
Senyuman manis Atika terlihat, meminta semuanya maju dan siapapun yang jatuh dinyatakan kalah. Shin masih santai, membuka permen lollipop memasukkan ke dalam mulutnya.
"Sudah siap Tika?" Shin mengambil posisi.
Sepuluh pria maju secara bersamaan, langsung menyerang dua wanita yang ahli bela diri. Satu-persatu lawan mulai berjatuhan, pukulan mendarat, bahkan tendangan bertubi-tubi.
"Gila, ini menyegarkan mata." Diana menghitung waktu yang dibutuhkan hanya lima menit untuk menjatuhkan sepuluh pria yang berguling terjatuh.
Diana langsung bertepuk tangan mengagumi, melihat sepuluh pria langsung melangkah mundur dan mengakui kemampuan Shin dan Tika.
"Aku harap ini pertengkaran terakhir, dan jangan menantang kami lagi." Tika langsung mengurai kembali rambut panjangnya.
Tika langsung berbalik badan, terkejut melihat keberadaan Diana, langsung melihat Shin yang tersenyum sambil menikmati permennya.
Di tertawa melihat Tika yang ketahuan bertengkar kembali, tidak bisa Diana bayangkan jika Aliya sampai tahu jika Putrinya masih saja bertengkar.
"Kalian berdua ini perempuan, tapi kelakuannya mengalahkan laki-laki." Di langsung merangkul dua gadis cantik untuk berjalan bersama.
"Kak Di jangan memberitahu Mami, bisa habis Tika." Tangan Atika memohon.
Diana langsung mengunci mulutnya, berjanji tidak akan membocorkan rahasia jika Atika masih berteman dengan Shin, dan masih saja bertarung.
"Tika dan Shin tidak berteman, hanya kebetulan saja bertemu lagi," ucap Tika menyakinkan.
"Betul, kita berdua masih menjadi lawan," jawab Shin membenarkan ucapan Atika.
"Terserah kalian berdua, nanti setelah kak Di pulih dari lahiran kita coba bertarung. Kak Di ingin tahu kemampuan kalian berdua." Di berjabatan tangan dengan Shin yang menyetujui begitupun dengan Tika.
Ketiganya celingak-celinguk, kebingungan cara untuk pulang karena tidak ada kendaraan. Lokasi tempat mereka berada jauh dari permukiman, bahkan sinyal handphone juga sulit sinyal.
Terpaksa ketiganya berjalan kaki, Diana mulai kelelahan, meminta Shin dan Tika menggendongnya.
Perut Diana mulai sakit, Tika menjadi takut. Apalagi kondisi kandungan Diana memang tidak baik.
"Bagaimana ini Shin? Kak Di tidak boleh capek." Tika mengusap keringat Diana yang bercucuran.
"Tidak mungkin kita menggendong." Shin melihat sekitarnya, langsung berlari ke arah perkebunan yang ada pondok.
Shin sudah memanggil, tetapi tidak ada jawaban. Shin meninggalkan uang, lalu mengambil gerobak Sorong.
"Gunakan gerobak ini saja, Shin sudah membayarnya," ucap Shin dengan santainya.
"Mereka jualan, ada kasirnya?" Diana langsung naik ke dalamnya meminta Tika dan Shin mendorong.
__ADS_1
Suara tawa Diana terdengar, dirinya sangat menyukai naik gerobak dorong meskipun lajunya lambat.
Wajah Atika sudah merah, kelelahan mendorong, begitupun dengan Shin yang sudah ngos-ngosan. Perjuangan mereka membawa Diana dan twins mempertaruhkan nyawa, karena hampir mati membawa tubuh Di yang berat.
"Berat sekali tiga orang ini!" Shin berteriak langsung terduduk.
"Sebentar lagi Shin, itu sudah jalan. Kita bisa mencari kendaraan." Tika menarik tangan, meminta Shin membantunya.
"Besok aku bisa menjadi almarhumah ulah kak Di, mati perawan jika begini." Shin mengumpat kasar.
Tika langsung tertawa, memukul punggung Shin yang membuat lelucon sampai tertawa, tenaga Tika semakin habis.
Diana juga tertawa lepas, menggunakan daun mengipas wajahnya agar tidak gerah. Menyemangati Tika dan Shin.
"Ponsel Diana sudah ada sinyal?" Di langsung mencari taksi online.
Di juga menghubungi Aliya jika Tika ada bersamanya, agar Al tidak mengamuk kepada supir.
"Bu, es Bu. Cepat, Shin haus," panggil Shin di sebuah warung makanan di pinggir jalan.
"Adik-adik dari mana?"
"Minum Bu, jangan kepo." Shin berteriak mengacak rambutnya.
"Mendingan bertarung selama puluhan jam, dari pada mendorong kak Diana. Isi perutnya bukan hanya bayi, tapi dosa semua." Shin sampai batuk, karena minum terlalu cepat.
Tangan Tika menepuk punggung, tidak bisa berhenti tertawa. Melihat Diana yang masih duduk santai di dalam gerobak, mengusap perutnya sambil tersenyum.
"Shin, kita bertarung tadi hanya hitungan menit, tapi berjalan dari sana sampai sini ngos-ngosan. Mana lapar?" Tika mengambil roti langsung memakannya.
"Tik, rambut kamu ada permen karetnya." Mata Shin melotot, terkejut melihat permen karetnya menempel di rambut Tika.
Diana dan Shin saling pandang, mata Tika sudah menatap tajam. Menendang meja kuat, mencengkram lengan Shin.
"Kak Diana yang makan permen karet, bukan aku." Shin menjauhi Tika perlahan.
Suara langkah kaki Shin berlari terdengar, Tika langsung cepat mengejarnya. Tenaga yang awalnya sisa 3% langsung full menjadi 100% hanya untuk kejar-kejaran.
"Keluarkan Diana dulu." Di teriak melihat dua anak sudah jauh.
Ibu penjaga warung membantu Diana turun, menyiapkan makanan yang Diana ingin. Cukup lama Di menunggu keduanya kembali, sudah menghabiskan tiga mangkok mie, minuman dua botol, dan banyak cemilan lainnya.
Dari kejauhan Diana bisa melihat Shin dan Tika muncul saling merangkul, karena kelelahan kejar-kejaran dan akhirnya harus kembali lagi.
__ADS_1
"Siapa yang menang?"
"Kak Di, bagaimana rambut Tika? Mami bisa marah." Tika langsung memeluk Diana yang lanjut makan nasi goreng.
"Potong saja, Shin juga cantik rambutnya pendek. Nanti juga rambut kalian berdua panjang lagi." Di meminta keduanya untuk makan.
Diana langsung menatap Shin yang sudah tergeletak di atas kursi, memintanya menghubungi orang tuanya agar tidak khawatir.
Shin langsung duduk, mengambil sendok dan memakan mie yang baru dibuat lagi, karena jatahnya sudah dilahap oleh Diana.
"Mereka tidak akan peduli, sekalipun Shin berhari-hari tidak pulang." Tangan Shin mengambil minuman Diana.
"Kamu anak broken home?" Tika juga langsung makan.
"Tidak, aku hanya anak yang terabaikan. Papa sibuk dengan pacarnya, Mama sibuk dengan pekerjaannya. Sejak bayi, aku tidak diurus." Shin tersenyum, mengunyah makanannya dengan lahap.
"Kamu mungkin bukan anak kandung?" Tika dengan santainya bicara, Diana langsung menarik baju Tika.
Shin tertawa, dirinya tidak peduli. Anak kandung ataupun bukan, bagi Shin tidak penting sama sekali. Dirinya hanya diberikan kemewahan, apapun yang Shin inginkan selalu dikabulkan.
Bertanya soal kasih sayang, tidak ada pandangan indah soal Kasih sayang dalam hidup Shin. Dirinya hanya ingin menyenangkan diri sendiri, tanpa harus peduli sekitarnya.
"Suatu hari kamu akan bahagia Shin?"
"Kak Di benar, ibarat Putri yang menemukan pangeran. Shin ingin cepat besar, dan menemukan cinta sejati." Tangan Shin menyambut minumannya.
"Berapa biaya hidup kamu sebulan yang mereka berikan?"
Sesaat Shin terdiam, menunjukkan black card, uang cash yang cukup banyak di dalam dompet Shin.
"Sekitar 7000$ selama satu bulan." Shin tertawa melihat wajah terkejut Diana dan Tika.
"Apa kabar Tika yang perhari 20$?" Tika rasanya ingin jantungan.
Diana menghentikan makannya, menakup wajah Shin yang matanya merah. Hidup Shin dihargai dengan uang.
"Sakit sekali setiap bulan menerima uang kasih sayang." Di menghela nafasnya.
"Awalnya iya, tapi Shin sudah terbiasa. Suatu hari nanti mereka akan jatuh miskin dan Shin yang kaya, karena banyak uang." Shin langsung kepedasan, mengambil minum Tika.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1