
Pertengkaran terdengar dari dalam kamar Gemal, Diana memaksa untuk pulang bersamaan dengan Genta sedangkan Gemal menolak.
Perdebatan keduanya sangat panjang, Gemal masih terlalu posesif terhadap Diana yang terlalu mengagumi Genta.
"Keterlaluan sekali kamu Di." Gemal membanting pintu kamar, langsung melangkah keluar dengan kesal.
Mam Jes bertolak pinggang dari lantai atas, menatap putranya masih marah-marah ulah istrinya yang membuat emosinya selalu naik.
"Kenapa bertengkar Gemal? kamu bisa menemukan solusinya." Mam Jes menuruni tangga, menghela nafas melihat kemarahan putranya.
Gemal menceritakan pertengkarannya dengan Diana, Di terlalu memuja ketampanan Genta, Gemal tidak suka jika wanita yang dicintainya mengangumi orang lain.
"Hati Gemal tidak terima Ma." Tatapan Gemal tajam melihat pintu kamar.
"Santai saja Gem, selama istri kamu belum mengatakan aku mencintai dia, dan ingin meninggalkan maka kamu masih unggul." Calvin keluar dari ruangannya terganggu karena suara Gemal.
Adu mulut antara Gemal dan Calvin terdengar, Gemal tetap pada pendiriannya, sedangkan Calvin membela menantunya.
"Sudah cukup, kenapa kalian berdua yang bertengkar?" Mam Jes berteriak, menutup mulut Gemal dan Calvin yang masih saja mengomel tidak ada yang mengalah.
"Gemal tidak akan pernah menuruti keinginan Diana, pokoknya Genta pulang lebih dulu."
"Pertengkaran ini karena saya, tuan muda. Tidak mungkin saya berani mendekati Nona muda." Genta yang baru sadar keributan ada sangkut pautnya dengan dirinya langsung merasa tidak enak.
"Aku tahu Genta, tapi aku tetap tidak terima jika Diana mengatakan kamu tampan."
"Astaga Gem, itu saja jadi masalah. Genta memang tampan, apa salahnya?" Mam Jes memukul punggung Gemal yang masih kekanakan.
Wajah Gemal langsung cemberut, tidak ada yang mengerti dirinya sama sekali. Pertama kalinya sangat mencintai wanita, tapi dirinya tidak pernah dipuji, selalu mengagumi pria lain.
"Kak Gem kenapa? kalian tidak boleh menyalahkan kak Gemal, ini semua gara-gara Genta." Diana langsung memeluk Gemal, mengusap punggung suaminya.
Kening Calvin berlipat-lipat, menggelengkan kepalanya langsung menarik tangan Genta untuk mengabaikan dua makhluk aneh.
"Tampan sekali suamiku, I love you." Di mencium bibir Gemal.
"Apa yang kamu lihat Jessi?" Calvin menutup mata istrinya, menarik tangan untuk pergi meninggalkan Gemal dan Diana yang sudah tertawa berdua.
Setelah akur dan bercanda lagi, Gemal menyetujui untuk pulang bersama dengan Genta, asalkan Diana tidak berulah kembali.
Pintu kamar Juna diketuk, tidak ada jawaban dari dalam. Diana langsung melangkah masuk, melihat Juna sedang ada di ruangan penelitiannya.
__ADS_1
Juna sedang menonton cara operasi dan mempelajari organ dalam tubuh manusia secara online, karena dia akan melakukan pembedahan bersama Calvin di rumah sakit milik keluarga Leondra.
"Jun, kak Di masuk." Diana langsung duduk di samping Juna.
"Kak Di pulang malam ini?" Juna masih fokus melihat layar komputer.
Diana menganggukkan kepalanya, Juna hanya meminta Di berhati-hati dan selamat sampai kembali ke rumah.
"Arjuna, kamu baik-baik di sini."
"Kak Di jangan khawatirkan Juna, sesekali berkunjunglah bersama Mami, Juna mungkin lama tidak akan kembali." Tatapan Juna melihat Diana yang terlihat berat meninggalnya.
Senyuman Juna terlihat, meminta Di tetap kembali, dirinya baik-baik saja dan akan menyelesaikan pendidikannya secepat mungkin.
"Kak Diana berhentilah menjahili kak Gem, apalagi melibatkan kak Genta. Hanya membuat keributan saja."
"Genta memang tampan, kak Di terpesona melihatnya." Di menutup wajahnya malu-malu.
"Ucapan kak Di bisa membuat ribut, kenapa menikahi kak Gem, jika masih mengagumi pria lain." Juna menggelengkan kepalanya.
Diana langsung terdiam, dia sangat mencintai Gemal, dan laki-laki satu-satunya di dalam hatinya. Namun Di tidak bisa berbohong, jika dia sangat mengagumi Genta.
"Juna, kak Di hanya ingin bicara dengan kamu." Diana masuk kembali, meminta Juna duduk.
Arjuna menghela nafasnya, berharap Diana sebaiknya segera pergi dan berhenti mengganggunya.
"Jun, hari ini kak Di perhatikan kamu tampan sekali." Di mengusap wajah Juna.
"Juna sudah tampan sejak lahir."
Diana langsung tertawa, memeluk Juna lembut langsung pamit untuk pulang lebih dulu. Juna hanya geleng-geleng, Di mengatakan ada sesuatu yang penting, tapi kenyataannya Di hanya memuji ketampanan.
Beberapa koper sudah dimasukkan ke dalam mobil, Gemal menolak mengunakan pesawat pribadi, dan memilih pesawat lain.
"Kalian hati-hati di jalan Gem, Genta kamu juga hati-hati." Calvin memeluk kedua Putranya yang akan segera pergi.
"Tunggu dulu, Diana masih lapar." Di langsung berlari ke dapur untuk membawa makanan.
"Perasaan baru saja sudah makan, minum susu, ngemil, makan buah, sekarang makan lagi?" Calvin terheran-heran melihat menantunya yang ada di kepalanya hanya makan.
"Diana cepat, kita bisa ketinggalan pesawat." Gemal berteriak, melipat tangannya di dada.
__ADS_1
"Kenapa? Diana ingin makan. Makan saja tidak boleh!" Di menatap tajam suaminya.
Mam Jes meminta Diana masuk lagi untuk makan, meminta Gemal bersabar menunggu istrinya yang masih ingin makan.
"Makan terus, nanti gemuk baru ngamuk." Helaan nafas Gemal terdengar, langsung masuk ke dalam mobil.
Mam Jes mengetuk pintu mobil, meminta Gemal membatalkannya keberangkatan, karena Diana sudah makan, masuk kamar dan lanjut tidur.
Gemal langsung keluar mobil, mencari keberadaan istrinya yang sejak pagi memancing emosi, sampai malam juga masih saja membuat darah Gemal naik.
"Diana bangun, kita harus kembali sekarang."
"Di ngantuk, besok saja pulangnya."
"Astaghfirullah Al azim Diana, suami kamu bukan pengusaha, bukan juga anak pejabat. Aku ini petugas biasa, kamu ingin melihat aku dipecat secara tidak terhormat." Gemal langsung menggendong istrinya untuk tetap berangkat ke bandara.
Suara tawa terdengar, merasa lucu dengan tingkat laku Gemal dan Diana yang selalu bertengkar juga membuat suasana heboh.
Diana tersenyum langsung memeluk Nenek, menangis terharu karena harus berpisah, memeluk Mam Jes yang akan berpisah sementara.
"Semuanya Diana pulang dulu, kalian jangan kangen." Di melambaikan tangannya.
"Ayo cepat." Gemal menarik tangan.
"Tunggu dulu, Diana belum pamitan dengan semua maid di rumah ini." Di menepis tangan suaminya.
"Sampai lebaran monyet, kita tidak pulang. Diana Natasya Dirgantara, kita harus pulang." Gemal berteriak kuat.
Suara tawa orang-orang rumah terdengar, Gemal sudah kehabisan kesabaran. Kakek Ken mengusap punggung cucunya.
"Gemal tidak boleh marah-marah." Di memeluk satu-persatu orang.
"Sabar Gem, sabar. Semua orang sujud syukur kamu pulang. Bisa gila lama-lama." Gemal sudah melotot, meminta Diana masuk mobil.
Arjuna yang melihat hanya menepuk jidat, drama Diana belum juga selesai. Masih sempat membuka kulkas, membawa roti dan makanan lainnya untuk dirinya mengemil
***
follow Ig Vhiaazaira
semoga besok normal update
__ADS_1