ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KEJUTAN


__ADS_3

Sesampainya di rumah Aliya langsung masuk, anehnya rumah sudah gelap. Al langsung berlari melihat kamar Tika.


"Tika, kamu di mana sayang?" Al langsung berlari membuka kamar Arjuna.


Al langsung panik melihat kamar yang kosong, suami dan anaknya tidak ada rumah. Al mencoba menghubungi Altha, tapi ponsel mati begitupun dengan Juna.


"Juna, Atika kalian di mana?" Al semakin ketakutan, ini perasaan pertamanya yang sangat takut kehilangan.


Al duduk lemas di tangga, dadanya terasa sesak membayangkan anak-anak pergi meninggalkannya. Sungguh Al tidak percaya jika dia akan merasakan sakitnya menyayangi.


"Juna, Tika, Altha kalian di mana? jangan tinggalkan Aliya." Al berteriak kuat memanggil keluarganya.


Lampu satu-persatu hidup, rumah gelap langsung berubah menjadi terang benderang. Lampu warna-warni juga terlihat di pinggir tangga.


"Happy birthday Mami, selamat ulang tahun." Atika lompat-lompat menghidupkan trompet.


Altha tersenyum melihat kedua anaknya yang sangat bahagia merayakan ulang tahun Al, Juna yang sangat dingin mulai terlihat hangat dan bahagia.


Al langsung melangkah, memeluk Atika sangat erat. Menciumi wajah putrinya. Al tidak bisa membohongi perasaannya yang sangat menyayangi Tika.


"Mami khawatir sekali, tega sekali dipanggil tidak menjawab." Al menatap sedih, dan tidak bisa menutupi rasa takutnya.


"Namanya juga kejutan mami." Senyuman manja Tika terlihat.


Al tersenyum, langsung memeluk Juna. Al juga sangat mengkhawatirkan putranya, biasanya Juna meskipun tidak menjawab akan datang menemuinya dengan tatapan dinginnya.


"Mami khawatir sama kalian, jangan lakukan itu lagi." Al mencium wajah kedua anaknya.


Senyuman Tika terlihat, menatap Papinya yang membawa kue. Al langsung melangkah mendekati suaminya dan memeluk hangat.


Juna langsung menyambut kue dari tangan Papinya, membiarkan Maminya mengomel karena teriak-teriak tidak ada yang menghiraukannya.


Altha juga tidak menolak pelukan Al, membalas pelukan Al yang sangat hangat. Altha merasakan kehangatan menyentuh Al yang masih mengomel.


"Sudah selesai marah-marahnya?"


"Al capek teriak." Al mencium pipi Altha yang hanya tersenyum saja.


"Ayo Mami tiup lilinnya, Juna capek memegang kue ini." Tatapan Juna tajam.


Aliya langsung tersenyum dan sangat terharu, ini ulang tahun pertama yang terasa hangat dan penuh kebahagian.

__ADS_1


Al ingin segera meniup lilin, tapi Tika melarangnya. Meminta Al berdoa untuk hari ulang tahunnya.


Al menadahkan tangannya, membaca doa dan meniup lilin sambil tertawa bahagia. Al sangat bahagia bisa menatap ada anak dan suami disisinya.


"Selamat ulang tahun Mami." Juna tersenyum.


"Selamat ulang tahun mami kesayangan Tika."


"Terima kasih sayang, mami juga sayang sama Tika dan Juna." Al memeluk kedua anaknya.


"Sama Papi sayang tidak?" Tika menggoda Aliya yang tersenyum malu-malu.


"Sayang, Mami sayang sama Papi." Al mencium bibir suaminya yang hanya diam saja.


Al meminta Altha mengucapkan selamat ulang tahun dan menciumnya, Al langsung tersenyum dan menunggu suara Altha terdengar.


"Selamat ulang tahun, panjang umur dan sehat selalu. Aku doakan kamu selalu bahagia dan terus menjadi wanita yang baik." Al memeluk lembut Aliya, mendaratkan ciuman dikening.


Al langsung duduk bersama anak-anak, memotong kue dan makan bersama. Sungguh malam yang sangat bahagia, jika dulu Al tidak punya alasan untuk hidup lama, tapi sekarang dia ingin hidup sangat lama dan terus bersama anak dan suaminya.


"Seandainya ada yang memisahkan kita, sungguh Al tidak rela." Batin Al dalam hatinya melihat senyuman suami dan anaknya.


Selesai makan malam dan bercanda bersama, Juna langsung ke kamarnya dan beristirahat. Tika juga langsung ingin tidur karena lelah mempersiapkan ulang tahun Maminya.


"Ayang, terima kasih."


"Emh, Tika yang sangat bersemangat saat tahu kamu ulang tahun." Alt tersenyum melihat Al masih menatap ke arah kuenya.


"Ayang tahu hari ulang tahun Aliya, dan mengatakan kepada Tika lalu mempersiapkan semuanya." Aliya tersenyum memeluk Alt yang mengusap punggungnya.


"Kamu bahagia, juga kebahagiaan anak-anak. Ini pertama kalinya merayakan ulang tahun sederhana, tapi penuh canda dan tawa." Alt mendekati bibir Aliya dan menciumnya.


"Berikan alasan kenapa mencium Al?" suara tawa Aliya terdengar melihat Altha yang mencari alasan.


"Aku tidak memiliki alasan, akan aku lakukan jika menginginkannya." Alt tersenyum santai, ucapan sudah seperti hal biasa yang menjadi pembicaraan hangat.


Al merasakan tenggorokannya kering, salut dengan Altha bisa menahan diri sangat lama tidak berhubungan. Bahkan sejak Citra hamil dan melahirkan lalu bercerai dan menikah lagi.


Altha tidak pernah menuntut untuk dilayani, dia coba memahami apapun yang wanita lakukan. Alt juga hanya diam menunggu dan menikmati prosesnya meskipun berat.


"Ayang, kenapa tidak menuntut Al melayani? Aliya bukan anak kecil." Al menatap mata Altha yang sangat hangat.

__ADS_1


Senyuman Altha terlihat, dia tidak pernah menuntut untuk dilayani, karena bagi Altha berhubungan bukan hanya satu pihak, tapi kenyamanan bersama.


Alt juga tidak pernah mengganggap Aliya anak kecil, dia tahu Al sudah dewasa dari cara dia menyayangi anak-anak yang sudah menunjukkan sisi keibuan.


Keduanya hanya diam, tidak ada yang mengeluarkan suara. Aliya melihat wajah suaminya dari samping menyatukan kedua tangannya.


"Kenapa? kamu dingin." Alt melihat tangan Aliya yang disatukan.


Kepala Aliya menggeleng, senyuman terlihat membuat Altha tidak mengerti.


"Ingin minum berdua?" Alt ingin melangkah ke dapur.


"Minum-minuman, kamu yakin ingin mabuk?" Al terlihat kaget.


Altha langsung menatap tajam, menjentikkan jarinya di kening Al yang pikirannya masih saja nakal. Alt hanya ingin minum teh hangat bersama, bukan minum-minuman yang selalu Aliya lakukan.


Al tersenyum malu, dia pikir Altha sudah berubah sedikit nakal. Ternyata masih sama saja, setidaknya sudah berubah hangat.


"Apa yang tidak bisa kamu lakukan?" Al kagum melihat Altha bisa masak, membuat sarapan bahkan teh hijau.


"Aku tidak bisa hamil, dan menyusui." Altha menggelengkan kepalanya.


Aliya langsung tertawa, dia juga tahu laki-laki tidak bisa hamil dan menyusui. Kedua tangan Al melingkar di pinggang Altha memintanya memasak ramen.


"Al, aku tidak makan malam dengan sejenis mie. Kamu juga harus menghindari makanan yang bisa membuat pipi kamu gembul seperti Mora, makan sesuatu yang sehat dan berolahraga." Altha menatap tangan Al yang semakin erat.


"Lepaskan Al aku tidak bisa bergerak." Alt melihat wajah Aliya yang sedang berpikir.


"Ayo kita melakukannya." Al melepaskannya Altha menariknya untuk ke kamar.


"Tidak mau, habiskan teh kamu."


Bibir Aliya langsung monyong, mengerutkan keningnya melihat Altha yang menolak untuk berhubungan dengannya.


"Altha kamu jijik ya menyentuh wanita nakal seperti Al, karena aku sudah disentuh banyak lelaki." Aliya menatap tajam.


Altha hanya tertawa, duduk di atas meja meminta Aliya mendekat karena dia ingin membisikkan sesuatu.


"Apa?" Al mendekat.


"Apa kamu mencintai aku? jika iya kita lakukan, jika tidak mundur." Alt tersenyum langsung melangkah pergi meninggalkan Aliya yang masih terdiam.

__ADS_1


***


__ADS_2