
Langkah kaki Altha terdengar berlari memasuki rumahnya, anak-anaknya sudah tidur dan hanya menemukan Helen yang duduk di tangga rumah.
Lampu dihidupkan, Alt melangkah perlahan melewati Elen yang meneteskan air matanya. Tatapan Altha bingung melihat pengasuh Tika.
Pintu kamar terbuka, Altha terus memanggil Aliya. Alt mengecek seluruh isi kamarnya, berlari lagi ke kamar Aliya dan mengecek kamar Tika yang sudah tidur.
Juna membuka pintu kamarnya, menatap Papinya yang masih penuh darah. Lengan yang tertembak rasa sakitnya tidak dirasakan, karena rasa khawatir Alt lebih besar.
"Papi." Arjuna berlari langsung memeluk erat.
"Arjuna, di Mami nak?"
Juna menceritakan semua yang terjadi di rumah, kedatangan Alina secara tiba-tiba, juga pertengkaran antara Alin dan Al.
"Lalu di mana Mami sayang? kamu baik-baik saja? bagaimana dengan Tika?" Altha terlihat sangat kacau, tidak terpikirkan Alin akan berbuat sejauh ini.
Dimas berlari mencari Altha, memintanya untuk ikut ke rumah sakit. Ada hal yang lebih buruk lagi di sana.
Alt meminta Juna menjaga Tika, dan menitipkan kepada Elen yang menganggukkan kepalanya untuk menjaga keduanya.
Di jalan Dimas tidak menceritakan apapun, sedangkan Altha sibuk menghubungi Aliya yang seluruh ponselnya tidak aktif.
"Di mana kamu Aliya?" Alt mencoba melacak kembali, tapi hasilnya tidak ditemukan.
"Altha, Roby kecelakaan bersama Mora dan Citra." Nada bicara Dimas sangat pelan, bahkan Altha tidak bisa mendengar dengan jelas hanya menganggukkan kepalanya saja.
Dimas mendapatkan panggilan dari Dika, memintanya segera datang untuk menjamin dua jenazah.
Tangan Dimas sudah gemetaran, Alt menatap binggung. Langsung melihat ke arah Dimas yang wajahnya pucat, juga terlihat banyak pikiran.
"Ada apa Dim?"
"Roby meninggal, Citra dinyatakan lumpuh dan masih koma." Satu tangan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
Rasanya hati Dimas hancur mendengar kabar jika Mora meninggal, tidak terbayangkan bagaimana keadaan Altha jika tahu soal putri bungsunya sudah tiada.
Sesampainya di rumah sakit, Altha langsung berlari ke arah kamar jenazah. Tatapan Altha tajam melihat Kenan dan Dika yang masih terlihat sedih.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Mora? aku akan menjamin pemakaman dua korban." Dimas menatap dokter yang masih bicara dengan Kenan.
Bagai tersambar petir di malam hari, Altha mendengar penjelasan dokter jika putrinya Amora Rahendra dinyatakan meninggal saat operasi.
Altha bahkan tiga kali meminta Dokter mengulangi ucapannya, masih tidak percaya jika putri kecilnya sudah tiada.
"Di mana Mora?" Alt menepis air matanya, meminta Dokter menunjukkan kamar Mora, dia tidak ingin mendengar jika putrinya meninggal.
Beberapa dokter langsung melangkah pergi, Altha langsung terduduk dan sangat rapuh. Dimas hanya bisa merangkul Alt, menguatkannya untuk mengontrol diri.
Perlahan air mata menetes, cepat Altha menepisnya dan meminta Dimas mengulangi apa yang dokter katakan.
"Alt, aku tahu ini bukan hal yang mudah dihadapi. Aku pernah merasakan kehilangan anak di depan mata." Dimas tidak bisa menahan air matanya, dadanya terasa sangat sesak.
Melihat kondisi Altha yang masih lemas, akhirnya Dimas yang akan mengurus proses pemakaman Roby karena dia tidak memiliki keluarga.
Alt berusaha bangkit lagi, melangkah ke kamar jenazah dan melihat putrinya. Alt langsung menangis histeris mengusap tangan kecil putrinya.
Dika menemani Altha, dan meminta maaf karena mereka gagal menyelamatkan Mora. Aliya juga sama terpukulnya, seandainya Al tidak datang mungkin Amora akan meledak bersama mobil.
"Aliya, di mana Aliya?" Alt mencoba mengontrol dirinya untuk menemukan Al.
"Maafkan Papi ya sayang, Papi gagal lindungi Mora. Maafkan Papi Mora, kamu tenang ya nak." Altha mencium kening putrinya.
Altha langsung keluar, meminta Dimas untuk menjamin Amora. Alt harus menemukan Aliya, baru mengantarkan Mora dan Roby ke tempat peristirahatan terakhir saat matahari terbit.
"Kamu ingin mencari Al di mana? Kenan kamu temani Altha."
"Tidak, aku akan mencari ke manapun Aliya pergi." Altha langsung mengecek handphonenya.
Berkali-kali Altha menghubungi nomor Alin yang sempat menghubunginya, namun tidak ada jawaban, pilihan terakhir Altha melacak keberadaannya.
Keadaan keluarganya benar-benar hancur, Alin harus diberikan pelajaran. Altha tidak akan memaafkan Alin, jika istrinya sampai tersakiti.
Langkah Alt terhenti, mengecek kembali ponselnya. Alina berada di area rumah sakit, dan keberadaannya sangat dekat.
Secepat mungkin Altha menyusuri jalan yang mengarah ke tempat Alina, keadaan sangat gelap, karena lokasi sudah tidak digunakan lagi.
__ADS_1
Perlahan Altha melangkah, terdengar suara meringis kesakitan. Altha langsung berlari dan membuka pintu bangunan.
Senter ponsel Altha memperlihatkan banyaknya darah yang mengalir, dan yang membuat Alt sangat terkejut melihat Aliya yang tergeletak di aliran darah sambil memegang perutnya.
Wajah Al juga penuh luka, dan mengulurkan tangannya meminta Altha segera membantunya.
Tidak ada satu orangpun selain Aliya, Alt langsung mendekat dan menggendong Aliya yang penuh darah.
"Maafkan aku." Al langsung jatuh pingsan.
Kondisi Altha juga dalam keadaan tidak baik, di rumah anak-anaknya ketakutan, putrinya meninggal sedangkan istrinya juga terluka parah.
Dokter langsung menangani Aliya yang hampir kehabisan darah, tusukan cukup dalam dan cukup terlambat untuk ditangani.
Tidak ada lagi air mata, Altha hanya bisa duduk lemas memikirkan istri dan anak-anaknya. Mereka baru saja bahagia, dan ingin memulai semuanya dari awal, tapi takdir kembali mengguncang kebahagiaan mereka.
Suara langkah kaki Dimas berlari terdengar, saat mendapatkan kabar jika Aliya tertusuk dan dalam kritis kehabisan darah.
"Altha kamu harus bertahan."
"Sekuat apa aku Dim? Putri kecilnya meninggal, dia tidak bersalah dan belum memiliki dosa, sekarang Aliya juga dalam keadaan buruk. Bagaimana aku bisa bertahan?" Altha meremas rambutnya.
Jika Tika dan Juna bertanya, di mana Mami? di mana Mama? dan di mana Mora? jawaban apa yang harus Altha berikan.
Bukan hanya dirinya yang akan kehilangan, t tetapi kedua anaknya akan berada dalam rasa takut yang berkepanjangan.
"Al aku mohon bertahanlah demi aku, hanya kamu yang bisa menenangkan Tika dan Juna. Jangan biarkan aku bertahan sendiri, aku tidak bisa kehilangan kamu." Alt mengusap dadanya yang terasa sangat hancur.
Bayangan kematian orangtuanya kembali, ditambah lagi kondisi Mora. Jika Altha hanyalah buatkan mesin mungkin dirinya akan hancur.
Mata Altha terus menatap ponselnya, melihat ketiga anaknya yang tertawa bahagia bersama Aliya. Sungguh mimpi indah Altha yang akhirnya hancur.
Di saat dia mulai mencintai, di saat itu juga mereka dipisahkan. Hanya Aliya yang bisa mengembalikan tawa keluarganya.
"Aku mencintai kamu Al, dan aku tidak perduli apa yang terjadi di masa lalu, kamu tidak boleh meninggalkan aku. Kamu sudah janji." Kedua tangan Altha mengusap pintu ruangan rawat Al.
Matahari terbit, dokter juga keluar menjelaskan soal keadaan Aliya yang masih kritis, Altha terlambat membawanya sehingga kondisi Al tidak stabil.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazara