
Matahari bersinar cerah, Shin dan Tika masih terlelap tidur. Rencana melihat matahari bersinar gagal total.
Panggilan ponsel Tika terdengar, Shin langsung mengambil dan menjawabnya. Mata masih tertutup rapat, Al sudah berteriak meminta Shin bangun.
"Halo." Shin meletakkan di telinganya.
[Mami tidak ingin melihat isi dalam telinga kamu Shin.] Suara teriakan Al sangat besar membuat Tika langsung bangun.
Tika mengambil ponselnya dari telinga Shin, melihat wajah Maminya yang terlihat kesal. Ceramah Aliya akhirnya terdengar membuat Tika mengusap wajahnya.
"Shin bangun, matahari terbit sudah hilang." Tangan Tika memukul kepala Shin pelan.
"Lalu kita harus melihat matahari apa?" Shin memeluk Tika, lanjut tidur sambil memeluk Tika.
Suara Aliya marah-marah masih terdengar, seluruh orang di rumah khawatir mencari dua wanita yang menghilang dari pagi sampai pagi tidak memberikan kabar.
Shin baru saja keluar dari rumah sakit, bukan pulang ke rumah beristirahat tetapi lanjut lagi bermain. Al juga memarahi Tika yang diberikan kepercayaan untuk mengurus perusahaan, tetapi dia sibuk kelayapan.
Perusahaan terbengkalai, tidak ada tanggung jawab sama sekali. Al meminta keduanya pulang, tidak menerima alasan apapun.
"Mami Al masih pagi sudah marah?" Shin menatap Tika yang memejamkan mata masih mengantuk.
"Mami bukan marah, hanya bernyanyi di pagi hari." Senyuman Tika terlihat.
[Bangun kalian berdua, Mami tidak bercanda. Pulang sekarang. Tidur di hotel, untung sama-sama perempuan, jika tidak pasti ada yang hamil. Mami masih muda tidak pernah tidur di hotel bersama teman.] Al menatap suaminya yang tertawa, Alt menganggukkan kepalanya jika istrinya tidak tidur dengan teman wanita tetapi pria yang baru dikenal.
Panggilan mati, Tika mengecek jam sudah hampir tengah hari. Perutnya juga mulai lapar, Tika berdiri di atas ranjang menginjak tubuh Shin langsung bergegas mandi.
"Aduh sakit ... aku tidak tertarik sama kamu Tika, jika ada Ay Jun mending tidur bersama dia." Shin memeluk guling lanjut memejamkan matanya.
Atika menghentikan langkahnya, menatap Shin yang bicara sembarangan. Tika mengusap telinganya yang salah pendengaran karena masih mengantuk.
Selesai bersiap-siap, Shin dan Tika langsung melangkah keluar hotel. Keduanya tertawa karena pergi membawa mobil Genta.
"Aku bayar hotel dulu, kamu tunggu di mobil." Tika memberikan tas laptopnya, meminta Shin menunggu di luar.
Suara langkah kaki terdengar, wanita seksi dan cantik berdiri di samping Tika. Usianya sudah tua, tetapi kecantikannya masih luar biasa karena kehebatan operasi wajah.
Tatapan Tika tajam, mengambil sesuatu dari balik ponselnya menempelkan pelacak di tas perempuan yang ingin menyewa hotel.
__ADS_1
Atika langsung melangkah pergi, melihat Shin yang sudah ada di dalam mobil. Tika meletakkan tasnya, melihat mata Shin yang menatap tajam.
"Kamu baru saja bertemu Irish, dia akan menyewa hotel untuk sesuatu." Shin melihat Tika yang tersenyum manis.
"Aku tahu, di sini aku yang mempunyai pengalaman mengejar penjahat." Tika memonyongkan bibirnya ingin mencium Shin.
Mereka belum berencana mencari, tetapi target mendekat secara sukarela. Tika menyukai pertemuan yang tidak terduga.
"Ayo kita pergi."
"Tunggu." Shin mengambil sesuatu dari tas Tika, melangkah keluar mobil.
Tanpa sengaja Shin menabrak seorang pria, menempelkan perekam di jam tangan yang hanya bisa Tika yang mengontrolnya.
Shin meminta maaf, dirinya tidak sengaja karena terburu-buru. Pria yang Shin tabrak menatap wajah cantik Shin yang sangat mempesona.
"Siapa nama kamu?"
"Dewi kematian." Shin tersenyum sinis, mengibas rambutnya merasa jijik.
Atika di dalam mobil sudah tertawa lepas, merasa lucu dengan tingkah laku sahabatnya yang selalu kesal dengan pria genit. Shin wanita anti digombal.
"Siapa dia?" mobil yang Tika kendarai melaju pergi.
Kedua bahu Shin terangkat, tanpa sengaja Shin melihat Maminya keluar dari mobil yang sama dengan pria yang Shin tabrak. Maminya masuk lebih dulu, sedangkan pria melakukan panggilan.
Shin mendengar pembicaraan jika penjagaan Irish sangat ketat, sebelum mereka tiba di hotel sudah diselidiki terlebih dahulu siapa saja yang menginap dan pernah datang ke hotel.
Harapan untuk menemukan Melly sangat kecil, tapi Shin tidak ingin menyerah. Meksipun lawan hebat, pasti memiliki kelemahan.
"Aku rasa Mami Irish juga tahu kita sebelumnya menginap di hotel."
"Jangan khawatir, tujuan aku membeli laptop untuk menghilangkan jejak kita, kehadiran kita tidak terekam di CCTV karena aku sudah mengambil alih." Tika tersenyum manis.
Rencana Tika hanya menjaga keamanan identitasnya, juga menjaga Shin agar tidak diketahui keberadaannya. Tidak pernah disangka, jika akhirnya bisa menemukan Irish.
"Apa rencana kita Tik?"
Sebelum mendekati Melly, Tika ingin mengetahui terlebih dahulu kelebihan dan kekurangan lawan baik dari keamanan, kelemahan dan cara kerja Melly, Irish dan Rindi.
__ADS_1
Dalam hubungan keluarga saja masih ada perbedaan apalagi di dalam sebuah grup yang berisikan beberapa orang kuat, dan memiliki emosi masing-masing.
Tika tidak akan membiarkan adanya kesalahan dalam pergerakannya, selain membantu Shin Tika ingin menyelesaikan masalah lama bersama Melly.
"Aku akan mengajari kamu beberapa hal Shin, aku harap kita bisa menjadi tim yang saling mengandalkan. Saat di pertarungan bukan hanya sebagai lawan tetapi juga kawan." Tika berjabatan dengan Shin yang sangat mempercayai Tika.
Sepanjang perjalanan Shin makan sambil mengawasi pergerakan Irish di dalam hotel. Tika bukan hanya memasang pelacak tetapi juga menyadap pembicaraan bahkan mereka bisa melihat apa yang di lakukan Irish.
Pembicaraan Irish dan pria yang bersamanya tidak terlalu penting, Shin berdehem melihat adegan selanjutnya yang ada unsur-unsur dewasa.
"Tika, mereka masuk ke babak selanjutnya. Apa aku harus melihatnya?" Shin menutup mulutnya yang masih belum tersentuh.
"Nonton sampai habis saja, setelah melihatnya kamu tahu cara membuat anak." Tika menahan tawa melihat wajah sahabatnya yang bodoh.
Shin berteriak, menyentuh dadanya yang pastinya sakit sekali jika dipegang kuat-kuat. Tawa Tika terdengar mematikan rekaman, merasa konyol dengan tingkah Shin.
"Orang bodoh sama polos beda tipis." Tawa Tika tidak bisa berhenti.
"Apa setelah menikah juga harus begitu? pasti sakit sekali, tidak bisa dilewatkan saja." Tubuh Shin merinding membayangkan Juna menyentuhnya langsung cepat memukul wajahnya.
"Dasar bodoh. Kamu harus memberikannya jika tidak suami kamu bisa diambil wanita lain."
"Ajarkan aku Tik, memangnya kamu tahu soal pernikahan?"
Tawa Tika semakin besar, dirinya tidak harus belajar karena mengikuti naluri saja. Jika Tika sudah memutuskan untuk mencintai seseorang, sudah pasti menginginkan hubungan lebih pada kenyataannya bukan hanya laki-laki yang butuh, perempuan juga membutuhkannya.
"Shin takut."
"Jika kamu takut, jangan menikah. Nonton saja." Tika menutup wajahnya.
"Shin juga mau menikah, mempunyai anak dan merasakannya, tetapi malu." Shin tersenyum menatap Tika yang tidak berhenti tertawa.
"Jangan malu, apa yang sudah menjadi hak milik harus dikuasai." Tika dan Shin terdiam mendengar suara dari balik rekaman.
Tawa keduanya terdengar, langsung mematikan suara karena merasa geli.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1