
Keheningan terjadi Mam Jes meletakkan minuman melihat Genta yang masih duduk diam. Belum ada kata-kata yang keluar dari mulutnya sejak kepergian Lian dan Liana.
Masalah satu memang selesai, namun masih ada satu hal lagi yang menganggu pikiran Genta, keberadaan Melly.
"Gen, Papa tahu kamu berat melihat kondisi Li. Dia tidak sepenuhnya bersalah, mengingat hubungan baik kalian ... Papa."
"Pa, aku tidak perduli soal Li, benci memang tidak ada hati, namun untuk memaafkan tidak akan pernah bisa Genta lakukan. Hatiku terlalu hancur Pa." Kepala Genta masih tertunduk memandang ke arah lantai.
"Kamu memikirkan soal Melly, apa kemungkinan dia berani menembuskan keamanan kita." Papa Calvin duduk di samping Genta, mengusap kepala pemuda yang memiliki banyak beban pikirkan.
Kepala Genta mengangguk, hatinya belum bisa tenang karena memikirkan Melly yang bisa kapan saja mengusik Adiknya.
"Putraku, sekuat apa kamu menjaga sebongkah emas tetap akan hilang jika terlalu berlebih, karena rasa takutlah yang menjadi beban." Mam Jes tersenyum melihat ke arah Tika dan Shin yang sudah cekikikan tertawa tidak jelas.
Mam Jes yakin pasti ada beban dipikirkan dua wanita, apalagi keberadaan Rindi ada ditangan mereka. Melly akan terus mendekat, tidak peduli seketat apapun penjagaan.
Namun menutupi ketakutan dengan canda juga tawa, masih bisa saling mengejek, bertengkar namun kepalanya dipenuhi kecemasan.
"Di mana suaminya Rindi?" suara teriak-teriak terdengar, membuat Mam Jes kebingungan.
"Kalian membawa suaminya Gen? Papa Calvin juga kebingungan.
"Genta tidak tahu sekarang yang mana suaminya." Genta mengusap wajahnya melihat Rindi yang berteriak mencari suami.
Atika berlari mendekati Rindi, menarik tangannya untuk turun ke bawah. Tika menunjukkan tiga foto Putra Leondra, Shin diminta memilih, tapi tangan Tika sudah menutup wajah Genta.
"Ini Gemal, suaminya Alina manusia mengerikan. Ini Genta, mantan suami." Rindi tertawa memuji ketampanan Genta dan Gemal.
Rindi tidak berani memuji Gemal, karena milik Diana yang sangat dirinya kenali sepak terjangnya.
"Dia suami Rindi, tampannya suamiku." Rindi mencium foto membuat Mam Jes mengerutkan kening.
Mam Jes meminta Rindi mundur, mengusap foto Putranya menggunakan tisu agar tidak terkena virusnya.
Shin sudah tertawa cekikikan melihat Mam Jes yang tidak setuju, dia tidak ingin Putra pertamanya dijodohkan dengan wanita gila.
Hendrik keluar lab bersama Juna setelah dipanggil bekali-kali karena Rindi teriak-teriak, mencari suaminya.
__ADS_1
"Pa, tolong Hendrik." Mam Jes menarik tangan Rindi.
"Ma, aku baik-baik saja." Senyuman Hendrik terlihat, meminta Mamanya tenang.
Juna dan Genta sudah memalingkan wajahnya menahan tawa, Tika dan Shin sudah berguling-guling puas melihat Rindi yang genit dengan banyak lelaki.
Tatapan Hendrik tenang, meminta Rindi duduk diam di samping, tidak memanggil dengan sebutan suami.
"Panggil aku Dokter Hendrik, atau Kak Hendrik bukan suami. Nama kamu siapa?"
"Aku Rindi ... Istrinya Dokter Hendrik."
"Aku belum menikah, dan kita berdua tidak saling mengenal,"
Rindi langsung memalingkan wajahnya, senyuman Hendrik terlihat. Menepuk pelan pundak Rindi agar kembali menatap ke arahnya.
"Aku suka Dokter Hendrik,"
Kepala Hendrik mengangguk, saat ini mungkin suka saat ada pria yang lebih tampan rasa akan berubah dan di sanalah semua orang akan memandang Rindi wanita gila pengagum rahasia.
"Aku tahu kamu menyadari siapa aku, dan aku juga paham cara kerja pikiran kamu. Namun akan lebih baik jika pikiran ini digunakan semestinya." Hendrik meminta Rindi mengendalikan pikirannya untuk fokus pada satu hal yang penting.
"Kamu sedang mencari tempat untuk berlindung, namun pelindung ada di hati. Tentukan pilihan kamu, baru aku bisa membantu menemukan arahnya." Tangan Hendrik menggenggam tangan Rindi meletakkan di dadanya.
"Melly akan datang menjemput aku, kamu harus bertemu Papa. Jika aku tidak datang Papa akan pergi selamanya." Rindi bicara sangat pelan, langsung berdiri memutuskan untuk pergi.
"Tunggu ... aku belum selesai bicara."
"Semua orang menolak Rindi, hanya Melly yang menerima dan ada Papa di sana." Kepala Rindi geleng-geleng, melangkah menjauhi Hendrik.
Tangan Hendrik terulur, tatapan Hendrik melihat ke arah Juna yang langsung berjalan ke belakang Rindi untuk menahannya.
"Genggaman tangan aku, dan sebagai seorang lelaki aku tidak akan melepaskannya asalkan kamu mempercayai aku." Hendrik mengangkat tangannya.
Senyuman Papa Calvin terlihat, teringat saat pertama melihat Hendrik. Calvin juga mengulurkan tangannya. Meminta Hendrik menggenggam dan tidak akan pernah melepaskan.
Hal yang sama Hendrik lakukan untuk Rindi, meksipun Hendrik tahu jika Rindi membutuhkan perawatan khusus.
__ADS_1
"Kamu harus jujur satu hal, di mana Papa Rindi?"
"Aku tidak tahu, seadaanya aku tahu. Dia pastinya sudah meninggal, Rindi ingat kembali pesan terakhir Papa kamu, genggam tangan aku dan percaya kamu bisa pulih." Wajah Hendrik meyakinkan.
Juna yang ada di belakang Rindi hanya bisa diam, merasa cemas jika Rindi berbalik ke arahnya.
"Papa sudah meninggal, kata Papa jauhi wanita itu, tapi siapa dia?" Rindi melihat ke arah Mam Jes, Tika dan Shin yang geleng-geleng kepala.
Tatapan Rindi melihat tangan Hendrik, berjalan mendekati menerima uluran tangan. Mam Jes memukul punggung suaminya yang senyum-senyum tidak jelas, nyawa putranya sedang dipertaruhkan ditangan wanita gila.
"Jangan tinggalkan aku?"
"Akhirnya Kak Hendrik Nikah, pesta-pesta. Putra utama Leondra menikah, akhirnya ada pesta." Tika sudah joget-joget, Genta menarik baju Tika untuk diam.
"Menikah ... Rindi menikah. Ye Rindi menikah." Suara teriakan Rindi terdengar menggema.
Kepala Hendrik geleng-geleng, mengacak-acak rambutnya ulah Tika yang tidak bisa menjaga ucapannya. Orang yang mengalami gangguan seperti Rindi langsung berpikir iya, jika Hendrik menolak pasti langsung kecewa.
"Papa ... ini bagaimana?"
"Mana Papa tahu, tanya Hendrik." Calvin sudah tertawa, Juna dan Genta sudah melarikan diri lebih dulu.
Shin dan Tika lompat-lompat bersama Rindi karena akhirnya Rindi akan segera punya suami. Hanya Hendrik yang perlahan mundur, tidak ada bayangan dalam hidupnya untuk menikah, hal yang tidak mungkin terjadi. Terlalu banyak pekerjaan yang Terbengkalai jika dirinya menikah, dan sungguh pernikahan tidak ada dalam daftar hidupnya.
"Rin, kira-kira di mana Melly sekarang berada?" Tika melihat ke arah luar rumah.
"Sama, Shin juga bertanya-tanya. Dia hampir membunuh kita di pesawat." Shin memijit pelipisnya.
"Kalian tidak tahu, Rindi saja tahu." Senyuman Rindi terlihat sangat lebar.
Tatapan mata Tika langsung tajam melihat Rindi yang senyum-senyum sendiri masih memikirkan soal pernikahannya.
"Di mana?" Tika dan Shin mengajukan pertanyaan yang sama.
Tangan Rindi menunjuk ke arah depan, Tika dan Shin melihat segerombolan turis yang masuk ke area Mansion untuk berliburan melihat sejarah mansion.
"Titus, menggunakan baju belang, ada senjata beracun di tangannya." Rindi tersenyum meminta Tika dan Shin berhati-hati.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira