ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
RUMAH HANCUR


__ADS_3

Gedoran pintu kuat di kamar Genta, teriakan Aliya juga menggema meminta Tika dan Genta keluar.


Keduanya masih terlelap tidur karena belum berhenti sampai hampir subuh, Genta bahkan menutup telinganya.


Mata Tika terbuka sebelah, tubuhnya tidak bisa bergerak karena remuk. Tubuh Tika sakit semua seperti dikeroyok tanpa perlawanan.


"Papi lihat, mereka berdua tidak ada yang mau bangun. Ini apa yang terjadi? jangan-jangan ada yang terluka?" Al teriak-teriak memanggil semua orang karena kamar Genta Tika terkunci rapat.


Diana juga melakukan hal yang sama di kamar Juna, tendangan dan pukulan tidak berhasil membangunkan.


Juna membuka matanya, memeluk kembali istrinya. Mengabaikan suara berisik yang tidak berkesudahan memanggilnya.


"Arjuna, Arshinta! buka pintunya. Kalian berdua tidak melihat rumah ini hancur?" Di menggelengkan kepalanya menatap Aliya yang ada di lantai bawah.


Seluruh orang berkumpul, hari libur yang seharusnya bersantai heboh karena dua kamar terkunci rapat tidak ada jawaban apalagi keluar.


"Dobrak paksa saja pintunya." Gemal mengusap pintu kamar Genta, menatap yang lainnya cuek saja.


"Kamu tidak meminta Daddy membantu? bisa sakit pinggang Daddy, Gem. Lakukan sendiri," ucap Dimas menatap menantunya.


Altha, Calvin dan Hendrik hanya diam saja, tenaga mereka tidak sekuat Gemal yang bisa mendobrak paksa pintu.


"Juan, Dean, bantu Uncle." Gemal meminta dua remaja membantunya, disemangati oleh Isel yang sudah menggunakan gaun.


"Kenapa rumah ini hancur?" Ria menatap sekitar rumah.


"Inilah yang menjadi pertanyaan kita Ria." Gemal menghantam pintu bersama, bersamaan saat pintu terbuka.


Ketiganya langsung tersungkur, Genta mengerutkan keningnya sambil menggeleng melihat tingkah laku Kakaknya yang menganggu.


Wajah Dean tersungkur di pakaian, mengambil dengan tangannya menunjukkan kepada Mommynya benda yang tidak pernah dilihatnya.


"Ini apa Mommy? kenapa bentuknya mirip kacamata besar? atau gunung." Dean menunjukkan pakaian dalam membuat Anggun memukul kepala Putranya.


"Isel mau kacamata itu,"


"Ambil ini." Dean mengikatkan ke arah kepala Isel.


"Ini mirip punya Mama, tapi punya Mama Isel besar." Isel langsung mengamuk melihat kacamata besarnya dirampas oleh Gemal dilempar ke arah wajah Genta yang masih mengantuk.


Anggun dan Mam Jes masuk, melihat Tika yang masih tidur menutup tubuhnya dengan selimut. Pakaian berhamburan, Genta juga hanya menggunakan celana pendek tanpa baju.

__ADS_1


"Genta, lain kali jika sudah berhubungan gunakan baju." Mam Jes menatap Putranya naik kembali ke tas ranjang.


"Bangun, kalian cek dulu rumah ini." Anggun melemparkan baju Genta.


"Ada apa ini?" Rindi yang baru datang ingin masuk kamar, tapi dilarang oleh suaminya.


Isel yang kesal langsung duduk di sofa, tawa Gion terdengar sampai berguling di lantai melihat adiknya yang hilang jatuh di dalam kursi.


Ian sekuat tenaga membantu Isel keluar, gaun mewahnya sobek membuat Ria, Dean, Juan dan Gion tertawa terpingkal-pingkal.


Suara benda jatuh terdengar kuat, semua orang mengucapkan istighfar takut rumah roboh. Di lantai atas Aliya dan Diana menahan pintu karena jebol, tidak menyangka jika pintu cukup rapuh.


Aliya berhasil masuk, melihat baju Shin dan Juna berhamburan. Suara besar yang mengejutkan tidak membangunkan keduanya yang masih asik tidur berpelukan.


"Apa mereka baru melakukan malam pertama?" Diana melempar baju dan celana Juna.


"Mungkin, setelah melewati banyaknya masalah akhirnya bisa melepaskan beban." Al membangunkan Putranya sangat lembut.


Mata Juna terbuka melihat Maminya, Juna menatap istrinya yang masih terlelap tidur. Kepala Juna pusing karena kekurangan tidur.


"Jun, bangun dulu. Lihat kondisi rumah di luar, lanjutan nanti." Al meminta Juna memakai bajunya.


Tatapan Juna binggung melihat pintu yang sudah bolong, hanya bisa mengaruk-garuk kepalanya.


Langkah Aliya dan Diana turun tangga, diikuti oleh Juna yang masih belum menyadari kondisi rumahnya.


Genta yang sudah keluar hanya bisa terdiam, menatap ruang tamu hancur, dinding rumah penuh goresan.


"Astaghfirullah Al azim, kenapa sofa? kenapa rumah ini?" Juna melihat sekeliling rumah.


"Kita yang seharusnya bertanya, bisa-bisanya kalian tidur tidak mendengar rumah ini dihancurkan." Al menatap dua pria yang kebingungan hanya bisa mengusap wajah.


Tangan Genta menyentuh sofa yang sudah sobek semua, berjalan ke ruang keluarga lebih kaget lagi. Televisi hancur, pendingin hancur, meja hancur semua isinya hancur.


Juna juga melihat dapur yang sudah mirip gudang, bahkan meja makan juga pecah, kaca-kaca rumah hancur semua.


"Apa semalam ada gempa bumi?" kepala Genta semakin pusing melihat rumah penuh coretan.


"Tidak ada gempa, hanya rumah kalian yang gempa." Diana menatap dua pria yang juga kebingungan.


"Apa kalian tidak mendengar suara?" Anggun memberikan minun.

__ADS_1


"Juna tidak peduli dengan suara apapun,"


"Aku juga, berbulan-bulan menikah baru malam ini bisa bermesraan. Siapa peduli rumah dimasuki orang gila, satu dikurung oleh Juna, dan satunya di kamar Genta. Tidak menyangka juga ada yang lebih gila dari Tika dan Shin.


Suara Tika keluar kamar terdengar, menatap Shin yang duduk di tangga menonton orang gila menghancurkan rumah mereka.


Hanya dua kamar yang tidak dihancurkan, Tika menghela napasnya melihat jam sudah pukul sebelas.


Mengambil tablet dari tangan Shin, menonton aktraksi orang gila memecahkan semua barang.


"Kenapa orang gila bisa masuk padahal rumah ini dijaga ketat?" Ria menatap Shin yang memejamkan kembali matanya memeluk tangga.


"Shin, kamu membuka pintu keluar kita. Hanya itu jalan satu-satunya." Tika melemparkan tablet ke arah Isel yang langsung menonton berguling di lantai.


"Sorry Tik, aku lupa menutupnya saat kamu dari rumah beberapa waktu lalu." Shin mengusap wajahnya melihat semua orang mendekat.


Suara tablet Shin melayang terdengar, Isel melemparnya mengikuti orang gila yang melemparkan banyak barang.


"Wow ternyata Isel hebat sekali,"


"Kamu ingin aku banting juga Isel!" Shin berteriak menatap tabletnya melayang keluar rumah.


Telinga Isel langsung ditarik oleh Diana, tidak menyangka jika Putrinya bukan hanya nakal, pemalas, tapi juga bodohnya tidak ada obat.


Mata Tika sayu, menatap mobilnya yang terparkir di depan rumah juga hancur. Tidak paham lagi ingin mengatakan apa, dirinya kehilangan tenaga sehingga bicara juga tidak mampu.


"Yellow, anakku kenapa kacanya bolong?" Tika duduk di samping Shin.


Senyuman Shin terlihat, menatap ke atas rumah yang juga penuh coretan. Tangan Shin menunjuk ke atas membuat semua orang mengikutinya.


Sebuah tulisan yang cukup mengesankan bagi Shin, orang yang menghancurkan rumah mereka hanyalah seorang wanita yang tulus mencintai, tapi berakhir dikhianati.


Pria yang baik dia yang selalu mengalah disetiap pertengkaran, pria yang setia sesibuk apapun dirinya akan selalu ada, pria bijak dia yang tersenyum meksipun marah, pria tulus dia yang memberi apapun demi bahagia.


"Aku menemukan semua itu kepada Ay Jun, dan dia lelaki istimewa yang Allah berikan setelah banyaknya ujian." Senyuman Shin terlihat menatap tulisan.


"Satu yang Tika pikirkan, bagaimana dia naik ke atas? apa dia hantu?"


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2