ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SEANDAINYA


__ADS_3

Jantung Tika berdegup kencang saat pelukan dari belakang terasa, senyuman manis Genta terlihat membuat Tika semakin galau dengan perasaannya.


Dia sangat mencintai Genta, tapi juga menyayangi Shin. Menyakiti Genta sama saja menyakiti Shin, begitupun sebaliknya menyakiti Shin sama dengan menyakiti hati Genta.


"Tik, memikirkan apa?"


"Tidak ada Kak, Tika merasa terlalu pusing karena acara ini." Senyuman Tika terlihat, memeluk erat lelaki yang sangat dicintainya..


"Sama aku juga pusing, sabar ya. Kita lewati perlahan, proses menuju pernikahan cukup berat dan melelahkan. Biasanya banyak rintangannya." Pelukan lembut terasa, Genta merasa sangat bahagia dekat dengan Tika.


Kepala Tika mengangguk, rintangan sudah ada di depan mata Tika. Lanjut dan menyerah sama-sama menakutkan bagi Tika, tapi dirinya tidak ingin memilih. Satu kali saja Tika ingin menjadi seseorang yang egois mementingkan dirinya sendiri.


"Aku ingin memiliki semuanya, maafkan aku Shin. Sungguh aku tidak rela melepaskan dan kehilangan dia. Kamu harus mengerti." Batin Tika di dalam hatinya mengeratkan pelukannya.


"Kamu kenapa? pelukan seakan takut kehilangan." Genta menakup wajah Tika, menyentuh hidungnya.


"Emh ... Tika sedang takut, apa aku bisa tanpa Kak Gen? apa Kak Gen bisa tanpa aku?"


"Aku tidak bisa tanpa kamu, kenapa bicara seperti itu?"


"Om, seandainya takdir berkata lain. Kita tidak disatukan menjadi pasangan, apa kita bisa kembali seperti sebelum untuk menjadi keluarga yang saling menjaga, meksipun tidak bisa bersama?" Tika menatap wajah Genta yang tegang dan gelisah.


Lama Genta terdiam, mendengar kata seandainya saja sudah menghacurkan hatinya. Waktu yang sudah dilalui tidak bisa diulang kembali, rasa yang sudah tumbuh dan berkembang tidak mungkin hilang lagi.


"Jika seandainya, aku memilih menghilang Tik. Aku tidak mungkin bisa melihat kamu lagi. Jika bisa membuat kamu bahagia, aku yang mundur." Kepala Genta menggeleng, dia tidak bisa melihat apa yang diinginkan pada akhirnya harus dilepaskan dengan alasan takdir berkata lain.


"Yang, jangan bicara seperti itu. Tika bisa gila jika Ayang menghilang. Hal apa yang membuat Ayang marah besar? seandainya Tika melakukan kesalahan." Perasaan Tika sakit sekali, dia benar-benar akan mengabaikan Shin demi cintanya.


Bagi Genta Tika bukan remaja, dia wanita dewasa yang sudah bisa membedakan baik dan buruk, juga tahu menjaga perasaan demi lelakinya. Setiap hubungan pasti akan berakhir jika menghadirkan orang ketiga, melakukan kekerasan, atau rasa cinta memudar.


"Aku bukan tipe yang mudah marah, tapi aku tidak menyukai jika kamu menyembunyikan sesuatu apalagi hal yang penting. Berbohong dan menyembunyikan itu beda." Tatapan mata Genta tajam, bagi Genta kehancuran kepercayaan bukan karena kebohongan namun menyembunyikannya.

__ADS_1


"Bedanya apa Yang, bagi Tika itu sama saja,"


"Beda sayang. Ketika berbohong, ada fakta-fakta palsu yang disampaikan kepada orang lain untuk menutupi realitas. Sementara orang yang menyembunyikan sesuatu tentu hanya sedikit bicara atau bahkan tak pernah menyampaikan apa-apa."


Kepala Tika mengangguk, dia baru memahami. Diana bahkan pernah mengingatkan Tika untuk tidak menyembunyikan sesuatu dari Genta, jika ingin melihatnya marah maka rahasiakan kebenaran, jika dia sampai tahu maka tidak ad a yang benar di matanya.


"Kamu menyembunyikan sesuatu dari aku?"


Tika terkejut dengan pertanyaan kekasihnya, mulut Tika pahit binggung ingin jujur atau menganggap dirinya juga tidak pernah tahu.


"Uncle, tolong Isel boleh?"


Genta melihat ke arah Isel yang duduk menatapnya, Tika bernapas lega karena Isel muncul secara tiba-tiba membuat Genta lengah.


Tubuh Isel digendong, duduk dipangkuan Genta. Tanpa mengatakan apapun, Isel memeluk erat meminta ditepuk punggungnya pelan.


Beberapa hari Isel tenang demi kelancaran acara, Diana melarangnya membuat masalah apapun. Isel sedang berusaha mematuhinya.


"Uncle, kapan acaranya di mulai? Isel lelah menunggu." Wajah Isel menatap Genta yang tersenyum.


Mata Isel terpejam dalam pelukan Genta, keduanya mengobrol panjang soal acara yang akan berlangsung keesokan harinya.


Persiapan sudah 90% kemewahan acara lamaran hampir seperti acara pernikahan. Acara juga berlangsung selama dua hari, selain lamaran resmi juga mengudang orang-orang penting dari kedua belah pihak.


Hal yang selalu diutamakan acara doa untuk kelancaran di hari H, menyantuni anak yatim juga melakukan adat kepercayaan dua keluarga.


Tika menatap susunan acara, melihat Genta yang fokus ke ponselnya. Tika menghela napas karena pasti akan sangat melelahkan.


"Yang, kenapa keluarga kamu mengadakan acara seperti ini?"


"Emh ... aku tidak tahu. Bisa saja hanya alasan Mama saja agar bisa melakukan pesta secara besar-besaran. Aku juga mendengar kabar, acara pernikahan kita di adakan di kapal pesiar." Senyuman Genta terlihat dia tidak bisa menolak keinginan Mam Jes apalagi mendapatkan dukungan dari Papa Calvin juga Gemal dan Hendrik.

__ADS_1


"Apa ini tidak membuat iri?"


"Sebenarnya rencana ini untuk Kak Hendrik, tapi kondisi Rindi membuat khawatir. Makanya digagalkan. Menunggu Shin juga tidak mungkin karena pihak laki-laki yang memutuskan." Kedua pundak Genta terangkat hanya bisa mengikuti apapun yang diinginkan Mamanya.


"Ayang tidak jatuh miskin?" tawa Tika terdengar, menatap calon suaminya yang juga tertawa.


Sebenarnya Genta mengkhawatirkan keuangannya, tapi Papa Calvin tidak mengizinkan Genta mengeluarkan uang sepeserpun.


"Papa Calvin yang bayar?"


"Mungkin ... aku tidak tahu. Kak Hendrik dan Gemal juga habis-habisan turun langsung mengeluarkan uang." Tawa Genta terdengar, puas menghabiskan uang Kakaknya.


Melihat Genta yang sekarang sungguh keajaiban di mata Tika. Melihat kakaknya mengeluarkan banyak uang Genta bukan membantu, tapi membiarkan saja menghabiskan uang secara sukarela.


"Ayang, Kak Gemal bisa jatuh miskin. Jika Kak Hendrik bisa dimaklumi." Memikirkan Gemal yang dicap sebagai lelaki paling miskin dalam keluarga karena istrinya jauh lebih kaya.


"Sayang, miskin Kak Gemal, lebih miskin aku. Kita pekerjaan paling berat, saingannya tetap pengusaha. Mana sanggup menyaingi penghasilan Dollar perhari." Senyuman Genta terlihat, menatap Tika yang terdiam.


Mendengar ucapan Genta membuat Tika takut, Tika tidak ingin hidup susah bersama Genta. Dia tidak bisa masak, tidak bisa apapun.


"Kamu takut miskin?"


"Iya, Ayang ingin membawa Tika hidup susah?"


"Ya Allah Tika, berarti aku harus kerja siang malam agar hidup terpenuhi?" Genta menatap sinis membuat Tika tertawa lepas.


"Berisik tahu, Isel ingin tidur?" tangisan Isel terdengar, menampar mulut Tika, tangan Genta menahannya untuk memejamkan mata kembali.


Bibir Tika monyong, ingin mencubit Isel yang menganggu kemesraan mereka. Tidak biasanya Isel diam saja, bermain juga jarang, tidak ingin lepas dari Genta jika tahu Uncle sudah pulang.


"Isel Pabo!" Tika berteriak kuat membuat Genta tersenyum menutup mulutnya.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2