
Gemal melemparkan benda kecil menyebabkan asap, suara Gracia meminta tutup pintu terdengar.
"Kalian ingin bermain-main!?" Cia melihat Diana, Aliya, Juna dan anak-anak sudah menghilang dari hadapannya.
Tatapan Gemal tajam, bersandar sambil menoleh ke arah bawah. Senyuman Gemal terlihat sinis melambaikan tangannya melihat Tika menoleh ke atas.
"Kamu cari mati?" Gracia menatap tajam Gemal meminta bawahannya mengejar Arjuna.
Belum sempat keluar, Diana sudah masuk kembali langsung melayangkan pukulan. Mata di melotot tajam melihat Gracia yang beraninya mengawasi Arjuna.
"Ayo kita bertarung Alina, siapa yang mati?" Gracia mengeluarkan belati langsung maju menyerang Diana.
Gemal langsung menarik Diana, melayangkan tendangan kuat kepada Cia membuatnya terlempar jatuh.
Bawahan Gracia langsung maju, Diana dan Gemal juga langsung maju menyerang. Puluhan orang bukan hal yang sulit bagi Diana, apalagi ada Gemal yang memiliki kemapuan bela diri yang tinggi.
Satu-persatu mulai di jatuhkan, Gemal tidak mengizinkan Diana melebihi batas melumpuhkan. Tugas mereka menangkap secara hidup.
"Gracia menendang kepala Diana sampai tersungkur, melukai wajahnya sampai berdarah.
Cia melempar belati yang sudah diberikan racun, mengarahkan kepada Diana yang sudah terduduk karena terkena pukulan.
Belati menebus dada Diana membuatnya langsung meringis, Di bangkit berdiri mencabut pisau kecil melemparkan balik menembus lengan tangan Cia.
Keduanya sama-sama belum lumpuh, masih bertarung bahkan naik ke atas balkon pembatas, membuat Aliya keluar dari mobil.
Anak-anak juga menyaksikan pertarungan yang imbang, tapi bisa melihat gerakan Diana yang melemah.
"Juna, jaga adik-adik kamu sampai Papi datang." Al langsung berlari kembali ke atas untuk membantu kakaknya.
Diana melayangkan tendangan meksipun sudah mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya, Gracia muntah darah.
Gemal bangkit setelah menjatuhkan puluhan orang yang tubuhnya jauh dibandingkan Gemal, melihat Diana sempoyongan, tapi masih berdiri tegap.
"Kamu akan mati menyusul Diana yang sebenarnya!." Gracia menembak Diana menggunakan suntikan mematikan.
Aliya berteriak meminta Diana lompat, tapi terlambat karena suntikan menebus Gemal yang jatuh bersamaan dengan Diana.
Aliya langsung naik menebak Gracia menggunakan suntikan yang Diana ciptakan, dan melihat kakaknya jatuh bersama Gemal ke bawah bangunan.
Tubuh Diana dan Gemal jatuh di atas mobil, Juna memeluk kedua adik perempuannya yang terdiam seribu bahasa.
Beberapa mobil polisi berdatangan, Dimas dan Altha melihat Diana terjatuh di tubuh Gemal yang penuh darah, sedangkan Aliya masih ada di atas.
Altha berlari kencang menaiki gedung, Dimas menarik Gemal dan Diana yang sama-sama jatuh pingsan.
__ADS_1
Pelukan Gemal sangat erat, mengorbankan tubuhnya sampai mobil hancur.
"Di, bangun sayang." Dimas melihat Diana yang keluar darah dari mulut dan hidungnya.
Yandi langsung menggendong Gemal yang berlumuran darah, dan langsung menggunakan mobilnya untuk dilarikan ke rumah sakit.
"Kakak." Dean langsung menangis melihat kakaknya jatuh.
"Kak Diana hebat bisa terbang?" Juan bertepuk tangan.
"Kak Di terbang, bukan jatuh?" Dean menatap Juan yang menganggukkan kepalanya.
"Juan bodoh, terbang itu ke atas bukan ke bawah." Tika menggelengkan kepalanya, menatap Juan tajam.
Suaranya tangisan Dean kembali terdengar, kakaknya jatuh bukan terbang dan sekarang terluka.
Juna langsung keluar mobil, mendekati Maminya yang sudah turun bersama Papinya.
"Mi, ini rekaman soal pembuatan obat, dan ini obat yang Juna buat. Mami periksa ulang, karena kemungkinan Kak Di dan kak Gemal juga terkena suntikan beracun." Juna meminta Maminya sebaiknya segera ke lab.
Aliya mengacak rambutnya, Al tidak bisa berpikir saat melihat kondisi Gemal dan Diana buruk, bahkan Gracia dan seluruh bawahan menyuntik masing-masing. Kemungkinan Gracia tidak akan selamat karena demi melindungi Hendrik, dia melakukan aksi bunuh diri.
Diana membuka matanya, memanggil Juna hanya dengan gerakan bibir. Juna langsung mendekati melihat gerakan bibir Di.
Semuanya dilarikan ke rumah sakit begitupun dengan Gracia dan komplotannya meksipun saat tiba langsung tewas, hanya menyisakan satu orang.
Aliya duduk terdiam melihat ke arah ruangan Diana, Anggun sudah bekali-kali pingsan saat mendapatkan kabar kondisi Putrinya.
"Pak Altha, Gracia meninggal."
Altha masih menahan dirinya, langsung melangkah pergi meninggalkan Dimas yang tetap menunggu Diana.
Alt melihat satu-satunya korban yang selamat, karena dia tidak ingin mati bunuh diri sesuai perintah Gracia.
"Kamu memiliki dua pilihan, katakan di mana keberadaan markas atau kamu pasti mati ditangan mereka." Altha menatap tajam, memastikan akan menemukan keberadaan Hendrik.
"Tolong lindungi saja."
"Kamu tidak pantas dilindungi!" Yandi mengepal erat tangannya
Altha menemukan lokasi Hendrik, dan langsung meminta bantuan untuk melakukan pengerebekan.
"Altha, tahan mereka semua, tapi biarkan Gemal yang mengambil keputusan. Dia kakaknya, dan sudah lima tahun mengejarnya." Dimas langsung mengambil senjata Gemal yang tidak memiliki peluru.
Alt menganggukkan kepalanya, mengerti perasaan Dimas yang selama ini melatih Gemal untuk menjadi petarung yang hebat.
__ADS_1
"Daddy, kenapa tidak menunggu Diana?"
Dimas memeluk istrinya, meminta Anggun menunggu Di, karena ada hal yang harus Dimas lakukan.
Aliya merangkul Anggun yang menangis sesenggukan, melepaskan Altha dan Dimas yang harus menangkap Hendrik.
Arjuna langsung berlari menahan Papinya, jika Gracia yang sebenarnya masih hidup. Dan mereka akan membunuh satu-satunya orang yang selamat.
"Juna, kamu jangan main-main."
"Apa Juna pernah bermain-main? kak Gemal sudah mengambil rekaman obat dan mengamankannya. Dan kak Gemal juga sudah menemukan markas." Juna menceritakan yang sebenernya terjadi.
"Kenapa Gemal tidak mengatakan dari awal?" Al menghela nafasnya.
"Keadaan tidak mendukung, wanita yang tewas salah satu korban uji coba Gracia dan Hendrik."
Altha menarik Juna untuk menghadapinya, selama ini Juna mengetahui semuanya, tapi tidak mengatakan apapun.
"Maafkan Juna Papi, tapi Juna tidak tahu ingin mengatakan apa? mereka selalu mengikuti Juna, tapi hanya mengawasi."
"Tapi Juna membuka file, dan membuat obat tanpa izin Mami atau mengatakan sesuatu kepada Mami."
"Juna hanya penasaran Mi."
Altha menakup wajah putranya, rasa penasaran Juna dan sikap diamnya membuat Diana dan Gemal dalam bahaya.
"Jangan salahkan Juna, salahkan Tika, Ria, Dean dan Juan yang muncul."
"Tika muncul juga atas perintah kak Juna yang mengirimkan pesan." Tika membela diri jika Juna memintanya datang bersama adik-adiknya.
Dimas tersenyum sinis, sekarang dia mengerti jika semuanya sudah diatur. Kecelakaan Diana dan Gemal sudah direncanakan.
"Kita diserang lebih dulu Alt?"
"Emh, mereka tidak mendapatkan apa yang diinginkan, maka mengambil jalan pintas dengan menyingkirkan Diana." Altha memerintah Yandi untuk mengawasi satu saksi.
Suara tawa Ria terdengar, lompat-lompat di atas kursi sambil mendengar suara musik dari ponsel Gemal.
Aliya langsung merampas earphone, mendengar musiknya langsung menatap Altha memintanya mendengarkan.
"Gemal menyadap keberadaan Hendrik." Alt tersenyum sinis melihat Gemal yang bergerak sangat jauh.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1