
Hanya membutuhkan lima belas menit, Mam Jes berhasil membuatnya Shin baju yang tertutup.
Dress cantik berwarna pink sangat cantik ditubuh Shin yang panjangnya di bawah lutut, bajunya tertutup rapat.
"Bajunya cantik sekali." Shin berputar-putar seperti seorang Putri.
"Mama bisa membuatkan satu lagi untuk Atika, dia menyukai baju seperti ini." Shin berputar memekarkan bajunya.
Diana yang melihatnya hanya tersenyum, kebahagiaan Shin sangat sederhana. Di tidak mengerti hatinya terbuat dari apa, karena hanya senyuman, lelucon dan tawa yang ditunjukkan.
Perlahan Diana menyisir rambut Shin yang pendek, mengusap kepalanya lembut.
"Ini untuk Tika, dan satu lagi untuk Shin." Mam Jes menyerahkan dua baju.
"Wow ... ini bagus sekali. Ini pertama kalinya Shin mendapatkan baju." Suara kaki Shin lompat-lompat kesenangan terdengar.
Gemal dan Calvin juga tercengang melihat anak remaja yang wajahnya cantik, penuh canda tawa terlihat heboh hanya karena mendapatkan baju yang dijahit simpel.
"Mama seorang desainer, Shin boleh memesan baju. Shin mempunyai banyak uang untuk membayar."
"Apa uang membuat kamu bahagia?" Calvin menimpali pembicaraan Shin.
Tatapan Shin langsung ke arah Calvin, melangkah mendekat dan langsung duduk di samping Gemal.
Kepala Shin mengangguk, membenarkan jika uang segalanya. Uang sangat dihormati, dijunjung tinggi bahkan banyak orang memilih menjadi penjahat demi uang, mempertaruhkan nyawa untuk uang.
"Uang memegang tahta tertinggi di dunia ini."
"Pemenang tahta pertama itu cinta, cinta keluarga, cinta anak, cinta suami istri, sahabat, dan pasangan hidup, kebahagiaan muncul karena cinta." Calvin menjelaskan kepada Shin jika uang bisa disebut penjahat dunia.
Wajah Shin langsung berubah kesal, tidak menyetujui ucapan Calvin. Dirinya tidak tahu soal cinta dan tidak pernah merasakannya.
"Berapa usia kamu Shin?" Gemal menatap gadis di sampingnya.
"Tahun ini masuk empat belas tahun, kenapa?"
"Kamu sudah pernah tertarik dengan laki-laki?" tawa Gemal terdengar bicara soal Cinta dengan anak ABG.
Shin langsung bersemangat, wanita secantik dirinya tidak mungkin tanpa pengemar. Banyak laki-laki yang antri untuk menjadi kekasihnya.
"Kamu tahu pacaran, itu namanya cinta."
__ADS_1
"Bukan, bagi Shin uang masih berada di atas segalanya."
"Berikan contohnya?" Calvin langsung berbicara serius.
Senyuman Shin terlihat, Diana dan Mam Jes langsung duduk mendekat mendengarkan Shin bicara. Kisah nyata yang Shin saksikan secara langsung dialami oleh pengasuhnya.
Menemani pria dari nol, atas nama cinta. Berjuang bersama, bertahun-tahun merakit kebahagiaan sampai akhirnya ada di puncak kesuksesan.
Saat kesuksesan datang, pasangan mulai lupa daratan. Lupa perjuangan awal, siapa yang menemani.
Mencari sesuatu yang baru, menghamburkan apa yang sudah dimiliki, mengkhianati pasangan bahkan berakhir dengan perpisahan.
"Cinta berkhianat karena sudah memiliki uang, dan karena uang juga orang-orang dihormati, dihargai juga diutamakan. Bagaimana cinta bisa ada di nomor satu, disaat isi dunia mengejar uang." Shin melipat tangannya di dada, meminta Calvin menjelaskan arti cinta.
Helaan nafas Calvin terdengar, Shin menang dalam perdebatan. Meskipun Calvin mengatakan tidak semua cinta berkhianat, tapi gadis kecil seperti Shin tidak akan pernah mengerti, karena di dalam kepalanya sudah terisi pengkhianatan, kekerasan, kekecewaan dan rasa sakit karena kehilangan cinta.
***
Pagi-pagi Diana sudah jalan santai bersama Gemal dan Shin, langkah kaki Shin mundur sambil mengoceh membuat Diana dan Gemal tertawa terbahak-bahak.
"Awas." Gemal langsung merangkul istrinya untuk menyingkir.
Shin langsung berbalik badan, berteriak kuat melihat tiga anak kecil mengayuh sepeda mengarah kepadanya.
Ria langsung berdiri, memukul Shin yang berdiri di tengah jalan. Sepeda gandeng tiga yang baru dibeli terjatuh.
Mendengar Ria mengomel, Shin juga langsung marah karena jalanan sangat luas, tetapi Ria yang mengendalikan tidak bisa menyingkir. Keberadaan rem sepeda juga tidak dimanfaatkan.
Tika, Diana dan Gemal tertawa lepas, hari libur mereka penuh kebahagiaan karena tidak berhenti tertawa.
"Shin, ayo naik. Kita berkeliling komplek perumahan." Tika meminta Shin duduk di depan.
Diana dan Gemal hanya duduk santai di kursi bawah pohon rindang, melihat anak-anak yang sedang bermain sepeda sambil tertawa.
"Ayang, ayo kita pergi menonton bersama anak-anak." Di memeluk lengan suaminya.
"Boleh sayang, aku memesan tempat terlebih dahulu." Gemal langsung mengambil ponselnya.
Tangan Diana mengusap perutnya, saat malam Diana tidak bisa tidur nyenyak, anak dalam kandungan banyak pergerakan, seakan mereka sedang bermain.
Saat Di tertawa, anaknya juga bergerak, suasana hati Di yang bahagia juga berpengaruh terhadap anaknya.
__ADS_1
"Kenapa perutnya?" tangan Gemal langsung mengusap perut Diana yang terasa ada gerakan.
"Mereka sudah bangun Ayang, Di bisa merasakan anak-anak sedang bergerak." Di mencium pipi Gemal, merasakan bahagia merasakan anaknya.
"Alhamdulillah jika mereka aktif, Mama sama Papa juga bahagia." Gemal mencium perut Di.
Suara Aliya menyapa terdengar, langsung duduk di samping Diana yang meminta Al merasakan pergerakan anaknya.
"Apa yang sedang mereka lakukan?" Al memeluk perut Di.
"Demo." Diana langsung tertawa lepas.
Mata Al menatap anak-anaknya yang sedang main sepeda, suara balapan terdengar. Ria mengoceh memarahi dua pria yang duduk di belakangnya.
Tika dan Shin langsung lompat-lompat kesenangan, karena mereka menang. Langsung saling merangkul, mengejek Ria yang matanya merah hampir menangis.
"Dia tidak pernah memperburuk pergaulan Tika, jangan batasi pertemanan Atika." Di melihat ke arah pandangan Aliya.
"Bagaimana aku tidak membatasi? dia anak yang bermasalah," jawab Al tidak suka.
Altha menepuk pundak istrinya, seharusnya Aliya berkaca jika dirinya dulu juga sangat nakal, bahkan berkali-kali masuk jeruji besi.
Alt tahu jika Shin sama saja seperti Tika yang selalu berpindah-pindah sekolahan, karena jangankan perempuan, laki-laki juga dia pukul.
"Di mana orangtuanya? kenapa dia ada di sini?"
"Papa dan Mamanya ada di luar negeri, menurut informasi Papanya sudah menikah lagi, tetapi belum bercerai sedangkan Mamanya membangun istana bisnis." Gemal menunjukkan laporan soal identitas Shin.
"Tinggal dengan siapa dia di sini?"
"Sendirian, Shin tinggal di rumah yang sangat mewah seorang diri. Penjaga dan maid hanya datang sampai sore, malamnya pulang." Penjelasan Gemal sangat detail, karena sejak kasus pertengkaran Tika dan Shin sampai masuk rumah sakit sehingga Gemal mewajibkan menemui orangtuanya.
"Ayang bertemu dengan orangtuanya?"
"Tidak, setiap Shin membuat masalah ada pengacara yang mengurus kasusnya."
Altha mengembalikan ponsel Gemal, melihat satu kasus yang mengerikan juga dialami oleh Shin. Dia saksi mata kematian istri Kakaknya, tapi kasus ditutup tanpa keterangan apapun.
"Bagaimana dengan mental dan psikologisnya?" Alt menatap Gemal.
"Normal, dia anak yang lemah saat berusia delapan tahun, tapi setelah kematian kakaknya Shin menjadi anak yang berbeda. Terlalu kuat dan mandiri." Gemal memastikan jika Shin anak yang normal, hanya kekurangan kasih sayang.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira