ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PUTRI TIDUR


__ADS_3

Langkah kaki berlarian terdengar, Shin tersenyum saat melihat Gemal yang sudah menunggunya.


"Kenapa kamu ingin bertemu Irish dan Melly? hari ini keputusan sidang. Ikut Kak Gem saja, kita pastikan dia di penjara seumur hidup." Gemal meminta Shin ke ruangannya untuk menunggu.


"Tidak Kak, izinkan Shin bertemu mereka. Ada hal yang ingin aku bicarakan,"


Melihat keseriusan Shin akhirnya Gemal mengizinkannya dan melarangnya untuk berlama-lama, mereka berdua penjahat yang licik.


Shin tersenyum melihat Melly dan Irish yang terkurung di dalam jeruji besi, melambaikan tangannya menyapa penuh kebahagiaan.


"Hai Mami, bagaimana kabar Mami? Shin harap tidak baik."


Tatapan mata Irish tajam, memalingkan pandangannya tidak ingin melihat wajah Shin yang terlihat bahagia.


"Mami ingin melihat sesuatu tidak? seandainya Mami bersikap baik kepada Shin." Tawa terdengar, seandainya dulu Irish satu kali saja bersikap baik kepadanya mungkin ada kesempatan anak angkat yang menunggu kembalinya Ibu angkat.


Shin juga melihat ke arah Melly, mengambil ponselnya menunjukkan rekaman video. Mungkin dulu Melly berhasil memanfaatkan Citra, hingga kehilangan suami, anak dan kebahagiaan. Rencana Melly menyingkirkan Aliya dan anak-anak melalui Citra gagal total, semuanya kebalikan bahwa mereka hidup bahagia.


Citra sudah membayar kesalahannya melewati puluhan tahun di penjara, juga rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya. Di balik kesulitan dia juga mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan maaf dari anaknya dan bisa merasakan pelukan hangat keluarga.


"Kalian berdua apa memiliki kesempatan ini? Tante Melly sudah tua, lihat saja keriputan sudah nampak. Nikmatilah hukuman seumur hidup kalian, Shin datang hanya untuk pamer. Wanita yang dulu kalian manfaatkan sudah mendapatkan maaf dari anaknya." Shin tersenyum sinis, karena sudah waktunya Irish dan Melly yang menerima hukuman.


Puluhan tahun yang lalu bisa selamat, juga terbebas dari hukuman. Hidup bebas dan mewah, tapi semuanya tidak bertahan lama, pada akhirnya jeruji besi tempat terakhir petualangan sebelum kematian.


Shin melangkah keluar penuh kemenangan, Gemal geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Adik bungsunya yang sempat pamer.


"Kak Gem mengawasi Shin?"


"Kakak hanya mengkhawatirkan kamu, pulang sana jangan lupa mandi, makan lalu istirahat jangan terlalu banyak berkeliaran." Gemal mengusap kepala Shin yang menganggukkan kepalanya melangkah untuk pulang.


Mobil Shin melaju pergi, panggilan dari Genta jawab dan mengatakan jika dia akan segera pulang ke rumah.


Sesampainya di perumahan, Shin bukan pulang ke rumah Gemal, tapi berlari ke rumah Aliya.


"Mau apa? pulang sekarang." Di menarik telinga Shin begitupun dengan Isel yang sudah lebih dulu telinganya ditarik.


Isel bukan menangis, tapi tertawa melihat Shin juga dijewer telinganya sampai meringis kesakitan juga malu di lihatin banyak orang.

__ADS_1


"Pulang kalian berdua, tidak tahu rumah lagi." Di menatap tajam keduanya yang langsung berlari ke dalam rumah.


Helaan napas Shin terdengar, masuk ke dalam kamarnya segera mandi dan langsung tidur karena semalaman menghibur Citra tidak bisa tidur sama sekali.


Berjam-jam Shin tidur sampai lupa makan, Tika sudah bekali-kali mengunjungi, bahkan ikutan tidur masih saja Shin tidak bangun.


"Shin kamu tidak lapar? sudah dari kemarin siang, ketemu sore, lanjut malam, sekarang sudah hampir siang lagi. Lupa makan, lupa sholat, dan lupa segalanya. Kamu tidur atau mati?" Tika menepuk wajah Shin pelan.


Banyak hal yang ingin Tika bicara, juga rasa terima kasihnya karena Shin sudah membuatnya banjir air mata dan lega dengan perasaannya. Tika juga melihat persidangan Melly yang divonis hukuman seumur mati, sedangkan Irish penjara seumur hidup.


Melly teriak histeris, tidak terima dengan keputusan hakim. Dia sampai tersungkur pingsan, juga mengalami jantungan.


Melihat kehancuran orang-orang yang dahulu sudah menyakitinya, Tika merasa lega pada akhirnya keadilan datang.


"Shin, kondisi Mama semakin buruk, dan Kak Juna tidak merekomendasikan operasi apapun. Apa Mama bisa melihat Tika menikah?" kesedihan Tika terlihat, ditemani suara dengkuran Shin tidur yang tidak kunjung bangun.


"Belum bangun Tik?"


"Belum Ma, sepertinya Shin kecapean." Tika membiarkan Shin tidur sambil mengusap rambutnya.


Mam Jes tersenyum, mencium kening Shin yang masih saja tidur, bahkan ileran. Mam Jes keluar membiarkan Tika yang menemani.


"Tumben Om Juna ke sini? ada apa?" Isel tersenyum menyambut Juna.


"Emh ... memangnya tidak boleh?" Juna tersenyum mengusap kepala Isel yang tidak sekolah sedangkan kedua kakaknya sudah dari pagi pergi sekolah.


"Kamu tidak sekolah lagi Sel?" Genta geleng-geleng kepala melihat keponakannya yang hanya tahu main.


"Kenapa Isel harus sekolah? kan sudah kaya." Tatapan Isel binggung melihat Genta.


"Kamu juga harus kaya ilmu Isel, lihat Kak Juna dia kaya harta juga kaya ilmu. Itu contoh yang baik,"


"Percuma saja kalau jomblo." Isel tertawa melihat Juna yang juga tertawa pelan.


Genta melangkah masuk kamarnya, Juna duduk di ruang tamu melihat rumah Gemal yang sangat besar. Isel juga duduk bersama Juna dengan tatapan menggoda.


"Om Juna ingin bertemu Aunty Shin? cie cie suka ya?" Isel tersenyum melihat Juna yang mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Aunty Shin di mana?"


"Masih bobok, sudah dari kemarin tidak bangun. Dia lupa makan, minum, mandi, mungkin sudah kenyang makan Cinta." Isel tertawa lepas melihat Juna yang masih binggung.


"Aunty Shin sakit?"


Kepala Isel geleng-geleng, melihat Shin dan Tika turun dari lantai dua. Mata Shin masih terpejam, menolak untuk bangun meksipun dipaksa.


"Bangun Arshinta,"


"Tidak mau!" Shin berteriak, menepis tangan Tika melangkah ke sofa tidur lagi tanpa tahu apa yang dia jadikan bantal.


Isel terdiam melihat Shin yang lanjut tidur, Juna juga sama kagetnya melihat Shin yang menggunakan pahanya menjadi bantal.


"Shin, bangun." Juna menarik rambut Shin yang berantakan.


Tidak ada jawaban sam sekali, Tika menarik tangan Shin memaksanya untuk berdiri menyudahi tidurnya yang sangat panjang.


"Om Juna cium, Putri tidur akan bangun setelah mendapatkan kiss." Isel memukul wajah Shin sangat kuat yang susah sekali bangun.


"Astaghfirullah." Juna mengusap wajah Shin.


Isel berlari mengejek Juna dan Shin berpacaran, berlari mencari neneknya untuk mengadu. Mata Shin terbuka, melihat wajah Juna.


"Kamu baik-baik saja,"


Senyuman Shin terlihat, Genta menarik tangan Shin untuk menjauhi Juna. Tika hanya tertawa saja melihat Isel yang sangat jahil memukul wajah Shin.


"Bangun Dek, sudah siang. Juna juga datang ingin bicara sama kamu soal Tante Citra." Genta memaksa Shin untuk sadar dari tidurnya.


Rambut Shin acak-acakan, menatap Juna yang juga melihat ke arahnya. "Kak Juna kenapa menampar Shin?" tatapan mata Shin tajam.


"Bukan aku, kenapa juga aku harus menampar kamu?"


Shin memonyongkan bibirnya, mengusap wajahnya memukul lengan Juna yang tega menampar kuat. Juna sudah menjelaskan jika bukan dia, Juna tidak pernah main tangan.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2