ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KOLEKSI


__ADS_3

Hari yang ditetapkan tiba, Tika dan Aliya sudah menyiapkan koper mereka. Alt juga meminta Helen ikut bersama mereka agar ada yang membantu Al.


Altha sedikit takut melihat Aliya yang sangat aktif, apalagi seakan-akan lupa sedang mengandung.


Berkali-kali Alt harus menegur Al, meminta berjalan pelan tidak berlari, jangan terburu-buru demi keamanan anaknya.


"Sayang, hati-hati." Alt menghela nafas, Aliya melompati vas bunga mengikuti Tika.


"Iya lupa, maaf ya Ayang. Salahkan Tika yang mengajari." Al tersenyum, melihat beberapa mobil yang sudah tersusun rapi di depan rumah.


"Assalamualaikum Uncle Aunty." Diana tersenyum manis, mendekati Al berbisik sesuatu membuat Al teriak kuat, tidak mengizinkan Diana meminjam mobilnya.


Tatapan mata Diana tajam, langsung mengunakan jurus kedua mengancam Aliya yang sudah hampir menangis.


"Uncel, Diana pinjem mobil." Senyuman Di sangat besar mengeluarkan mobil kesayangan Aliya.


Altha hanya menahan tawa melihat wajah istrinya yang tidak rela mobilnya dibawa oleh pembalap liar seperti Di, Al sangat yakin setengah perjalanan mobilnya langsung sakit.


Altha dan semuanya berkumpul, sebelum berangkat berdoa meminta keselamatan di perjalanan. Dilancarkan, dan dijauhkan dari hal yang tidak diinginkan.


"Bismillah, otw liburan." Tika langsung masuk mobil duduk di samping kakaknya Arjuna yang sudah menggunakan earphone sambil memejamkan matanya.


"Diana, siapa yang mengizinkan kamu membawa mobil sendiri? masuk ke dalam mobil sekarang." Tatapan Dimas dingin, meminta Diana masuk mobil meksipun sudah memohon untuk membawa mobil sendiri.


Aliya yang mendengar Diana tidak membawa mobil langsung lompat-lompat kesenangan sampai Altha harus memeluk istrinya untuk berhenti lompat.


"Sayang, please." Altha mengusap perut rata istrinya.


"Maaf Ayang, lupa lagi." Al tersenyum menyentuh perutnya langsung masuk mobil setelah Altha membukakan pintu.


Satu persatu mobil sudah melaju meninggalkan rumah, Diana duduk cemberut melipat tangannya di dada kesal melihat Daddy-nya yang banyak aturan.


Anggun hanya bisa tersenyum, meminta Diana harus happy karena mereka ingin liburan.


"Di, Daddy tidak akan izinkan kamu kuliah di luar jika belum berubah, dan berhenti balapan." Nada bicara Dimas yang dingin terdengar jelas di telinga Diana yang semakin cemberut.


Di hanya menjawab emh, Anggun menggenggam tangan Dimas agar tidak keras dengan Diana, dia sudah besar dan tahu yang baik dan buruk.

__ADS_1


"Jawab Di, kamu tidak boleh balapan yang membahayakan, apalagi sampai bertarung. Daddy akan terus mengawasi kamu."


"Iya, Diana akan berhenti balapan, tidak berkelahi kecuali untuk membela diri, harus belajar, bertanggung jawab, selalu laporan kepada mommy setiap hari, dan tidak boros." Senyuman Diana terlihat, memberikan jari kelingkingnya kepada Daddy-nya, Dimas langsung menyambut dan memegang ucapan Diana.


Anggun mengusap kepala Di lembut, berharap Diana bisa menyelesaikan kuliahnya dengan hasil yang baik, mendapatkan gelar sarjana dan bermanfaat bagi banyak orang.


"Mom, saat Di pulang nanti, langsung ada adik ya." Mata Diana berkedip-kedip manja di depan Anggun yang malu-malu.


"Dad, Di boleh minta sesuatu?"


"Boleh, kecuali minta izin pacaran." Dimas melihat ke arah Diana yang langsung berguling di belakang, karena sebelum dirinya meminta Dimas sudah melarangnya.


Di mobil Aliya juga tidak kalah rusuh, Al mengoceh memarahi Juna yang memecahkan make up mahal yang sudah dipersiapkan.


Tika juga menjadi kompor yang memanasi Maminya agar semakin marah, menambahi kesalahan Juna.


Arjuna hanya mengangguk, menggeleng, tersenyum, mengerutkan keningnya, mengaruk kepalanya tanpa ada jawaban membantah ocehan Maminya.


"Juna, Mami akan menghukum kamu jika sampai melakukan ini lagi." Al menatap Juna menunjukkan beberapa make up yang rusak.


"Hei Arjuna, ayo minta maaf." Tika menatap tajam, menepuk pundak kakaknya.


"Papi harus ganti." Al menyerahkan koper kecil yang berisikan peralatan make up lengkap.


Altha kaget, kenapa dirinya harus mengganti kesalahan yang dilakukan oleh Arjuna. Alt melihat ke arah Juna yang menatap penuh harapan kepada Papinya yang akhirnya mengangguk kepalanya.


Alat make up Aliya dan Tika harganya tidak main-main, melebihi harga tas bermerek yang memiliki harga tinggi.


Alt tidak mempermasalahkan soal uang, tapi Al dan Tika memilki banyak koleksi make up yang tidak terpakai. Apalagi koleksi cat kuku yang sudah ada tiga lemari kaca mengalahkan koleksi jam Altha yang harganya tidak seberapa.


Tidak bisa Altha bayangan jika anaknya perempuan lagi, berapa banyak lagi ruangan pribadi untuk para wanita yang memiliki koleksi aneh.


"Ayang, ini bagus sekali. Aliya ingin beli ini ya?" Al tersenyum melihat pewarna kuku yang sedang diskon.


"Tika juga mau Mi, lima ya." Atika memejamkan matanya memeluk lengan Juna.


Altha langsung menoleh ke arah Tika, menghela nafasnya melihat Aliya yang sibuk membahas warna.

__ADS_1


"Sayang, bukannya koleksi kalian sudah tidak muat lagi? tiga lemari kaca penuh Al." Altha mencoba menghentikan istrinya.


"Ayang benar, kita harus membeli lemari lagi." Al tersenyum mengucapkan terima kasih karena Altha sudah mengingatkan.


Alt mengusap wajah, Aliya bukan berhenti, tapi ingin menambah lemari. Tidak mengerti lagi cara melarang Al.


"Sayang, kita ingin pergi liburan berhenti membahas soal belanja." Altha menggenggam tangan Aliya agar berhenti memainkan ponselnya.


Tatapan Al langsung tajam, membuang handphone karena merasa tersinggung. Alt tidak ingin membelikannya lemari sesuai keinginannya.


"Mi, kita pulang saja jika ingin membeli make up dan cat kuku. Liburan tujuan untuk bersenang-senang, bukan ngambek." Suara Juna sangat pelan menyindir Maminya.


"Papi jahat Juna, tidak mengizinkan Mami belanja." Al melipat tangannya di dada, tidak ingin melihat Altha.


Arjuna tersenyum, memeluk Maminya dari belakang. Menunjukkan sesuatu rekaman video soal anak-anak yang membutuhkan uluran tangan.


Mengoleksi sesuatu tidak salah, menyukainya untuk menyenangkan diri sendiri juga tidak salah, asalkan tidak berlebihan apalagi sampai membuat beban.


Banyak orang yang tidak makan, jangankan ingin mengoleksi sesuatu, membeli pengganjal perut juga sulit.


"Mi, lebih baik kita menanamkan amal kebaikan jauh lebih bermanfaat. Pewarna kuku Mami tidak bisa dijual, dan jika jatuh pecah berhamburan. Koleksi sewajarnya saja." Senyuman Juna terlihat, meminta Maminya fokus liburan.


"Mami boleh koleksi alat make up, bisa disumbangkan juga." Al menatap putranya yang tertawa kecil.


Altha mengambil tangan Aliya, langsung menciumnya gemes melihat tingkah istrinya.


"Sayang, kamu ingin menyumbang di mana? tidak semua orang menggunakan make up, dan ada batas kadaluarsanya." Alt menatap Juna yang menyetujui ucapan Papinya.


Al terdiam sesaat, langsung melihat mobil mewah lewat. Altha langsung memegang jantung. Arjuna juga langsung berdehem, duduk diam di belakang.


"Ayang, mau." Al menunjuk ke arah mobil.


Altha hanya diam saja, bisa jatuh miskin jika Al ingin mengoleksi mobil mewah.


***


FOLLOW IG VHIAAZAIRA

__ADS_1


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


vote hadiahnya ya


__ADS_2