
Satu mobil ambulans melaju keluar, diikuti oleh beberapa mobil yang juga ikut mengantarkan jenazah menuju kediaman Dimas.
Alt tidak bisa menahan air matanya, saat dia harus satu mobil dengan putrinya yang sudah tiada. Sekuat hati Altha coba mengikhlaskan kepergian Amora.
Allah lebih sayang kepada putrinya, dan menguji kesabaran juga ketabahan Altha sekeluarga.
Suara tangisan Tika terdengar di mansion Dimas, dia pergi di jemput oleh Dika dan sudah mendengar kabar soal adiknya.
Meskipun Tika masih kecil, dia tahu saat kematian tiba mereka tidak bisa bertemu lagi. Akhir kehidupan dari seorang manusia dialah kematian.
Arjuna terlihat lebih tegar, dia tidak ingin menambah rasa sakit Papinya yang harus melihat keadaan Maminya masih belum stabil, Mamanya juga masih koma dan lumpuh.
Tangan Juna menggenggam adiknya, menghapus air mata Tika berkali-kali agar berhenti menangis.
Mereka mengingat pesan Maminya, tidak boleh lemah dan harus selalu kuat. Di setiap masalah ada hikmatnya.
Apapun yang terjadi, mereka harus ikhlas dan terima. Dan harus berdiri kokoh untuk saling merangkul dan menguatkan.
"Kakak, dedek Mora kenapa meninggalkan kita?" suara tangisan Tika kembali terdengar.
"Apa yang kita miliki di dunia ini milik yang maha pencipta, kita sudah dijanjikan tentang kehilangan. Kepergian tidak menunggu siap dan tidak siap, kita harus siap." Juna mengusap kepala adiknya.
Helen yang mendampingi keduanya saja merasakan sakitnya, tetapi Elen bangga dengan Juna yang kuat bisa menenangkan adiknya.
Senyuman Altha terlihat, melihat Tika berlari ke dalam pelukannya. Tangisan putrinya terdengar, meminta maaf karena dia tidak bisa menahan kesedihan.
Altha membiarkan Tika menangis, siapapun pasti akan menangis jika kehilangan adiknya. Juna juga memeluk Papinya, sesekali mengusap air matanya.
"Menangis saja Juna, kamu berhak menunjukkan kesedihan. Kalian harus kuat di depan Mami dan Mama agar mereka juga bisa merelakan kepergian si kecil." Altha mengusap punggung putranya.
Satu tangan Altha menggendong Mora, satu tangan lagi merangkul Arjuna. Menatap tanah mulai menimbun ayah dan anak secara bersamaan.
Setetes air mata Altha mengalir di pipinya, sebaik apa dirinya yang rela menutupi rasa sakitnya menerima kebenaran soal Roby dan Citra, juga betapa besarnya hati mencoba membagi kasih sayang agar putrinya merasakan kasih sayang ayah kandungnya.
Sekarang Altha harus lebih sabar lagi saat harus kehilangan putrinya, tatapan Altha melihat ke atas langit.
__ADS_1
Tetesan air hujan turun, seandainya dia diberikan kesempatan untuk bertanya berapa banyak lagi ujian hidupnya.
Sejak kecil hingga dirinya menjadi orang tua hanya sesaat tawa terlihat, saat jatuh dan berkali-kali bangkit tapi takdir menghempas kembali ke bawah.
"Sekuat apa aku? ini terlalu berat." Altha bergumam di dalam hatinya.
Menerima kenyataan perceraian dengan Citra, kebenaran soal putrinya yang ternyata bukan darah dagingnya. Orang yang membunuh Ayah dan ibunya ternyata Ayah dan ibu Citra, satu hal lagi kebenaran yang menyakiti Altha.
Papanya orang yang membuat Al kecelakaan, dialah orang yang mengawali penderitaan Aliya dan meninggalkan rasa sakit dan kehancuran bagi Al.
"Pi, Tika ingin bertemu Mami." Air mata Tika menetes, memeluk erat leher Papinya.
Altha membawa kedua anaknya meninggalkan pemakaman dengan rasa kehilangan yang sangat besar.
Pilihan Altha harus bertahan demi kedua buah hatinya, memaafkan keluarga Citra karena Alt tidak bisa mengubah jika Citra ibu kandung anak-anak, dan wanita yang pernah membuatnya bahagia.
Menyerah tidak ada di kamus Altha, dia akan menanti sampai Aliya juga kembali di sisinya dan berjalan bersama untuk mengukir bahagia.
Mereka harus berhasil melewati rasa sakit yang menghacurkan, agar bisa menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.
***
"Mami, Tika datang." Senyuman Tika terlihat, memberikan boneka kesayangan untuk menemani Aliya yang masih terbaring di atas ranjang.
Alt hanya tersenyum melihat putrinya yang bercerita segala aktivitasnya di sekolah, meskipun Maminya hanya diam, Tika tidak putus asa terus mengobrol setiap harinya.
"Mi, kapan bangun? Tika kangen Mami ingin bicara dan mengobrol seperti dulu lagi." Bibir Tika monyong, mencium wajah Aliya.
Sedangkan Arjuna ada di kamar Mamanya yang sudah membaik, meskipun belum juga sadar. Juna selalu menyempatkan waktunya untuk merawat dan menyemangati mamanya.
"Ma, bangunlah. Meksipun ini berat untuk Mama, tapi Mama harus tetap bangun dan melihat Juna dan Tika. Mama masih memiliki kamu berdua, dan akan selalu menjaga Mama." Juna mengusap air matanya.
Perlahan tangan Citra bergerak, membuka matanya dan melihat Juna bersama Altha sedang mengobrol.
Pintu terbuka, Juna melangkah pergi sedangkan Altha melihat sekilas ke arah Citra yang menatapnya sambil berderai air mata.
__ADS_1
Alt menutup kembali pintu, melangkah mendekati Citra dan mendengarkannya berbicara.
Saat sadar Citra tidak memikirkan Mora sama sekali, dia lebih mengutamakan untuk membunuh Aliya. Kepala Altha menggeleng, sungguh beda sekali Citra dan Aliya.
Wanita yang dia anggap baik, memiliki sikap dendam yang besar, sedangkan wanita yang dulunya Altha anggap wanita pengacau dialah wanita yang tulus hatinya.
"Altha, Aliya wanita jahat. Dia ingin membunuh aku."
"Kamu salah Citra, kita yang jahat. Penderitaan Aliya berawal dari kita, dia tersakiti karena keluarga kita." Alt meneteskan air matanya, dirinya ingin membenci Citra, tapi demi anak-anaknya Altha akan melepaskannya.
Citra langsung ingin bergerak, terapi kakinya tidak bisa digerakkan sama sekali. Rasanya kakinya mati rasa.
Citra langsung berteriak, dokter langsung berdatangan dan mengecek keadaan Citra yang histeris saat mengetahui jika dirinya lumpuh.
Arjuna dan Atika juga melangkah masuk dan melihat Mama mereka terlihat sangat depresi, bahkan Citra jatuh pingsan bekali-kali.
"Pak, istri anda membutuhkan perhatian khusus, dan dukungan dari pasangannya."
Altha menggeleng kepalanya, dia memang bertanggung jawab untuk kesembuhan Citra, tapi dirinya bukan suami yang bisa menemaninya.
Ada wanita lain yang lebih Altha inginkan untuk segera sadar, satu-satunya wanita yang ada di hati Altha.
"Papi, bagaimana keadaan Mama?"
"Juna, kondisi Mama pastinya sulit untuk stabil melihat kondisinya. Apalagi jika dia tahu soal Mora dan Roby, kamu harus selalu menemani Mama." Altha menggenggam tangan Juna dan meminta maaf.
Altha berharap Juna mengerti, dirinya tidak bisa menjaga Mamanya demi menjaga perasaan Maminya.
Hubungan Altha dan Citra hanyalah masa lalu, dan Altha tidak bisa kembali seperti harapan Juna dan Tika.
Kepala Juna mengangguk, dia tidak marah dengan Papinya yang tidak bisa menemani Mamanya. Juna akan tumbuh dewasa untuk menjaga mamanya dan tidak menganggu kebahagiaan Maminya.
"Papi, kenapa Mama hanya memikirkan kesalahan orang lain? kenapa Mama tidak bertanya soal Mora? Mama tidak memikirkan Mora sama sekali." Tika langsung berlari ke kamar Aliya, menggenggam tangan Maminya yang selalu mengigau meminta maaf.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara