ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BERNYANYI


__ADS_3

Liburan hanya dihabiskan bercanda di dalam villa, hujan deras mengguyur selama dua hari dua malam.


Keinginan Tika dan Diana melihat matahari terbit dan terbenam hanyalah harapan, mereka tidak bisa melihat. Bahkan jetski yang sudah dipersiapkan, kapal yang sudah menanti tidak terpakai, karena kondisi air laut tinggi.


Altha tidak mengizinkan Aliya pergi keluar villa melihat cuaca yang tidak bersahabat, bahkan mendekati pintu juga tidak diizinkan.


Aliya duduk di kursi bersama Tika, Anggun, Diana dan Helen yang fokus melihat ke arah jendela yang memperlihatkan air hujan yang bercucuran jatuh membasahi bumi.


"Hujan itu rezeki." Dimas melewati para wanita yang masih terlihat sedih.


"Tika bersyukur adanya hujan, karena manfaatnya juga baik bagi banyak orang, tapi bisa tidak hujannya pindah ke tempat lain. Kenapa harus di sini? besok kita pulang." Tatapan Atika lemas sekali, liburannya hanya menunggu hujan reda.


Suara Diana menghela nafas bekali-kali terdengar, wajahnya sudah mirip ayam penyakitan tidak punya semangat hidup sama sekali.


"Kalian ingin mendengar Di bernyanyi?" Senyuman Diana terlihat.


Aliya dan Atika menggelengkan kepalanya, diikuti oleh Helen yang menyilang tangannya. Hanya Anggun yang menganggukkan kepalanya.


Diana langsung berdehem mengambil posisi, meminta semuanya fokus mendengarkan isi hatinya yang akan dia ungkapkan dalam lagu.


"Terlalu lama aku menahan diri


Terkurung di dalam sepi hidupku


Ku kira cintamu dulu bersemi lagi


Berkhayal aku dalam angan


Bermimpi aku dalam tidur, sendiri ...."


Atika menutup mulut Diana, meminta Di berpikir sebelum melanjutkan, karena nyanyian mirip Kakek-kakek baca koran.


Diana mengatur kembali suara, Tika memukul meja meminta Diana mulai mengeluarkan suara emasnya.


"Cintamu kini bukan untukku lagi


Cerita yang indah telah berlalu ...


Kini ... hatiku bagai di dalam sangkar emas


Panas tanpa air hujan menyirami


Sunyi hidupku seakan tiada arti lagi


Cintamu yang membuat aku bagai musafir."


Kemana harus mencari, jawaban hatiku


Kemana harus mengadu, hati yang merana


Terluka hatiku karenamu


Tersiksa hidupku tersiksa kekasih ...."


"Innalilahi wa innailaihi rojiun Di lebih baik kamu diam!" Aliya menutup telinganya yang terasa pecah mendengar suara Diana mirip orang ingin demo.


Atika sudah guling-guling di lantai tertawa, Anggun juga sudah menutup wajahnya menggunakan bantal sofa.


Diana tidak cocok bernyanyi lagu sedih, karena dia tidak tahu rasanya patah hati.

__ADS_1


Aliya melarang melanjutkan, lagu sedih tapi mirip lagu demo protes terhadap pemerintah.


"Dengarkan dulu sampai habis, mungkin ref nanti bagus." Diana merajuk, satu-satunya lagu galau yang dia ketahui lagu burung dalam sangkar.


Dengarkan lagu ini judulnya hatiku bagai di sangkar emas.


...Terlalu lama aku menahan diri...


...Terkurung di dalam sepi hidupku...


...Ku kira cintamu dulu bersemi lagi...


...Berkhayal aku dalam angan...


...Bermimpi aku dalam tidur, sendiri .......


...Cintamu kini bukan, untukku lagi...


...Cerita yang indah telah berlalu ......


...Kini ... hatiku bagai di dalam sangkar emas...


...Panas tanpa air hujan menyirami...


...Sunyi hidupku seakan tiada arti lagi...


...Cintamu.... yang membuat aku bagai musafir...


...Terlalu lama aku menahan diri...


...Terkurung di dalam sepi hidupku...


...Kemana harus mengadu hati yang merana...


...Terluka hatiku karenamu...


...Tersiksa hidupku tersiksa kekasih...


...Kini hatiku bagai di dalam sangkar emas...


...Panas tanpa air hujan menyirami...


...Sunyi hidupku seakan tiada arti lagi...


...Cintamu yang membuat aku bagai musafir...


Semua orang terdiam mendengar Helen bisa bernyanyi dengan suara indahnya mengantikan Diana, meksipun lagu yang mereka dengarkan sudah lama tidak dinyanyikan oleh anak muda


Suara tepuk tangan terdengar, Diana sampai berdiri memberikan dua jempol mendengar suara Helen yang ternyata ada bagusnya.


"Bagus, suara kira sebelas dua belas, dulu aku juga sebagus Helen." Di tertawa terus tepuk tangan.


"Lagunya bagus, tapi ini pertama kali mendengarkannya." Anggun menatap Diana yang langsung diam.


"Iya kak Anggun, lagu ini sering dinyanyikan oleh neneknya Helen, jadinya teringat selalu."


Atika langsung tertawa terpingkal melihat wajah Diana, dia gayanya saja mirip wanita bar-bar, tetapi lagu yang dia ketahui sudah zaman dahulu.


Aliya juga memang perutnya yang sakit karena banyak tertawa, dari sekian banyak lagu, Di tahunya lagu lama dan tidak tahu lirik asal menyanyi saja.

__ADS_1


"Kalian lucu sekali." Al duduk di lantai tidak kuat lagi tertawa.


"Apa ini lucu? berhenti tertawa. Lagunya bagus, dan mudah dihafal." Diana memarahi Helen yang mempermalukannya.


Altha dan Dimas yang mendengar sudah lelah menahan tawa, apalagi suara Diana yang membuat mereka terkejut karena sangat jelek.


Suara tawa Dika dan Kenan terdengar, melihat rekaman video yang Yandi tujukan saat Diana bernyanyi.


"Suara ini di edit pasti lucu dan viral." Dika menunjukkan kepada Anggun suara Diana vs Helen.


"Coba saja jika berani, aku pastikan kamu cacat." Diana sudah menggenggam kuat tangannya.


Anggun langsung memeluk Diana yang mengamuk, dia malu menjadi ejekan semua orang.


"Sudah tahu suara jelek, kenapa dengan percaya diri bernyanyi dengan suara lantang?" Dika duduk menatap Diana yang matanya menatap tajam.


Dimas meminta Dika berhenti, mengusap kepala Diana yang hampir menangis. Baginya suaranya sangat bagus.


"Daddy, Diana mulai besok les vocal."


"What? les vocal. Itu sudah akut, tidak bisa diperbaiki lagi." Dika menutup mulutnya.


Diana langsung maju, menjambak Dika memukulinya yang terus menjelekkan.


Dimas langsung menarik Diana, menahan tawa melihat tingkah Di yang menonton ulang suaranya.


"Elen, kamu saja yang mengajari aku bernyanyi."


"Tidak bisa, bakat kak Di ada di tempat lain, yang pastinya bukan musik." Elen menyukai Diana yang hebat dalam bela diri, anaknya sangat peka dan baik meskipun tidak ditunjukkan.


Diana tersenyum, membenarkan ucapan Helen soal dirinya yang memiliki bakat mematahkan tulang belulang orang.


"Tika diam!" Diana menatap si kecil yang masih cekikikan.


"Kak Di punya satu bakat, ada yang ingin tahu?" Tika langsung tertawa menatap Maminya.


Semua orang melihat Tika yang tertawa sendiri, Diana langsung memeluk Tika melarangnya membocorkan kepada orang lain.


Melihat wajah Di akhirnya Tika setuju dengan mendapatkan keuntungan, Al langsung merengek karena penasaran.


"Kalian ingin mendengar Aliya bernyanyi?"


Tatapan setiap orang langsung syok, menggeleng kepalanya tidak ada yang ingin mendengar.


"Arjuna pasti mau." Al memanggil putranya.


Juna berjalan mendekat, tidak tahu apapun yang terjadi menatap setiap orang menggelengkan kepala dengan tatapan memohon.


"Sayang, kamu ingin mendengarkan Mami bernyanyi?" Al menatap sambil memohon.


"Silahkan Mami, Juna ambilkan gitar." Juna langsung ke arah mobil untuk mengambil gitar dan akan mengiringi Maminya bernyanyi.


Altha menggaruk kepala, jika suara Diana mirip Guntur, lalu bagaimana dengan Aliya bisa kacau. Jika dikatakan jelek pasti menangis, karena Al sangat sensitif.


"Sayang, kamu lapar tidak?"


"Tidak, Al akan ingin bernyanyi."


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2