aliya, dia sosok Ibu yang luar biasa, tapi Mami selalu berpesan kepala Juna, tidak ada anak tanpa seorang Ibu. Juna ada di dunia, karena perjuangan Mama, izinkan Juna membalasnya dengan menjaga Mama." Tangan Juna mengusap air matanya, mengusap dadanya yang terasa sesak.
Tangisan Citra semakin terdengar, gadis muda yang dulu Citra sakiti menjadi seorang Ibu yang mendidik Putranya.
Karakter Juna dibentuk sebaik mungkin, dan dia tumbuh menjadi pemuda yang sangat luar biasa, mungkin jika Citra yang mendidik, tidak ada Arjuna yang sekarang.
__ADS_1
"Mama ikut apapun ucapan Juna, Mama akan melakukan pengobatan." Citra mengusap punggung Putranya agar tidak terlalu berlarut dalam kesedihan.
Senyuman Juna terlihat, menguatkan Mamanya untuk berjuang melawan penyakit. Juna yakin Mamanya bisa menjadi Mama yang dulu Juna kenal saat dirinya kecil.
"Bagaimana keadaan Mami dan Papi? Mama dengar dari Anggun, Al memiliki Putra dan Putri yang mirip kamu dan Tika?" Senyuman Citra terlihat, menatap Juna yang mengangguk.
"Mami dan Papi masih sama seperti dulu, saling mencintai. Kehadiran Juan dan Ria menambah kebahagiaan kami, juga kekacauan rumah. Jika dulu hanya ada Tika, sekarang ditambah Ria yang nakalnya dua kali lipat." Juan tersenyum jika mengingat Maminya menangis meminta Juna pulang mengurus adik perempuannya.
Kenakalan Ria sangat luar biasa, dia pemarah, jahil juga pendendam. Al setiap hari ke sekolah, karena Putrinya memukul kepala teman-temannya untuk dijadikan gendang.
Suara Citra tertawa terdengar, Citra teringat saat Juna berusia tiga tahun. Dia sudah mulai sekolah anak-anak, tapi setiap hari pulang cepat, karena memukul teman-temannya.
"Ria mirip kamu Juna, niatnya bercanda, tapi menjadi petaka." Tawa Citra tidak bisa berhenti.
"Juna tidak nakal Ma."
"Kamu berhenti nakal, karena memiliki adik. Ria akan berhenti jika mempunyai adik, apalagi dia mempunyai dua kakak laki-laki yang akan menjaganya."
Kepala Juna menggeleng, Ria tidak akan berubah. Dia bahkan tidak takut dengan Isel yang berstatus cucu perempuan satu-satunya, dua keluarga yang punya kuasa.
"Bagaimana dengan Atika? sekarang dia sudah besar."
Juna menunjukkan foto adiknya, Citra mengambil ponsel Juna, mengusap wajah Putrinya yang tumbuh menjadi wanita sangat cantik, juga mirip dengan Altha.
Suara panggilan masuk di ponsel Juna, Citra langsung menjawabnya. Terdengar suara Al yang mengomeli Juna yang tidak memberikan kabar seharian.
[Juna, kamu pulang sekarang. Mommy Anggun mengatakan jika Mama Citra bebas, kamu temui Mama Citra. Sekarang Arjuna.] Al berteriak meminta Ria menangis jauh dari dirinya.
Suara Citra tertawa terdengar, menyapa Aliya yang belum juga berubah.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1