ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PENGIKAT


__ADS_3

Semua mata melihat ke arah Shin, Genta juga tersenyum merangkul adik wanita yang terlihat paling sibuk. Shin make up sendiri, tapi terlihat sangat cantik dengan kebaya berwarna gold.


"Kenapa semuanya menatap Shin?"


"Kamu cantik Dek,"


"Apa Shin terlihat berlebihan Kak Gen?"


Kepala Genta menggeleng, Adiknya selalu cantik menggunakan baju apapun. Dikarenakan Shin pertama kalinya menggunakan baju lamaran berbentuk kebaya terlihat lebih istimewa.


"Cantik Shin atau Tika?"


"Pilihan kamu terlalu sulit Shin, keduanya istimewa bagi Genta." Mam Jes melihat Tika berdiri di tengah kedua saudara laki- lakinya.


Senyuman Genta terlihat, menatap Tika yang sangat cantik dan anggun. Tidak bisa Genta bayangkan jika melihat Tika menggunakan gaun pengantinnya.


"Kak Juna tampan sekali, siapa wanita di kanan dan kirinya." Shin menatap sinis membuat Genta tertawa.


Gemal mengacak rambut Shin yang terlalu terang-terangan mengejek kakaknya, satu tangan Gemal menggendong Putri kecilnya yang juga menggunakan baju kebaya sama seperti Shin.


"Papa ini baju sempit sekali, Isel tidak bisa napas. Badan Isel gatal semua, banyak bolong dan lubang kecil." Isel menarik bajunya yang tidak nyaman dikenakan.


"Belum juga berangkat Sel, sabar dulu tunggu pulang." Gemal meminta Putrinya diam.


Mobil beriringan meninggalkan kediaman menuju hotel tempat acara lamaran, dari jauh sudah ramai beberapa jalan juga ditutup karena tamu undangan juga orang-orang penting.


Setiap mobil dijaga ketat dengan pengawasan, pertama kalinya seluruh keluarga besar berkumpul dalam satu tempat.


Genta keluar dari mobilnya, melihat sekitar. Keamanan sangat diperketat, dikarenakan keluarga turut hadir. Demi menghindari kesalahan atau hal yang tidak diinginkan makanya Genta memberikan keamanan terbaik.


"Gen, ramai juga. Penjaga aman tidak?"


"Genta rasa aman, disetiap tempat juga ketat. Aku meminta Isel, Ria, Shin dikawal karena menghindari hal buruk."


"Santai saja, ini masih acara keluarga." Gemal menepuk pundak adiknya.


"Jangan santai Gemal, kita tidak tahu jika ada pihak yang merencanakan hal buruk. Semua wanita dijaga ketat saja. Terutama Rindi, aku sedikit cemas karena terlalu ramai." Hendrik menatap istrinya yang risih dengan baju, berkali-kali ingin disobek.

__ADS_1


Semuanya berhasil masuk ke dalam hotel dalam keadaan aman, di dalam hotel juga ramai sesuai dugaan Genta.


Langkah kaki Shin pelan, diikuti oleh Diana, Isel, Rindi, Mam Jes dan Anggun. Semua berjalan pelan karena kebaya yang tidak terbiasa di gunakan.


"Mom, perasaan saat Di nikah dulu tidak begini susah jalannya?"


"Diam saja Diana, bertahan saja sekitar lima jam." Anggun tersenyum melihat semua wanita terkejut.


Mam Jes tertawa, semua wanita di keluarganya bertenaga laki-laki sehingga tidak biasa menggunakan baju kebaya.


"Isel tidak suka baju ini,"


"Rindi juga, ini gatal semua. Ketek juga rasanya bolong, busuk lagi." Rindi mengangkat tangannya membuat Diana ingin memukulnya.


"Sekitar lima langkah lagu, Diana rasa bajunya bisa sobek." Diana menarik napas merasa sesak.


Langkah Shin terhenti, menatap ke belakang saat ada suara sobek. Kedua tangan Shin menutup mulutnya, menahan tawa sebelum pecah.


"Ya, roknya Isel sobek." Kepala Isel melihat roknya yang sudah lebar.


"Sobek ya? punya Rindi juga disobek saja. Susah jalannya." Suara sobekan terdengar, Rindi melepaskan rok yang ada celananya.


Semua orang diam menatap Rindi, Isel mengintip roknya, tapi dia tidak memakai celana panjang hanya pendek memperlihat pahanya.


Tatapan mata Hendrik tajam, Rindi memakai kembali roknya. Menundukkan kepalanya mengikuti suaminya untuk ke kamar hotel.


"Isel tidak sengaja Papa, saat melangkah ada bunyi reeeekkkkkkkkk ... sobek." Isel tersenyum malu.


"Diana, ganti rok Isel."


"Diana juga ganti ya?"


"Kalian ini kenapa? apa gunanya fitting jika pas hari H baju tidak nyaman dipakai?" Gemal bicara pelan, tapi terdengar tegas.


"Masalahnya waktu fitting, Diana coba bajunya tanpa berjalan,"


"Jangan banyak alasan, jika tidak ingin memakainya berkurang saja di kamar hotel. Ganti rok Isel,"

__ADS_1


Diana ingin sekali rasanya menendang Gemal yang kerjaannya mengomel, dia enak menggunakan celana coba lelaki juga menggunakan rok, tahu rasanya sulit berjalan.


Acara dimulai, banyak orang yang menyaksikan keluarga dari pihak Gemal yang membawa seserahan untuk calon pengantin wanita. Proses acara sama seperti kebanyakan orang, hanya beda kemewahannya saja.


Seserahan dari keluarga Leondra bernilai fantastis, juga sesuai aturan keluarga yang ingin menikahi seorang wanita lajang.


Sebelum tukar cincin, Altha menatap Genta yang terlihat banyak perubahan. Di depan banyak orang Altha mengingat kembali sosok Genta.


Saat pertama dirinya tiba, dan bergabung dia masih sangat muda. Memiliki sikap yang tenang, sehingga Altha sangat penasaran dengan kemampuannya.


Pria yang tidak banyak bicara, sekali bergerak kerja nyata. Genta hampir tidak pernah mengutarakan pikirannya dikala dia setuju dengan sebuah rencana, tapi suaranya akan terdengar saat mengoreksi rencana agar lebih sempurna.


"Dulu, aku selalu ingin mendengar suara Genta sehingga setiap menyusun rencana disalahkan, dan Genta pasti akan langsung mengeluarkan suara emasnya. Dia rekan yang luar biasa. Selama bekerja, aku hampir tidak melihat kesalahannya." Senyuman Altha terlihat menepuk pundak Genta.


Banyak keluarga yang menginginkan Genta menjadi menantu, begitupun dengan Altha. Setiap ada anggota baru seorang wanita, Genta pasti menghindar sehingga Altha binggung bagaimana Genta bisa jatuh cinta kepada putrinya.


"Menjadi seorang ayah dari anak perempuan, aku menginginkan pasangan yang baik untuknya. Papi harap kamu bisa menjaga Tika, mencintai melebihi cinta Papi."


"Pasti Pi, Genta tidak bisa berjanji, tapi akan aku pastikan akan membahagiakannya."


"Ya, kalian semua akhirnya bisa mendengar suaranya. Papi ingin menjodohkan kamu dan Tika, tapi kalian lebih dulu jatuh cinta. Pernikahan itu indah Genta, tapi banyak ujiannya. Iyakan Gemal?" Alt tertawa melihat Gemal yang wajahnya kusut.


"Betul, selain godaan orang ketiga, ujian istri dan anak juga berat. Apalagi istrinya pemarah, Alhamdulillah cinta jika tidak ... aku akan tetap jatuh cinta." Gemal mengusap perutnya yang sakit.


Suara tawa terdengar, Mam Jes mengambil cincin pengikat memasangkan di jari manis Tika. Aliya juga melakukan hal yang sama memasang cincin ke jari manis Genta.


Senyuman bahagia keduanya terlihat, dibalik bahagianya Tika dan Genta yang akan melangsungkan pernikahan satu bulan ke depan ada Shin yang juga tersenyum lebar memotret dua orang yang sangat dicintainya.


"Aku sangat menyayangi kamu Tika, dan aku juga menyayangi Kak Gen. Jaga sahabat terbaik Shin." Senyuman dan air mata Shin terlihat.


Sebuah tisu diarahkan ke Shin, senyuman Shin terlihat menatap Juna yang berdiri di sampingnya.


"Ini hari bahagia, tapi ada rasa kehilangan. Aku rasa Tika masih kecil yang selalu naik ke atas punggung, tapi sekarang dia berdiri di samping lelaki pilihannya. Aku sangat sedih melihat ini, hati rasanya patah." Juna memegang dadanya.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2