ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
TERLAMBAT TAHU


__ADS_3

Bangun tidur Shin kesiangan, dia lupa apa yang terjadi saat malam. Suara Shin mengumpat terdengar, mengacak-acak rambutnya karena sangat bodoh.


Juna menyatakan perasaannya, tapi Shin hanya diam menangapi. Shin tertidur meninggalkan Juna yang masih menunggu jawabannya.


"Kenapa tidak dijawab saja? aku juga cinta. Setidaknya tadi malam bisa tidur berpelukan." Shin melempar bantal dan guling ke sembarang tempat.


Jika mengantuk tidak melihat keadaan, bukannya mendapatkan kesempatan untuk bermesraan, tapi Shin tidur dan sulit bangun.


"Dasar bodoh, mulai besok aku tidak akan tidur lagi!" Shin menendang pintu kuat, langsung melangkah keluar kamar mencari keberadaan Juna.


Di dapur sarapan sudah siap, Juna membeli dari luar untuk sarapan pagi. Tangan Shin lemas melihat kertas yang tertinggal.


"Kenapa harus begini? Shin ingin sarapan bersama." Suara Shin menangis terdengar, menyalahkan dirinya sendiri yang tidak langsung mengatakan perasaannya padahal Juna sudah menyatakan cinta.


Panggilan masuk di ponsel Shin, Tika sudah dalam perjalanan untuk menjemput karena Juna melarang Shin membawa mobil.


Tubuh Shin berguling-guling di lantai, memainkan ponselnya sambil menangis tanpa air mata.


pintu apartemen terbuka, Tika kaget melihat Shin yang berguling-guling seperti anak kecil yang sedang ngambek.


"Mandi woy, kita belanja dulu hari ini. Siang nanti Mami meminta kumpul di rumah." Tika duduk menatap Shin yang berjalan seperti zombie menuju kamarnya untuk mandi.


Melihat sarapan di atas meja, Tika langsung menyantapnya tanpa berpikir dua kali. Rasa enak membuat makanan langsung habis semua.


"Tika, jangan sentuh makanan ...." Tatapan mata Shin langsung tajam, melihat ke meja makan yang tersisa hanyalah bekas.


Senyuman Tika terlihat, meminta maaf karena lapar dan lupa menyisakan. Tika memastikan rasa makanannya biasa saja.


"Kamu cari mati!" Shin menendang kursi Tika, membuatnya terhentak jatuh.


Suara pertengkaran kembali terdengar, keduanya saling pukul hanya karena makanan yang sudah habis.


"Cuci piring sial!"


"Dasar adik ipar kurang ajar." Tika merapikan rambutnya yang berantakan.


"Kamu juga sama, adik ipar sialan." Tangan Shin terangkat ingin memukul Tika yang masih mengomel.


Keduanya langsung terdiam, status mereka yang membingungkan. Tidak tahu siapa yang Kakak, dan siapa Adik.

__ADS_1


"Shin, apa yang terjadi semalam?"


"Ketiduran." Tangisan Shin terdengar, memukul keningnya sendiri.


"Kak Juna sekarang di mana?"


"Rumah sakit, bodoh. Tidak mungkin dia ada di kantor polisi." Shin berjalan keluar rumah untuk pulang lebih dulu, dan Juna menyusul.


Rasa penasaran Shin juga besar, biasanya Tika mulutnya bocor soal pernikahan mereka. Shin ingin tahu sejauh apa hubungan keduanya.


"Bagaimana malam kamu Tika?"


"Berantakan, awalnya gara-gara Isel keduanya ketiduran karena salah minum obat." Bibir Tika cemberut, belum merasakan yang namanya bercinta.


Pernikahan sudah jalan dua bulan, tapi masih belum melakukan unboxing. Rasanya bayangan sebelum menikah begitu indah, tapi untuk bercinta saja tidak punya waktu.


"Tik, kamu tahu tidak jika kak Juna mencintai aku?"


"Kak Juna mengatakannya?"


Kepala Shin mengangguk, merasa sangat bahagia mendengar Juna yang bisa bicara romantis juga penuh kelembutan.


Tawa Tika terdengar, semua orang di dalam keluarga sudah tahu soal perasaan Juna. Tika mengetahuinya jauh sebelum mereka menikah, alasan lamaran batal juga karena Juna tidak bisa melawan perasaan untuk mencintai Adik ipar Adiknya.


"Aku orang terakhir yang tahu?"


"Ya, Kak Juna sangat kuat menghadapi kamu. Berkali-kali juga meneteskan air mata juga mendapatkan tamparan dari istri gilanya, hatinya begitu sakit sehingga pukulan tidak terasa. Kamu patut bersyukur karena dicintai oleh manusia es sebesar itu." Tika bahkan tidak sekuat Kakaknya yang selalu ingin mempertahankan, sedangkan Tika lebih memilih menyerah.


Ungkapan cinta tidak pernah bisa dibandingkan dengan perjuangan cinta, Tika melihat sisi lain dari Kakaknya, dan mengagumi perjuangannya.


Senyuman Shin terlihat, menyentuh kedua pipinya yang memerah. Teringat ucapan Juna setelah mereka menikah.


"Aku juga sangat mencintai Ay Jun." Shin memeluk Tika yang sedang menyetir.


Tangan Tika meremas wajah Shin agar menjauh, kesal melihat sahabatnya yang memendam rasa begitu lama.


"Apa tidak sakit mencintai dalam diam?"


"Sakit banget, tapi aku lebih takut kehilangan dia. Shin bahagia sekali Tika,"

__ADS_1


"Bodo amat, tidak peduli. Intinya aku marah karena kamu terlalu lama egois." Tika mengepal tangannya meminta Shin menjauh.


Tika mengakui jika dirinya juga egois memaksa menikah dengan Genta meskipun tahu perasaan Shin. Jika saja Shin mengatakan lelaki yang dicintainya Kakak kandung Tika, sudah lama hubungan Genta dan Tika tidak pernah ada.


"Pernikahan kita membingungkan Shin, tapi hanya Kak Juna yang berani ambil resiko meyakinkan semua orang untuk menikahi kamu. Dia tidak peduli soal hubungan ipar, selama tidak ada hubungan darah bagi Kak Juna sah." Tika tertawa bersama Shin jika mengingat sosok Juna yang cuek, tapi soal perasaan sangat luar biasa perjuangannya.


Kepala Shin menunduk, suaminya memang luar biasa. Saat Shin menangis ingin berpisah, tidak ada nada memaksa sedikitpun hanya meminta tenang. Terus mengundur waktu.


Juna tidak pernah mengatakan jika dia menerima untuk berpisah, apalagi mengatakan aku akan menceraikan kamu.


"Ya Allah banyak sekali rasa sakit yang engkau berikan, tapi hikmahnya juga luar biasa. Perjalanan ke posisi ini sangat sulit, semoga saja kebahagiaan ini tidak ada habisnya." Air mata Shin menetes, merasa terharu.


Rasanya Shin ingin ke rumah sakit memeluk Juna erat. Mengucapkan terima kasih karena sudah menerima dirinya yang memiliki banyak kekurangan.


"Jangan menangis, Tika juga ikutan terharu." Air mata Tika juga menetes, ingin bahagia bersama.


Mobil Tika sampai di mall, keduanya langsung turun untuk berbelanja keperluan rumah. Tanpa sengaja bertemu dengan Hana yang juga berbelanja sendirian.


"Dia juga wanita hebat dan baik, Tika juga bangga kepada Kak Ana. Dia khianati sahabat, gagal menikah, dan tetap bersikap baik kepada siapapun." Tika tersenyum menggandeng tangan Shin untuk bergabung dengan Hana.


"Assalamualaikum Kak,"


"Waalaikum salam Shin, Tika. Kalian belanja apa?"


"Kak Hana belanja apa?"


Senyuman Hana terlihat menunjukkan belanjaan untuk keperluan rumah baru Reza dan Rara. Di sana juga ada Rindi dan suaminya yang membutuhkan makanan sehat.


Shin membantu Ana memilih bahan makanan yang sehat, dikarenakan Reza juga seorang koki, dia pasti memahami bahan baik dan kurang.


Bantuan Shin sangat bermanfaat, Hana suka memasak, namun tidak terlalu baik seperti Shin yang ahlinya dalam segala makanan.


"Kak Ana, apa Reza orangnya baik?" Tika menggoda Hana yang sangat perhatian.


"Astaghfirullah Al azim Tika, aku lebih tua dari dia." Hana memalingkan wajahnya.


"Juna juga lebih muda dari Kak Hana?" Shin menimpali membuat Tika dan saling pandang.


Tangan Tika langsung memukul kepala Shin, bisa-bisanya dia menyamakan Reza dan Juna. Jika Juna tahu pasti langsung cemburu.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2