
Di dalam mobil ada seorang remaja yang mendekati Juna, terlihat dari penampilan sedang mabuk dan dalam pengaruh obat.
"Keluar kamu, bocah pengadu." Batu dilempar memecahkan kaca mobil, menunggu Arjuna keluar.
Pintu mobil terbuka, Juna langsung melangkah keluar melihat kemarahan kakak kelasnya. Satu tangan memegang pentungan ingin memukul Juna.
Ekspresi wajah Juna masih sama seperti biasanya, tidak ada rasa takut sama sekali dan terlihat senyuman kecil di bibir Juna.
"Kamu ingin mati? aku juga ingin mati."
"Aku ingin hidup, dan bisa tumbuh dewasa. Kita tidak saling mengenal, kenapa kamu membuat masalah?"
Suara tawa terdengar, akibat perkelahian di gedung kosong dia diusir oleh orang tuanya, karena mencoret nama baik keluarga.
Pukulan kayu terarah kepada Juna, tapi berhasil menghindar. Juna tidak ingin menyakiti wanita, apalagi dalam keadaan mabuk.
Juna mencoba terus menghindar, bahkan aksi kejar-kejaran terjadi.
Altha bisa melihat dari kejauhan ada perkelahian, seluruh guru juga berlari ke arah jalan untuk menghentikan.
"Berhenti!" Alt teriakan menatap putranya yang menahan kayu.
"Sekarang kamu sudah berani melawan?"
"Mami tidak mengizinkan aku menyakiti wanita, apapun alasannya. Berhenti sekarang, kita ada di pinggir jalan." Juna menatap tajam.
"Ayo mati bersama."
"Kamu memiliki masalah dengan keluarga, kenapa melibatkan orang lain?"
"Hidup kita berantakan, karena orang tua yang tidak bertanggung jawab." Tubuh Juna ditarik ke jalan saat ada mobil besar melintasi dengan kecepatan tinggi.
Suara teriak banyak orang terdengar, Altha berlari kencang langsung menangkap tangan Juna menariknya ke pinggir jalan.
Suara benturan kuat terdengar, Altha memeluk erat putranya. Melihat secara langsung kecelakaan yang menimpa gadis berusia belasan tahun.
"Tutup mata Juna, ini tindakan yang tidak pantas dilihat." Alt menggendong putranya untuk menjauhi mobil besar yang hampir menewaskan putranya.
Altha menghubungi rumah sakit juga pihak polisi, tidak ada yang boleh mendekati korban yang tewas di tempat.
"Anakku."
Juna melihat seorang guru yang berteriak histeris melihat anaknya meninggal bunuh diri, tepat di depan matanya.
Mata Juna melihat tangannya yang menggenggam cincin, kaki terasa lemas melihat cincin yang masih tertinggal.
__ADS_1
"Dia melepaskan tangan Juna." Wajah Juna pucat, langsung melihat Papanya yang sudah mendekati korban.
Tatapan mata Altha melihat ke arah Juna, meminta Dimas membebaskan Aliya untuk melihat keadaan Juna yang ketakutan.
Di kantor polisi keluarga yang anaknya diserang oleh Al sudah menarik tuntunan, karena ancaman Altha.
Bahkan video yang ada ditangan Anggun sudah diserahkan jika Al tidak bersalah, dia harus dibebaskan.
"Kamu boleh pergi, jangan pernah kembali lagi ke sini."
"Kenapa aku dibebaskan? kalian harus mengirim aku ke tempat penjara kota." Al menatap kesal tidak ingin keluar.
"Al, sebaiknya kamu pergi. Juna hampir kecelakaan bersama pelaku bully yang menyerangnya." Dimas langsung berlari untuk pergi ke lokasi.
Wajah Aliya langsung terkejut, berlari kencang masuk ke mobil Dimas. Mendengar berita Juna hampir kecelakaan.
"Bagaimana kronologisnya kak?"
"Tidak tahu, Altha hanya mengatakan Juna ketakutan."
Al memukul dasbor mobil, rencananya untuk menemui seseorang gagal total. Sekarang ada lagi masalah baru.
Gadis muda yang beberapa kali Al temui, memintanya untuk meninggalkan kebiasaan buruk, bahkan memperingati kedua orang tua, tapi mengabaikan saran Al.
Terkadang niat baik tidak sepenuhnya di terima, Al sudah mengingatkan, tapi pilihan ada ditangan masing-masing sehingga kematian menjadi pilihannya.
Pintu mobil terbuka, Altha melihat Al berlari mencari Juna yang ada di dalam mobil dalam keadaan ketakutan.
"Keluar Arjuna, Mami ada di sini." Al mengetuk pintu, Juna menolak menjawab setiap pertanyaan.
"Mami." Juna langsung memeluk erat, tangannya sampai gemetaran.
"Tenanglah, kamu jangan menyalakan diri sendiri, karena tidak bisa menolong dia. Pilihan sudah diambil, Juna tidak bisa melakukan apapun." Al mengusap punggung putranya yang ketakutan.
"Dia melepaskan tangan Juna."
"Lihat mata Mami." Al menakup wajah Juna, memintanya untuk melihat dengan jelas.
Juna mengerutkan keningnya, melihat kearah ibu korban yang menatapnya tajam. Terlihat sekali amarah dan dendam.
Al tersenyum sinis, melangkah mendekati dan memperingatkan jika tidak ada yang bisa menyakiti Juna, selama dirinya masih hidup.
Jenazah langsung dibawa ke rumah sakit, Altha mendekati Aliya dan Juna bersamaan dengan kedatangan Citra yang mendapatkan kabar putranya hampir kecelakaan.
Citra memeluk erat Juna sambil menangis sesenggukan, langsung membentak Altha yang tidak bisa menjaga anak.
__ADS_1
Tatapan Altha tajam, langsung menarik Citra masuk ke dalam mobil. Aliya dan Juna juga masuk melihat kemarahan Citra.
"Jika kamu tidak bisa mengurus anak, kembalikan mereka padaku." Tangan Citra memukul lengan Altha.
"Kamu ibu yang lupa tanggung jawab, ke mana kamu berminggu-minggu tanpa memberikan kabar?"
"Itu tanggung jawab kamu Altha!" Tatapan Citra tajam, melihat tubuh Juna ada luka lebam.
"Brengsek, siapa yang berani menyakiti anakku. Ini semua salah kamu yang sibuk dengan istri muda, kalian berdua hanya tahu bersenang-senang dan melupakan anak-anak." Citra mencengkram kuat lengan Aliya.
"Jangan libatkan aku sialan, emosi aku sedang tidak stabil. Jangan sampai mata kamu yang melotot nanti menjadi biru." Al menatap tajam, menyingkirkan tangan Citra dengan remasan kuat.
"Juna mulai sekarang kamu tinggal bersama Mama."
"Tidak, aku tetap bersama Papa."
"Juna! kamu tidak takut melihat kecelakaan tadi?"
Aliya langsung tertawa, menarik nafas panjang lalu mengembuskan mencoba menahan diri agar tidak melayangkan pukulan kepada Citra, apalagi di depan Juna.
"Keluar Citra." Alt mendorong Citra.
"Sadar tidak kamu, jika apa yang terjadi pada Juna kesalahan kamu?" Al tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Sikap Citra yang merendahkan orang lain, karena dirinya seorang dosen di fakultas elit, membuatnya lupa jika sudah menyinggung teman seangkatannya yang tidak seberuntung dirinya.
Berita perceraian tidak mungkin bocor sampai menimbulkan gosip buruk, jika Citra bisa menjaga sedikit saja kehormatan Altha.
"Kalian menikah karena cinta, tapi kenapa kamu bisa mengatakan jika Altha bukan pria baik? alasannya apa? kamu ingin orang lain memandang buruk Alt, dan membela kamu. Kamu seorang ibu Citra, jika memang tidak ada lagi cinta, tapi setidaknya ada anak yang bisa terkena imbasnya. Juna dibully, perusahaan heboh, karena apa? kamu." Al membuka pintu langsung meminta Citra keluar, karena keluarga mereka ingin pulang.
Aliya juga membisikkan sesuatu, anak-anak akan selalu aman selama ada dirinya. Al meminta Citra menjaga ucapan yang sombong dan angkuh.
Guru yang anaknya meninggal sengaja membiarkan Juna disakitin, agar Citra tahu jika hidup putranya hancur.
"Sekali lagi kejadian ini terulang, kamu yang aku singkirkan." Al langsung masuk mobil, meminta Altha pulang.
Juna melihat cincin ditangannya, menatap Maminya yang terlihat sangat marah.
***
DONE DUA BAB.
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT
FOLLOW IG VHIAAZAIRA
__ADS_1
VOTE HADIAHNYA DITUNGGU.
***