ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KERIBUTAN


__ADS_3

Keributan terdengar di depan rumah Genta, kening Genta berkerut tidak biasanya tetangga membuat kekacauan di pagi hari.


Tatapan Genta melihat kulit mangga, baru sadar jika dirinya tidak memiliki stok mangga di kulkas, dan sudah bisa menebak jika kedua wanita melakukan pencurian.


"Ya Allah, aku tinggal di sini sudah bertahun-tahun, baru kali ini bermasalah." Kedua tangan Genta meremas tangannya.


Cepat Genta berlari keluar, melihat beberapa ibu-ibu yang menatap Genta menggunakan baju santai.


Mata Genta langsung ke arah pagar, buah mangga yang sengaja diarahkan ke rumahnya sudah menghilang.


"Pagi Nak Genta, sudah lama tidak pulang?"


"Iya Bu, saya baru pulang malam, karena memang tidak punya waktu pulang." Senyuman lembut Genta terlihat.


"Oh begitu, pulang malam dan masih sempat mengambil mangga. Jika Nak Genta mau, bisa ibu panen, bahkan langsung dikupas. Saya janda juga kesepian." Suara tawa terdengar mendekati Genta.


Senyuman Genta terlihat, tapi di dalam hatinya berteriak panik meminta pertolongan, dirinya takut dengan janda yang selalu mencari kesempatan mendekatinya.


Beberapa lembar uang Genta keluarkan, berniat membeli dan menyerahkan uang. Tangan Genta dipegang erat, membuatnya keringat dingin.


Genta lebih memilih melawan puluhan musuh, daripada berurusan dengan wanita yang hanya tahu memamerkan tubuh untuk menggoda.


Di dalam kamar Atika terbangun, melihat kaki di depan wajahnya. Langsung memeluk Shin yang tidurnya seperti orang berenang.


"Kurang ajar kamu Shin." Tangan Tika memukul kepala Shin, menendangnya sampai jatuh dari atas ranjang.


Suara wanita terdengar, Tika langsung turun melihat ke arah jendela. Menatap beberapa wanita, berbicara dengan Genta yang terlihat tidak nyaman.


"Shin bangun."


"Tidak mau, aku mengantuk." Shin naik kembali ke atas ranjang, tarik selimut lanjut tidur.


Tika langsung keluar kamar, mendengar pembicaraan Genta dan beberapa tetangga yang terdengar menggoda secara lembut.


"Pria setampan Om tua digoda perempuan mirip boneka santet." Tika mengacak-acak rambutnya, melepaskan beberapa kancing bajunya langsung membuka lebar pintu.


Semua orang melihat ke arah Tika yang masih memejamkan mata, mulut menguap cantik, sambil merapikan rambut.


Genta hampir jantungan, melihat Tika yang muncul di saat yang tidak tepat.


"Sayang, kenapa lama sekali? peluk, belum cium juga." Bibir Tika manyun, meminta Genta mendekatinya.

__ADS_1


"Nak Genta dia siapa? sejak kapan ada perempuan di rumah ini?" Suara teriakan terdengar, meminta Genta menjelaskan.


"Kenapa mengamuk pagi-pagi Bu Ibu? pulang urus suami masing-masing, sayang ayo kita lanjutkan malam panas kita." Tika mengedipkan matanya.


Tatapan mata Genta langsung tajam, terlihat sangat menakutkan. Tika langsung melangkah masuk tidak berani melihat mata Genta yang sudah emosi.


Ibu-ibu bubar, Genta langsung masuk membanting pintu membuat Tika menyemburkan air minumnya.


"Apa maksudnya kamu?" suara Genta meninggi, membentak Tika yang duduk santai.


"Aku hanya membantu?"


"Membantu kamu bilang? kalian mencuri mangga, dan sekarang kamu mengumumkan secara langsung jika aku mencemarkan lingkungan." Bentakan Genta membuat Tika kesal.


Pertengkaran keduanya terjadi, Tika tidak suka dibentak, karena Maminya saja tidak pernah berkata kasar kepadanya, apalagi meneriakinya.


Genta tidak peduli dengan cara didik keluarga Atika, tapi baginya yang hidup sendirian penuh ketenangan sekarang terusik.


Gosip akan menyebar jika seorang polisi membawa seorang wanita untuk bermalam. Genta tidak masalah jika harus diusir, tapi kehormatan tercemar.


"Sebelum kamu bertindak seharusnya berpikir dulu, jangan membuat masalah untuk hidup orang lain." Nada Genta mulai pelan.


"Aku tidak peduli dengan pandangan orang, karena yang menjalani hidup aku bukan mereka." Tika memalingkan wajahnya.


Dari balik pintu Shin meneteskan air matanya melihat pertengkaran Tika dan Gemal yang saling berteriak dan membentak.


Pecahan kaca yang berhamburan membuat hancur hati Shin, ucapan Genta yang mengusir membuat sesak nafasnya.


Meskipun tindakan dan ucapan tidak tertuju kepada, tetap saja hati Shin hancur. Bayangan masa kecilnya terlihat kembali, dan membuat banjir air mata.


"Shin, kamu kenapa?" Tika langsung berlari memeluk tubuh Shin yang meringis kesakitan.


"Kenapa kamu?" Genta langsung menahan tangan Shin yang meremas tubuhnya sendiri.


Air mata Tika menetes, memeluk erat meminta Shin tenang. Tidak ada yang memarahi dirinya, Genta juga tidak marah.


"Apa yang terjadi kepada Shin?"


"Aku tidak tahu, ini juga pertama kali melihatnya." Tika menangis sesenggukan, tidak tega melihat darah di bibir karena digigit.


Tangan Genta mengusap punggung, meminta maaf karena dirinya sudah berbicara kasar. Genta mengakui salah, jika dirinya tidak boleh bernada tinggi.

__ADS_1


"Maafkan aku, tolong tenanglah."


"Maafkan kita, tadi hanya bercanda." Tika mengusap air mata Shin.


"Mami, kenapa menangis? sakit ya." Shin mengusap wajah Tika.


"Buka pintu kamar, kita bawa ke atas ranjang." Genta langsung menggendong, memindahkan Shin ke atas tempat tidur untuk menenangkan perasaannya.


Melihat kondisi Shin hati Genta sakit, tidak tahu apa penyebab dirinya sedih melihat kondisi Shin. Selama melihat Shin, dia anak yang ceria, juga selalu bahagia.


"Apa yang terjadi kepadanya?"


"Tika tidak tahu, sejak kecil Shin selalu sendiri. Kami tidak pernah membicarakan soal orangtunya." Tangan Tika menggenggam erat, melihat Shin yang membuka matanya.


Melihat Shin yang sudah membaik, Tika langsung memeluk erat. Meminta maaf, karena sudah menyakitinya.


Genta meminta Shin menjelaskan apa yang terjadi kepadanya, secara tiba-tiba terlihat sangat aneh.


Kepala Shin menggeleng, dirinya tidak mengingat apapun. Dan meminta maaf jika dirinya membuat masalah.


"Shin, kenapa tiba-tiba kamu terlihat mengalami trauma? selama ini kita selalu bertarung dan melihat kekerasan, tapi kamu biasa saja." Tika meminta Shin jujur kepadanya agar bisa melindungi, sahabat bagi Tika harus tahu suka duka, bukan hanya bahagia bersama, tapi juga menangis bersama.


"Aku tidak tahu, tidak tahu Tika. Aku juga merasa aneh, rasanya aku masih tidur, tiba-tiba ada yang bertengkar." Shin mengusap air matanya.


Dirinya merasa kembali ke masa kecilnya saat berusia lima tahun, Mami dan Papinya selalu bertengkar.


Setiap bangun tidur, selalu menyaksikan keributan, juga kekerasan. Kejadian tidak hanya satu kali, tapi hampir setiap hari. Saat Papinya mabuk, Shin juga menjadi korban pemukulan.


"Mami dan Papi memutuskan hidup masing-masing, dan menemukan kebahagiaan mereka. Tidak mengakui aku ada, setelah meninggalkan rasa sakit yang teramat dalam. Sungguh ini pertama kalinya." Shin menundukkan kepalanya, meremas kedua tangannya.


Tangan Genta menggenggam tangan Shin, meminta maaf karena saat Shin bangun melihat dirinya marah-marah.


"Maafkan aku, ini tidak akan terulang lagi. Tidak akan."


"Om tua kenapa? Shin baik-baik saja, aku sudah biasa menghadapi masalah sendirian." Shin tersenyum melepaskan tangan Genta.


"Jangan panggil Om, aku tidak setua itu." Nada bicara Genta tinggi.


"Marah lagi dia, kamu sudah punya Tika yang akan selalu menjaga." Atika memeluk erat.


"Maaf." Genta menatap persahabatan yang luar biasa, Tika bisa menjadi Ayah dan Ibu untuk Shin.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2