
Suara langkah kaki Tika berlari kencang menuju ruangan pelatihan. Di atas ring Genta sudah tergeletak memejamkan matanya, menutup dengan lengannya.
"Aku lelah, tinggalkan aku sendiri." Genta mendengar suara seseorang naik, sudah pasti Genta yang akan mengejeknya kembali.
Tangan Tika menarik lengan Genta, melihat hidung kekasihnya berdarah, bibirnya juga terluka, ada lebam di wajah.
"Siapa yang melakukan ini?"
Genta membuka matanya, kaget melihat Tika dihadapannya. Genta lebih kaget lagi melihat baju Tika yang memperlihatkan belahan dadanya, juga pahanya.
"Astaghfirullah Al azim, baju apa yang kamu pakai?" Genta memalingkan wajahnya langsung berdiri membelakangi Tika.
"Baju perang, kenapa wajah Om?"
"Ganti baju Tika, kamu terlihat mengerikan dengan baju itu." Genta lompat dari atas ring, berlari keluar ruangan.
Langkah Genta terhenti melihat Shin yang berdiri di depan pintu, Tika juga kaget melihat Shin masih belum tidur.
"Dek, maafkan Kak Genta. Pinjem jaket kamu." Genta melepaskan jaket Shin, memejamkan matanya memakaikan kepada Tika.
"Kak Genta tega sekali, Shin kedinginan demi menghangatkan Tika."
"Itu bukan menghangatkan Shin, lihat betapa menyeramkan baju Tika." Kepala Genta geleng-geleng.
"Tika seksi,"
"Astaghfirullah, sabar Genta." Tanpa mempedulikan Shin dan Tika, Genta melangkah pergi ke dapur mengambil air minum.
"Om tua Kenapa? dada Tika kecil. Apa harus Tika operasi untuk membesarkannya?"
Genta langsung merinding, memalingkan wajahnya menghindari Tika. Shin hanya cekikikan tertawa, melihat dua orang yang berputar-putar.
"Ganti baju kamu Tik." Shin mendorong Tika menjauhi Kakaknya.
Setelah Tika pergi, Shin mendekati Kakaknya melihat beberapa lebam di bagian wajah, masih ada darah di hidung.
"Kak Genta kenapa?"
Senyuman Genta terlihat, menyatakan dirinya baik-baik saja. Genta terluka karena bertarung dengan Gemal, tidak ingin melukai akhirnya Genta banyak mengalah.
Isel selalu menangis jika melihat wajah Papanya ada gores sedikitpun, tidak mungkin Genta tega memukul.
Suara lari-larian terdengar, Tika sudah berganti baju sambil membawa obat. Meminta Genta duduk untuk diobati, Shin menyiapkan cemilan untuk mereka.
"Maafkan aku Tika, kamu jangan marah." Genta menggenggam tangan Tika yang menyentuh wajahnya.
"Tika tidak marah, hanya sakit hati."
__ADS_1
"Maaf maaf maaf, aku sungguh tidak mengenalnya." Genta melipat kedua tangannya memohon.
Atika beranjak dari duduknya, mengintip Shin yang masih sibuk di dekat kompor. Senyuman Tika terlihat, berjalan kembali ke arah Genta yang membersihkan darah dari hidungnya.
"Mau Tika obati tidak, di mana saja yang terluka?" Tika mendekati wajah Genta yang sudah tersenyum.
Tangan Genta menunjuk hidungnya, Tika dengan lembut menciumnya. Ragu-ragu Genta menunjuk bibirnya, baru saja Tika mendekat suara Shin berteriak mendekati.
"Astaga Shin, untung sayang kalau tidak sudah aku tendang kamu." Tika menatap tajam Shin yang membawakan satu mangkok mie.
Kepala Genta tertunduk mentertawakan Tika yang marah-marah tidak jelas, Shin sampai binggung melihat Tika menyindir dirinya.
"Ayo makan Kak." Shin menyuapi Genta, Tika juga membuka mulutnya meminta disuap.
"Mana bagian aku, astaga pelit sekali kamu Shin, masaknya hanya satu."
"Makan sendiri Tika, punya tangan. Mau banyak buat sendiri." Shin memukul lengan Tika yang menariknya.
"Cukup, suara kecilkan orang sudah tidur. Kak Genta saja yang menyuapi." Genta mengambil sendok dari tangan Shin.
Tawa Shin terdengar, merasa bahagia bisa makan dari tangan kakaknya meksipun hanya makanan sederhana. Atika juga bahagia sampai joget-joget kesenangan.
Kehadiran Shin tidak menganggu sama sekali, tapi menambah kebahagiaan Tika dan Genta meksipun belum bisa mengungkap hubungan keduanya.
"Habis, Kak Genta mengambil minum dulu."
"Sudah mulai Tik?"
"Gila ganteng banget, jangan sampai wajahnya terluka." Tika menatap layar tv melupakan Genta yang memegang dua gelas air minum.
Shin meminta Kakaknya duduk untuk melihat pertandingan beladiri, Genta duduk di tengah dua wanita yang sama-sama heboh.
Selama pertandingan Genta hanya diam, menunggu Shin dan Tika menyudahi teriakan pelan mereka agar tidak menganggu.
Kepala Tika bersandar di dada Genta, sedangkan Shin sudah tertidur menggunakan paha Genta sebagai bantal.
"Sudah ngantuk?"
"Emh, tapi belum habis. Kak Genta saja yang menonton besok ceritakan kepada Tika." Mata Tika terpejam, sudah berat menahan kantuk.
Senyuman Genta terlihat, mengusap kepala Adiknya juga kekasihnya. Makan dan menonton bertiga menjadi moments yang sangat indah dan membuat Genta sangat bahagia.
"Semoga kita bertiga selalu seperti ini, aku sangat menyayangi kalian berdua." Genta mengusap kepala Tika dan Shin bersamaan.
Tanpa disadari, Genta tidak sengaja tertidur, ketiganya tidur nyenyak di ruang tamu bahkan sampai kesiangan.
"Ada apa ini?" Gion memotret tiga orang yang masih tertidur nyenyak menggunakan kameranya.
__ADS_1
Tatapan Gion memperhatikan Shin, Tika dan Genta secara bergiliran. Menggelengkan kepalanya, berteriak memanggil Neneknya mengadu jika Tika, Shin dan Genta tidak sholat dan bangun kesiangan.
Mam Jes berjalan mendekat, kaget melihat tiga orang tidur. Satu tangan Genta menggenggam tangan Shin, dan satunya memeluk pinggang Tika.
"Genta, bangun Nak. Pindah ke kamar masing-masing." Mam Jes memegang kening Genta, langsung melepaskan tangannya. Tubuh Genta sangat panas. Demam sangat tinggi, namun Genta tidur tersenyum.
"Ian, kemarilah." Gion melihat adiknya yang berjalan ke dapur, Mam Jes sudah berlari mencari Juna dan Hendrik.
"Ada apa Kak?"
"Apa ini namanya cinta segitiga?" Gion meminta jawaban dari adiknya yang jenius.
Ian melangkah pergi, meninggalkan kakaknya yang memberikan pertanyaan tidak menyenangkan hatinya.
Genta terbangun, melihat Tika yang sudah sudah ngiler, Shin juga masih tertidur. Genta merasa tubuhnya sakit semua.
"Cepat Pa, ingat pesan Papa mertua soal Genta, dia tidak boleh demam." Mam Jes berteriak kuat memarahi suaminya.
Shin terbangun, merasakan wajahnya panas. Melihat Tika yang berada dalam pelukan sedangkan Genta memejamkan matanya menahan sesuatu.
"Kak, kenapa hidungnya berdarah?" Shin menyingkirkan kepala Tika agar menjauh.
"Sakit," Tika membuka matanya.
"Astaghfirullah Al azim Genta, kenapa darahnya banyak sekali?" Papa Calvin menahan darah.
Shin langsung menangis, Tika menatap terkejut melihat Genta mengeluarkan darah dari hidungnya.
"Om, kenapa bisa berdarah?"
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir." Genta berusaha menenangkan.
Suara beberapa orang berlarian terdengar, Juna dan Hendrik mendekat melihat kondisi Genta yang berdarah banyak.
"Ini bukan pertama kalinya? kamu sakit apa Genta?" Hendrik menggenggam tangan Genta yang mulai lemas.
Air mata Mam Jes menetes, memeluk Genta yang sudah selesai mimisan. Semua orang memaksa Genta untuk jujur dengan penyakitnya.
"Leukimia atau kangker darah, Kak Genta tahu itu bahaya dan mengancam nyawa. Apa gunanya memiliki banyak dokter dalam keluarga jika salah satu menyembunyikan penyakit." Juna langsung melangkah pergi.
Diana berjalan mendekat, melihat Genta yang wajahnya pucat. Tangan Di memegang Kening, denyut nadi.
Di melihat ke arah Tika dan Shin yang sudah terduduk lemas, keduanya pasti sangat hancur. Dibalik kuatnya Genta dia menyembunyikan sesuatu.
"Sudah tidak perlu khawatir, prediksi Juna kemungkinan salah."
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira