
Wajah Citra terlihat kaget saat melihat Aliya dan Anggun datang bersama Salsa, langka kaki Citra sangat lemah meneteskan air matanya melihat perut Al yang besar.
Al tersenyum melihat Anggun yang duduk, meletakan tangannya di balik kaca pembatas.
"Aliya, Anggun. Apa kabar kandungan kalian?" tangan Citra menepis air matanya.
Salsa hanya duduk diam memperhatikan kondisi Citra yang memprihatinkan, dia cantik dan sangat pintar. Hanya saja dia memilih jalan yang salah sehingga berakhir menyedihkan.
"Maafkan aku Aliya, maaf. Hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan, meskipun aku tahu tidak mungkin bisa termaafkan." Suara tangisan Citra sangat menyayat hati
Aliya mengerti dan dia sudah memaafkan, dan mereka sudah menemukan kebahagiaan sehingga tidak memiliki waktu untuk membenci.
Al mengeluarkan sesuatu dari tasnya, menyerahkan foto tiga buah hati Citra yang tersenyum lebar.
"Kamu simpan ini." Al menyerahkan foto.
Suara tangisan Citra semakin pecah, memeluk erat foto ketiga anaknya. Anggun dan Salsa tidak bisa menahan air mata melihat Citra yang sesenggukan menangis.
"Maafkan Mama Mora, sampai detik ini Mama belum menemui kamu. Maafkan Mama sayang." Citra memeluk erat foto ketiga anaknya.
Citra mengusap wajah Juna, mencium putranya yang pasti membenci dirinya yang membunuh darah daging sendiri.
Tidak bisa Citra bayangan putri centilnya yang selalu heboh, murah senyum, harus menangis ketakutan dan memiliki trauma karena ulah dirinya.
"Maafkan Mama Juna, kamu punya hak membenci Mama. Tika sayang, jadi anak baik ya nak." Citra memeluk foto, dan menerima kebencian kedua anaknya dan rela tidak dianggap ibu lagi.
Aliya meminta Citra berhenti menangis, dan mulai memperbaiki diri. Al berjanji akan mendidik Juna dan Tika menjadi anak baik dan membanggakan orang tuanya.
Al juga memastikan jika Juna tidak akan membenci ibu kandungannya, tapi untuk saat ini tidak bertemu jalan terbaik untuk masa depan Juna agar tidak sedih melihat Mamanya di penjara.
"Tolong jaga Juna dan Tika, hanya kamu yang bisa menjaga mereka, dengan taruhan nyawa. Terima kasih Aliya." Senyuman Citra terlihat, dia bahagia karena anaknya berada di tangan wanita yang tepat.
Senyuman Aliya terlihat, dia sangat mencintai Juna dan Tika, sama besarnya dengan anak yang Al kandung, bahkan jauh lebih besar.
Bagi Al kedua anaknya bagian dari nyawanya, tidak akan pernah meninggalkan dan menyakiti mereka.
"Maafkan aku Citra, setulus hati aku meminta maaf kak Citra. Bertahanlah sampai keluar dari tempat ini, dan temui Juna dan Tika sebagai seorang Mama yang baik." Al meneteskan air matanya, menyemangati Citra agar terus memperbaiki diri.
Citra sekuat tenaga menahan air matanya, tapi tidak bisa tertahankan. Hatinya benar-benar hancur dan terasa sakit. Mendengar perkataan Aliya, Citra ingin hidup lama dan meminta maaf secara langsung kepada anak-anaknya juga mengunjungi Mora.
__ADS_1
"Jangan menangis, kamu harus menjaga kesehatan karena sedang hamil. Jangan pernah datang ke sini lagi, aku akan sehat dan bertahan sampai hukuman berakhir." Citra berjanji akan berubah dan terus memperbaiki diri agar anak-anak tidak malu memiliki ibu kandung seperti dirinya.
Anggun ingin melakukan banding agar hukuman Citra diringankan, dan bersedia menjadi pengacara pribadi Citra.
"Anggun, aku memerintahkan orang untuk membunuh kamu, maafkan aku."
"Sudah Anggun maafkan, dan kita lakukan sebaik mungkin untuk meringankan hukuman."
"Tidak, biarkan aku membayarkannya. Aku ingin menerima hukuman ini. Dua puluh tahun tidak akan lama, aku bisa merenungkan diri." Citra mengucapkan terima kasih atas kebaikan Anggun.
Salsa meminta Citra menerima tawaran Anggun, setidaknya dikurangi satu dua tahun. Dua puluh tahun sangat lama, dan saat bebas sudah berumur.
"Dua puluh tahun ke depan, putraku sudah menjadi pria dewasa, putriku menjadi gadis cantik yang ceria. Mungkin juga mereka sudah menikah dan memiliki anak, apa mereka masih mengingat aku?" Citra tersenyum sambil menangis membayangkan hidupnya.
Jam besuk berakhir, Citra melangkah mundur mengucapkan terima kasih kepada Aliya, dia juga menitipkan kedua anaknya. Citra juga meminta Anggun tidak perlu terlibat apalagi membelanya.
Citra menerima hukumannya yang sudah sepantasnya, ucapan terima kasih juga ditujukan untuk Salsa.
Citra tidak mengizinkan Salsa datang, jika diberikan umur panjang Citra ingin membalas kebaikan Salsa. Jika dia tidak bisa membalasnya yang maha kuasa pasti memberikan kebahagiaan untuk dokter baik seperti Salsa.
Tangan Citra melambai, menghilang dari pandangan Aliya, Anggun dan Salsa.
Anggun langsung memeluk Al, mengusap air mata mereka agar tidak membuat Dika yang menunggu di luar khawatir.
Dika yang ada di luar duduk dengan gelisah, jika sampai Anggun terluka kepalanya bisa putus dipotong Dimas. Apalagi jika twins terluka, lebih baik gantung diri daripada melihat kemarahan Altha.
"Kenapa lama sekali?" Dika memeriksa tangan Anggun dan Aliya.
"Apa yang kamu lakukan Dika?" Anggun tersenyum melihat adik iparnya yang cemas.
Dika menunjukkan pesan dari Dimas dan Altha yang berisikan ancaman kematian, nyawa Dika tidak ada harganya.
Aliya tertawa lucu melihat tingkah Dika, langsung membukakan pintu mempersilahkan dua ratu masuk mobil.
"Dok, ayo kita antar pulang." Al menatap Salsa yang hanya berdiri diam.
"Terima kasih Al, aku masih ada pekerjaan." Salsa melambaikan tangannya.
Dika menahan tangan Salsa, membukakan pintu depan mempersilahkan masuk.
__ADS_1
Anggun dan Aliya saling tatap, mereka bisa menembak jika Dika dan Kenan baru saja putus.
"Apa yang kalian berdua tertawakan?"
"Kamu sudah putus sama Kenan dek?" Anggun tertawa lucu.
Salsa melihat ke arah Anggun dan Aliya yang tidak berhenti tertawa, binggung apa penyebab tawa dua bumil.
"Abaikan saja, dua wanita gila." Dika menggelengkan kepalanya.
Aliya meminta Dika menjemput Tika, dan tidak boleh telat jika tidak tuan putri akan mengamuk.
Sesampainya di sekolah Tika, Dika langsung keluar ingin menggendong tapi Tika menolak langsung membuka pintu mobil.
"Eh ... ada dokter cantik." Tika duduk di depan bersama Salsa.
"Sia-sia uncle keluar menjemput, membuat malu saja." Dika protes melihat Tika yang sengaja menjahili.
Tatapan Tika langsung memperhatikan wajah Salsa, sesekali melihat wajah Dika yang fokus melihat ke depan.
"Dokter pacaran sama uncle? kenapa mau?"
"Memangnya kenapa sayang?" Salsa merapikan rambut Tika.
Tika tersenyum, menatap wajah Dika, lalu melihat Maminya yang masih tertawa padahal tidak ada yang lucu.
"Aunty dokter, kenapa suka pengangguran seperti uncle Dika? katanya uncle Dimas, dia beban." Tika tertawa melihat wajah kesal Dika.
"Dia juga tidak tampan, jauh masih tampan Ayang Alt." Aliya menyahuti putrinya yang setuju.
Salsa diam sesaat, lalu tersenyum mengusap kepala Tika. Bagi Salsa, setiap anak yang lahir ke dunia sudah memiliki rezeki masing-masing dan memiliki keistimewaan.
Tampan dan cantik sesuatu yang relatif, banyak yang tampan, banyak juga yang kaya, banyak pria berpangkat bahkan ada banyak orang-orang berkuasa.
"Cantik, seseorang jangan lihat dari kaya dan tampan, tapi dari akhlak. Banyak pria taat beribadah, banyak juga pria Sholeh, tapi Aunty percaya selama niat memperbaiki diri, Allah buka pintu rezeki dan ditambah baik hatinya." Salsa tersenyum melihat Aliya dan Anggun.
Al tersenyum menepuk pundak Dika, Salsa juga mempersilahkan Anggun dan Al mampir ke panti asuhan tempat Salsa tinggal.
Al dan Anggun sangat terharu ... satu lagi mereka menemukan perempuan baik hatinya.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazara