
Waktu cepat berlalu, Al menjalani hari-hari penuh kebahagiaan, melewati trimester pertama yang paling sulit. Al mengalami mual di pagi hari, memilih makanan, bahkan meninggalkan makanan kesukaannya dan makan hal yang tidak disukai.
Altha selalu ada mendampingi Al, memenuhi segala yang Al ingin dan Alt juga mengalami ngidam bersama.
Juna menjadi korban yang paling sengsara, saat Papinya harus kerja lembur dia yang harus menjaga Maminya yang sulit tidur malam.
Kesibukan Altha masih sama, tapi Al tidak pernah protes suaminya yang pulang terlambat. Sebelum tidur masih di sisi satu jam kemudian Altha sudah hilang.
Aliya menikmati prosesnya dan sangat memahami pekerjaan suaminya, Al juga bersyukur karena kandungannya selalu sehat, dan tidak menyusahkan.
Saat ini kandungan Al sudah memasuki bulan ke lima, dan harus melakukan pemeriksaan rutin.
"Mami, Tika tidak ingin sekolah." Suara Atika menangis terdengar.
Aliya langsung mendekati putrinya yang membuang tas, sepatu saat pulang sekolah dan langsung mengamuk sampai banting pintu.
"Ada apa Elen? kenapa Tika pulang marah?" Al menatap Helen yang memunguti tas, juga sepatu yang berhamburan.
Helen mengaruk kepalanya, menceritakan jika Tika bertengkar di sekolah dan semua orang menyalahkan dirinya, bahkan guru juga memojokkannya.
Sikap Tika dianggap kurang ajar, bahkan ada yang menyebut jika Tika tidak terdidik, karena memiliki ibu tiri yang tidak mengajarinya.
Mendengar orang lain menghina Maminya Tika tidak terima, baginya Maminya yang terbaik dan langsung mengigit tangan guru yang melerai pertengkaran.
Aliya langsung berjalan ke kamar Tika, melihat putrinya menangis sambil tengkurap. Al mengusap punggung Tika yang masih marah-marah.
"Sayang, peluk Mami." Al menatap putrinya yang menolak.
"Tika tidak bisa peluk, perut mami besar."
Aliya langsung tertawa, mengusap perutnya yang memang besar membuat Tika tidak bisa peluk lagi.
"Sini duduk dan bicara sama Mami." Al menarik tangan Tika yang tangisannya langsung kuat.
Al mengusap punggung putrinya yang nakal, jika menangis sangat menyayat hati.
Aliya tidak pernah terima siapapun menyakiti anaknya, apalagi sampai membuatnya menangis sesenggukan.
__ADS_1
"Mami akan menghukum mereka, selama Tika tidak salah." Al meminta putrinya menjelaskan dengan jujur apapun yang terjadi, dan tidak mengizinkan Tika menutupi sedikitpun.
"Tika yang salah Mami, seharusnya tidak boleh memukul orang yang lebih tua, tapi hatinya Tika sakit." Air mata menetes di pipi sampai hidung merah.
"Besok Mami akan ke sekolah dan membicarakan masalah kamu." Al menghapus air mata yang tidak berhenti menetes.
"Tidak boleh. Tika hubungi kak Di saja, nanti kakak pulang dari kuliah dan menghukum mereka semua. Mami tidak boleh pergi, Tika takut adiknya Tika terluka." Suara tangisan semakin besar, Tika menghubungi Diana yang ada di luar negeri.
Aliya hanya tersenyum memeluk putrinya yang memarahi Diana yang memintanya seharusnya mematahkan tulang belulang siapapun yang menyakiti, Tika langsung berhenti menangis.
Wanita kuat tidak pulang dengan air mata, tapi pulang dengan kemenangan. Jika tidak salah, tuntun sampai akhir keadilan, jangan pernah menangis.
Tika menghapus air matanya, menyingkirkan ponsel Maminya. Tatapan Tika tajam melihat wajahnya di kaca.
"Tika tidak akan menangis lagi, kalian tidak boleh menghina Maminya Tika. Awas saja, tidak akan Tika maafkan kalian." Tangan Tika menunjuk diri sendiri, menyemburkan ingus ke arah kaca.
Aliya mengambil tisu, membersihkan wajah putrinya memutar tubuh Tika ke arahnya.
Al menasihati Tika agar tidak menyimpan dendam, wanita kuat bukan hanya menunjukkan betapa kuatnya dirinya, tapi dia wanita yang mandiri, bisa menjaga kehormatannya juga keluarganya.
Biarkan orang-orang menghina, buktikan jika apa yang orang katakan bukan kelemahan, tunjukkan betapa bahagianya kita.
"Dia mengatakan ibu tiri kejam, dan Mami Tika wanita jahat."
"Lalu apa yang Tika lakukan?" Al tersenyum melihat wajah kesal putrinya.
Tika menceritakan jika dia memukul kepala teman sekelasnya menggunakan kotak pensil, bukan hanya satu kali tetapi bekali-kali sampai jatuh.
Guru juga memarahi Tika memaksa untuk meminta maaf karena sudah membuat temannya terluka.
"Jangan mengangkat tangan kamu, jika belum dipukul lebih dulu. Saat orang mulai menyentuh tubuh kamu, lawan dia sampai akhir. Jika keluarganya ikut campur, katakan kepada Mami. Dia hanya perlu memilih rumah sakit atau kuburan." Al menatap tajam mata putrinya yang juga menatapnya tajam.
Kepala Atika menganggu mengerti, dan tidak akan pernah menangis hanya karena tidak ada yang membelanya. Tika memiliki Maminya yang selalu ada di sisinya.
"Jika mereka mengejek Tika, apa Tika harus diam saja?"
"Katakan pada mereka, apa ibu kamu pernah marah, memukul, membentak, menolak apapun yang diinginkan. Jika iya, kita berbeda. Level kita tidak sama, karena maminya Tika hanya satu-satunya teman, Sahabat yang tidak akan pernah menyakiti dan meninggalkan." Al mengerutkan keningnya sambil tertawa.
__ADS_1
Tika cemberut karena Aliya bicara terlalu cepat dan sangat panjang sehingga Tika kesulitan menghafalnya, langsung menulis apapun yang Maminya ajarkan.
Wajah Tika langsung terkejut, berlari keluar kamar mencari tasnya yang dia lempar sembarang arah.
Al mengikuti langkah Tika yang berteriak memanggil Elen mempertanyakan keberadaan tasnya.
"Ada apa di dalam tas?" Al menyerahkan tas kecil yang sudah amburadul ditendang Tika.
"Haduh rusak." Tika mengerutkan keningnya melihat rujak buah yang dia beli untuk Anggun.
Suara Aliya dan Helen tertawa terdengar melihat tas Tika sudah basah dan bau rujak buah, dan di dalam tas sudah berhamburan banyak macam buah.
"Bagaimana ini Mami?" Tika berteriak meminta Maminya berhenti tertawa.
"Kenapa kamu membeli rujak buah? Mami tidak mengidam lagi sayang." Al meminta Helen menyingkirkan tas Tika.
Tika menceritakan jika kemarin dia melihat Anggun menelan ludah saat melihat mangga yang belum masak, tapi tidak bisa dimakan karena masih sangat kecil.
Merasa kasihan melihat Anggun yang sedang hamil muda, juga tidak ada yang menjaga, karena Diana masih kuliah.
"Gagal rencana Tika membelikan dedek bayi makanan buah." Wajah Tika terlihat sedih.
Arjuna muncul, dia baru pulang sekolah dan memeluk Maminya yang tersenyum melihat putranya pulang.
"Tik, berikan ini kepada Aunty Anggun." Juna menyerahkan rujak buah dan beberapa mangga muda.
"Aunty Anggun menitip buah kepada kamu Jun?"
Kepala Juna menggeleng, dia hanya melihat rujak buah dan langsung mengingat Anggun yang sedang melewati kehamilan trimester awal seperti maminya dulu yang menyukai buah asam.
Aliya tersenyum melihat putra dan putrinya yang sangat peduli tanpa harus diminta langsung inisiatif sendiri.
"Mami juga ingin Juna belikan?"
"Tidak sayang, kalian berdua bersiap-siap untuk periksa dedeknya." Al tersenyum melihat Tika dan Juna yang bersemangat ingin ke dokter untuk melihat perkembangan adiknya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara