ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
GARA-GARA VIDEO


__ADS_3

Hari bahagia akhirnya tiba, Rindi duduk di depan cermin menggunakan gaun berwarna putih bermahkota. Di atas ranjang dua wanita menatapnya dengan penuh rasa kagum, dan menyukai sikap anggun Rindi yang bisa berubah dari singa menjadi kucing.


Tim yang membantu Rindi bermake-up keluar, Tika meminta Rindi duduk di sampingnya. Kejahilan dan rasa penasaran Tika menjadi satu.


"Ada apa? Rindi cantik tidak?"


"Cantik, namanya juga ratu satu hari." Shin tersenyum meminta Rindi duduk.


"Kamu tahu apa yang dilakukan di malam pertama?" kedua alis Tika bergerak.


Kepala Rindi mengangguk, mengambil tablet yang ada di atas meja mengetik sesuatu. Senyumannya terlihat, menatap Tika dan Shin sudah duduk rapi menunggu apa yang akan Rindi tunjukkan.


Layar tablet diarahkan kepada Tika dan Shin, teriakkan Shin terdengar karena kaget melihat video yang Rindi tunjukkan tepat di depan matanya. Tika sudah tertawa sampai berguling-guling melihat video dewasa yang Rindi tunjukkan.


"Astaghfirullah Rindi, darimana kamu mendapatkan situs seperti itu." Shin menutup telinganya tidak ingin mendengar suara wanita yang ada di video.


"Banyak tersebar di mana-mana? kamu kenapa Shin? kita wanita dewasa tidak masalah menonton ini. Kalau ada Ria sama Isel baru tidak boleh." Rindi tersenyum memperbesar volume.


"Jadi, nanti malam kamu akan melakukan itu?" Tika menahan tawa karena perutnya sudah sakit.


"Tentu, Rindi sudah belajar semua jurusnya." Dengan bangga Rindi menunjukkan banyak gaya di galeri.


"Gila kamu Shin, otak kamu kotor sekali. Memangnya Kak Hendrik mau melakukannya?" Shin sampai merinding, menghidupkan earphone agar tidak mendengar suara yang semakin panas.


Tika mengambil earphone Shin, hubungan ranjang tidak berpengaruh kepada laki-laki. Dia pasti akan menurut dan menikmati permainan yang wanita berikan. Tika rasanya ingin segera menikah biar bisa berperang dengan suaminya.


Kepala Shin geleng-geleng ingin keluar, tidak tahan lagi melihat dua wanita yang sama-sama menyukai hal kotor. Pintu terbuka, Shin melotot kaget. Tika juga sama kagetnya merebut tablet Rindi untuk mematikan rekaman video.


Rindi berteriak rebutan bersama Tika dan Shin yang panik karena Mam Jes datang bersama Diana, jika sampai kedengaran bisa tamat hidup Shin dan Tika.


"Apa yang kalian bertiga lakukan?"


"Main bola." Shin memeluk tablet Rindi.


Kepala Tika mengangguk, menutup mulut Rindi agar diam. Harga diri mereka bisa rusak jika sampai ketahuan.


"Rindi kesal melihat kalian berdua,"

__ADS_1


"Aku apa lagi? ingin rasanya aku penggal kepala kamu." Shin berdiri beranjak keluar kamar karena menahan malu.


Senyuman Tika terlihat, pamit pergi mengejar Shin yang sudah marah-marah melihat kekacauan di kamar.


Tanpa sengaja Shin bertemu Juna dan Genta yang juga ingin turun ke tempat acara, keduanya menatap tablet yang Shin pegang.


"Dek, Kak Genta boleh meminjam tablet kamu sebentar saja, ada kesalahan teknisi yang membutuhkan ...."


"Ini bukan punya Shin." Teriakan Shin besar, melempar tablet ke arah Tika yang berhasil menangkapnya.


"Tika, Kak Juna boleh meminjam tablet kamu?"


Tika kaget, bukan dirinya tidak ingin meminjamkan namun isi di dalam tablet sesuatu yang tidak pantas dan tidak seharusnya dilihat.


"Rusak, tablet ini rusak. Kita harus memperbaikinya dulu." Tika menyembunyikan ke belakang badannya.


"Serahkan kepada Kak Genta untuk diperbaiki." Tangan Genta terulur, meminta tablet kepada Tika.


"Bisa tidak kalian bunuh saja aku? ini memalukan." Tatapan Tika melihat Shin yang mengerutkan keningnya.


Dari belakang Dean pelan-pelan tablet sampai menayangkan kembali video dewasa yang membuat Tika dan Shin berteriak besar, menginjak-injak tablet yang jatuh ke lantai.


"Video apa itu?" Juan menatap Dean yang kaget mendengar teriakkan dua wanita.


"Dean belum melihat jelas, tapi kenapa suaranya seperti itu?" Dean meminta maaf kepada Tika karena merusak barangnya.


"Sudahlah Dean, barang seperti itu memang harus dihancurkan agar otak kotor dua wanita ini bersih." Juna menekan lift meminta kedua Adiknya masuk.


"Rindi sialan," Shin mengumpat pelan.


"Bukan punya Tika, itu punya pengantin gila." Atika masuk lift dengan kepala tertunduk.


"Semua gara-gara kamu Tika, membuat malu saja. Jika kamu tidak bertanya kepada Rindi, kita tidak mungkin berakhir begini." Shin menatap Tika, berbicara sangat pelan.


"Kamu yang bodoh, kenapa dibawa keluar kamar? tidak sekalian kamu pertontonkan di acara pesta nanti." Tika menatap tajam, mengumpat Rindi yang merusak harga dirinya.


Kaki Shin dan Tika sudah saling tendang, tangan mereka sudah saling remas. Berakhir sampai pukul-pukulan. Tangan Shin menarik baju Tika, sedangkan Tika sudah menjambak rambut.

__ADS_1


Pertengkaran tidak dielakkan, Juan dan Dean sudah menempel seperti cicak di lift. Juna dan Genta diam saja memperhatikan pertengkaran keduanya.


Rambut Shin berantakan, baju Tika sudah sobek. Suara keduanya saling mencaci terdengar menyebut penyebab rekaman ada di mereka karena kebodohan keduanya.


Pintu lift terbuka, Juna menarik tangan Juan dan Dean untuk keluar. Genta menyingkirkan dua wanita yang sama-sama berantakan, membiarkan malu sendiri.


"Astaghfirullah Al azim, Atika Shin! apa-apaan ini?" Aliya kaget melihat keduanya sudah seperti orang gila.


"Mereka berdua menonton film dewasa," Dean mengingat penyebab keduanya bertengkar di lift.


"Ya Allah, tidak tahu malu. Bukan kalian berdua yang menikah, kenapa kalian yang ingin malam pertama? balik ke kamar sekarang!" emosi Al naik menatap keduanya yang tidak pernah tahu tempat.


Shin menghentakkan kakinya, menangis memukul punggung Tika. Shin tidak menonton, Tika dan Rindi yang berulah, tapi dirinya juga yang harus menanggung malu.


"Tidak mau temenan dengan Tika lagi." Tangisan terdengar tidak peduli menjadi pusat perhatian.


"Maaf, jangan nangis. Tadi kamu juga menonton, kenapa hanya Tika yang disalahkan?"


"Shin sudah katakan untuk mematikan, pokoknya tidak mau berteman dengan Tika lagi." Shin menekan tombol lift untuk kembali ke kamarnya merapikan rambutnya yang mirip singa.


Kepala Anggun geleng-geleng, dua wanita dewasa yang tidak tahu kapan akan dewasanya. Mereka masih gadis lima belas tahun yang suka membuat masalah.


Acara pernikahan dimulai, ijab Kabul berhasil diucapkan dengan lantang dan satu kali tarikan napas, saksi juga mengatakan sah Hendrik dan Rindi resmi menjadi sepasang suami istri.


Senyuman Rindi terlihat, mencium tangan suaminya. Menatap Tika dan Shin yang melotot seperti ingin mengajaknya bertarung.


"Kalian berdua tersenyum." Isel menarik baju Tika dan Shin.


"Awas kamu Rindi, malam pertama kamu aku pastikan berantakan." Shin menatap sinis ingin balas dendam.


"Kita lihat saja, malam ini dia akan menggila karena semua jurusnya tidak akan berguna." Tika tersenyum menatap Shin yang juga tersenyum jahat untuk membalas Rindi yang mempermalukan mereka di depan pria yang dicintai.


***


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_1



__ADS_2