ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
TANTE DAN OM


__ADS_3

Matahari bersinar sangat terang, Juna sudah duduk di pinggir ranjangnya melihat ke arah jendela.


Al juga terbangun, hanya bisa diam melihat putranya melamun, Tika masih tidur sedangkan suaminya tidur di sofa.


Perlahan Aliya turun dari ranjang, memegang infus yang masih terpasang di tangannya. Langsung duduk di samping Juna yang tidak menyadari jika Maminya ada di sisinya.


"Sakitnya tidak berbekas ya Jun?" Al melihat ke arah pandang Juna.


"Juna baik-baik saja Mami." Senyuman Juna terlihat, menatap Maminya yang paling banyak memiliki luka.


Al melihat ke arah putranya, menatap punggung Juna yang masih dibalut kain, ada jahitan di kepalanya. Beberapa bagian tangan Juna juga terluka.


"Terima kasih Arjuna."


"Terima kasih Mami, Juna bangga memiliki Mami di sisi Juna." Tangan kecil Juna menggenggam tangan Aliya, meminta Al terus ada disisinya mengajarinya banyak hal soal dunia yang kejam.


Aliya tidak mengizinkan Juna melihat dunia yang lebih kejam, kemampuan seseorang tidak selamanya dibentuk dari apa yang dia lihat, tapi dari apa yang dipelajari.


Altha juga terbangun, hanya duduk melihat istri dan anaknya bercerita sambil tertawa kecil. Al bukan hanya bisa meluluhkan hati Tika, tetapi juga Juna.


Suara Tika bergumam membuat Aliya langsung melihat ke arah Tika, Altha langsung berdiri mendekati Tika yang mengoceh tidak jelas.


Suara ketukan pintu terdengar, Dimas membawakan makanan untuk sarapan. Tersenyum melihat Juna yang sangat kuat.


"Bagaimana keadaan kamu Juna?"


"Baik Uncle." Juna hanya tersenyum melihat Dimas yang mengusap kepalanya.


Dimas juga mengusap pelan kepala Aliya yang membuktikan jika dia sudah siap menjadi seorang ibu, dan kasih sayang Aliya melebihi cinta ibu kandung.


"Bagaimana kondisi princess kecil?" Dimas mendengar Tika bergumam soal jalan tikus.


Al masih mengkhawatirkan kondisi Anggun dan Helen, meksipun Altha sudah memastikan jika Helen dalam keadaan baik dan sudah bisa dimintai keterangan.


Saat penjahat memasuki rumah, Helen dan Anggun masih terbangun dan mengobrol berdua.


Tidak ada suara apalagi keributan, secara tiba-tiba penjaga berjatuhan. Helen langsung berlari ke kamar Tika, menggendongnya untuk membawa pergi.


Di lantai bawah, Anggun menahan penjahat agar tidak naik ke lantai atas. Anggun ditusuk di bagian perut, karena dia melakukan perlawanan.


"Aunty Anggun memang diperintahkan untuk dibunuh." Juna memotong ucapan Dimas yang masih mejelaskan soal kondisi rumah.

__ADS_1


"Apa?" Dimas mendekati Juna meminta penjelasan.


Anggun sudah memperingati Juna sejak awal, ada surat peringatan meminta untuk melepaskan kasus, tapi Anggun tidak menghiraukan.


Juna sudah memprediksi sehingga meminta Anggun menggunakan baju tebal, jika dirinya tertusuk tidak terlalu dalam.


"Juna juga memperingatkan Aunty Helen?"


"Bukan, Aunty Anggun memilih menyelamatkan aunty Helen. Baju yang Juna berikan, diberikan kepada Aunty Helen." Senyuman Juna terlihat, dia terlalu banyak melihat orang baik sehingga menjadi penyemangat dirinya.


Melihat ketulusan Anggun Juna kagum, dan dirinya menyukai wanita lembut, tapi memiliki hati yang kuat juga penuh pengorbanan.


Altha menghela nafasnya, pantas saja peluru tidak menembus dalam padahal kondisi Helen kemungkinan bisa mati di tempat. Anggun sudah memprediksi dirinya akan disakiti, tapi meyelamatkan orang lain.


"Apa dia tidak memikirkan aku sampai rela berkorban?" Dimas menatap tajam, dirinya khawatir sampai hampir mati, tapi Anggun mengorbankan dirinya sendiri.


Aliya tersenyum, dia tidak salah mempercayai Anggun. Dia wanita terbaik yang Aliya temukan, tidak pernah menonjolkan diri, tapi kebaikan hatinya Aliya akui.


"Juna, baik Mami apa Aunty Anggun?" Al menatap Juna dengan ekspresi mengemaskan.


"Mami." Juna tersenyum melihat Aliya kesenangan.


Dimas langsung melangkah pergi bersama Altha dan Aliya untuk melihat kondisi Anggun, Al duduk di kursi roda menggenggam tangan suaminya.


"Diana, kamu sudah berjanji."


"Janji bisa aku ingkari, kenapa Mommy melakukan ini? Diana bisa membunuh Citra." Tatapan Diana tajam, matanya merah penuh amarah.


"Mommy tidak ingin kamu membunuh, siapapun bisa menjadi pembunuh. Kamu tidak berhak mengakhiri hidup seseorang." Tatapan Anggun lebih tajam melihat Diana yang menggenggam tangannya kuat.


Kesalahan Citra tidak bisa dimaafkan, tapi membunuh Citra hanya akan menyakiti Juna. Sejahat apapun Citra, dia ibu kandung.


"Dia tidak akan bisa berubah, hanya kematian yang bisa menjadikan akhir. Kenapa hanya memikirkan perasaan Juna, lihat keadaan mommy dan juga Aliya." Suara Diana semakin tinggi, dia bahkan sudah menyiapkan senjata untuk mengejar Citra.


Anggun memejamkan matanya, tidak ingin menyahut ucapan Diana lagi. Apapun yang dia katakan tidak akan didengarkan, sehingga diam menjadi pilihan Anggun.


"Mom, jangan marah." Bibir Diana monyong menarik baju Anggun.


Dirinya hanya tidak terima Anggun ditusuk, adiknya Aliya juga juga kedua keponakan disakiti. Tujuan Diana hanya ingin mengakhiri semuanya lebih cepat.


"Maaf, baiklah Diana tidak akan menyakiti Citra."

__ADS_1


"Kematian bukan akhir Diana, aku mengkhawatirkan kamu." Air mata Citra menetes.


Tangan Diana mengusap air mata Anggun, meminta maaf karena dirinya terlalu keras kepala dan berjanji tidak akan mengangkat senjata asalkan Anggun mengizinkan untuk tetap tinggal bersamanya.


"Siapa Diana?" Al menatap Anggun dan wanita di samping Anggun.


"Hai, Tante Aliya." Diana tertawa besar melihat keterkejutan Aliya.


"Alina. Kamu kenapa di sini?"


"Pertanyaan Om sama Tante sama saja." Diana tersenyum melihat Al yang duduk di kursi roda.


Aliya meminta Anggun menjelaskan, usia Anggun dan Alina hanya terpaut delapan tahun. Hal yang konyol melihat Anggun dipanggil Mommy.


Anggun juga tidak mengerti, dia meminta Diana memanggilnya kakak, tapi Diana lebih nyaman dengan panggilan Mommy, karena dia memanggil Dimas Daddy.


"Kak Dimas dan kak Alin hanya beda sepuluh tahun, jangan gila."


"Diam Tante, kenapa kamu protes." Wajah Diana mengejek Aliya, karena dirinya memiliki Mommy dan Daddy, tapi Aliya bukan mendapatkan orang tua, tapi menjadi orang tua.


"Jangan panggil aku Tante." Al melempar Diana menggunakan makanan yang Dimas bawa.


Tatapan Diana langsung tajam, melangkah mendekati Aliya. Tangan Diana langsung menjambak Al membuat Dimas dan Altha menjauhkan keduanya.


"Diana, apa yang kamu lakukan?"


"Daddy, kenapa membela Tante satu itu." Bibir Alina monyong, langsung memeluk Dimas yang tersenyum mengusap rambut putrinya.


Dimas menjelaskan kepada Aliya jika Diana dia angkat menjadi putrinya, tidak ada yang berubah dari identitas Alina. Dia masih kembaran Al, tapi hanya nama yang diubah.


Saat surat-menyurat yang Dimas urus soal pernikahan dengan Anggun selesai, juga akan memberikan identitas baru untuk Alina sebagai putri angkatnya dan Anggun.


Al mengerutkan keningnya, melihat Dimas dan kakaknya terlihat lebih dekat. Karena memang sejak awal Dimas mengangkat Aliya seperti putrinya.


"Di mana Atika Tante?"


"Cari mati kamu!" Al menatap tajam, berteriak kuat memukul Altha tidak terima dipanggil Tante.


***


Jangan lupa like coment Dan tambah favorit

__ADS_1


vote hadiahnya ya ditunggu


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2