
Makan malam keluarga diadakan, Aliya menatap Shin yang makan dengan lahap. Berbeda dengan Tika yang memiliki makanan.
"Juna, kamu sibuk sekali Mami perhatikan?"
"Lumayan Mi, tapi tidak terlalu juga." Juna tidak merasa dia lupa waktu.
"Benar Mami, Ay Jun masih ingat sama Shin." Senyuman Shin terlihat, meminta bantuan Juna menambah lauknya.
"Tika, mulai besok tidak perlu ke kantor, kamu perbanyak makan." Al menatap putrinya yang hanya mengaduk makanan.
Tangan Genta merangkul istrinya, melihat Tika yang memang jarang makan. Meminta memasukkan makanan ke mulutnya.
"Mam, Tika merasa tidak sehat. Kepala pusing, makanan juga terasa hambar dan tidak berselera. Melihat Shin makan saja sudah kenyang." Tika langsung mual, berjalan cepat ke arah toilet
"Tika, kamu membuat Shin hilang selera." Tangan Shin menutup mulutnya, langsung berlari kencang.
"Arshinta, jangan lari." Aliya teriak histeris menatap Shin yang sudah menghilang.
Semua orang melihat ke arah Aliya, Genta dan Juna binggung melihat Maminya panik. Altha yang minum juga hampir tersembur, menatap istrinya yang aneh.
"Ada apa Aliya? Shin sudah biasa lari-larian." Altha mengerutkan keningnya binggung melihat istrinya yang panik.
"Kalian berdua suami yang tidak peka, perubahan istri sendiri tidak tahu. Sejak kapan Shin gila makan? dia wanita yang sangat menjaga penampilannya." Mata Aliya melotot ke arah Juna.
"Mungkin karena bahagia Mi,"
Aliya menepuk keningnya, kasihan melihat Putri dan menantunya yang memiliki suami tidak peka.
"Kapan terakhir Tika bulanan? Shin juga kapan?"
Juna dan Genta saling tatap, menggelengkan kepalanya bersama. Mereka tidak memperhatikan, dan tidak memikirkannya juga.
Di kamar mandi Tika sudah muntah-muntah, memegang perutnya yang tidak nyaman. Tangan Tika mulai berhitung. Senyuman Tika terlihat, berharap dugaannya benar.
Cepat Tika ke kamarnya, mengambil satu kontak tes pack yang diberikan oleh Salsa sebagai hadiah pernikahan.
"Apa Aunty Salsa sudah tahu?" Tika menahan air matanya yang hampir menetes.
Tidak sabar menunggu, Tika langsung melakukan tes meskipun Salsa menyarankan dilakukan pagi hari.
Lebih dari dua puluh tes pack Tika susun sejajar, jantungnya berdegup kencang menunggu hasilnya.
"Apa yang kamu lakukan Tika?"
"Lihat ini Shin." Senyuman Tika terlihat, menatap Shin yang juga tersenyum.
Pelukan keduanya sangat erat, teriakannya juga terdengar sampai keluar rumah. Tika dan Shin sampai menangis melihat seluruh tes pack menunjukkan hasil garis dua.
"Alhamdulillah ada dedek, sehat terus anak cantik." Shin mengusap perut Tika penuh rasa bahagia.
"Kenapa cantik? siapa tahu ganteng?" Tika mengusap perutnya.
__ADS_1
Shin memegang hasil tes pack, tersenyum bahagia jika dirinya juga memilikinya. Shin ingin memiliki anak secepat mungkin agar dia dan anaknya bisa seperti teman karena terlihat masih muda.
Pintu terbuka, Aliya tersenyum melihat Shin yang memegang tes pack garis dua. Langsung memeluknya erat, Aliya mencium kening Shin mengusap perutnya.
"Mami ini bukan punya Shin, tapi milik Tika." Kepala Shin tertunduk merasa lucu melihat Tika kesal.
"Ini punya Tika tahu, Mami jahat." Hentakan kaki Tika terdengar, mengambil semua tes pack langsung menyembunyikannya.
Genta juga masuk, menatap istrinya yang sudah cemberut, marah-marah kepada Shin yang mengambil miliknya.
"Ada apa sayang?"
"Tika punya ini, ini kan milik Tika, tapi Shin mengambilnya." Tika menunjukkan hasil tes pack.
Mata Genta memperhatikan, menunjukkan kepada Maminya karena Genta tidak mengerti mainan apa yang diperebutkan.
"Gen, kamu tidak pernah melihat barang bukti sebuah kasus, soal benda ini?" Al merasa kesal melihat menantunya.
Arjuna dan Altha masuk, Juna melihat hasil tes pack dua garis tersenyum menepuk pundak Genta.
"Atika hamil, Alhamdulillah." Juna tersenyum memeluk Adiknya.
"Hamil, aku akan menjadi Ayah." Genta menarik Juna langsung memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.
Altha juga tersenyum lebar memeluk erat Putri dan istrinya yang menangis terharu. Alt tidak menyangka akan segera menjadi Kakek.
Tanpa ada yang menyadari Shin memperhatikan sambil menangis, semuanya terlalu bahagia sehingga lupa kehadirannya.
"Ke mana Kak?"
"Mau pergi jauh-jauh,"
"Kenapa? Juan temani." Juan meminta Ria mengabari Juna, dan dia akan mengikuti Shin yang ingin melarikan diri.
Di kamar masih terlihat bahagia, Aliya mencari keberadaan Shin yang sudah tidak terlihat lagi.
"Di mana Shin? dia juga harus melakukannya,"
Suara langkah kaki berlarian terdengar, Ria menatap Maminya yang sedang mencari Shin.
"Mi, Kak Shin ingin pergi dari rumah. Katanya tidak ada yang peduli kepadanya, Kak Juan yang mengikutinya." Ria mengatur napasnya.
Juna langsung berlari keluar rumah, diikuti oleh yang lainnya. Juna melihat Juan sudah ada di pinggir jalan keluar dari gerbang.
Terlihat juga Shin duduk di pinggir jalan sambil menangis, memeluk lututnya merasa dadanya sesak.
Juan sudah berusaha membujuk, menenangkan Shin juga. Dia hanya salah paham, seluruh keluarga sangat menyayanginya.
"Kak Shin tidak punya uang, mau makan itu." Tangan Shin menunjuk ke arah sate pinggir jalan.
"Ya sudah, genggam tangan Juan kita menyebrang untuk makan." Tangan Juan terulur mengandeng Shin menuju tempat makan pinggir jalan.
__ADS_1
Juna juga sampai langsung menyebrang, melihat Istrinya yang banjir air mata. Juna tidak tahu apa masalahnya Shin marah.
"Ibu, pesan sate dua porsi jangan pedas,"
"Satu porsi berapa tusuk?"
"Sepuluh kak,"
"Shin, maunya seratus." Sepuluh jati Shin ditunjukkan.
Juan dan Juna tersentak kaget, tapi tidak berani protes. Juna baru menyadari jika Istrinya memang banyak berubah.
"Sayang, kamu makan banyak berisi ke mana?"
"Perut, lihat perutnya Shin buncit, tapi pipi tirus." Tatapan Shin melihat ke arah perutnya begitupun Juna.
"Sudah jangan dipikirkan, kamu makan dulu. Nanti kita pastikan lagi." Senyuman Juna terlihat, memeluk istrinya yang terlihat baik-baik saja, tidak ada ekspresi marah. Juna tidak mengerti alasan Shin ingin pergi.
"Tika yang hamil, kenapa Shin yang membuncit?"
"Namanya juga sehat, makan yang banyak." Juan menyerahkan beberapa sate terlebih dahulu.
"Ini seratus, kenapa sedikit sekali? mau tambah lagi 500." Shin langsung duduk menghirup bau sate.
"Sayang ini belum semuanya." Juna menahan tawa melihat istrinya yang tidak sabaran.
Aliya datang bersama Altha, Tika dan Genta. Shin langsung mempersilahkan duduk seakan tidak terjadi apapun.
Sate miliknya dibagi dengan Tika agar baby di dalam perut cepat besarnya. Senyuman Shin juga terlihat merangkul Tika agar banyak makan.
"Kamu tidak marah?"
"Kenapa Shin harus marah?"
Senyuman Aliya terlihat, mencium kening kedua wanita yang sangat dicintainya. Bahkan di dalam perut juga saling iri, tapi cepat juga baiknya.
"Sehat terus sayang, Nenda tunggu kalian lahir,"
"Shin sudah lama lahir?"
"Iya bukan kamu. Kenapa kamu terlihat bodoh Shin,"
"Shin memang bodoh mami." Tawa Tika terdengar.
Pukulan Shin hampir mendarat, Juna dan Genta langsung menghentikan. Bisa gawat jika sampai saling membanting.
***
follow Ig Vhiaazaira
vote hadiah alihkan ke SELEBRITI BUKAN ARTIS YA.
__ADS_1
lihat Shin makan sate, jadinya mau jugaš¤¤