ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PSIKOPAT


__ADS_3

Pagi-pagi Altha dan Aliya sudah tiba di rumah mewah yang sudah ditinggalkan lebih dari lima belas tahun.


Al sungguh tidak percaya akhirnya dirinya kembali ke rumah mewah keluarganya, Al tidak tahu apapun soal rumahnya.


Dia hidup dalam kurungan, dan tidak diizinkan keluar meksipun masih di dalam rumah. Aliya dan kakaknya hanya tinggal di satu ruangan yang menjadi kamarnya.


Bahkan Aliya jarang bertemu Kakaknya, mereka hanya bertemu jika ke perpustakaan dan sekolah bersama Mamanya.


Altha melangkah masuk, melihat ruangan yang masih penuh barang penting juga banyaknya selembaran kertas.


"Ruangan apa ini Al" Altha mendorong sebuah dinding.


Aliya menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu apapun soal rumahnya. Dia dikurung di dalam sebuah kamar yang hanya bis pergi ke perpustakaan.


Mata Altha dan Aliya sama menatap kaget, sebuah ruangan terbuka. Al ingin masuk, tapi Altha menahannya melarang untuk sementara memasuki ruangan bawah tanah.


Pintu kamar Aliya terbuka, masih banyak sekali barang-barang anak kecil tertinggal. Di kamar Aliya berisi banyak mainan anak-anak.


Aliya duduk di ranjangnya, Altha melihat ke arah jendela menatap ada paviliun. Sebenarnya bukan paviliun seperti yang banyak dilihat orang.


Bangunan kecil yang selalu Aliya lihat lebih mirip penjara kecil, keluarga Aliya terlihat segerombolan orang-orang kejam yang memiliki banyak keanehan.


"Paviliunnya?" Aliya menunjuk ke arah bangunan.


"Kamu pasti belum pernah masuk ke sana? dari jauh saja sudah bisa kita ketahui jika itu bukan paviliun, melainkan penjara kecil." Altha tersenyum melangkah ke kamar mandi dan melihat sebuah pintu.


Pintu yang menjadi tempat Aliya berlarian, dia hanya bisa masuk perpustakaan dan belajar, masih banyak buku yang berserakan.


Aliya hanya duduk melihat Altha mengecek setiap buku yang tersisa, penyelidikan memang keterlaluan.


"Banyak barang yang hilang dari perpustakaan ini, sekarang aku mengerti kasus ini cepat ditutup, karena semuanya mendapatkan bagian keuntungan dari keuangan keluarga kamu." Altha duduk menatap Aliya.


"Berarti bukan hanya Papa angkat yang menghabiskan uang, tapi para petugas yang menyelidiki juga diberikan uang." Aliya menghela nafasnya.


"Apa yang kamu ingat Al soal kejadian? aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu, jujur saja." Altha yakin pasti ada yang Aliya sembunyikan.


Kepala Aliya menggeleng, dia tidak ingin melibatkan Altha apalagi ada anak-anak yang sangat disayanginya.


Kedua tangan Altha menggenggam jari-jemari Aliya, menatap mata indah yang sedang mencoba berpaling.

__ADS_1


"Mungkin aku terlambat menjaga kamu, tapi kita tidak bisa menunggu sampai pelaku datang menemui kita. Kenapa tidak kita yang lebih dulu menemukan dia?"


"Bahaya Altha, aku tidak ingin melibatkan kamu dan anak-anak. Jika dia bisa membunuh puluhan orang dalam hitungan menit, bagaimana dengan kita?" Aliya melihat bayangan yang ada saat malam pembunuhan Papa angkatnya.


Altha mencium bibir Aliya, mengusap punggungnya dan menepuk pelan. Aliya menyadari ada seseorang, sejak awal Altha sudah mengetahuinya.


Pembunuh yang melakukannya orang yang tinggal bersama keluarga Aliya, dia juga tinggal dibangunan bawah tanah.


Alasan Altha tidak masuk, karena ingin memancing keluar.


"Tenang, ada aku di sini Aliya. Jangan menunjukkan ketakutan, santai saja. Katakan apa yang kamu ketahui." Alt mengecup bibir Aliya sambil tersenyum.


Senyuman Aliya terlihat, memeluk Altha sebentar menenangkan hatinya meskipun tidak mudah.


"Aku memiliki senjata, tapi ada sidik jari aku, hanya aku, tapi bukan aku yang membunuh mereka semua." Aliya bicara sangat besar, menatap Altha yang tersenyum.


"Em, tenanglah. Kita akan segera menangkap dia." Altha tersenyum, merangkul Aliya untuk melangkah keluar.


Alt membuka sebuah pintu yang ternyata pintu kamar Alina, suasana kamar Alina terasa aneh dan menyeramkan.


Banyak gambar menakutkan, Aliya sampai merasakan suasana horor di kamar kakaknya.


Alt tidak melakukan pengejaran, karena tidak bisa meninggalkan Aliya. Jika dugaan Altha benar, ada orang lain yang tidak terhitung hidup di bangunan bawah tanah.


"Siapa yang berlari?"


"Seseorang yang mungkin pelaku atau saksi." Altha menyinari bangunan bawah tanah.


"Apa selama lima belas tahun dia hidup di bawah bangunan ini?" Aliya melihat ke bawah yang sangat gelap.


Pikiran Altha langsung ke korban yang baru saja meninggal, dia satu-satunya saksi nyata yang bisa Altha dapatkan, tapi semua sudah terlambat.


Aliya benar, seandainya dulu Altha tidak meninggalkan Aliya bersama pasangan suami istri yang mengatakan jika mereka mengenal Aliya, tidak mungkin kasus ditutup dengan mudah.


Semua orang bisa mengatakan nona muda melihat dari pakaian mewah Al, seandainya dulu Altha yang membawa Aliya ke rumah sakit mungkin rasa sakit Al tidak seburuk sekarang.


Kasus kematian orangtuanya tidak mungkin langsung disembunyikan, dan jika Altha mengungkap ke tim sudah pasti Aliya pelakunya, karena bukti ada pada Al.


Dia bisa dianggap si kecil yang punya kelainan, karena sejak kecil tidak pernah bertemu banyak orang.

__ADS_1


Aliya akan segera diasingkan, sehingga Altha tidak bisa membongkar secara langsung demi menjaga Al.


"Sudah Aliya katakan ini beresiko dan berbahaya." Senyuman Al terlihat.


"Maafkan aku, kali ini aku tidak akan meninggalkan kamu. Mungkin kasus ini tidak bisa kita publiknya, tapi setidaknya kamu puas setelah mengetahui siapa pelakunya." Alt tersenyum, menutup kembali pintu untuk segera pulang.


"Kenapa kita tidak masuk ke bawah?"


"Buat apa? dia sudah melarikan diri. Jika hanya ingin melihat ke sana mungkin semakin menyakiti kamu. Ada banyak kejahatan yang aku tangani, tapi yang paling mengerikan mengatasi psikopat." Alt membukakan pintu mobilnya.


Dari bayangan kaca Altha bisa melihat seorang wanita yang berambut panjang, penampilan seperti orang depresi.


Altha tidak bisa menangkap tanpa persiapan, karena hanya akan merugikan dirinya.


"Menangkap penjahat tidak hanya membutuhkan keberanian Aliya, tapi kita membutuhkan rekan. Hal paling penting dalam sebuah misi itu rekan. Dia bisa menjadi teman juga musuh, sungguh sulit membedakannya." Altha tersenyum mengusap kepala Aliya langsung meninggalkan bangunan mewah yang sudah tidak layak huni.


"Kamu pernah menghadapi psikopat?"


"Iya, aku hanya bermodal keberanian. Dia terlihat sangat lemah, tapi sebenarnya dia menatap kita seperti mangsa." Senyuman Altha terlihat, meminta Aliya melihat ke belakang.


Aliya langsung berteriak membuat Alt tertawa, Aliya tidak menakutkan seperti yang Citra katakan.


"Dia siapa?"


"Nanti kamu juga pasti tahu."


"Aku juga psikopat, dan aku akan memangsa kamu?"


"Kenapa kamu menjadi psikopat? apa karena aku?" Altha melihat wajah Aliya yang terlihat binggung.


Pertanyaan Altha mungkin benar, dia terobsesi dan terlalu berlebih-lebihan ingin memiliki Altha, secara tidak langsung Aliya psikopat yang membuat Altha kehilangan kebahagiaannya sesaat.


"Ayang, kenapa orang tua kamu meninggal?"


"Emh, kecelakaan. Mungkin, aku masih menyelidikinya."


***


FOLLOW IG VHIAAZAIRA

__ADS_1


__ADS_2