
Pintu kamar Anggun terbuka, senyuman Tika terlihat mengucap salam. Dia duduk di kursi roda, sedangkan kakaknya Juna yang mendorong.
"Tidak salah Tik, kamu yang duduk di kursi roda, padahal Juna yang terluka." Dimas tersenyum melihat Tika mengomel.
Dirinya masih kecil, tidak kuat mendorong kakaknya. Daripada kursi roda menganggur lebih baik dimanfaatkan.
Tatapan mata Tika tajam melihat Diana yang tersenyum melihatnya, mata Diana menunjukkan kekaguman dengan keberanian Tika dan Juna.
"Aunty Alin, kenapa rambutnya pendek? baju Aunty juga aneh sekali. Tidak mirip Mami lagi." Tika turun dari kursi roda, mempersilahkan Juna yang duduk.
Diana hanya diam melihat Tika mengecek detail penampilannya, mengomeli Alina yang tidak secantik Maminya.
"Perkenalkan aku Diana." Tangan Diana mengulur ke arah Tika yang langsung disambut oleh Tika memperkenalkan dirinya.
"Diana, Aunty Di. Hmz ... sekarang Aunty Alina berganti nama menjadi Aunty Di." Tika menganggukkan kepalanya mengerti, dan melihat wajah Maminya yang terlihat lebih dewasa, sedangkan Diana mirip anak remaja.
"Di ... Diana, bukan Di."
"Lebih enak dipanggil Di, daripada Diana. Terlalu panjang." Tika duduk di kursi berdebat dengan Diana soal nama.
Akhirnya Diana mengalah dan sepakat dipanggil Di, karena dirinya lebih tua dari Tika maka Atika wajib memanggilnya kakak.
Tika langsung menyetujui ucapan kakaknya, keduanya berjabatan tangan sepakat menjadi teman.
"Papi, Tika boleh minta sesuatu?" Atika menatap Altha yang menganggukkan kepalanya.
Tika menginginkan rumah mereka memiliki jalan tikus, sama seperti gudang tepat dirinya diculik.
Altha dan Aliya kebingungan, jalan tikus yang Tika inginkan mustahil di buat di area perumahan mereka.
"Tika hebat sekali kak Di, jalan tikus itu kecil dan gelap." Tika mejelaskan melihat api yang sangat besar.
Semua orang panik kecuali Mami dan kakaknya yang celingak-celinguk mencari jalan keluar, saat melihat ada cahaya Maminya langsung meminta Tika merangkak keluar.
Beberapa orang mendorong Maminya, keluar lebih dulu barulah Tika dipaksa ikut melewati jalan yang baru pertama kali dilihatnya.
Tika merayap sesuatu instruksi Maminya, mengikuti cahaya sampai akhirnya bertemu Papinya.
"Kak Di pasti belum pernah melewati jalan tikus, Tika pikir tangan Tika tidak masuk karena tikus sangat kecil, tapi ternyata Tika muat." Atika tertawa menyukai jalanan kecil, gelap dan pengap bisa dia lalui.
Diana tertawa, mengusap kepala Tika. Seandainya Atika tahu jika dirinya bukan hanya melewati jalan tikus, tapi melewati saluran air bawah tanah semuanya sudah Diana lalui.
__ADS_1
Jika Di mengingat lagi masa lalunya, dia bahkan menciptakan jalan-jalan kecil yang tidak diketahui banyak orang.
"Nanti rumah Tika juga akan ada jalan tikus."
Altha meminta maaf karena dia tidak bisa menuruti keinginan putrinya, melihat kejadian yang baru saja dialami keluarga Altha memutuskan untuk pindah rumah.
"Kita pindah rumah Pi?" Juna menatap kaget.
"Iya, Papi sudah merencanakan ini sejak awal. Kita mulai semuanya dari awal." Alt menatap Aliya yang tersenyum menggenggam tangan Juna yang menyetujui keputusan Papinya.
Tika terdiam, memulai dari awal. Dia tidak mengerti apa yang harus dia mulai sehingga harus kembali ke awal.
"Pi, apa Tika harus masuk perut lagi ya? terus lahir lagi dan tumbuh dari awal. Tika tidak mau, prosesnya lama." Atika memukul Altha, dia ingin cepat besar dan tidak ingin balik menjadi bayi.
Altha langsung tertawa, menggendong putrinya mencium hidung Tika. Putri kecilnya tidak harus balik lagi menjadi bayi.
Altha ingin memulai semuanya dari awal, ada Altha, Aliya, Arjuna, dan Atika. Mereka akan pindah ke rumah baru, kebahagiaan yang baru.
"Adiknya Tika jangan lupa dihitung, Papi Altha, Mami Aliya, kak Arjuna, kak Atika dan Adiknya Atika namanya ... siapa ya kak Di?" Tika menatap Diana yang masih berpikir.
"Alisha, kalian keluarga A." Senyuman Diana terlihat, Tika menyukai nama yang dia buat.
"Namanya Arjuanda, di panggil Juan." Arjuna tersenyum melihat Tika dan Diana melotot.
Diana juga menatap tajam Juna, wanita jauh lebih spesial dan kuat. Wanita jauh lebih tangguh dari laki-laki sehingga wanita lebih diutamakan.
"Kak Di juga bersiap saja menyambut adik laki-laki." Juna menatap tajam Diana dan Atika.
"Daddy, Diana tidak mau adik laki-laki." Suara Diana teriak terdengar.
Anggun meminta semuanya berhenti berdebat, laki ataupun perempuan sama saja dan tidak ada yang lebih dan kurang, karena semuanya rezeki yang tidak ternilai.
"Mommy, Diana maunya adik perempuan."
"Laki dan perempuan sama saja Di, kamu harus menyayanginya. Bukannya kamu bisa menjadi spesial." Anggun menatap Dimas terkejut, mereka menikah saja belum sudah membicarakan soal anak.
Diana cemberut, langsung ingin melangkah pergi. Dia kehilangan namanya, dan ingin ada anak kecil yang bisa menggantikan Alina.
Diana ingin menjaganya agar tidak seperti dirinya, Alin bisa tumbuh kembali memulai hidup lagi.
Dimas dan Aliya melihat langkah Diana pergi keluar, tidak bicara apapun hanya tertunduk.
__ADS_1
Al ingin mengejar Diana, tapi Dimas menahannya dan membiarkan Diana sendirian sementara waktu.
Atika juga sudah duduk kesal, dia tidak mendapatkan dukungan soal adiknya.
Tangan Aliya menggenggam tangan Tika, tidak boleh kesal hanya karena apa yang diinginkan tidak didapatkan.
"Tika harus sayang sama adik Tika nanti, meskipun dia laki-laki."
"Iya, Tika sayang. Tetapi tidak asik bermain dengan laki-laki." Bibir Tika monyong, memeluk Maminya yang masih penuh luka.
Air mata Tika langsung menetes, meniup luka Al meminta cepat sembuh. Dia tidak masalah punya adik laki-laki, meksipun ada Papi dan kakaknya Maminya masih terluka, mereka membutuhkan satu penjaga lagi agar Maminya tidak pernah terluka.
"Jangan menangis sayang, Mami jadinya sedih." Al mengusap air mata Tika yang membasahi pipinya.
"Tika juga sedih, mami sakit." Tika ingin memeluk, tapi tidak tahu harus memeluk di mana, karena tubuh Al banyak luka.
Altha menggendong Tika, mengusap punggungnya agar berhenti menangis dan sebaiknya bermain dengan Kak Di yang masih merajuk menginginkan adik laki-laki, padahal Mommy Daddy-nya belum menikah.
Aliya tersenyum melihat Tika yang langsung lari keluar kamar, Al mendekati Anggun mempertanyakan keadaannya.
"Terima kasih kak Anggun, Al takut sekali." Aliya menggenggam tangan Anggun yang juga menggenggam tangannya saling menguatkan.
Anggun juga bersyukur bisa selamat, bahkan sangat bersyukur melihat Aliya dan anak-anak juga baik-baik saja.
"Jangan pernah terluka lagi kak, kasihan kak Dimas yang depresi melihat kak Anggun terluka." Senyuman Aliya terlihat menatap Dimas yang mengerutkan keningnya.
Keputusan Altha pindah rumah di setujui oleh Dimas, karena dia membutuhkan uang untuk menikah dan menjual rumahnya kepada Alt.
"Rumah yang mana ingin kamu jual?" Alt menatap tajam.
"Rumah mana lagi? rumah aku hanya satu."
"Aku yang membeli rumah itu kak Dim, beraninya kak Dim menjualnya." Altha menatap tajam.
Hadiah rumah yang Alt berikan Dimas kembalikan, karena dia sudah membeli rumah lain.
Pintu terbuka, Tika berlari ngos-ngosan.
"Daddy, kak Di menonjok matanya uncel Dika dan sampai biru." Tika sangat terkejut melihat Dika dan Diana bertengkar di rumah sakit.
Dimas hanya menghela nafasnya, langsung melangkah keluar mengikuti Tika untuk melihat Putri dan adiknya bertengkar.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazara