
Mata Atika terbuka, senyumannya terlihat saat melihat Maminya ada di sisinya, memeluk erat menemaninya tidur.
Berada dalam pelukan Maminya membuat Tika tidur dengan nyenyak, entah karena beban yang sudah lepas atau dirinya memang terlalu nyaman.
"Sudah bangun sayang, rasanya Mami melihat Tika kecil." Al mengusap rambut Tika yang berantakan.
"Tika mau mandi dulu Mami, tunggu Tika di meja makan. Perut Tika lapar." Senyuman Tika terlihat, langsung turun dari ranjang.
Aliya tersenyum melihat Tika yang baik-baik saja, mendengar suara air Aliya baru keluar kamar untuk menyiapkan makanan.
Al melupakan jika Putrinya akan pergi sekolah, dari lantai atas Aliya melihat Putrinya Ria sudah berlarian.
"Cepat Nenek Citra, Ria bisa terlambat tahu. Lambat sekali seperti siput." Ria bertolak pinggang.
"Iya maaf sayang, Mama Citra tidak tahu letak sepatu kamu." Kedua tangan Citra menunjukkan dua sepatu yang tidak diterima oleh Ria.
Aliya langsung turun, melempar Ria dengan sepatu, suara tangisan Ria terdengar membuat Citra terdiam.
Al sudah main kejar-kejaran dengan Ria, Juan menghela napas membawakan sepatu adiknya.
"Maafkan Ria Mama Citra, dia memang sangat nakal." Juan tersenyum meminta Citra duduk.
Senyuman Citra terlihat, Juan memang menyerupai Juna yang selalu siap siaga melayani adik perempuannya.
Sikap Aliya yang pemarah, membuat Altha harus turun tangan menghentikan pertengkaran antara Ibu dan anak.
"Apa rumah ini setiap hari seperti ini?" Citra duduk bersama Juan, melihat Ria yang suaranya teriak-teriak.
Altha hanya tertawa saja melihat Aliya yang setiap pagi mengamuk, sudah menjadi makanan sehari-hari Altha dan Juan.
"Begini rumah kita Mama, tidak ada ketenangan sama sekali." Juan memasang sepatunya.
"Ria, sini bersama Papi saja menggunakan sepatunya."
"Papi lihat kepala Ria benjol, dilempar menggunakan sepatu."
"Makanya, kamu sudah besar. Belajar untuk menyiapkan keperluan sendirian, kasihan Mami setiap hari harus teriak-teriak." Alt memasang sepatu Putrinya.
Senyuman Citra terlihat, rasanya dirinya hidup kembali bisa mendengar suara tawa, tangisan, marah di waktu bersamaan.
"Rumah ini masih sama, selalu ribut. Kalian tidak bosan?" Tika menuruni tangga, melihat adik perempuannya yang bibirnya monyong.
Kepala Juan dan Altha menggeleng, Aliya meminta semuanya duduk di meja makan. Juan mengandeng tangan Citra untuk sarapan bersama keluarganya.
__ADS_1
Saat di meja makan mulai tenang, Ria sudah minum susunya begitupun dengan Juan dan Tika.
"Kak Citra mau minum apa?"
"Air putih saja Al,"
"Mama harus minum susu, sering-sering periksa ke Dokter meskipun dokternya kak Juna." Juan memberikan susu yang langsung diterima oleh Citra.
"Terima kasih Juan, kamu anak baik juga dewasa." Tangan Citra mengusap kepala Juan dengan sangat lembut.
Atika menghentikan makannya, melihat sekeliling tidak menemukan keberadaan Kakaknya Juna.
"Di mana kak Juna?"
"Kamu lupa sudah membuat Shin babak belur? malam tadi Juna langsung membawa Shin ke rumah sakit." Al mengingatkan Tika kepada sahabatnya yang sekarat.
Tika langsung berlari mengambil ponselnya, menghubungi Kakaknya untuk menjelaskan kondisi Shin yang memang sangat buruk.
Belum sempat panggilan dijawab Juna sudah pulang ke rumahnya, langsung duduk memperhatikan kondisi Tika.
"Bagaimana kondisi Shin Kak?"
"Baik-baik saja, dia sudah bisa berlari. Sudah aman sampai di rumah, dia juga bertemu seseorang." Juna melepaskan jam tangannya, tubuhnya lelah mengurus Shin.
Beberapa tahun tidak kembali, tidak mungkin Shin mempunyai teman baru.
"Apa mungkin Shin bertemu dengan suaminya?" Tika langsung terkejut.
"Dia punya suami?" Juna lebih terkejut daripada Atika.
Dirinya mengurus, menemani wanita bersuami, sungguh menurunkan harga diri Juna sebagai seorang pria.
Senyuman Tika terlihat, menggelengkan kepalanya. Sejak muda Shin memiliki suami idaman yang belum pernah dia temui.
Tika hanya memprediksi jika Shin mungkin menemui pria idamannya.
"Suami bagi Shin lelaki yang dia kagumi, bukan benar-benar suami."
"Mungkin memang suaminya, teman kamu bertemu dengan Kak Genta. Hubungan keduanya terlihat dekat sekali." Juna langsung pamit ke kamar untuk mandi, lalu mengantar Mamanya pulang.
Atika terdiam, antara binggung dan terkejut mendengar ucapan Kakaknya jika Genta dan Shin memiliki hubungan.
Pertemuan baru saja, tapi tidak mungkin Genta pria yang Shin suka, meskipun iya seharusnya mengatakan kepada Atika.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi Shin Tika?" Al langsung mendekati Tika yang masih duduk mematung.
"Sekarang Tika ingin menemuinya." Tika langsung pamitan, berlari cepat menuju mobilnya.
Dari kejauhan Tika melihat Isel yang berdiri di pinggir pagar rumahnya, tatapan mata Isel tajam masih memeluk pedang.
Melihat kemarahan Isel, Tika langsung mendekati bocah pendendam yang meminta pertanggungjawaban.
"Kenapa Kak Tika menyakiti Mama?" pedang Isel ada di leher Tika.
"Maaf, kak Tika tidak sengaja. Kamu tahu sendiri besarnya kasih sayang kak Tika?"
"Isel tahu, makanya memastikan. Kak Tika tidak boleh mengulanginya lagi. Sekarang Isel sedang murka kepada kak Tika." Pedang Isel masih tetap terarah dileher menghukum Tika untuk selalu membelikan dirinya es krim selama satu bulan.
Tatapan Gemal tajam, langsung menyita pedang Isel yang kurang ajar kepada Atika. Meminta si kecil masuk ke dalam rumah untuk bersiap sekolah.
Tika hanya tersenyum, menyapa Gemal yang terlihat sangat ramah seperti biasanya.
"Bagaimana kondisi kamu Tika? sudah mendingan. Jangan marah lagi, kita semua sedih." Tangan Gemal mengusap kepala Tika lembut.
"Maafkan Tika Kak Gemal, Tika sekarang jauh lebih baik." Senyuman Tika terlihat, ragu ingin bertanya sesuatu kepada Gemal.
Ekspresi wajah Tika ragu-ragu, Gemal memintanya bicara saja tanpa ada yang perlu ditutupi. Gemal lebih menyukai Tika yang terbuka.
"Siapa Genta sebenarnya?"
"Genta? kamu bertanya soal Genta Leondra?" Gemal sedikit kaget.
"Iya kak, siapa dia sebenarnya?"
Gemal binggung jawaban apa yang sebenarnya Tika inginkan, tidak mungkin soal pekerjaan sudah pasti urusan pribadi. Gemal tidak ingin tahu apalagi ikut campur dengan kehidupan Genta, apalagi masa lalunya.
"Jika kamu ingin tahu, pastikan kepada Genta terlebih dahulu, jika kecurigaan kamu benar, kak Gemal akan memberikan petunjuk." Senyuman Gemal terlihat langsung melangkah pergi kembali ke rumahnya.
"Kak Gemal tahu soal hubungannya dengan Shin?"
"Sedikit, tapi jika kamu penasaran tanyakan kepada Genta. Apa kamu menyukai Genta? urusan panjang jika keluarga Leondra harus mengambil menantu dari keluarga Rahendra." Gemal tertawa kecil meninggalkan Tika yang tidak membenarkan ucapan Gemal.
Bibir Tika monyong, dirinya tidak pernah menyukai Genta. Dirinya hanya penasaran hubungan Shin dan Genta yang secara tiba-tiba langsung akrab.
"Kenapa aku bertanya kepada Kak Gemal? seharusnya tanya langsung kepada Shin. Membuat malu saja." Tika langsung berjalan ke mobilnya untuk menemui Shin secara langsung.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira