ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PERTEMUAN KEMBALI


__ADS_3

Pelukan keduanya masih sama erat, antara binggung dan bahagia bisa bertemu di tempat yang menjadi saksi perpisahan mereka.


Tubuh Diana terangkat, tidak ingin melepaskan pelukannya. Gemal membuka matanya, memutar tubuh Diana yang sangat dia rindukan.


"Diamlah, jangan katakan apapun. Jika ini hanyalah mimpi, khayalan dan hantu penunggu tempat ini aku tetap bahagia. Lihat ke depan." Senyuman Gemal terlihat, menunjuk ke arah matahari.


Diana tersenyum lebar, menatap matahari yang sangat indah dan sempurna. Kebahagiaan Diana lengkap sambil melihat indahnya dunia.


Keduanya hanya diam, Gemal memeluk dari belakang. Diana hanya menatap ke depan, menyadarkan tubuhnya di dada lebar Gemal.


Mata Diana tertutup, begitupun dengan Gemal yang memejamkan matanya tanpa melepaskan pelukannya.


"Kenapa kamu ada di sini Di?"


"Seharusnya aku yang bertanya?" Diana melepaskan pelukan, menatap wajah pria di hadapannya.


Diana memukul dada Gemal kesal, air matanya langsung menetes merasa kecewa karena Gemal benar-benar tidak menghubunginya.


"Aku berharap kamu menghentikan aku." Kedua tangan Gemal menahan tangan Diana agar berhenti marah.


"Kamu tahu, satu bulan ini sangat berat untuk aku." Bibir Diana monyong, membiarkan Gemal menghapus air matanya.


Tanpa aba-aba, mata Diana langsung melotot melihat apa yang Gemal lakukan. Ciuman mendarat ke bibirnya meskipun hanya hitungan detik.


Keduanya melihat ke arah lain, merasa canggung dengan kondisi yang baru saja terjadi kepada bibir mereka.


"Maaf, aku tidak bisa menahan." Gemal mengaruk tekuk lehernya yang tidak gatal.


Diana langsung menutup wajahnya, permintaan maaf Gemal membuat Diana semakin malu tidak berani menatap.


"Diana, lihat aku." Kening Gemal berkerut, menarik pinggang Di untuk menghadap arahnya.


"Aku malu Gemal, kita bukan ABG lagi." Di mengigit bibir bawahnya.


Kepala Diana menunduk tidak berani melihat ke arah Gemal, perlahan tangan Gemal menarik dagu Diana untuk berhadapan dengannya.


Mata keduanya bertemu, saling pandang tanpa berkedip dan terlihat senyum manis menunjukkan kebahagiaan.


"Di, aku mencintai kamu. Sayang kamu dan tidak ingin kehilangan." Ungkapan perasaan Gemal tidak ditanggapi oleh Diana.


Diana hanya diam, tidak memiliki jawaban dari pertanyaan Gemal yang pertama kalinya mendengar ungkapan cinta yang tulus.


"Gem ... aku minta maaf."

__ADS_1


"Jangan merusak suasana, aku belum pernah menyatakan cinta ini pertama kalinya. Jika kamu sampai menolak, bisa kena mental." Wajah Gemal ngambek terlihat.


Diana tertawa, pria populer yang selalu dikejar-kejar oleh banyak wanita dan tidak pernah membalasnya.


Gemal tidak menerima penolakan, apalagi kepada cinta pertamanya yang pastinya akan membekas.


"Jika kamu menolak, aku akan bicara dengan Daddy jika aku mencintai putrinya."


"Kenapa memaksa?"


"Jika masih ditolak, maka kedua orang tuaku yang maju menemui orang tua kamu. Jika masih tetap ditolak, terpaksa cara terakhir." Suara tawa Gemal dan Diana terdengar.


Diana sangat penasaran dengan cara terakhir yang Gemal rencanakan. Dan ingin melihatnya bisa tidak menaklukan hati seorang psikopat.


"Aku akan menculik kamu, tidak akan melepaskan sampai kita memiliki anak. Aku pastikan kamu tidak mungkin bisa meninggalkan anak kita, ingat Di. Penjahat terhebat dia yang meninggal jejak, tapi tidak bisa ditemukan." Gemal menjulurkan lidahnya mengejek Diana yang menatap sinis.


Diana langsung memeluk Gemal, tanpa Gemal harus menculiknya dia yang akan lari untuk minta diculik.


"Sekarang sudah siap menjadi tahanan seorang Gemal?"


"Bukannya dari awal kamu sudah menangkap dan menahan aku." Di melangkah menggenggam tangan.


Di menatap wajah tampan dihadapannya, jika apa yang dia lihat hanyalah mimpi, Diana tidak ingin bangun dalam kurun waktu yang lama.


"Ini mimpi yang indah."


Diana memukul wajah Gemal agar sadar, dia tidak ingin membuat anak dahulu. Bisa hilang kepalanya digantung oleh Daddy-nya.


"Pikiran kamu kotor sekali Di?"


"Otak kamu yang kotor." Diana tersenyum melihat Gemal yang kesal, Diana merusak adegan romantisnya.


Matahari akhirnya menghilang dan berubah menjadi malam, Diana dan Gemal masih berpelukan melihat ke langit.


"Astaga, kita harus pulang. Ada acara ulang tahun twins A dan Dean." Diana langsung melepaskan tangan Gemal.


Keduanya saling tatap, mereka tidak mungkin membawa mobil masing-masing. Gemal menolak meninggalkan mobil pertamanya yang baru pertama dia gunakan.


"Pakai mobil aku, sudah bosan menggunakan mobil kamu. Nanti minta orang saja yang mengambilnya." Wajah Gemal memohon, tidak ingin meninggalkan anak keduanya.


Diana hanya bisa geleng-geleng, langsung masuk ke dalam mobil dan mencoba mobil pertama Gemal.


"Mobil bagus banyak, kenapa harus memilih mobil seperti ini?" Diana menggeleng kepalanya.

__ADS_1


"Namanya juga laki-laki, aku suka mobil tinggi dan enak dibawa naik pergunakan dan jalanan terjal."


"Mati juga jika jatuh ke jurang." Diana tertawa melihat ekspresi Gemal cemberut.


Perdebatan keduanya terdengar membahas mobil, Diana protes jika ada anak mereka kesulitan duduk.


Gemal masih tidak mengalah, jika ada anak bisa menggunakan mobil Diana.


"Kamu masih belum berubah Gem, tidak mau mengalah dan melimpahkan kepada aku."


"Astaghfirullah, Diana ku sayang. Kita tidak boleh memiliki banyak mobil, pajak mahal dan mobil ini mencapai satu M. Gaji aku kecil, cukup makan saja." Tangan Gemal mengusap kepala Diana yang menahan tawa.


"Kamu belum berhenti bekerja?"


"Kenapa aku harus berhenti? bisa sampai sejauh ini susah. Pak Altha hanya memberikan cuti satu bulan."


Diana langsung kaget, Altha mengetahui jika sebenernya Gemal tidak sepenuhnya pindah ke sana hanya sekedar mengubah identitas, dan mengenal keluarganya.


Gemal juga sama sengaja membohonginya, dan membiarkan Diana patah hati selama satu bulan.


"Jahat, aku sudah menangis." Diana memukuli Gemal sekuat tenaga.


"Berarti kamu juga mencintai aku, lagian aku di sana tidak betah. Tidak ada teman bertengkar." Gemal mengusap lengannya yang sakit.


Diana bahagia Gemal kembali dan menetap, tapi sedih juga karena Mam Jes berpisah kembali dengan Gemal.


"Di juga merindukan Mam Jess."


"Mama sudah di sini beberapa hari yang lalu, aku yang pulang terlambat."


Di langsung teriak kaget, dia tidak mengetahui apapun karena mengurung dirinya di rumah sakit dan bekerja habis-habisan sampai tidak mengetahui soal Mam Jess sudah kembali lebih dulu.


Senyuman Diana terlihat, bahagia sekali bisa melihat Gemal sekeluarga juga kembali dan tinggal bersama.


"Kenapa kita jalan ke sini? bukannya rumah kamu di sana?"


"Ketinggalan informasi lagi, rumah di sana dijadikan rumah anak jalanan dan Mama memutuskan untuk tinggal di perumahan kalian." Gemal menggelengkan kepalanya melihat Diana yang tidak tahu apapun.


Di menepuk jidat, tetangga baru di samping rumahnya ternyata orang yang selama ini dirinya rindukan.


"Ini ulang tahun Ria, Juan dan Dean, tetapi aku yang mendapatkan kejutan dan kebahagiaan." Di terus tersenyum lebar sampai giginya hampir kering.


****

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


ramai komentar ya🤣🤣🤣


__ADS_2