ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BERKHIANAT


__ADS_3

Langkah Roby masih mengikuti Aliya yang diam saja membiarkannya. Banyak hal yang Aliya pikiran, terkadang ada rasa kasihan melihat keadaan Roby yang kesulitan.


"Pak berjalan di samping Al, jangan seperti penguntit." Senyuman Aliya terlihat, meminta Roby duduk bersamanya sambil melihat banyak anak jalanan.


Roby terkejut melihat di bawah jembatan ada kehidupan, bahkan satu keluarga tinggal di sana.


"Apa yang mereka lakukan di sana?"


"Menangkap buaya, pastinya bertahan hidup pak." Al tersenyum, melihat dari kejauhan dan ketinggian.


"Apa mereka butuh bantuan?" wajah sedih terlihat, setiap orang memang memiliki kesulitan masing-masing.


Al tertawa pelan, mungkin jika dilihat dari atas hanya melihat sebuah kesulitan, tanpa ada yang tahu jika mereka bahagia.


Bukan belas kasihan yang dibutuhkan, tetapi perjuangan yang membutuhkan proses panjang.


Bertahan hidup dengan makan dan mencari tempat tinggal yang layak mungkin sebuah kesulitan, setidaknya mereka satu keluarga dan berkumpul bersama.


"Mereka beruntung Pak karena ada ayah ibu, tidak seperti kita yang hidup dari keluarga kaya namun lupa wajah orang tua kita. Bukankah itu lebih menyakitkan?" mata Al terlihat sayu, mengingat kembali dirinya yang selalu dipukul.


Seandainya ayah angkatnya yang datang menyelamatkannya tidak gelap mata, mencintai Al dengan penuh ketulusan bukan karena harta. Mungkin hidup Al tidak hancur seperti sekarang.


"Jangan pernah memberikan kemewahan kepada seseorang yang sedang berjuang dengan instan, biarkan waktu yang memproses." Al memeluk kedua lututnya, tersenyum melihat anak-anak tertawa sambil memancing.


Hampir satu jam Roby dan Aliya hanya berdiam diri, keduanya tidak mengeluarkan sepatah katapun larut ke dalam pemikiran masing-masing.


Tatapan Al melihat ke arah Roby, meninggalkan sebuah flashdisk dan melangkah pergi meninggalkannya sendiri.


Aliya menghidupkan ponselnya, melihat panggilan Altha masuk bahkan ratusan pesan juga terkirim.


Secara spontan Aliya mematikan panggilan, senyuman Al terlihat sengaja ingin membuat Altha marah.


Sebuah tangan menariknya, Altha menatap tajam ingin memeluk kepala Aliya yang mengabaikan panggilan bahkan mematikan ponsel.


"Ayang, kenapa ada di sini?"


"Ikut aku."


Altha menjalankan mobilnya, menatap Aliya tajam. Senyuman Al terlihat tidak menyangka jika Altha meletakan pelacak di ponselnya.


"Sekali lagi ponsel kamu mati, jangan menggunakan handphone lagi." Alt bicara sangat dingin.

__ADS_1


"Aku hanya bersantai, dan menenangkan pikiran."


Suara Altha meninggi bahkan berteriak marah, menenangkan pikiran tapi berdua dengan pria lain. Penenang yang sangat luar biasa tidak bisa Altha cerna dengan pikirannya.


"Kenapa kamu marah?"


"Kenapa marah? kamu dan Citra ada hubungan dengan Roby? aku seperti lelaki paling bodoh yang dipermainkan oleh kalian." Pukulan di setir sangat kuat sampai membunyikan klakson berkepanjangan di jalan.


Aliya pertama kalinya melihat Altha marah yang sangat serius, Al merasa Altha meluapkan amarahnya setelah berbulan-bulan mencoba untuk menahannya.


"Kamu sebenarnya marah sama siapa? aku atau Citra apa Roby atau diri kamu sendiri?" bicara Aliya sangat pelan, tidak tahu penyebab Altha tiba-tiba mencari dan marah dalam keadaan berkendara.


Alt meminggirkan mobilnya, meletakan kepalanya di setir mobil menahan air matanya yang ingin menetes.


Aliya langsung keluar dari mobil, melangkah pergi membiarkan Altha sendirian untuk menyelesaikan masalahnya.


Sebuah taksi lewat, Al langsung menghentikan dan masuk ke dalam meminta taksi mengantarnya kembali ke rumah.


Tatapan Altha sayup melihat Aliya pergi, air mata menetes. Dirinya marah kepada diri sendiri yang tidak menerima kenyataan.


Pukulan kuat di setir mobil, Alt tidak tahu apa yang harus dia lakukan melihat Roby mengambil segalanya darinya.


Sudah cukup dia menghacurkan pernikahan, Altha tidak akan membiarkan putrinya direbut. Alt juga tidak akan membiarkan Aliya mengendalikannya.


Panggilan masuk, Al langsung menjawab dan mematikan panggilan begitu saja langsung melangkah pergi untuk melakukan pengejaran.


Tiba di lokasi suara tembakan sudah terdengar, Banyak orang yang berlarian berhamburan pergi menyelamatkan nyawa masing-masing.


Tim Altha sudah saling kejar-kejaran, Alt masih menatap saja pikirnya sedang tidak tenang.


Langsung keluar dari mobil, berlari kencang mengejar segerombolan pria bersenjata yang masuk ke gedung kosong.


"Berhentilah!" Altha berteriak kuat menembakan senjata ke atas.


Dua pria mengarahkan senjata kepada Altha, tidak membuatnya takut sama sekali. Alt melangkah maju dengan tatapan sinis, mengejar kembali dua pria yang juga tersenyum sinis.


"Ketua jangan masuk ke sana, ada jurang." Yandi langsung menghubungi tim dan mengejar Altha masuk ke dalam gua kecil.


Tatapan Altha tajam melihat bangunan gelap, melangkah perlahan dan melihat dua pria yang bergelantungan.


"Bodoh." Alt duduk melihat ke bawah jurang.

__ADS_1


Suara meminta bantuan terdengar, Alt hanya diam saja menunggu tim lainnya untuk datang. Dia sedang tidak bersemangat untuk banyak tanya.


"Tuan selamatkan saya, ada anak istri yang harus dinafkahi." Sebuah tatapan memohon berserta air mata.


"Kamu tahu pekerjaan ini bisa menjebloskan ke dalam penjara, tetapi kenapa dilakukan?" nada dingin terdengar, tidak ada rasa kasihan sama sekali.


"Kami tidak memiliki pilihan, jika mati juga tidak akan ada yang tahu jika kami juga ada di dunia ini. Tolong kasihanilah."


Altha tertawa kecil, kenapa dia harus kasihan terhadap keluarga orang lain sedangkan keluarganya juga berantakan, menghacurkan hatinya tanpa belas kasihan.


Suara langkah kaki terdengar, Alt langsung bersembunyi ingin melihat siapa yang datang.


Tanpa Altha sadari ada seseorang di belakangnya, menatap punggung Altha tajam yang sedang mengintai sesuatu.


Altha, kamu jatuh ke jurang?" Yandi melihat dua buronan bergelantung.


"Tolong tarik kami, ada bukti untuk mengetahui siapa pemimpin kami." Seseorang menunjukkan kepada Yandi memori yang mereka cari.


"Aku tidak akan percaya." Suara tembakan terdengar.


Satu orang yang memiliki barang bukti langsung ditembak, Altha berlari menangkap tangan meminta Yandi membantunya.


Satu orang lagi ditembak dari kejauhan dan jatuh ke jurang, Alt melihat ke arah tempat senjata.


"Kita tiba di markas mereka." Alt menembak balik.


"Awas Alt." Dimas ingin menembak, tapi seseorang berhasil memukul Altha dari belakang.


Tubuh Altha jatuh, mengeluarkan darah dari kepalanya. Alt masih bisa berteriak untuk mengejar.


"Keselamatan tim jauh lebih penting dari pada mengejar mereka." Dimas meminta Yandi menyelamatkan yang memegang barang bukti, dia tidak boleh meninggal.


Dimas menutup kepala Alt dengan kain, mencoba menghentikan pendarahan.


"Kamu kenapa Altha? jika ada masalah jangan pergi bekerja, ini berbahaya bodoh." Dimas membantu Alt untuk berdiri.


"Dim, Aliya sama saja seperti Citra, dia mengkhianati aku bersama Roby. Mereka bertiga hanya mempermainkan aku." Alt menutup matanya.


***


FOLLOW IG VHIAAZAIRA

__ADS_1


__ADS_2