ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
RENCANA BARU


__ADS_3

Larut malam terasa sangat dingin, Shin terbangun dari tidur melihat Tika yang tidur di sampingnya. Senyuman Shin terlihat karena Tika bisa tidur sambil bernapas di dalam selimut.


Mata Shin terpejam saat melihat bayangan hitam lampu yang redup, suara Tika bicara pelan terdengar.


Tubuh Shin langsung berbalik, menyentuh apa yang ada di sebelahnya. Shin mengumpat dirinya sendiri karena guling dianggap Tika.


Pembicaraan Tika dibalik telepon terdengar, Shin menutup telinganya agar tidak mendengar apapun karena tidak ingin tahu rahasia Tika yang sedang menjalankan misinya.


"Kalian yakin jika Arshinta dan Rindi orang yang berbeda? di mana wanita yang tinggal di rumah tersebut sebelum Shin datang?" Tika bicara dengan nada pelan.


"Tika, kenapa kamu melakukannya tanpa memberitahuku?" Shin memeluk erat guling sambil tersenyum manis.


Lampu kamar langsung dihidupkan, Tika mematikan panggilan sambil melihat Shin yang masih memeluk guling. Atika tidak bermaksud merahasiakan, hanya saja dirinya takut Shin akan terluka jika tahu secara langsung.


Senyuman Shin terlihat, meminta Tika kembali ke tempat tidur. Mereka berdua sudah memutuskan untuk mencari tahu dan menjalankan misi bersama.


"Kamu tidak boleh mengkhianati aku seperti itu, sehebat apapun kamu, lebih baik berdua daripada sendiri." Tangan Shin menepuk tempat tidur.


"Kamu sudah terlalu banyak terluka bodoh, mana mungkin aku tega membawa lebih dalam lagi untuk terluka." Tika lompat ke atas tubuh Shin yang langsung tertawa.


Tidak ada luka dalam hidup yang Shin takuti, apalagi dirinya sudah dewasa bukan hal yang mengerikan.


"Aku hanya takut dipisahkan dari kamu dan dia." Shin mendorong kening Tika.


"Apa yang kamu ketahui soal Rindi?" Tika duduk di ranjang diikuti oleh Shin.


Tatapan Shin ke arah ponselnya, membuka sebuah file rahasia yang sudah lama Shin simpan sebelum dirinya bertemu dengan Atika.


"Astaghfirullah Al azim Shin, kamu pernah mengalami gangguan jiwa?" Tika langsung kaget, sebelum mereka berteman, Shin remaja yang dinyatakan gila oleh rumah sakit besar.


Kepala Shin mengangguk, dirinya mengalami gangguan jiwa saat berusia sepuluh tahun. Shin memukuli seorang guru yang mencoba melecehkannya.


"Saat aku melakukannya tidak sadar apapun, aku memukul seakan-akan memukul diri sendiri. Saat sadar di rumah sakit jiwa dalam keadaan diikat tangan dan kaki." Shin mengaruk kepalanya melihat Tika melangkah mundur.


"Saat kita bertarung pertama kali, kamu masih sakit?"

__ADS_1


"Iya, saat itu aku baru satu bulan dari rumah sakit jiwa. Sejak tahu mengalami stres akhirnya aku menjadi semakin pendiam dan suka melihat orang berkelahi." Shin tersenyum manis, meminta maaf karena tidak pernah jujur.


"Sialan, pantas saja selalu tersenyum. Ternyata perempuan gila, astaga. Atika kamu ikutan gila selama ini." Tika menampar pelan wajahnya masih tidak percaya.


"Atika ... jangan bicara seperti itu." Shin memonyongkan bibirnya, menarik Tika untuk mendekatinya.


"Lalu kapan kamu sembuh?"


Shin menggelengkan kepalanya, dirinya sendiri selalu bahagia saat bersama Tika, bertemu keluarga Tika, dijaga oleh Mama dan Papa Calvin. Mempunyai sosok Diana yang selalu memberikan semangat sehingga Shin lupa kapan dirinya sembuh.


"Aku rasa keluarga kamu tahu kondisiku, dan mereka tidak pernah bertanya masa lalu. Mungkin tidak ingin aku mengalami stres lagi." Shin memeluk lengan Tika, kesadaran kembali pulih karena semangat bertemu Juna.


Tangan Tika mengusap punggung Shin, dirinya ikut senang karena Shin berhasil mengendalikan dirinya sendiri.


"Apa kamu stres karena tahu siapa kamu? saat itu kamu belum bisa menerima kenyataan."


"Benar ... aku anggap semuanya halusinasi, dan akhirnya aku stress, gila, menjadikan bela diri pemuas sesak di dada."


Shin menunjukkan foto wanita yang bernama Arshinta, dia anak seorang mafia besar. Saat Arshinta dihilangkan karena terjadi keributan besar.


Arshinta salah satu korban pelecehan di dalam rumah yang sudah hancur dan Shin yakin dulunya sebuah penjara. Mama Citra benar jika wanita yang dianggap tujuh tahun sebenarnya tujuh belas tahun.


"Dia meninggal bunuh diri saat hamil, apa kamu pikir bayi itu aku? salah besar." Shin menunjukkan foto anak kecil yang berusia tujuh tahun.


Wanita yang bernama Arshinta bunuh diri saat selesai melahirkan, bayinya langsung diselamatkan oleh keluarganya dan diberi nama Rindi.


Dendam berlanjut tujuh tahun kemudian, secara tiba-tiba Shin ada di dalam rumah tanpa tahu asal-usulnya. Shin Putri dari musuh besar seorang mafia.


"Tunggu Shin, kamu tahu siapa orang tua kamu?"


"Entahlah ... tiga tahun yang lalu aku mencari mereka, tetapi dinyatakan sudah meninggal." Shin menunjukkan beberapa lokasi yang pernah dirinya datangi.


"Kesimpulan yang kamu dapatkan?"


"Ada orang lain yang mengetahui siapa aku, dan mencoba terus mengecoh agar aku tidak menemukan kebenaran. Jika bukan Kakeknya Rindi, pasti Melly."

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa yakin?"


Shin menunjukkan beberapa surat peringatan, enam tahun yang lalu ada yang menyelidikinya dan seorang pemuda.


"Pemuda ini dialihkan identitasnya agar tidak disangkutkan dengan kamu?"


"Benar Tika, bukan hanya aku yang ditahan, tapi satu orang ini juga dilindungi oleh seseorang yang sangat kuat." Shin pusing berpikir.


"Sekarang, dia juga turun mencari tahu kebenaran. Kamu tahu siapa orang itu?" Tika menatap tajam Shin.


Kepala Shin mengangguk, dirinya coba berhenti menyelidik. Masih tidak percaya jika dirinya dan Genta memiliki hubungan.


Foto yang pernah Tika temukan di kamar Genta, wajahnya sangat mirip dengan Shin, dan saat itu Shin merasa bahagia juga terluka.


Setidaknya Shin menemukan sedikit titik terang, jika dirinya memiliki seorang Kakak. Sejak itu Shin nyaman bersama Genta.


"Aku pikir kamu tidak tahu soal Om tua? kamu terlalu pintar menutupi luka Shin."


"Aku juga tahu kamu berpikir jika aku dan Om tua memiliki hubungan spesial, kamu bodoh Tika."


"Maaf, apa mungkin orang yang melindungi Om tua Kakek Ken?" Tika menatap Shin yang setuju karena hubungan Genta dan Kakek Ken sangat terikat.


Shin hanya memiliki satu masalah, dia tidak bisa membuktikan jika belum berhasil menangkap Melly, Rindi dan Irish. Setidaknya Shin yakin Irish mengetahui soal dirinya.


Senyuman Tika terlihat, membisikkan sesuatu kepada Shin cara untuk memancing Irish muncul. Wanita mata duitan hanya bisa ditaklukkan dengan uang.


"Tik, kamu pikir Melly memberikan dia uang dengan nominal kecil?"


"Tidak, sudah pasti Irish mendapatkan jaminan hidup yang tidak akan habis tujuh turunan. Kita tidak bisa menyainginya." Tika langsung tidur memejamkan matanya.


"Ada satu cara Tik, kita temukan tempat mereka. Jika cara baik tidak bisa, gunakan cara kekerasan." Shin menatap tajam.


"Kamu pikir Melly keamanannya tidak ketat?" Tika menjulurkan lidahnya.


Dua orang tidak akan mampu melawan Melly, kecuali Tika memanfaatkan kepolisian untuk menghacurkan bisnis Melly. Resiko juga cukup berbahaya baik bagi Tika, Shin maupun Genta.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2