
Senyuman Tika terlihat sepanjang makan malam, semuanya berkumpul untuk merayakan pernikahan Tika dan Genta.
"Bagaimana soal Dina?"
"Aish ... Ayang, tolong jangan dirusak moments ini. Please nanti saja membahas wanita itu." Kedua tangan Tika terlipat, dia harus makan banyak sebelum berperang.
"Kamu ingin berperang dengan siapa Tika?" Altha menatap Putrinya yang sudah menunggu makanan.
"Tika ingin malam pertama Papi, kalian ingin cucu tidak?" ejekan Tika terdengar menggoda banyak orang.
Genta menutup wajahnya menahan malu, bisa-bisanya istrinya bercanda soal hubungan suami-istri.
"Aku rasa Genta lari malam ini, harimau betina akan menerkamnya." Diana menyambung candaan Tika, diikuti juga oleh Aliya yang sama cocoknya.
Suara Juna berdehem terdengar, merasa risih dengan pembicara para wanita apalagi nanti akan ada anak-anak yang bergabung di meja makan.
"Halo semaunya,"
"Semuanya!" teriakan orang bersama terdengar melihat Isel yang datang dengan peralatan perangnya.
"Kenapa main keroyokan?"
Shin datang membawakan makanan dari restoran yang dia masak sendiri bersama koki barunya, Shin yakin semuanya akan menyukainya karena itu menu baru.
"Kak Shin masak bersama Uncle Reza, dia ganteng juga. Lumayan sih." Dean duduk di kursinya melihat semua orang diam.
Handphone Juna langsung lepas, menatap ke arah Shin yang menyusun makanan. Menceritakan soal kemampuan Reza yang akan menggantikan Shin untuk mengawasi restoran dan cabang.
"Bisnis kamu semakin sukses, dan lebih rendah hati lagi." Genta meminta adiknya duduk.
"Tidak sekalian kamu membawa Reza ke sini memperkenalkan kepada semua orang? kita ingin makan tidak pengen tahu siapa yang memasaknya." Juna kembali mengambil ponselnya, mengabaikan ocehan Shin yang membela diri.
Suasana mendadak hening, bertahun-tahun mengenal Juna dan pertama kalinya dia menunjukkan protes di depan semua orang.
"Aduh, ada yang cemburu. Kenapa para lelaki semuanya posesif?" Gemal memeluk Putrinya yang menyusun robot.
"Uncle Reza memang ganteng, baik, pintar masak, pengertian, penyayang, dan dia selalu melindungi Kak Shin." Suara Isel membuat panas Juna terdengar, mulutnya mengoceh tangannya sibuk membentuk robot.
"Sel, setiap kalian terluka siapa yang mengobati? sepuluh jati Shin terluka kenapa meminta aku mengobatinya, datang saja kepada Reza biar di goreng tangannya." Juna meremas ponselnya.
Semua orang melihat ke arah tangan, bisa Juna melawan ucapan Isel. Berbeda dengan si kecil tidak ada habisnya.
__ADS_1
"Baru enam jari yang pernah luka," Shin menunjukkan jarinya dan meralat ucapan Juna.
"Ay Jun cemburu sama Uncle Reza. Dia bisa berduaan dengan Kak Shin, sedangkan Kak Juna batal tunangan. Kasihan sekali."
Juna langsung berdiri dari tempat duduknya, Diana memukul Juna agar tidak membentak Isel karena baru saja sembuh.
"Jun, kamu hadapi dulu papanya." Gemal tertawa melihat Juna kesal.
Tubuh Isel terangkat, Juna mengambil semua mainannya membawa Isel menjauh dari tempat makan. Membiarkannya duduk sendirian di pojokan.
"Kenapa Kak Juna?" Tika membawa minuman bersama Shin.
"Ay, coba minuman ini,"
"Tidak mau, temui saja Reza. Minta dia yang minum, sekalian masukkan racun." Juna melangkah pergi tidak ingin ikut makan.
Aliya dan Altha langsung tertawa, mereka tidak pernah melihat Juna bicara seperti itu. Pertama kalinya Juna menunjukkan sisi mengemaskan karena cemburu.
Melihat Juna pergi Shin masih binggung, meletakan minuman dan duduk di samping Genta yang sangat penasaran dengan perubahan sikap Juna.
"Kenapa Juna?"
"Tidak tahu, tiba-tiba saja aneh." Kedua pundak Shin terangkat melihat kakaknya yang masih penasaran.
Suara tawa semua orang terdengar saat lelucon Tika terucap, makanan hampir keluar saat Juna yang sudah dewasa baru mengalami pubertas.
"Pubertas itu apa Uncle Dean?" Isel duduk di pinggir Dean yang sedang makan.
"Pubertas adalah proses perubahan atau perkembangan seorang dari segi fisik menjadi dewasa secara seksual, dan aku belum pubertas. Jangan tanya lebih dari itu Isel." Dean memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Suara langkah kaki Ria dan Juan terdengar, rambut Ria acak-acakan seperti singa karena dari mengamuk kepada Kakaknya.
"Kak Ria pubertas karena rambutnya berubah mengembang." Tawa Isel terdengar melihat mata Ria tajam.
Suara sendok makan terdengar, saat makan semuanya tenang. Diana masih mencari kedua putranya yang ada di dalam rumah bersama Juna.
"Lihat tingkah laku Juna, dia makan mie bersama Gion." Diana geleng-geleng kepala.
"Mie." Tika, Shin, Ria dan Isel langsung berlari kencang rebutan masuk ke dalam rumah.
"Makanan enak banyak, rebutan mie. Pasti ribut lagi ini,"
__ADS_1
Genta mengerutkan keningnya menatap makanannya, melihat satu-persatu keluarga yang terlihat mengetahui sesuatu.
"Mami, kenapa Juna membatalkan lamaran? apa ada wanita yang dia cintai." Genta memberanikan diri untuk menanyakan.
Aliya melihat ke arah Altha, kepala Al mengangguk. Secepatnya Juna akan memperkenalkannya, dan Genta akan tahu siapa calon anggota baru keluarga mereka.
"Syukurlah jika Juna memilih wanita yang dicintainya,"
Gemal langsung batuk, seandainya Genta tahu jika yang di syukuri adiknya sendiri. Gemal juga masih tidak percaya, ipar menikahi ipar.
"Apa ipar dan ipar bisa menikah?"
Tatapan mata melihat ke arah Gemal, tidak ada yang memberikan jawaban karena belum pernah terjadi secara langsung.
Puluhan tahun hidup, masih belum menemukan jika Kakak kandung menikahi adik dari suami Adiknya.
"Haruskan kita mendengarkan ceramah soal pernikahan?" Dimas menatap istrinya yang mengangkat kedua bahunya.
"Jika Dean menikahi Ria bukannya masih bisa dimaklumi, jadi ipar dan ipar juga bisa jadi." Di mengerutkan keningnya masih merasa ragu.
"Dean menikahi Isel apa itu juga wajar? mereka tidak ada hubungan darah, ipar juga tidak punya hubungan darah." Al yakin jika bukan kandung tidak masalah.
"Seandainya Juan dan Isel menikah apa itu juga boleh? apa tidak karena Al dan Di kandung?"
"Sudahlah Gemal jangan membuat kepala Daddy semakin banyak uban, kalian membuat pusing saja,"
Altha hanya diam saja memperhatikan Genta yang kebingungan melihat perdebatan soal pernikahan sekeluarga meksipun tidak ada hubungan darah.
"Memangnya siapa yang ungu menikah dengan ipar?" tangan Genta terlipat di dada, merasa ada yang disembunyikan dari dirinya.
Juna membatalkan pertunangan karena ada perasaan kepada wanita lain. Antara semua orang yang sudah berumah tangga hanya Shin dan Juna yang ipar.
"Hal mustahil Juna menyukai Shin? aku tidak yakin, mereka bagaimana langit dan bumi,"
"Lalu, kenapa kamu mencintai Tika? kalian bagaikan air dan api?" Al tersenyum melihat menantunya yang sangat populer polos soal cinta.
Bagi Aliya, cinta tidak bisa dibandingkan dengan istilah di dunia ini karena tidak ada yang bisa menghentikan perasaan cinta.
"Langit dan bumi memang tidak bisa bersatu, begitupun api dan air. Namun perasaan cinta bisa mengalahkan panas api dingin air, tingginya langit dan dalamnya bumi." Al tersenyum sangat manis meminta menantunya memahami keistimewaan cinta.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira