ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
TAGIHAN


__ADS_3

Sudah dua hari Gemal tidak sadarkan diri, satu peluru menancap dipundaknya, tusukan pisau juga melukai tangannya beberapa bagian tubuh lainnya juga terluka karena terjatuh dari motor.


Diana yang mengoperasi Gemal yang banyak kehabisan darah, juga setia mengontrol kondisi Gemal.


"Bagaimana keadaan dia Di?" Altha menatap Diana, melihat kondisi Gemal yang terluka cukup parah.


"Kita tunggu sampai dia sadar." Di melihat luka di tangan Gemal.


Dimas menghela nafasnya, Gemal sejak awal memang selalu bertindak sendiri. Tidak pernah memperdulikan nyawanya, dan selalu berkorban.


"Apa sebaiknya kita menghubungi ibunya?" Dimas tidak ingin Gemal bekerja di lapangan lagi, karena terlalu berbahaya.


"Jangan pak, saya pamit sama ibu untuk bekerja, bukan masuk rumah sakit." Gemal meringis memegang pundaknya yang sakit.


Dimas langsung berdiri memarahi Gemal yang selalu gegabah, merasa memiliki seribu nyawa sehingga tidak takut dengan apapun.


"Kak, jangan dimarahi. Jiwa mudanya masih berkobar, biarkan Gemal beristirahat." Senyuman Altha terlihat, meminta Gemal beristirahat dan membiarkan yang lain untuk mengejar Hendrik.


"Alt, aku tidak ingin dia bekerja di tim kita lagi. Nyawa dia tidak akan bertahan lama." Dimas menatap tajam Gemal yang hanya diam.


Altha tersenyum, ucapan Dimas tidak salah. Gemal sejak awal gabung memang sudah sulit diatur, terjun dari gedung hanya untuk menolong kucing, rela tertabrak mobil demi seekor angsa tidak heran dia selalu mendapatkan teguran.


"Gem, nyawa hanya satu. Jika kamu ingin meyelamatkan seseorang, maka kamu tidak boleh terluka." Alt bicara sangat pelan.


"Maafkan saya pak, mulai sekarang akan berhati-hati."


"Bohong!" Dimas menggelengkan kepalanya, janji Gemal semuanya palsu.


Tatapan Gemal masih menunjukkan kesedihan, meminta maaf atas kejadian kakaknya. Apa yang Gemal lakukan hanya untuk melindungi korban kakaknya, karena dirinya gagal menjaga ibunya.


Diana meminta Daddy-nya dan Altha sebaiknya keluar agar Gemal bisa beristirahat total, tubuhnya membutuhkan pemulihan.


"Jika ada yang ingin dipertanyakan, kunjungi keesokan harinya atau saat pasien benar-benar pulih." Di mempersilahkan sambil tersenyum.


Gemal memejamkan matanya, Diana duduk melihat wajah tampan pria bodoh dihadapannya.


"Apa yang Hendrik lakukan, bukan tugas kamu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya." Diana mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan Salsa.


"Terima kasih juga sudah menyelamatkan aku." Gemal tersenyum mengambil ponselnya menunjukkan sesuatu kepada Diana.


Tatapan Diana langsung gelap, menendang kursi karena Gemal menunjukkan nota perbaikan motornya.


"Tolong ditransfer, tidak ada yang gratis." Senyuman Gemal terlihat mengejek Diana.


"Dasar cowok matre, hanya segini saja sudah ditagih." Diana ingin melempar ponsel, tapi Gemal langsung meminta handphone baru.

__ADS_1


"Oh iya, motor aku sekarang di mana? jika rusak minta dokter yang aku tolong atau pacarnya untuk membayar."


Diana menggelengkan kepalanya, baru pertama kalinya Diana bertemu lelaki perhitungan seperti Gemal.


"Awas saja kamu mati ditimpa duit!" Di langsung mengambil ponselnya mentransfer uang biaya perbaikan.


"Tidak masalah, setidaknya aku tidak punya hutang."


"Kamu serius, tidak bercanda?" Di masih tidak percaya.


Kepala Gemal mengangguk, dia sangat serius meminta uangnya dikembalikan karena Diana yang merusak motornya.


"Aku potong segini, karena aku yang membayar kopi, bensin dan mie." Diana menunjukkan bukti pembayaran.


"Kenapa mahal sekali? kamu yang banyak makan bukan aku." Tatapan Gemal tajam melihat Diana pergi meninggalkannya.


Gemal menahan tawanya, karena merasakan sakit, tapi merasa terhibur melihat Diana kesal dan marah.


Sepanjang jalan Diana mengomel, dia yang memperbaiki ponsel Gemal yang terjun ke air. Di menyesal sekali tidak mengecek isi ponsel Gemal yang sangat perhitungan.


"Diana, kenapa marah-marah?"


"Kak Dika, tolong transfer ke rekening ini untuk biaya perbaikan motor polisi gila." Diana cemberut melihat Salsa sudah boleh pulang.


Salsa tertawa mendengar cerita Diana soal Gemal yang menagih uang kerusakan, padahal biayanya tidak seberapa.


"Kenapa marahnya melibatkan ke orang lain?" Dika menarik telinga Diana.


Anggun menarik telinga keduanya yang bertengkar di depan Salsa yang baru pulih dan membutuhkan ketenangan.


"Bagaimana keadaan kamu salsa? Kak Anggun sudah menyiapkan kamar kamu." Senyuman Anggun terlihat mengusap kepala Salsa.


"Terima kasih kak Anggun, tapi Salsa balik ke panti saja untuk beristirahat."


Anggun melarang, Salsa tidak boleh menolak karena Anggun sangat bahagia jika memiliki banyak teman wanita di rumahnya.


"Kak Anggun ingin mengumpulkan teman bergosip?"


"Diamlah Dika, seadanya kamu tidak emosian sama seperti kakak kamu mungkin sekarang kalian sudah menikah dan memiliki anak, kalah kamu sama Kenan." Anggun memukul punggung Dika yang langsung meringis kesakitan.


"Mommy benar, Di pikir putus sama Salsa karena ingin menikahi Kenan, ternyata Kenan menikahi Susan." Diana langsung tertawa memeluk Maminya.


"Menikah bukan perlombaan kak, namanya juga belum waktunya." Dika langsung pamit keluar, dia pasti kalah melawan para wanita.


Anggun tersenyum, berterima kasih karena Salsa ingin memaafkan Dika yang sangat bodoh melepaskan wanita baik.

__ADS_1


Suara pintu terbuka, Aliya datang bersama kedua putrinya yang sudah heboh memeluk Salsa.


"Astaghfirullah Al azim, jantungnya Ria deg-degan karena dokter Salsa sakit."


"Kenapa memangnya Ria?" Tika menatap adiknya yang kebanyakan drama.


"Ria takut Kak Tika, nanti Ria melahirkan tidak ada yang menolong. Dokter Salsa dulu berhasil menyelamatkan Ria, sampai bisa tumbuh sebesar sekarang." Suara Ria terdengar sangat lebai sampai Diana mual.


Tika mengaruk kepalanya, umur Ria saja baru lima tahun dan sudah ingin melahirkan.


"Memangnya Ria tahu melahirkan?" Salsa kebingungan melihat ekspresi semua orang.


"Bukannya melahirkan seperti e ek, buang air besar dan kecil." Tubuh Ria terjungkal dari ranjang.


Tika menendang adiknya, Diana memukul Ria menggunakan bantal. Aliya sudah mengelus dadanya.


Salsa dan Anggun sudah tertawa lepas, memegang perutnya yang terasa sakit karena banyak tertawa.


"Sejak kapan aku melahirkan kamu dari lubang situ Ria?" Al tersenyum melihat Ria yang sudah memeluk kakinya.


Ria memarahi Tika dan Diana, melaporkan keduanya kepada kakaknya karena jahat kepadanya.


"Sudah berapa banyak anak kamu, jika keluar dari sana?" Tika melotot.


"Hamil di perut, lihat perutnya Ria besar." Baju Ria terangkat menunjukkan perutnya buncit.


"Sebaiknya kamu melahirkan sekarang Ria!" Diana mengurung Ria di dalam kamar mandi membuat Aliya memukul punggung Diana membuat putrinya menangis.


Atika sudah tertawa puas, sampai guling-guling di lantai karena adiknya sangat bodoh.


Altha masuk bersama Dimas, mendengar suara ribut yang seperti orang berperang.


"Tika, kamu bertengkar lagi di sekolah?" Altha menatap tajam putrinya.


"Emh emh bukan bertengkar Papi, tapi ... itu dia. Tika tidak sengaja memukul teman sekuat tenaga, sampai guling-guling jatuh di tangga akhirnya Tika bertengkar dengan kakaknya."


"Astaghfirullah Al azim, kamu ... Aliya lihat anak kamu."


"Kamu lihat juga putri kecil kamu yang ingin melahirkan. Urus anak-anak kamu Altha." Aliya memijit pelipisnya melihat kedua putrinya yang tidak pernah tenang.


***


follow Ig Vhiaazaira


jangan lupa like coment Dan tambah favorit

__ADS_1


VOTE hadiahnya ya


__ADS_2