
Di kamar heboh, pemakaian jilbab yang berantakan. Rindi mengikat kepalanya membuat Shin dan Tika tidak bisa berhenti tertawa. Ria yang membantu memakai teriak-teriak sambil memaki.
"Jika tidak menggunakan hijab, dilarang pergi!" Ria menatap tajam Rindi yang keluar kamar tidak ingin ikut pergi.
"Ria, siapa yang mengajari kamu mencaci maki? Rindi bisa menyakiti tanpa menyentuh." Tika mencoba hijabnya, demi menemani kekasihnya ke makam mertuanya.
"Tidak takut, lagian bodoh banget. Pakai jilbab seperti pocong."
Shin tertawa sampai berguling-guling di atas ranjang, mulut jutek dan sinis Adriana jauh lebih mengerikan daripada Tika.
Ucapannya tidak mempunyai saringan, Ria bisa menyinggung dengan mudahnya tanpa memperdulikan perasaan orang lain.
"Kak Shin, cepat. Ria sibuk, tidak punya waktu mengurus kalian." Ria menarik kursi membantu Shin memakai jilbab.
"Sibuk apa kamu Ria? palingan joget-joget, menatap aktor tampan." Shin duduk membiarkan Ria menguncir rambutnya.
"Kak Shin cantik, tapi sayangnya ...." Ria menghentikan ucapannya.
"Apa?"
"Jomblo." Ria menjulurkan lidahnya, Tika yang memakai jilbab langsung terlepas lagi karena tertawa mendengar ejekan Adiknya.
Bibir Shin monyong, menatap sinis dua bersaudara yang mengejeknya bersamaan. Ria bukan hanya menjatuhkan mental Shin, namun menyindir Tika yang sama-sama jomblo, mengakui paling cantik padahal biasa saja.
"Jomblo mentertawakan jomblo,"
"Sorry Andriana, Kak Tika tidak jomblo." Senyuman Tika terlihat mencolek dagu Adiknya.
"Mami, Papi, Kak Tika punya pacar." Ria berteriak mengejek Tika yang langsung panik.
Tawa tiga wanita terdengar, Shin dan Tika sudah selesai mengenalkan hijabnya. Berjalan keluar kamar melihat keluarga sudah berkumpul.
Senyuman Shin terlihat, dia pikir hanya beberapa saja yang pergi ternyata seluruh orang pergi.
"Cantiknya, kalian berdua berhijab." Mam Jes menatap kagum dengan kecantikan Tika dan Shin.
Senyuman Tika malu-malu, Diana geleng-geleng kepala. Wanita jika sudah jatuh cinta, dunia serasa miliknya sendiri.
"Nenda, Isel ikut mobil Nenda." Tatapan mata memohon kepada Anggun terlihat.
__ADS_1
"Kamu tinggal Isel, kawan kamu juga di rumah." Di merapikan baju putrinya yang kusut.
Kepala Isel geleng-geleng, Rindi marah kepadanya karena tidak bisa memakaikan jilbab. Suara tangisan Rindi terdengar, menuruni tangga memberikan jilbabnya kepada Mam Jes.
"Kenapa menangis? jika butuh sesuatu bicara sama Mama." Mam Jes membantu Rindi memakai hijab.
"Isel nakal, dia memukul kepala Rindi,"
Diana memukul tangan Isel yang tidak sopan kepada yang lebih tua, Isel harus menghormati Rindi sama seperti menghormati keluarga lain. Dia bukan teman seumuran yang bisa dijadikan lawan.
"Kenapa Alina memukul Isel?" Rindi menundukkan kepalanya karena takut dengan Diana.
"Karena dia bersalah, minta maaf sekarang!" mata Di tajam melihat Putrinya yang menganggukkan kepalanya.
"Maafkan Isel kawan, tidak memukul lagi. Kamu membuat Isel kesal, soalnya bodoh." Tatapan Isel sinis kepada Mamanya, mencium tangan Rindi meminta maaf.
Semuanya sudah berkumpul, tapi belum ada yang melihat Genta. Padahal dia yang berniat pergi hanya berdua dengan Shin. Cukup lama menunggu Genta sampai Gemal yang menjemputnya ke kamar.
"Lamanya Genta, kamu sedang apa? tidak perlu terlihat tampan, kita ke kuburan bukan ke tempat ramai." Gemal menatap kesal adiknya yang berjalan cuek.
Senyuman Genta terlihat menatap Tika yang berhijab, melihat tawanya bersama Shin membuat hati Genta lebih bahagia ingin bertemu kedua orangtuanya.
"Ini masih sore Kakek, iyakan Uncle." Isel memanjat Genta meminta digendong.
Gemal mengusap kepala Putrinya, dia bukan anak kecil lagi yang selalu berada di pundak. Isel sudah besar dan berat.
"Turun Sel, Uncle dari sakit. Cukup Papa kamu yang memukuli jangan Putrinya juga." Di menarik Putrinya yang pindah ke punggung Juna.
Ria memukul punggung Isel, memintanya turun. Juna miliknya tidak boleh direbut. Perdebatan keduanya terdengar, tarik-menarik sampai Juna terjatuh.
Aliya menarik telinga Ria, memintanya segera masuk mobil. Kepala Al pusing melihat keributan yang tidak berkesudahan, mereka semua bisa batal pergi jika dua wanita tidak ada yang ingin mengalah.
"Kenapa menyalahkan Ria? kenapa Ria selalu harus mengalah kepada Isel?" teriakan Ria besar menolak satu mobil dengan Maminya.
"Kamu sudah besar, usia kamu sudah tidak wajar lagi bertengkar." Al menggelengkan kepalanya.
"Peraturan dari mana? Isel juga sudah besar. Dia bukan bayi yang harus dijaga. Nenek moyang yang mengajari seperti itu." Ria berlari masuk ke mobil Genta.
Suara tawa langsung terdengar, Diana mengusap punggung Aliya yang mengusap dada mendengar ucapan pedas Putrinya.
__ADS_1
"Nenek moyang kita Al yang mengajari." Diana menepuk jidat melihat keponakannya yang sangat keras kepala.
Beberapa mobil meninggalkan Mansion, Genta bersama Shin, Ria dan Atika. Senyuman Genta terus terlihat menatap Ria yang duduk di sampingnya dengan ocehan mengomeli Maminya.
"Kenapa Om ganteng senyum terus? apa maskara Ria luntur?"
"Tidak, ada kamu di sini, Tika dan Shin menjadi hening." Genta mengusap kepala Ria yang tertawa mengejek Tika dan Shin.
Tika bukan tidak ingin bicara, dia hanya menjaga sikap saja karena ada Genta jika tidak mungkin kepala Ria sudah menempel di dasbor. Demi kebaikan hubungan, dan dirinya yang terlihat anggun sehingga menahan diri.
"Aduh panas, buka saja." Shin melepaskan hijabnya, menguncir rambutnya ke atas.
"Kak Shin, itu hijab bukan api neraka yang bisa membakar!" Ria melempar Shin menggunakan tisu.
"Banyak bicara kamu Ria, sebentar lagi hijab kamu sudah ada dileher." Shin melempari Snack ke arah Ria.
"Alhamdulillah ya Allah rezeki berhijab hari ini dapat Snack, tidak seperti wanita di belakang." Senyuman manis Ria terlihat.
Atika langsung protes, dirinya tidak membuka hijab masih betah. Tika tidak terima disamakan dengan Shin yang sudah membuka lebih dulu.
Sebuah kendaraan roda dua melewati mobil Genta dari arah yang salah sampai menyenggol kaca spion. Genta menekan klakson, tapi suara Ria yang sudah mengeluarkan kepalanya dari atas mencaci maki pengedar memintanya untuk berhenti.
"Woy berhenti, tidak bisa berkendara jalan kaki saja jangan merugikan orang. Woy berhenti, dasar Dajjal!" Ria mengeluarkan suaranya full membuat Genta menghentikan mobilnya.
Shin dan Tika hanya bisa saling tatap, takut melihat Ria yang sudah mengamuk pengedaran tidak peduli jika orang lebih tua.
Ria keluar dari mobil, menarik kerah baju pria yang jauh lebih besar darinya. Tanpa rasa takut meluapkan amarahnya.
"Ria cukup, kita bicara baik-baik."
"Kamu tahu aturan jalan tidak! mau Ria ajarkan cara mendekati maut?" mata Ria menatap tidak suka sama sekali.
"Sabar Ria, itu orang tua." Shin menarik Ria agar menjauh.
"Kenapa jika lebih tua? salah tetap salah, jika kita kecelakaan harus Ria memeluknya sambil mengucapkan terimakasih. Terima kasih kamu sudah membuat aku hampir mati, silahkan diulangi, gitu." Ria menepis tangan Shin yang sudah terdiam mendengar suara Ria yang sangat besar.
Melihat mobil Genta berhenti, keluarga yang lain juga keluar. Juan menatap Ria yang masih marah langsung diam, kembali ke dalam mobil begitupun Tika dan Shin.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira