ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
AKHIR BAHAGIA


__ADS_3

Makan malam bersama dua keluarga terasa rusuh, dua bayi laki-laki masih tidur di dalam pelukan ibu masing-masing, sedangkan Riana tidak bisa tidur ulah Atika dan Diana yang tidak bisa diam.


Kepala Riana celingak-celinguk kebingungan mendengar dua orang beda usia, terus mengoceh dihadapannya bahkan wajahnya disembur liur perdebatan.


"Ana suka telur, buka mulutnya. Kakak Tika suap." Mulut Tika terbuka, menyendok makanan ke arah mulut kecil adiknya, tapi hanya menumpang lewat. Langsung masuk ke mulut Tika sendiri.


Diana melakukan hal yang sama, setiap sendok makanan lewat wajah Riana, tapi dia hanya melihat saja.


"Cepat besar Ri agar bisa menikmati makanan ini." Diana mengunyah makanannya dengan lahap.


Aliya kasihan melihat putri kecilnya yang menjulurkan lidahnya, menginginkan makanan yang diperlihatkan ke hadapannya.


"Kalian berdua tega sekali, lihatlah wajah Ri seperti menelan ludah." Dimas mengusap pipi Riana yang cemberut.


Lelah mendengar suara Diana dan Tika, suara tangisan Riana terdengar histeris. Atika langsung turun kursi untuk melarikan diri, begitupun Diana yang berpura-pura ke toilet.


Aliya menyerahkan putranya kepada Altha, langsung mengambil putrinya yang baru berusia tiga bulan sudah menjadi korban kenakalan kedua kakaknya.


Al mengunakan penutup dadanya untuk menyusui Riana yang sudah menangis histeris, matanya mengantuk, tapi tidak bisa tidur karena berisik.


"Kapan Diana kembali ke luar negeri?" Al menatap Anggun dan Dimas yang saling tatap.


Diana sudah menyelesaikan sekolah kedokterannya, Di juga sudah mendapatkan panggilan untuk koas di rumah sakit besar luar negeri.


Kepintaran Diana tidak diragukan, dia bisa dengan mudahnya melakukan sesuatu hanya satu kali baca, tapi sikap keras dan hobi membuat masalah menghambat kemampuannya.


Aliya menyadari jika Diana sangat pintar dalam dunia medis, juga senjata. Ada satu hal masih mengganjal di hati Di, tapi dia tidak ingin mengatakannya.


Diana langsung duduk, tersenyum melihat semua orang melihat ke arahnya.


"Kak Alina, kenapa tidak ingin fokus menjadi dokter? kita semua mendukung kak Alin." Al menggenggam tangan Diana, meminta berubah menjadi wanita dewasa.


"Kenapa? kalian lelah melihat aku." Di menundukkan kepalanya.


Dimas merangkul Diana, dia sangat bahagia dengan kehadiran Di, tapi Dimas juga ingin Di menjadi pribadi yang bangga terhadap dirinya sendiri.


"Jika kamu tidak nyaman menjadi dokter, Daddy tidak masalah jika kamu hanya ingin bersantai di rumah." Dimas menatap Tika yang kesenangan jika ada Diana.

__ADS_1


"Di, boleh menikah tidak?"


"Emang ada yang mau sama kamu?" Aliya menatap Diana tajam.


"Diana menyukai dokter Hendrik, dia selain tampan sangat lembut dengan anak-anak." Senyuman Diana menatap Dimas yang membuang arah pandangnya.


Dimas tidak menyetujui Di menikah, bukan untuk menghalangi masa depannya. Dimas mengenal Diana yang masih tidak mengenali dirinya sendiri, bahkan selalu berubah pendirian.


Keheningan terjadi, makan malam hampir selesai. Altha dan Dimas sudah menggendong anak mereka.


"Di ingin menjadi manusia, tapi Di merasa hati ini seperti binatang. Diana pendendam, iri hati, mudah membenci bahkan hati ini selalu ingin membunuh siapapun yang berani melewati Di." Tangan Diana mengusap dadanya yang terasa sesak.


Sebaik apapun dirinya, dia hanya binantang buas. Menyelamatkan nyawa orang lain sungguh karma bagi Diana, karena begitu banyak nyawa yang melayang ulahnya.


"Kedua tangan ini hanya boleh digunakan untuk membunuh, bukan menyelamatkan. Kepintaran yang Diana miliki hanyalah kutukan, dan juga hukuman." Di tertawa merasa lucu dengan dirinya sendiri yang ingin menjadi dokter.


"Sayang, masa lalu biarlah. Lupakan, dan perbaiki diri sayang." Anggun meneteskan air matanya mendengar ucapan putrinya.


"Di belum berubah Mom, aku seorang pembunuh." Air mata Diana juga menetes menatap Atika yang cengengesan sambil mengaduk es krim.


Diana tidak bisa sedih jika melihat Atika yang senyum tidak jelas, dia berpikir ucapan Diana lucu.


Helen sudah menangis sesenggukan, tapi Tika tidak mengakui kesalahannya sampai Helen membeli ikan baru.


"Kak Di, hewan dan manusia hanya dibedakan oleh akal, semuanya tergantung nasib baik dan buruk." Juna menatap Diana yang mengusap air matanya.


Hewan buas yang dibesarkan sejak kecil hingga besar, namanya tetap hewan buas suatu saat dia bisa memakan tuannya, tapi bisa juga dia menyelematkan tuannya.


"Membesarkan hewan buas apa kesalahan hewannya? tidak ada yang salah. Kita memelihara sesuatu karena rasa nyaman dan cinta, jika hewan saja bisa kita cintai, lalu kenapa manusia tidak? Kak Di manusia bukan hewan, punya akal dan pikiran dan yang paling utama, Kak Di punya hati." Juna menatap tajam Diana, jangan berusaha membahagiakan orang lain, jika diri sendiri saja belum bahagia.


Senyuman Diana terlihat, langsung memeluk Juna yang sangat pintar dan dewasa.


"Kamu takut dengan Kak Di?"


"Jika Juna takut, sejak pertama bertemu Juna lari. Kak Di harus bangga dengan diri sendiri, nanti Dean akan menyombongkan diri di depan teman-temannya mengatakan jika kakak Perempuanku seorang dokter yang baik cantik, jenius dan sangat kuat." Juna tersenyum melihat Dean juga terbangun melihat kakaknya.


Diana mengambil adiknya, mencium hidung Dean yang tersenyum kecil melihat kakak perempuannya.

__ADS_1


"Dean harus bangga mempunyai kak Di, tapi awas saja jika kamu pulang sekolah menangis, kak Di sate kamu." Di kebingungan melihat adiknya menangis, langsung memberikan kepada Mommynya.


Akhirnya Diana menyetujui keinginan keluarganya, berjanji akan menjadi dokter yang baik dan tidak membuat masalah.


Dimas hanya tersenyum saja, dia tidak mempercayai Diana yang memiliki seribu janji, tapi jarang dia tepati.


Altha bernafas lega melihat kebahagiaan keluarga mereka, bisa berkumpul dan bersenang-senang penuh canda dan tawa.


Meskipun terkadang ada keributan, tapi Alt bahagia. Pulang bekerja langsung melihat anak-anaknya rasa lelah langsung hilang.


Mendapatkan kebahagiaan yang sekarang tidak pernah Altha bayangkan, kegagalan pernikahan dengan wanita yang sangat dia cintai, ternyata tidak cukup untuk bahagia sampai tua.


Semua orang bisa berubah, apalagi perasaan yang pasti ada rasa bosannya.


"Sayang, jika kamu mulai bosan atau ada hal yang salah dari aku, katakan." Alt tidak ingin kehilangan cinta lagi, dan menginginkan Aliya jodoh hidup dan matinya.


Aliya memastikan jika hatinya sudah sepenuhnya milik suaminya, dan tidak akan pernah berubah.


"Alt, aku mendapatkan satu pelajaran dari kegagalan. Sebesar apapun cinta, jika sudah dari awal tanpa kejujuran suatu hari pasti akan kandas." Dimas menggenggam tangan istrinya.


"Benar kak Dim, meksipun awalnya tanpa cinta, jika dijalani penuh keterbukaan rasanya tidak ada alasan untuk berpisah." Altha merangkul istrinya penuh cinta.


"Aliya juga belajar satu hal, rasa benci dan dendam bisa berubah cinta bahkan sangat cinta. Sehingga Al tidak bisa berpaling lagi." Al mencium pipi suaminya.


"Anggun juga ingin mengatakan sesuatu, terkadang kesabaran dan ketulusan bisa memperkuat rasa cinta, juga menjadi ujian bahwa betapa berartinya pasangan." Senyuman Anggun terlihat menatap suaminya.


Diana menatap sinis, karena mendengar ungkapan cinta yang membuat perutnya mual.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT


FOLLOW IG VHIAAZAIRA


VOTE HADIAHNYA DITUNGGU


***

__ADS_1


Mulai besok aku fokus ke kisah Diana


__ADS_2