ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KETAKUTAN TIKA


__ADS_3

Perdebatan Aliya dan Atika belum juga selesai, Al tidak bisa pergi saat putri kecilnya selalu ada di belakangnya.


Tika mengikuti langkah kaki Aliya sambil menarik baju Maminya yang ingin ikut, Al tidak bisa memarahi Tika karena putrinya terlalu mengemaskan.


"Tika mami tidak pergi ke manapun, hanya mengobrol bersama Aunty Anggun." Al melarang Tika untuk mendengar pembicaraan orang dewasa.


Bibir Tika langsung monyong, menjauhi Aliya beberapa langkah, langsung jongkok menatap Maminya.


Anggun menahan tawa melihat Tika jika ada Maunya, terlihat sekali manja dan kelucuannya.


"Mau apa dia Al?"


"Dia ingin ikut ke mana aku pergi, kita ingin masuk ke rumah kosong, bagaimana jika Tika ikut? memangnya kita ingin berkemah." Al meminta Anggun mencari cara untuk mengulur waktu.


Arjuna langsung mendekati Tika, menarik tangan adiknya agar menjauhi Maminya.


"Ikut kak Juna, kita main bersama."


"Tidak mau." Atika memukuli kaki kakaknya, meminta Juna menjauhi dirinya.


Pertengkaran dua saudara terdengar, Juna langsung menggendong adiknya yang masih mengamuk ingin ikut Maminya.


"Mami, Tika mau ikut." Tangisan Tika terdengar, menjambak rambut Juna.


Aliya langsung melangkah mendekat, mengambil Tika dari gendongan Juna. Mengusap punggungnya agar berhenti menangis.


"Kak Juna jahat."


"Mami terlalu memanjakan Tika, dia sudah besar tingkahnya masih seperti anak kecil. Mami punya urusan yang tidak boleh dicampuri oleh anak kecil." Suara Juna meninggi, memarahi Tika yang masih menangis sesenggukan.


Al meminta Juna berhenti, dia tidak boleh memarahi adiknya. Selamanya Tika akan menjadi si kecil di mata Aliya, dan tidak boleh dimarahi.


Jika nanti Al memarahi Tika, Juna harus membela adiknya dan satu-satunya lelaki yang harus melindungi Atika itu Arjuna.


"Jangan naikan nada untuk memarahinya, Mami juga terluka Juna." Al mengusap air mata Tika.


Melihat Tika menangis, Al langsung meneteskan air matanya. Mencium wajah putrinya yang masih menangis sedih.


"Tika ingin ikut Mami ke mana?" Al memeluk putri kecilnya langsung membawanya duduk di sofa.


Atika masih menangis belum ingin berbicara dengan Aliya, berkali-kali mengusap air matanya dan memainkan baju Aliya yang memangku.


"Mami ingin pergi meninggalkan Tika lagi ya? tidak bisa membawa Tika juga." Suara tangisan Tika langsung terdengar besar.


Anggun meneteskan air matanya melihat kesedihan Tika yang ditinggal Aliya sampai dia takut ditinggal lagi, Helen juga menangis karena dia tidak pernah melihat Tika menangis histeris.

__ADS_1


"Tika ikut ya Mami? please."


"Iya sayang, Tika boleh ikut ke manapun Mami pergi." Al mengusap kepala putrinya meminta Tika berhenti menangis, karena Al juga sakit melihat putrinya menangis.


Anggun juga mengusap kepala Tika, memastikan jika Maminya tidak akan pergi meninggalkannya


"Tika boleh ikut ya Aunty? please."


"Tika ingin ikut ke mana sayang? Mami sama Aunty sedang menunggu Papi sama Uncle." Senyuman Anggun terlihat meminta Tika makan siang dulu.


Aliya tersenyum, menggendong putrinya untuk makan siang. Juna juga langsung makan siang sambil memperhatikan adiknya yang masih mengawasi Maminya.


Suara salam terdengar, Juna langsung tersenyum melihat Papinya pulang cepat. Tika tidak bergerak sama sekali sekalipun Altha memanggilnya.


Aliya langsung memeluk Alt, Tika sudah memegang baju belakang Al membuntutinya.


"Ada apa Tika menangis?"


"Tika mau ikut Mami."


Altha mengerutkan keningnya, menatap Aliya yang menghela nafasnya. Alt ingin menggendong Tika, tapi ditolak dan masih tetap memegang baju Maminya.


"Tika, Uncle punya mainan untuk kamu?" Dimas mengusap kepala Tika, tapi langsung menyingkirkan tangan Dimas.


Juna menghela nafasnya, meminta Tika sebaiknya dimasukan ke dalam perut. Terlalu manja dan keras kepala.


Semuanya makan siang bersama, Aliya harus menyuapi Tika dan tidak bisa jauh.


"Kamu kenapa Tika?"


"Tika mau ikut Mami." tatapan Tika tajam melihat Maminya.


"Mami tidak ingin pergi ke manapun, kamu bisa bermain bersama aunty Helen, lalu tidur siang." Alt meminta Helen membawa Tika.


"Tidak mau Papi! Tika mau bersama Mami." Atika berteriak memarahi Papinya.


"Sudahlah Ayang, Al hari ini bisa menemani Tika." Al meminta Helen meninggalkan Tika.


Aliya menatap mata putri kecilnya, tatapan Tika langsung menghindari Aliya tidak ingin menatap mata maminya.


"Lihat mata Mami Tika." Al menatap tajam.


Kepala Tika tertunduk, dia tidak ingin beradu tatap. Al langsung tersenyum memeluk lembut putrinya yang pasti menemukan sesuatu.


Al mengirim pesan kepada Dimas untuk mengecek CCTV, pasti ada Citra yang menemui Tika dan menceritakan sesuatu sehingga Tika takut Al pergi.

__ADS_1


Anggun dan Dimas langsung melihat laptop Aliya dan dugaan Al benar, Citra menemui Tika dan membisikkan sesuatu yang hanya Tika yang tahu.


Altha mengambil laptop, melihat rekaman CCTV saat Citra bertemu Atika. Bukan pelukan yang Tika dapatkan, tapi ucapan yang membuat Tika takut.


Al Menggendong Tika, Altha langsung mengambil alih membuat Tika memeluk leher Aliya.


"Mami."


"Tika, Papi tidak suka kamu bersikap seperti ini. Jelaskan kepada Papi dan Mami jangan memendam sendiri." Alt berbicara tegas kepada putrinya agar melepaskan Al.


Kepala Tika menggeleng, dia tidak ingin ingkar janji kepada Mamanya. Sekalipun Altha memaksa Tika tepat tidak ingin mengatakan.


Al menahan Altha untuk tidak keras kepada Tika, dia belum mengerti. Baginya jika apapun yang dikatakan orang dewasa mungkin akan terjadi.


Tatapan Al melihat rekaman CCTV, diam memperhatikan. Bibir atas Aliya terangkat langsung menatap Tika yang juga melihat rekaman CCTV.


"Mama sangat mengkhawatirkan Mami sampai meminta Tika untuk menjaga ya sayang." Al mengusap rambut putrinya.


"Iya Mi, kata Mama harus jaga Mami agar tidak menyelidiki rumah sebelah." Tika melihat Aliya yang tersenyum.


"Hmz, padahal Mami hanya ingin menyapa tetangga sebelah dan membawakan makanan." Al mengerutkan kepalanya menatap putrinya.


"Oh mami hanya ingin berbagi, tapi Mama bilang jika Mami ke sana pasti ditangkap polisi. Ada yang meninggal di sana mami." Tika menjelaskan semuanya kepada Aliya dan yang lainnya.


Altha memijit pelipisnya, Citra memang keterlaluan membuat Tika ketakutan soal kematian.


Dimas dan Anggun juga saling pandang, ada rasa kagum dengan Tika yang menyayangi Aliya sangat besar, tapi kasihan juga melihat Tika yang ketakutan.


Kedua tangan Aliya menggenggam tangan putrinya, Tika tidak boleh takut dengan sesuatu yang orang katakan.


Jika terus takut, maka semua tindakan kita akan dikendalikan oleh orang lain dan selamanya dalam ketakutan.


"Sayang, Mami tahu apa yang Mama ucapan baik, tapi Tika tidak boleh berjanji kepada siapapun untuk menutupi sesuatu apalagi rahasia orang lain, di sini ada Mami, Papi juga kak Juna tempat Tika bercerita agar kita menemukan solusinya." Al menegur Tika yang langsung meminta maaf.


"Tika tidak boleh membuat janji yang harus dirahasiakan kepada Mami Papi."


"Seandainya Papi selingkuh, dan meminta Tika berjanji merahasiakan dari Mami. Menurut Tika boleh tidak?" Dimas menatap Tika membuat semua orang menatapnya.


"Selingkuh itu apa Uncle? kenapa Papi selingkuh?" Tika menatap penasaran.


"Dimas." Altha dan Aliya berteriak menatap tajam, Dimas hanya cekikikan tertawa dia salah bicara.


***


follow Ig Vhiaazara

__ADS_1


__ADS_2