ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
WARNA PELANGI


__ADS_3

Dari jauh Tika dan Genta menatap rumah lama masa kecil Shin yang sempat hancur sudah dibangun kembali, namun berukuran tidak sebesar sebelumnya.


"Yakin Shin ada di sini?" Genta menatap Tika yang melihat rumah belum sepenuhnya selesai.


"Tidak tahu, kita coba saja masuk." Tika berjalan ke arah dalam, menatap binggung di mana letak pintu.


Tanpa sengaja Genta memegang sebuah patung kepala, pintu langsung terbuka membuat Tika teriak kaget.


"Wow, kenapa bisa?"


"Pelan-pelan Tika." Genta mengandeng tangan melangkah masuk ke dalam.


Mata Genta dan Tika sama terkejutnya, melihat wanita cantik sedang mengecat tembok.


"Astaghfirullah Al azim, apa yang kamu lakukan Shin?" Tika menatap dinding rumah yang berwarna pelangi.


Mendengar suara Tika Shin kaget langsung terpeleset dan jatuh ke lantai, cat rumah berhamburan. Tubuh Shin juga berubah warna pelangi.


Mata Genta tidak berkedip sama sekali, masih terheran-heran melihat Adiknya yang menghindari semua orang tanpa kejelasan.


"Apa yang kamu lakukan Shin? membohongi semua orang, dan menyendiri seperti ini." Nada Genta tinggi, menarik tangan Shin untuk pulang.


"Tidak mau, Shin akan tetap di sini sampai cat rumah ini selesai." Shin memeluk cat dinding menolak dipaksa pulang.


"Kenapa tidak meminta orang saja yang melakukan?"


Tangisan Shin terdengar, hanya menangis saja tanpa mengatakan apapun. Genta terlihat marah karena paling tidak suka dibohongi.


"Kenapa menangis? tidak ada yang marah apalagi memukul. Kamu anggap kita keluarga tida? kenapa berbohong?!"


Tangisan Shin semakin kuat, dia sudah meminta orang melakukannya bahkan membayar arsitek terbaik dengan harga yang fantastis, tapi tidak ada yang ingin melakukan setelah rumah hampir selesai.


"Kenapa?"


"Satu minggu yang lalu ada pekerja yang meninggal, rumor rumah ini semakin tersebar sampai tidak ada yang ingin melanjutkan." Air mata Shin mengalir di wajahnya yang penuh cat.


Tika langsung memeluk Genta, melihat sekelilingnya bekas orang meninggal karena kecelakaan saat bekerja.


"Lalu kenapa tidak jujur?"


"Semua orang sedang berduka,"


Suara panggilan di ponsel Genta terdengar, melangkah menjauhi Tika dan Shin untuk menjawabnya karena bersangkutan dengan pekerjaan.

__ADS_1


Senyuman Tika terlihat, berjalan pelan ke arah Shin, menatap wajah sahabatnya yang membengkak.


"Kamu masih sedih kehilangan Mama? jahat sekali tidak mengunjungi Tika,"


"Banyak orang yang akan menjaga kamu, aku tidak dibutuhkan." Shin menundukkan kepalanya.


Atika juga duduk memegang cat, Tika tahu jika banyak orang yang sayang padanya, peduli juga mengkhawatirkannya. Tika meminta maaf karena dia terlambat menyadari jika Shin membutuhkan dirinya.


"Maafkan aku Shin, aku bersikap seakan paling tersakiti padahal aku terlalu banyak mengundur waktu." Tika mengusap air matanya yang menetes.


Selama Mamanya kembali, Tika bersikap kasar bahkan menganggap tidak ada. Shin selalu menegurnya bahkan melakukan segala cara agar Tika bisa memaafkan Mamanya, bisa menemani dan memiliki banyak waktu bersama.


Seharusnya Tika tidak harus merasa terpukul, menyalahkan keadaan karena waktu yang begitu singkat. Kenyataannya bukan waktu yang singkat, dialah yang membuang-buang waktu.


"Jangan bicara seperti itu,"


"Maafkan aku Shin, aku memang wanita yang tidak peka." Air mata Tika semakin deras.


Shin memeluk erat, mengusap punggung sahabatnya. Shin sangat memahami perasaan Tika, dan dia tahu sakitnya kehilangan seorang Ibu.


"Aku yang meminta maaf karena memilih melarikan diri, aku marah dengan keadaan dan menyalahkan diri sendiri." Shin menutup matanya menangis sesenggukan.


Beberapa jam Shin habiskan waktu mendengar cerita masa muda Mama Citra, kelahiran Juna juga Tika. Rasa tidak bersyukur membuatnya kehilangan keluarga bahagia.


Mama Citra mengakui dirinya salah, jika waktu bisa diputar kembali tidak akan pernah dia meninggalkan anak-anaknya.


"Ya, Mama Citra benar. Antara doa dan takdir keduanya sama-sama kuat. Takdir sudah ada sejak lahir karena kehendak yang kuasa, sedangkan doa kehendak kita. Takdir bisa berubah karena kuatnya doa." Tangisan keduanya terdengar saling memeluk erat.


Saat kecil Tika selalu berdoa meminta Mamanya kembali, dia ingin memiliki Mama yang menyayanginya, mencintainya dan selalu ada untuknya.


"Dulu aku selalu berdoa meminta meninggalkan dunia, tapi takdir tidak mengizinkan. Jika sekarang dikabulkan Shin belum siap. Boleh ditarik lagi tidak doanya?" Shin merinding takut dengan ucapannya.


"Wanita jahat seperti kamu dan hatinya busuk tidak dikabulkan. Kamu harus hidup lama, sampai akhirnya taubat." Tika menendang Shin yang selalu bicara sembarangan.


Tika ingin berdiri, tapi kakinya ditarik oleh Shin sampai tengkurap di atas cat yang tumpah.


"Sialan kamu Shin, astaga gunung kembar aku rata!" Tika berteriak memegang dadanya.


"Diremas saja nanti tumbuh lagi." Shin tertawa sudah memeluk tubuhnya untuk melindungi dadanya.


Pembahasan keduanya yang ribut soal dada kembar membuat Genta tidak nyaman, melangkah mundur melihat dua wanita yang bicaranya sembarangan.


"Juna, sebaiknya jangan melihat mereka lagi membahas itu,"

__ADS_1


"Apa?"


"Dada, mereka membicarakan dada." Genta memegang dadanya.


"Dada ... dada apa?" Juna melangkah masuk melihat Shin dan Tika sudah penuh dengan cat dinding.


Kepala Juna geleng-geleng, dua wanita akhirnya hidup kembali setelah satunya menghilang dan satunya lagi mengurung diri.


"Tika, Shin, bagaimana caranya kalian menghilangkan cat itu dari tubuh kalian?" Juna menatap keduanya yang melihat tubuh masing-masing.


"Kak Juna, gunung Tika rata karena Shin." Tika mengintip bajunya.


"Bukan salah Shin, punya kamu yang kecil. Punya Shin masih ada,"


Genta menarik kerah baju Juna untuk meninggalkan keduanya, Juna hanya mematung tidak mengerti apa yang rata.


"Gunung apa yang rata?" Juna menatap dadanya.


"Jangan dipikirkan Jun,"


Kening Genta dan Juna sama-sama berkerut setelah memahami ucapan dua wanita yang membicarakan gunung, dada dan bukit.


Tatapan Genta melihat sebuah pintu, menekan sebuah patung yang membuka tangga bawah tanah. Juna melangkah masuk ke dalam yang terlihat gelap.


"Jangan masuk, ruangan itu belum dibersihkan." Shin menghentikan Juna.


"Kenapa Kak Genta bisa membuka pintu?" Tika menutup kembali, memutar kepala patung dan pintu terbuka.


Pintu ditutup kembali, Tika meminta Juna membukakan, tapi tidak bisa. Shin menunjukkan senyuman, hanya dirinya, Genta dan Tika yang bisa masuk.


"Berarti aku harus keluar sekarang, mereka berdua juga baik-baik saja." Juna melangkah ingin pergi, Shin menemukan sesuatu menarik tangan Juna.


Kepala Juna diarahkan, melakukan scan matanya agar memiliki kebebasan untuk masuk ke rumah.


"Shin!" Juna berteriak melihat baju putihnya penuh cat, kepalanya juga sudah berwarna pelangi.


Melihat Juna kotor, Genta langsung berlari ingin keluar tapi Tika sudah mengejarnya memeluk dari belakang membuat Genta juga kotor.


"Aku ingin pergi bekerja,"


"Aku juga harus ke rumah sakit," Juna menatap bajunya.


"Kita berdua ingin lanjut cat rumah." Tika dan Shin berpelukan menatap dua pria yang sedang marah-marah.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2