ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PERSIAPAN PERNIKAHAN


__ADS_3

Rumah Dimas sudah ramai untuk persiapan ijab kabul, acara ijab dan pesta sengaja di pisah agar tidak terlalu ramai, apalagi ada anak-anak.


Tatapan Aliya tajam melihat putrinya Ria yang tidak berkesudahan melilit kain di tubuhnya, Tika sudah lelah mengajari adiknya, tapi masih saja dibongkar pasang.


"Kapan selesainya kamu Ria? sebentar lagi acara dimulai." Al memijit pelipisnya.


"Sebentar lagi, seperti ini tidak bagus. Ria ingin tampil paling cantik."


"Meksipun kamu cantik tidak ada yang peduli, cepat selesaikan pakai bajunya." Al meninggalkan putrinya untuk ke ruangan make up.


Ria masih saja berpose di depan kaca, kelelahan melilitkan kain yang berakhir dengan tangisan.


Arjuna yang mendengar langsung menggendong adik perempuannya agar diam. Ria ingin menyobek bajunya yang tidak bagus ditubuhnya.


"Dek, jangan salahkan bajunya. Kamu yang egois ingin menggunakannya, tapi di luar modelnya." Juna membantu adiknya untuk melilitkan kain menjadi rok, lalu memasang kebaya couple keluarga.


Senyuman Ria terlihat, mencium pipi kakaknya yang multitalent. Juna hanya mengusap wajah adiknya yang ingin terlihat berbeda dari orang lain, tapi memaksa diri.


"Kak Juna, Tika pakai high ini atau ini?" kedua tangan Tika menunjukkan dua sepatu yang harus dipilihnya.


Sesaat Juna terdiam, langsung mengambil sepatu. Berlutut di hadapan adiknya sambil mencoba yang paling cocok.


"Ini lebih baik, sesuai sama warna baju kamu."


"Tapi Tika lebih suka yang satunya."


Tawa kecil Juna terdengar, kebiasaan Atika yang meminta pendapat orang lain, tetapi tetap memilih yang dia sukai.


Suara Aliya berteriak terdengar, meminta Juna segera bersiap-siap. Sibuk mengurus kedua adik perempuannya Juna tidak punya waktu mengurus dirinya sendiri.


Langkah Juna terhenti di kamar Juan, alasan Juna menginginkan adik laki-laki agar tidak membuat rusuh, tapi dia harus menghadapi kedua adik perempuannya yang sangat heboh.


"Juan, kapan selesainya?"


"Ini sudah kak, Juan sedang mempersiapkan hadiah untuk kak Gemal." Bersusah payah, Juan membungkus kado untuk dua pengantin.


"Kenapa banyak sekali?"


"Ini punya Juan, dua ini untuk kak Tika sama Ria. Jika hanya satu nanti rebutan, jika tiga boleh memilih. Juan mengambil yang terakhir saja." Senyuman Juan terlihat, menunjukkan hadiahnya yang sudah terbungkus.


Kepala Juna mengangguk, hadiah tidak harus mahal. Paling pentingnya ikhlas.


Altha sudah pergi lebih dulu, meninggalkan anak istrinya yang ribut tidak berkesudahan. Alt mengecek keamanan, karena selesai ijab kabul ada acara menyantuni anak yatim.


Alt naik ke lantai atas, melihat beberapa anggota keamanan sudah tersebar, dari segala arah.


Meksipun acara di rumah sederhana, tapi keluarga yang menikahi dari kalangan bangsawan.

__ADS_1


Keluarga besar Gemal juga datang, dengan puluhan pengawal.


"Bagaimana keadaan di luar perumahan Yan?"


"Sejauh ini aman, karena kita hanya mengunakan sebagian kecil penjaga. Sisanya ada di hotel yang sudah bersiap."


"Perketat, jangan lengah. Identitas Gemal sudah terbongkar, kemungkinan banyak yang ingin mengetahui kemampuan dia." Alt melangkah turun untuk melihat area ijab kabul.


Di tempat acara Dimas dan Dika sudah mengontrol ulang, soal keamanan sudah dipastikan aman terkendali.


"Bagaimana keamanan luar Alt?" Dimas yang sudah memakai baju rapi masih terlihat cemas.


"Aman, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Bagaimana soal keamanan hotel? terutama menjaga anak-anak." Calvin juga muncul menatap Alt yang memberikan senyuman.


Kakek Ken hanya tersenyum, kekhwatiran keluarga terlalu berlebihan. Mereka tidak tahu jika Gemal sudah lebih dulu mengerakkan bawahan yang kakeknya kirim untuk menjaga keamanan keluarga.


Tidak ada yang bisa menebus keamanan, dan keluarga bisa tenang mengikuti setiap prosesi acara pernikahan.


"Hentikan banyaknya pengawal, kita bukan hanya menjaga keamanan keluarga, tapi juga kenyamanan tamu. Suasananya aneh jika banyak pengawal berkeliaran." Kakek Ken langsung melangkah untuk menemui cucunya yang ada di rumah sebelah.


Pintu kamar Gemal diketuk, kakek Ken langsung tertawa. Saat semua orang bangun pagi mempersiapkan acara pernikahan, tapi Gemal masih asik tidur.


"Hei, bangun Gem. Kamu ingin menikah, kenapa masih tidur?" Kakek mengusap kepala cucunya yang terlihat paling santai.


Tanpa membangunkan sedikitpun, kakek Ken menarik selimut menutupi tubuh cucunya. Membiarkan Gemal tidur sebentar, karena terlalu lelah memastikan keamanan.


Mata Gemal terbuka sayup-sayup, melihat wajah kakeknya yang berdiri di depan jendela menatap ke depan.


Dari belakang saja Gemal bisa melihat tubuh pria tua yang masih sangat sehat, tidak heran jika Papanya juga memiliki tubuh yang profesional.


"Good morning Kek." Gemal langsung duduk di pinggir ranjang, mengusap wajahnya.


"Hampir siang, cepatlah bersiap-siap sebelum Mama kamu datang dan berteriak." Kakek Ken menepuk pundak cucunya.


Gemal tidur kembali, mengambil ponselnya melakukan panggilan ingin melihat calon istrinya yang kemungkinan sedang di make up.


Tatapan tajam dari balik layar terlihat, Gemal mengedipkan matanya saat melihat Mamanya yang menjawab panggilan.


Suaranya tawa dari dalam kamar Diana terdengar, apalagi melihat wajah Gemal masih belum mandi.


Mam Jes mengusap dada melihat putranya yang masih belum mandi, meminta Gemal tidak menganggu Diana.


"[Sebentar saja Ma, Gemal ingin melihat wajah Diana.] Ekspresi Gemal cemberut.


Mam Jes memperlihatkan kaki Diana, lalu tangannya tanpa menunjukkan wajah. Suara Diana juga terdengar, Gemal dikerjain oleh Mamanya sendiri.

__ADS_1


"[Mandi Gemal, sekarang." Mam Jes mematikan panggilan.


Calvin memukul punggung Gemal yang baru bangun, semua orang sudah siap tetapi pengantin pria masih punya waktu untuk kesiangan.


"Mandi." Pukulan mendarat kedua kalinya.


"Iya sabar, Gemal tidak mandi juga masih tetap tampan." Lidah Gemal menjulur keluar, mengejek Papanya.


Senyuman Calvin terlihat, menunggu Gemal yang mandi mirip bebek. Tidak lebih dari lima menit sudah selesai mandi.


"Gem, kira-kira mandi hanya hitungan menit."


"Memangnya harus berapa lama, 59 menit. Kira-kira saja, bisa menjadi es." Gemal langsung mengeringkan rambutnya.


Pakaian Gemal sudah disiapkan, Calvin membantunya memakai jas putih, sesekali Calvin mengusap punggung Gemal.


"Jangan sedih, Gemal hanya menikah bukan berperang." Senyuman Gemal terlihat menatap wajah Papanya.


"Siapa yang sedih?" Calvin memalingkan wajahnya tidak ingin menunjukkan kepada putranya.


Gemal memperhatikan wajah Papanya, ada kerutan di kening menandakan Papanya sudah tua. Padahal mereka belum lama bertemu.


"Pa, maafkan Gemal yang belum bisa membahagiakan." Pelukan Gemal erat kepada Papanya.


"Kamu bahagia sudah lebih dari cukup, Gem." Tangan Calvin mengusap kepala anak semata wayangnya.


"Gemal pastikan, akan memberikan Papa cucu lebih dari satu. Jangan sering marah, lihat sudah keriput." Suara tawa Gemal terdengar.


Pukulan Calvin mendarat, dia baru saja ingin menangis tapi Gemal menghacurkan moments sedihnya dengan penghinaan keriput.


"Bicara sama kamu membuat emosi Gem, cepatlah keluar." Tendangan Calvin mengenai kaki Gemal.


Suara Gemal teriak terdengar, melihat Papanya keluar.


***


follow Ig Vhiaazaira


jangan lupa like coment Dan tambah favorit


vote hadiahnya ya


***


visual Aliya kemarin lupa namanya 🤭


jadi seandainya Diana dan Aliya wajah beda, harap di maklumi 😂

__ADS_1


nanti malam visualnya.


***


__ADS_2