
Pintu ruangan terbuka, Aliya menangis histeris melihat kondisi Tika yang babak belur. Matanya merah, bibirnya biru, banyak bagian tubuhnya yang terluka.
Melihat kondisi Putrinya Altha memperbanyak istighfar, tidak bertengkar di sekolah, Tika bertengkar di luar sekolah.
"Sakit ya sayang, ya Allah Atika. Mami sangat menjaga agar kamu tidak terluka, tetapi dengan gampangnya kamu merelakan disakiti." Al menangis, tidak terima melihat kondisi Putrinya.
Kepala Tika pusing meminta keluarganya tenang, kedatangan Ria sambil menangis membawa pentungan untuk membalas dendam.
Melihat adiknya, Atika bukannya sedih tapi tertawa sangat lepas. Ria marah-marah mengutuk orang yang menyebabkan kakaknya terluka.
Wajah Juan juga terlihat menyesal, dirinya gagal menjaga kakak perempuannya sesuai amanah kakak pertamanya.
"Maafkan Juan kak."
"Kenapa meminta maaf? ini hanya luka kecil. Kak Tika belum patah tulang." Senyuman Tika terlihat, mengusap kepala adik lelakinya.
Suara langkah kaki berlarian terdengar, Anggun datang bersama Mam Jes, diikuti oleh Dimas dan Calvin yang terkejut melihat kondisi Tika.
"Ramainya, Tika hanya luka kecil." Atika melotot, bahkan dia masih bisa lompat-lompat.
"Kak Di, kenapa diam saja melihat Tika bertengkar?"
"Apa kamu meminta aku juga bertengkar?" Di mengerutkan keningnya tidak suka dengan pertanyaan Aliya.
Al tidak meminta Di bertengkar, setidaknya sebagai wanita dewasa Diana menghentikan sebelum terjadi sesuatu.
Diana tidak memberikan contoh yang baik kepada anak seumuran Tika, tawuran dan pengeroyokan menjadi sesuatu yang normal.
Al hanya tidak menyangka Diana membiarkan Putrinya sampai babak belur, sedikit saja Tika terluka Aliya tidak terima, apalagi wajah Tika memar dan membiru.
"Aku bukan tidak ingin menghentikan, tapi ini cara mereka mendewasakan diri." Di masih tidak terima disalahkan.
"Jangan samakan, kehidupan kelam kamu dengan putriku. Cukup kita yang penuh pertarungan, pertengkaran sekalipun kematian, tapi aku tidak ingin putriku mengalaminya." Al menangis sesenggukan.
Alt menenangkan Aliya, hal yang terjadi sudah tidak bisa dihindari. Altha akan bersikap tegas kepada Tika yang memang sudah kelewatan batas.
"Siapa yang melakukan ini? panggil orangtunya dan selesaikan. Mereka harus tahu berurusan dengan siapa?" Dimas meminta Aliya berhenti menangis, dan menemui orang tua anak yang menyerang Tika.
Al langsung ke ranjang sebelum Tika, meneriaki Shin mempertanyakan keberadaan orang tuanya.
__ADS_1
Shin hanya tersenyum, tatapan masih melihat ke arah luar jendela. Tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Aliya.
"Di mana orang tua kamu?" Al menarik pundak Shin.
Al cukup kaget melihat wajah Shin yang ada luka goresan benda tajam, bibirnya biru, bawah mata biru, pipinya memar. Kondisi Shin lebih buruk dari Atika.
Niat Aliya ingin marah, tapi langsung terdiam. Menyentuh rambut Shin yang panjang pendek tidak beraturan.
"Jangan memarahi Shin Mami, ini sepenuhnya bukan salahnya. Tika akan menjelaskan."
"Apa ini perbuatan kamu Tika? astaghfirullah. Anak ini mengalami luka lebih parah." Alt menatap kaget, merasa aneh dengan Shin yang hanya menunjukkan senyuman.
Diana langsung menceritakan pertandingan imbang antara Tika dan Shin, keduanya bertarung secara normal dan lawan yang imbang.
Ada sesuatu yang berada di luar dugaan Tika dan Shin, sesuatu kejadian yang tidak mereka inginkan tetapi terjadi. Wajah Shin terluka dan babak belur, bukan kesalahan Tika, tapi keinginannya sendiri yang tidak melakukan perlawanan.
Atika membenarkan ucapan Diana, Aliya sampai terduduk di lantai mendengar penjelasan yang tidak masuk ke dalam kepala Aliya.
Membayangkan Putrinya hampir jatuh saja dada Aliya ingin meledak, kejadian di luar dugaan yang membahayakan nyawa.
"Di mana orang tua kamu? Gemal kamu sudah menghubungi orangtunya?" Al ingin bicara langsung dengan orang tua Shin.
Gemal menganggukkan kepalanya, seharusnya orang tua Shin sudah datang, tapi tidak paham juga kenapa belum muncul.
Aliya menggenggam erat tangannya, tidak ingin melihat wajah Shin lagi berurusan dengan Putrinya. Aliya akan memindahkan sekolah Tika, dan membiarkan masalah kali ini.
"Kasih tahu orang tua kamu, punya anak diurus, dijaga dan lindungi jangan dibiarkan liar." Al terlihat sangat marah.
Kepala Shin mengangguk, langsung menatap ke arah jendela lagi. Suara keluarga datang dan pergi menunjukkan kasih sayang, tapi tidak dengan Shin yang hanya sendirian.
Saat malam tiba, Shin masih duduk menatap keluar. Atika terbangun, menatap Mami dan Papinya yang tertidur menjaganya.
"Shin, kamu sudah makan belum? dari siang tidak ada satupun orang yang datang membawakan makanan." Tika menatap Shin yang menunjukkan senyuman.
"Jika aku lapar, bisa mencari makan. Tidak perlu mengkhawatirkan aku." Kepala Shin menggeleng sambil tersenyum.
Mata Aliya terbuka, bisa mendengar pembicaraan Shin dan Tika yang terlihat bermusuhan, tapi masih menanyakan keadaan.
Ari mata Aliya menetes, dirinya juga memperhatikan jika tidak ada yang menjenguk Shin bahkan tidak ada yang menghubunginya.
__ADS_1
"Selamat malam, aku tidur dulu." Mata Shin terpejam, menarik selimut.
***
Mata Shin terbuka, menatap ranjang Tika yang sudah ramai. Seluruh keluarga Tika datang menjenguk, terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi Tika.
"Kamu sudah bangun, di mana orang tua kamu? pagi ini sudah boleh pulang." Perawat mengantarkan makanan dan obat untuk Shin.
Shin meminta suster langsung mengurus kepulangannya, dan akan membayar biaya pengobatan di bagian administrasi. Pihak rumah sakit tidak harus menunggu orang tuanya, karena tidak akan pernah datang.
Senyuman Shin terlihat, memakan obat secara langsung dan mengambil satu sendok makan langsung bersiap untuk pergi.
"Kamu sudah siap pulang, kak Diana membelikan baju dan membawakan makanan. Kamu makan dulu, kak Di suap. Ingat ini tidak gratis." Senyuman Diana terlihat.
Tawa Shin terlihat, menatap Diana yang terlihat sangat cantik, kebahagiaan juga terlihat di wajahnya.
Tatapan Tika melihat Shin yang juga menatapnya, Tika tersenyum dan mendapatkan balasan senyuman.
Atika juga sudah diizinkan pulang, namun masih harus tetap mengkonsumsi obatnya.
"Kakak ini yang memukul kak Tika. Tunggu saja, nanti Ria balas." Pukulan Ria menghantam paha Shin.
"Belajarlah bela diri, setelah merasa kuat temui aku, kita bertarung secara sehat."
"Jangan coba-coba menyentuh adikku, karena kamu harus melangkahi mayat kakaknya terlebih dahulu." Tika menatap sinis.
Kepala Shin mengangguk, langsung turun dari ranjang, mengucapkan terima kasih kepada Diana. Mengambil makanan dan baju yang dibelikan.
Sesuai janji Shin, dia akan membawa Diana ke tempat yang penuh canda dan tawa. Memberikan satu hari penuh kebahagiaan.
"Sampai bertemu lagi baby Sel." Tangan Shin menyentuh perut Di.
Aliya memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat Shin yang berjalan keluar. Al tahu jika kaki Shin pincang, tapi di depan semua orang dia berjalan dengan sangat baik.
Al langsung keluar, menatap punggung Shin yang berjalan menarik kakinya.
"Maafkan ucapan Tante kemarin, jangan diambil hati. Aku tidak tahu ada masalah apa dalam keluarga kamu, tapi tolong jangan libatkan Tika lagi." Al langsung melangkah masuk.
Shin masih tetap berjalan, satu tetes air matanya jatuh, tapi langsung cepat ditepis.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira