
Helaan napas dia remaja terdengar, Dean sudah mengomel habis-habisan merasa kesal ulah dua bumil yang setiap hari meminta di temani mencari makan.
Hanya Juan yang paling sabar, tidak pernah membantah apalagi marah-marah. Selalu mengiyakan apapun yang diinginkan.
"Kak, sudah makannya nanti kekenyangan muntah." Juan melarang Shin memesan makanan lagi.
Kepala Shin mengangguk, menatap Tika yang sudah tidur bersama Dean. Keduanya terlihat tenang merasakan angin sepoi-sepoi.
Selesai makan, Juan dan Shin bermain catur. Keduanya sama-sama hebat, dan terlihat tenang. Dua jam permainan barulah Shin memenangkan permainan.
"Ay, Shin menang lagi." Tangan Shin melambai melihat suaminya datang menjemput.
"Hebatnya istriku, apa kabar baby kita?" Juna mengusap perut istrinya yang semakin besar.
"Dia sudah bisa gerak-gerik, Dokter Salsa juga sudah tahu jenis kelaminnya. Sengaja Shin dan Juna tidak ingin tahu, cukup Salsa saja agar menjadi kejutan untuk mereka.
"Kita pulang sekarang Kak, hari sudah sore." Juan memberikan bill pembayaran.
"Tolong bayar Juan, ini kartunya." Juna meminta izin kepada Shin untuk menggendong Tika yang masih saja tidur.
Kepala Shin mengangguk, memberikan izin. Shin berjalan bersama Dean, sedangkan Juna menggendong satu bumil yang tidurnya sangat pulas.
"Kak Juna, Tika jalan saja." Tika meminta turun menatap kakinya yang semakin membengkak.
Di depan rumah Aliya sudah menunggu, meminta Tika ke rumah untuk memijat kakinya.
"Shin juga mau,"
"Ayo sini sayang," Aliya meminta keduanya masuk ke dalam rumah.
"Mam, Tika susah bernapas. Ini perut cepat sekali besarnya." Tika mengusap perutnya.
"Sabar, nanti kalau dia sudah lahir baru puas melihatnya." Al mencium perut Tika yang sudah memasuki usia tujuh bulan.
"Tidak terasa dia sudah tujuh bulan di dalam, besok kita bersedekah ya sayang. Bukan Mama tidak ingin melakukan adat, tapi membawa kamu berat sekali." Tika tarik napas buang napas.
Berbeda dengan Shin yang masih lancar lari-larian ke segala arah, perutnya saja yang besar, tapi badannya tetap kurus.
"Shin, kamu bisa diam tidak? Tika pusing melihat kamu." Suara Tika teriak-teriak terdengar, memejamkan matanya merasakan nyaman di pijat.
Shin menolak untuk dipijat, langsung menyusul suaminya meminta dipeluk. Mata Shin mengantuk dan ingin manja.
Sikap manja istrinya tidak pernah menganggu Juna, dia bahagia melihat Shin yang bersemangat setiap kali dirinya pulang.
__ADS_1
Tangan Juna mengusap lembut perut buncit, menepuk pelan agar segera tidur. Juna sudah tahu jenis kelamin anaknya karena selalu bermimpi didatangi gadis kecil yang tersenyum manis dengan wajah jahilnya.
Rasanya tidak sabar lagi menunggu kehadiran baby girls, rumah pasti akan heboh setiap harinya mendengar suara Shin yang akan teriak-teriak.
"Sehat terus sayang, Papi tidak sabar lagi bertemu kamu." Juna mencium perut buncit bekali-kali.
Panggilan dari Genta masuk menanyakan keberadaan istrinya, Juna langsung memberitahu jika mereka ada di rumah orang tua.
Genta langsung bergegas, membawakan makanan yang diinginkan oleh istrinya. Tika yang melihat suaminya pulang langsung menangis.
"Kenapa sayang?"
"Tika gendut, nanti Ayang tidak cinta lagi." Air mata Tika menetes, memeluk suaminya.
Senyuman Genta terlihat, mengusap kepala istrinya. Tidak peduli gemuk ataupun kurus perasaan cinta Genta tidak akan pernah berubah.
Baginya Tika segalanya, tidak ada yang bisa mengubah perasaan itu. Tidak ada yang akan memisahkan kecuali maut.
"Perut Tika besar sekali, sudah susah napas. Rasanya begah, tidak nyaman Ayang." Tika berbaring di paha suaminya mengusap perut besar istrinya.
"Apa kabar baby? sabar ya sayang. Bentar lagi kita bertemu." Usapan Genta terasa lembut, Tika sangat nyaman jika suaminya sudah pulang.
"Ayang, Tika mau itu?"
Wajah Genta kaget, menutup mulut istrinya yang ingin berhubungan di rumah mertuanya. Genta hanya membalas dengan tawa kecil, berbicara lembut agar tidak tidak tersinggung.
***
Acara tujuh bulanan dilakukan, hanya diadakan di panti sederhana. Mengadakan doa agar lahiran normal juga sehat ibu dan bayinya.
Rasa haru terasa, diberikan kepercayaan begitu cepat untuk menjadi orang tua. Menjadi tugas baru bagi dua pasang suami istri yang sedang menanti buah hati.
Sampai acara selesai, keluarga masih ada di panti. Mengobrol bersama anak-anak panti yang sedang asik bermain.
"Kak Di masih ingat tempat itu?"
"Iya, tempat kalian berkelahi." Diana meninggalkan dua bumil yang memaksa ingin pergi ke sana untuk mengenang masa-masa muda.
Diana menolak, dia tidak ingin terkena karma seperti beberapa tahun silam. Jika dulu yang hamil hanya satu, dan Diana harus menjaga dua bumil.
"Aunty jahat sekali?"
"Kalian pergi bersama suami kalian saja, aku tidak ingin mengambil resiko." Di menghilang dari pandangan.
__ADS_1
Kening Tika dan Shin berkerut, mereka padahal ingin mengenang masa bersama Diana sebelum ketiga bocah lahir.
"Kapan kita pergi ke sana?"
"Shin tidak berani Tika, kita dua bumil. Tidak bisa berkelahi lagi." Shin menolak karena terlalu bahaya.
"Ya sudah, Tika pergi sendiri saja." Ancaman Tika berhasil membuat Shin menurut akhirnya mereka akan menyempatkan waktu untuk berkunjung.
Suara Ria memanggil terdengar, mereka harus segera pulang karena tidak ingin sampai rumah terlalu malam.
Dari kejauhan Shin melihat dua anak kecil yang duduk bersama saling membelakangi punggung.
"Kedua anak itu sedang bertengkar?"
"Sepertinya, di masa depan mereka akan menjadi sahabat." Tika tersenyum, merangkul Shin yang juga tersenyum manis.
Perhatian Shin tidak lepas dari dua anak kecil yang tidak ikut mengambil mainan. Keduanya masih saling cuek tanpa membalikan badan.
"Ay Jun, lihat kedua anak itu. Mereka sedang bertengkar." Shin menujuk ke arah dua anak kecil.
"Boleh bawa pulang tidak?" Tika menatap suaminya yang garuk-garuk kepala.
Dengan penuh kelembutan Genta menasihati istrinya, Tika sedang hamil besar belum tentu memiliki banyak waktu untuk menjaga dua anak sekaligus.
"Sayang, fokus dulu untuk kehamilan kamu." Papi Altha merangkul Putrinya untuk masuk ke dalam mobil.
Wajah Shin terlihat sedih. Juna langsung merangkul membawa ke dalam mobil, tidak ingin ada banjir air mata.
Suara anak-anak melambaikan tangan terdengar, melihat beberapa mobil meninggalkan panti.
Suara teriakan Ria terdengar, dia belum masuk mobil, tapi sudah ditinggalkan. Wajah kesalnya terlihat menatap satu mobil putar arah.
Tawa Aliya terdengar menatap Putri bungsunya yang menatap sinis, terlalu sibuk mengurus dua bumil sampai lupa jika ada yang ketinggalan.
"Sudah jangan pegang Ria lagi!" teriakan Ria menggema membuat tawa Aliya semakin besar.
Altha memeluk Putrinya, meminta maaf karena tidak memperhatikan keberadaan Ria. Dengan ekspresi marah, Ria langsung masuk sambil membanting pintu mobil.
"Aliya berhentilah tertawa, anak ketinggalan ditertawakan." Alt meminta istrinya masuk mobil.
Tawa dua anak kecil yang sedang bertengkar terdengar, merasa lucu melihat Ria yang ketinggalan.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira