ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BERTEMU KELUARGA


__ADS_3

Langkah Atika mengendap-endap, melihat sekeliling perumahannya. Tidak biasanya terlihat sepi, karena hari libur dijadikan acara kumpul-kumpul.


"Tumben sekali sepi?" Tika menatap Shin yang sudah melihat lima anak bersepeda.


Beberapa sepeda hanya melewati Tika saja, kepala Ria menoleh ke Tika yang menjulurkan lidahnya. Lupa menekan rem, Ria langsung lompat dari sepedanya.


Tika berteriak panik, adik perempuannya sudah besar tetapi masih saja bertingkah kekanakan. Ria masih belum dewasa.


"Kakak Tika pulang." Ria langsung berlari dan terguling kembali.


Kedua tangan Tika menutup wajahnya, Shin sudah berlari mendekati Ria yang terguling ditabrak oleh Isel yang berkecepatan tinggi.


"Di mana anak kecil tadi?" Shin melihat Isel sudah jatuh di semak-semak.


"Astaghfirullah, kalian berdua masih belum berubah." Tika menarik Isel, mengecek tubuhnya takut ada luka.


Pukulan Ria kuat menghantam kepala Isel, tatapan mata Ghiselin sangat tajam langsung mendorong Ria yang jauh lebih besar darinya.


Beberapa sepeda berhenti, langsung kaget melihat dua wanita cantik ada di perumahan mereka. Juan langsung berlari, memeluk Tika yang pulang tanpa memberitahu.


Pelukan Tika sangat erat kepada adik laki-lakinya, tidak menyangka Juan sudah tumbuh besar, tinggi dan sangat tampan.


Ketampanan Juan mirip Arjuna saat kecil, Juan versi Juna kecil. Tika sangat merindukan adik lelakinya.


"Kak Tika peluk Ria juga." Andriana langsung memeluk Tika, tertawa bahagia bisa melihat kakak perempuannya pulang.


"Apa kabar adik-adik kesayangan kak Tika?" air mata Tika menetes, merindukan kedua adiknya.


Juan mengusap air mata Kakaknya, mengatakan jika mereka sangat baik. Kepulangan Tika menambah kabar baik.


"Kak Tika tidak membawa oleh-oleh?" Ria mengecek hanya ada beberapa koper.


Atika menatap sinis Ria, tapi saat melihat Dean yang berjalan santai, menggunakan topi terlihat sangat tampan.


Dean langsung berlari memeluk Tika, mengucapkan selamat datang. Sudah tiga tahun tidak melihat Tika, Dean merasakan rindu.


"Kamu tampan sekali Dean?"


"Iya dong, Dean sekarang sudah besar."


Kepala Tika mengangguk, waktu cepat berlalu. Adik-adiknya sudah besar dan akan memasuki masa remaja, sedangkan dirinya mulai melihat dunia dewasa.

__ADS_1


Senyuman Tika melihat si kembar Gion dan Ian yang tersenyum menyapa Tika, tidak banyak kenangan bersama si kembar, karena sudah berpisah.


Tangan Tika mengusap kepala Gion yang tubuhnya lebih berisi, sedangkan Ian lebih kurus. Meskipun kembar, keduanya tidak mirip.


"Hai ... maaf kak Tika lupa nama kamu Yandra atau Yendri?" Tika menatap dua anak kecil yang ada di belakang Gion.


"Apa dia kak Atika? pengacau yang selalu dibicarakan oleh Mama?" Yandra langsung melangkah pergi, mengayuh sepedanya.


Tatapan Tika sinis, sudah tahu jika Yandra pasti anaknya Yandi yang bicaranya selalu jujur, dan tidak pernah disaring.


"Devan, sini peluk kak Tika?"


"Tidak mau, kak Tika pulang tidak membawa oleh-oleh. Dev mau pulang saja." Tatapan Dev sinis langsung pergi.


Teriakan Tika terdengar, menantang Yandra dan Devan untuk bertarung. Wajah Tika terlihat kesal, ditertawakan oleh Gion dan Ria.


Shin sibuk membantu Isel memperbaiki sepedanya, mulut Isel mengomel tidak berkesudahan. Dirinya mengumpat Ria, mengatai dan menghinanya.


"Berapa usia kamu Isel? sekarang bicara kamu lancar sekali?" Shin tersenyum melihat Isel mengotak-atik sepedanya.


"Kamu sekolah tidak? bisa menghitung sendiri." Tatapan Isel sinis, menginjak sepedanya yang tidak bisa diperbaiki.


"Jangan emosi, tidak akan menyelesaikan masalah?" Tawa Shin terdengar, mencoba memperbaiki sepeda.


Shin tersenyum, menganggukkan kepalanya. Isel benar dia bisa membeli segalanya, tapi ada satu hal yang tidak bisa Isel beli di dunia ini.


"Kamu tidak bisa membeli kenangan dari sepeda ini Isel? sebanyak apapun kekayaan, barang baru tidak akan sama." Senyuman Shin terlihat menatap Tika.


Tangisan Isel terdengar, langsung mendekati Ria. Memukuli Ria yang sudah merusak sepedanya, meminta Ria mengembalikan sepedanya seperti sediakala.


"Ria bodoh, Ria jelek, jahat, nakal, wajah kamu mirip monyet. Dasar Ria nakal, merusak sepeda Isel terus. Aku tidak mau memaafkan kamu." Teriakan Isel terdengar, menangis histeris.


"Kamu juga sering merusak punya Ria, jangan menangis. Ini juga Ria perbaiki." Tatapan Ria tajam, tapi tidak tega jika adiknya sudah menangis.


Suara teriak-teriak Isel terdengar, tidak ingin berhenti mengomel marah kepada Ria, Gion, Juan, Dean bahkan Ian juga dibentak-bentak.


Tangan Tika mengaruk kepalanya, jika cucu perempuan satu-satunya mengamuk terpaksa turun tangan semua mencoba memperbaiki.


"Dasar pengacau." Tika langsung menggendong Isel, mengusap kepalanya untuk diam dan berhenti menangis.


"Siapa yang membeli sepeda?"

__ADS_1


"Om ganteng, pacarnya Isel." Tangan Isel menghapus air matanya.


"Wow ... siapa pria spesial itu?" Tika menahan tawa.


"Om Genta, dia pria tertampan selain kak Juna. Isel suka melihat senyuman Om ganteng, tapi Isel tidak suka kakak Shin." Isel memalingkan wajahnya dari Shin yang tidak salah apapun.


Isel menjelaskan jika Kakek Neneknya menyayangi Shin, selalu menghubungi Shin hanya sekedar menanyakan kabar, saat melihat Shin memiliki wajah cantik, Isel sangat cemburu.


"Kamu mengakui jika aku lebih cantik?"


"Kamu cantik wajahnya saja, hatinya busuk. Kak Tika lebih cantik." Bibir Isel monyong, tidak ingin melihat wajah Shin.


Pintu pagar terbuka, Aliya menatap Tika yang sedang berkumpul dengan adik-adiknya. Al kaget melihat Putrinya pulang tanpa memberikan kabar.


"Atika, kamu pulang tanpa memberitahu Mami?" Al memalingkan wajahnya menahan air mata.


Tika menurunkan Isel, langsung mencium tangan Maminya, Tika bahkan mencium kaki Maminya, mencium seluruh wajah Aliya.


Tangisan Tika langsung pecah, memeluk Maminya. Dirinya sangat merindukan Maminya, wanita yang selalu menjadi pelindungnya.


"Mami, Tika kangen sekali."


"Mami juga, kenapa baru pulang? Putri kesayangan Mami." Al mencium kening Tika.


Al menatap Shin langsung memeluknya, tangan Aliya mengusap punggung Tika, melepaskan Tika sesuatu hal paling berat dalam hidup Al.


Sekarang Putrinya sudah dewasa, Al merasa baru saja bertemu Tika kecil. Waktu terlalu cepat berlalu, Al sekarang melihat wanita cantik dihadapannya.


"Mami jangan menangis? Tika sedih melihatnya."


"Bertemu kamu sesuatu kebahagiaan bagi Mami, melihat Tika tumbuh besar menjadi sesuatu kesuksesan, tapi ada beberapa tahun sudah terlewati tanpa Tika, menjadi hari-hari menyedihkan. Jangan pergi lagi Tika, Mami ingin setiap hari melihat anak cantik Mami." Al memeluk Tika sangat erat, memintanya masuk ke dalam untuk menyapa Papinya.


Atika langsung berlari ke dalam, melihat pria tampan yang masih sama seperti saat dirinya kecil. Tidak banyak yang berubah dari Papinya.


"Papi, Atika pulang." Pelukan Tika sangat erat kepada Papinya yang tersenyum melihat Putrinya kembali.


"Sayang, kamu sudah pulang." Altha mencium wajah Putri kesayangannya yang selalu dirindukan.


Tangan Tika menyentuh rambut Papinya, ada rambut berwarna putih yang mulai tumbuh. Air mata Tika menetes, karena dibalik dirinya yang dewasa, Papinya mulai tua.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2