
Mata Calvin tidak berkedip sama sekali, melihat buku yang Shin baca sangat banyak. Sebenarnya Shin anak yang pintar bisa cepat mempelajari medis secara alami, dan dilakukan sebelum teknologi canggih menguasai dunia medis.
"Kamu membaca ini Shin?"
"Tidak, membakarnya lalu meminum airnya." Tawa Shin terdengar, menutup mulutnya.
"Keluarga kamu pasti bukan orang sembarangan Shin, buku-buku ini satu-satunya di dunia." Anggun mengangumi banyak buku.
Senyuman Shin terlihat, dirinya sebenarnya tidak tahu menahu soal keluarganya, tetapi dirinya juga menduga hal yang sama.
Diana menatap Gemal yang masih terlelap tidur, sesekali mengusap kepalanya. Melihat suaminya tidur pulas, ada rasa bersalah di hati Diana yang membuat suaminya terluka.
"Di, bersiaplah untuk pulang." Mommy menepuk pundak Diana.
"Iya Mommy, menunggu kak Gem bangun terlebih dahulu." Di mengusap wajah suaminya meminta Gemal bangun.
Papa Calvin sudah menyiapkan mobil untuk pulang, Gemal melakukan perawatan di rumah secara khusus.
Semuanya bersiap untuk pulang, mobil sudah tersusun di depan rumah Shin. Gemal dan Diana juga sudah berjalan keluar.
Senyuman Mam Jes terlihat mengucapkan terima kasih kepada Shin. Sudah menyiapkan makanan, juga tempat tidur yang nyaman.
"Aku pulang dulu Shin." Tika menepuk pundak sahabatnya.
"Kak Di pulang, terima kasih banyak, maaf sudah menyusahkan." Diana memeluk Shin yang tersenyum.
Tangan Shin menyentuh perut Diana, meminta twins bertahan sedikit lebih lama. Berjuang bersama sampai tiba waktunya.
Tangan Shin melambaikan melihat semua orang melangkah pergi, meninggalkan dirinya sendiri di rumah mewahnya.
"Hati-hati semuanya." Shin tersenyum lebar.
"Kamu sendiri tidak masalah?" Calvin menatap senyuman gadis remaja yang masih membutuhkan orang tua.
"Iya Om, Shin sudah biasa sendirian." Tangan Shin menutup pintu rumahnya.
"Sekarang kamu ingin pergi ke mana?" Al melihat Shin sudah naik sepedanya.
"Mencari sekolah baru." Shin langsung menutup mulutnya, takut Aliya marah.
__ADS_1
Diana baru ingat, meminta Aliya mengurus surat pindah Shin. Dia dikeluarkan dari sekolahnya, dan belum menemukan sekolah baru.
Sebentar lagi lulus sekolah menengah, Shin harus mengikuti ujian agar bisa sekolah tingkat atas.
"Kamu dikeluarkan dari sekolah, sekalian tidak sekolah lagi. Apa alasan dikeluarkan?" Al menatap tajam, terlihat sekali matanya yang tidak suka dengan anak nakal seperti Shin.
Meksipun Aliya terlihat marah, Shin masih menunjukkan senyuman manisnya. Langsung turun dari sepeda, berdiri di depan Al.
"Guru Shin tidak sopan, tangannya masuk ke dalam rok, mengusap paha lalu aku melakukan pukulan." Shin mempraktekkan tempat guru lelaki menyentuhnya.
Penjelasan Shin tidak diterima, karena sudah memukul guru sampai babak belur, kepala sekolah secara tidak hormat mengeluarkan Shin dari sekolah. Memastikan Shin tidak bisa sekolah lagi, dan tidak memiliki masa depan.
Jantung Aliya langsung berdegup kencang, menggenggam kuat tangannya menahan air matanya yang ingin menetes.
"Siapa yang melakukannya? akan Mami patahkan lehernya." Mata Al merah menahan amarah.
"Shin sudah mematahkan tangannya, bahkan Shin ditampar oleh kepala sekolah. Kata Om Calvin wanita tidak boleh disentuh dari bahu sampai ujung kaki, wajah juga hanya untuk keluarga. Berarti guru Shin melakukan kesalahan." Senyuman Shin terlihat menatap Calvin, langsung pamit pergi naik sepedanya.
Diana memberikan jempolnya, Shin sudah melakukan hal yang benar dengan memberikan pelajaran kepada orang yang sudah lancang kepadanya.
Aliya akan mengurus pemindahan Shin ke sekolah Tika, dan tidak perlu khawatir. Al akan menuntut orang yang sudah melecehkan Shin.
Kepalanya terluka, karena dipukul. Lukanya belum sembuh, karena Shin tidak bisa mengobati kepala.
"Jangan Om, Shin baik-baik saja sendirian. Jangan pernah cari mereka, Shin tidak ingin menjadi benalu untuk kebahagian orang tua Shin. Biarkan waktu yang menjawab semuanya." Kepala Shin tertunduk, mengucapkan terima kasih kepada Aliya sudah membantunya.
Tika langsung naik sepeda, meminta Shin duduk di belakang. Langsung jalan meninggalkan rumah mewahnya. Tiga mobil hanya mengikuti sepeda yang jalan di depannya.
Senyuman Atika dan Shin terlihat, merentangkan tangan keduanya menyambut hari kelahirannya.
Bagi Shin ulang tahun pertamanya yang penuh kebahagiaan, penuh canda dan tawa, juga menjadi hari pertama dirinya memiliki keluarga.
Aliya mengusap air matanya, menggenggam tangan suaminya. Bahagia melihat dua gadis remaja tertawa bersama, sudah lama Aliya tidak melihat Putrinya Atika tertawa lepas.
Semakin Tika dewasa, Al merasa Putrinya semakin banyak diam, banyak pikiran yang tidak dibagikan lagi.
"Putriku Tika bahagia bersama sahabatnya."
"Sekarang tidak perlu khawatir lagi, Tika sudah menemukan teman sejatinya." Alt meminta Aliya fokus kepada Ria.
__ADS_1
Perlahan Atika akan dewasa, meninggalkan kebiasaan buruknya. Menemukan akhir dari jalannya.
Satu-persatu mobil melewati sepeda Shin, mobil Altha berhenti. Tika langsung turun dari sepeda, melangkah masuk ke dalam mobil melambaikan tangannya kepada Shin.
Senyuman Shin terlihat, melambaikan tangannya sampai mobil keluarga Tika benar-benar menghilang. Air mata Shin menetes, langsung menepis air matanya.
Menjalankan sepedanya ke arah tempat latihan bela diri, kembali ke awal aktivitasnya.
***
Kondisi Gemal sudah pulih dengan cepat, tetapi masih belum bekerja. Memperhatikan Diana yang banyak berjalan mondar-mandir memegang perutnya.
Sudah tiga hari Diana selalu mondar-mandir, Di merasa perutnya semakin turun. Anak-anak selalu aktif dan membuat Di tidak tenang.
"Sayang, apa yang kamu rasakan?"
"Diana binggung Ayang, sebaiknya menemukan Salsa. Dia sudah empat puluh hari, mungkin sudah boleh keluar rumah." Di mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Salsa.
Panggilan Diana langsung dijawab cepat, Diana menceritakan kondisi perutnya. Sudah banyak cairan yang keluar, tapi bukan darah.
Pinggang Diana sering sakit, perutnya semakin ke bawah. Diana tidak bisa bertahan lagi, fisiknya memang kuat, tapi tidak dengan anak-anaknya.
Mata Diana tertutup, Salsa meminta Diana menunggu satu minggu lagi saat usia kandungan tujuh bulan, saat itu Salsa akan mengeluarkan twins.
Selama Diana bisa menahan, sebisa mungkin untuk mengundur waktu.
[Kak Salsa, Diana sudah tidak kuat lagi. Di menyerahkan kak, sudah waktunya mereka dilahirkan.] Di menggenggam tangan Gemal, memejamkan matanya.
[Kamu yakin, tidak bisa bertahan meksipun berapa hari?] Salsa tidak bisa memaksa jika Diana tidak kuat lagi, pilihan terakhir Salsa akan melakukan operasi, bayi harus dilahirkan secara sesar.
Apapun resikonya, Salsa meminta Diana mempercayainya. Salsa bahkan mengirimkan foto USG anak-anak Diana.
Gemal meneteskan air matanya, melihat bayi kembarnya. Di lebih tidak percaya jika anaknya sangat mengemaskan.
"Bertahanlah nak, Mama dan Papa ingin bertemu kalian. Bisa kita percepat pertemuan ini." Diana meneteskan air matanya, mengusap perutnya menyakinkan diri untuk mengambil keputusan.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1