ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BERMIMPI


__ADS_3

Air mata Tika menetes menggenggam tangan Shin yang belum juga sadar, menyalahkan dirinya yang tidak mengetahui sahabatnya terluka dan bertahan sendiri.


"Kak Juna kenapa tidak memberitahu Tika?"


"Aku tidak menyangka separah ini,"


"Bagaimana kamu bisa tidak menyadarinya Jun?" tatapan Hendrik tajam.


Juna menghela napasnya, duduk di samping Shin melihat pergelangan tangannya yang sudah memerah.


"Apa pasien kamu selama ini anak-anak saja? tidak pernah menyentuh tangan wanita. Bedakan perasaan pasien dan lawan jenis, siapapun yang terluka itu namanya pasien!" suara Hendrik meninggi, meminta Genta dan Juna keluar.


Kening Juna berkerut, dirinya tidak berpikir soal lawan jenis. Melihat Hendrik membentak tidak ada yang melangkah keluar hanya bisa duduk diam.


"Kalian kenapa bertengkar?" Rindi tersenyum, tatapan matanya masih sayu.


"Bagaimana perasaan kamu?"


"Aku bahagia, Dokter ganteng."


Tika menutup wajahnya, menahan tawa melihat Rindi yang masih lemas, tapi menyempatkan waktu untuk menggoda.


"Kenapa kamu tertawa Tika?"


"Lucu, kamu lucu." Rindi menyentuh tangan Hendrik, matanya terpejam karena jatuh pingsan kembali setelah mendapatkan suntikan.


Kepala Tika geleng-geleng, membalik badannya ke arah Genta agar tidak dimarah. Senyuman lembut Genta terlihat, menatap Tika yang masih bisa tertawa.


"Kenapa tidak ada yang keluar? sebentar lagi kita landing. Apa aku juga yang harus menyiapkan jalur aman?"


Genta langsung berlari, Juna juga keluar. Hanya tersisa Hendrik, Tika, Shin dan Rindi yang berdiam diri di dalam ruangan.


Langkah Juna terdengar menghentak, Genta sampai menoleh juga mendengar ocehan Juna soal Hendrik yang menyindirnya bawa perasaan. Padahal Hendrik juga tidak tahu menahu soal cinta, hanya bertemu pasien melakukan pekerjaan di laboratorium, penelitian, segala sesuatu yang bersangkutan dengan medis.


Mendengar Juna yang bergumam pelan, tidak Genta sangka ternyata bisa kesal dan menyindir juga.


"Ternyata kamu manusia normal Jun?"


"Apa?" Juna mengerutkan keningnya, tidak mengerti ucapan Genta.

__ADS_1


Pesawat landing bukan di Mansion Leondra, tapi rumah sakit milik keluarga. Jalur khusus juga sudah dipersiapkan, beberapa ahli medis juga sudah turun.


Genta mengetuk pintu ruangan Hendrik, memintanya segera mengobati Adiknya yang belum juga bangun. Pintu terbuka terlihat seorang dokter dengan tatapan dingin


"Kamu tunggu di luar, jangan cemas Shin wanita yang kuat." Pintu tertutup kembali.


"Kak, izinkan aku menemaninya." Genta menundukkan kepalanya, merasa bersalah bahkan bayangan wajah Adiknya masih kecil teringat kembali.


"Maafkan Genta Mama, Papa belum bisa melindungi Shin sama seperti dulu." Tubuh Genta terduduk di depan pintu.


Di dalam ruangan, dari jarak yang sedikit menjauh namun masih bisa melihat juga mendengar suara Shin mengigau.


Tawa kecil terdengar, air mata juga menetes dari pelipis matanya saat berbicara dengan orang yang Shin panggil Mama dan Papa.


Curahan hatinya terdengar pelan, Shin menceritakan memori hidupnya yang penuh rasa sakit. Setiap cerita mengudang air mata yang mendengarkannya.


Segala memori sakit yang tidak Shin ceritakan kepada siapapun, akhirnya ditumpahkan saat bertemu orangtuanya.


Ucapan terakhir yang terdengar jelas, Shin menyayangi orangtuanya, meksipun belum pernah bertemu. Menyakinkan kedua orangtuanya untuk tenang dan tidak mengkhawatirkan dirinya karena Shin percaya kepada dirinya jika kuat dan mampu menghadapi hidupnya.


Hadiah terindah yang Shin terima dalam hidupnya dari kedua orangtuanya seorang Kakak, Shin jauh lebih kuat karena ada satu penjaga yang sedarah daging.


"Mama, Papa, jaga Shin dari surga. Shin dan Kakak akan bahagia di sini selalu kirim doa untuk Mama dan Papa." Mata Shin masih tertutup, hanya senyuman kecil yang terlihat.


"Kak Hendrik," ucap Tika.


"Dia baik-baik saja, aku sengaja memberikan obat yang membuat pikirannya rileks." Hendrik mengusap air matanya.


"Kenapa bisa?"


Hendrik menjelaskan jika tingkat kesadaran seseorang selalu berbeda, ada yang saat tidur mengigau atau di sebut mimpi. Mimpi ini juga melalui beberapa tahanan , yaitu tidur ayam, mulai tidur, tidur nyenyak, dan tahapan terakhir adalah tidur rapid eye movement (REM). Dalam tahapan tidur terakhir ini, detak jantung, pernapasan, dan gerakan bola mata yang tadinya melambat, kini menjadi lebih cepat.


"Tik, aku bertemu Papa dan Mama. Meksipun wajahnya tidak terlihat, Mama mengusap kepala Shin, Papa mengelus wajah Shin." Tangisan Shin langsung terdengar pecah.


Pintu terbuka kuat, Genta berlari kencang memeluk Adiknya yang sudah menangis meluapkan rasa rindunya.


"Kak, Shin bertemu Mama dan Papa. Mereka datang menjenguk Shin Kak," ucap pelan Shin memeluk Genta erat.


Tidak ada jawaban yang keluar, Genta menangis dalam diamnya mendengar semangat Adiknya bisa bertemu kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Nanti setelah sembuh, kita ke makam Mama dan Papa, kita kirimkan doa." Di dalam hatinya, Genta rela kehilangan apapun di dunia ini, namun tidak dengan kehilangan Adiknya.


Genta siap menukar bahagianya untuk adiknya, renggut apapun nikmat asalkan adiknya bahagia.


Melihat pelukan tulus Genta, barulah Hendrik sadar jika Kakak yang Shin ucapkan seseorang yang dirinya kenal. Hendrik tidak tahu sudah berapa lama bertapa sehingga baru mengetahuinya.


"Kata orang bijak, ujian hidup mu belum berat karena dibalik masalahmu ada kebahagiaan yang tertunda, tidak padamu mungkin anak cucumu. Kita tidak bisa menerima jalan hidup yang penuh ujian, tapi sebenernya kamu yang paling kuat diantara sedarah lainnya. Baikmu akan mendapatkan berkah bagi orang-orang yang kamu cintai." Rindi tersenyum manis, namun air matanya juga menetes.


Tawa Rindi terdengar, ucapan seseorang melintas di kepalanya namun tidak bisa Rindi temui lagi.


Senyuman Shin juga terlihat, mengusap air matanya. Rindi yang hidup dalam kejahatan saja bisa memiliki ingatan soal kesabaran dan keikhlasan, tidak mungkin Shin yang memiliki banyak orang mencintainya kalah dari seorang Rindi.


"Jeleknya sahabatku jika menangis, jangan pernah sakit bagaimana aku bisa bertahan? Atika tanpa Arshinta bagaikan punggung ... apa? Tika lupa." Tangan Tika memijit pelipisnya.


Tawa Genta terdengar, menatap Tika yang mencoba menghibur Shin dengan candaannya yang tidak ada manfaatnya.


Shin hanya bisa geleng-geleng kepala, ucapan Tika tidak menghiburnya namun menunjukkan sisi aslinya yang tidak tahu apapun.


"Shin tanpa Tika, bagaikan kumbang dan madu saling membutuhkan, saling mengagumi, saling timbal balik." Shin tertawa bersama Tika.


"Kalian berdua menunjukkan dua orang yang tidak seharusnya bersama karena membawa pengaruh buruk, juga mencontohkan orang-orang yang tidak pandai." Hendrik mengulum bibirnya karena keceplosan.


Tatapan Shin dan Tika langsung tajam, bola matanya melotot lebar melihat Hendrik yang jomblo akut, tidak punya kekasih karena tidak pandai beradaptasi.


Suara Genta berdehem terdengar, menutup mata dua wanita yang masih belum melepaskan pandangannya.


"Kalian berdua cari mati?" Rindi menatap tajam.


Tatapan Tika dan Shin berpindah kepada Rindi, melihat tiga orang gila beradu pandang membuat Genta tegang.


***


maaf ya update belum normal, soalnya lagi ada acara nikahan. Jadwal lumayan sibuk, update juga disempatkan.


***


lanjut lihat Papa Calvin dan Mam Jes bertemu Lian.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2