
Suara langkah kaki berlari terdengar, Shin menghentikan langkahnya saat melihat Arjuna yang duduk di bawah pohon sambil membaca buku medis. Melihat Juna yang duduk tenang dengan posisi santai semakin membuatnya terpesona.
Senyuman Shin terlihat melangkah pelan mendekati Juna yang masih fokus melihat bukunya, di saat libur bekerja saja masih menyempatkan diri membaca buku.
"Selamat pagi Ay Jun." Shin duduk di samping Juna yang tidak melirik sedikitpun.
Suara kucing terdengar mendekati Juna, tatapan Shin langsung tajam. Wajah Juna melihat ke arah Shin yang memicingkan mata, berjalan mendekati kucing.
"Shin ... jangan." Mulut Juna terbuka merasa cemas.
Kepala Shin menoleh ke arah Juna yang sudah berdiri, pelukan Shin lembut kepada anak kucing yang terus mengeong. Kucing diusap, dicium bahkan di peluk penuh kasih sayang.
Shin berjalan mendekati Juna yang sudah duduk kembali, suara Shin bermain dengan kucing penuh kelembutan membuat Juna tidak konsentrasi membaca.
"Bisa kamu pergi, menganggu." Juna bergeser, berharap Shin pergi.
"Maafkan Shin, kucing ini kasihan sekali Ay Jun. Dia tidak punya Mama sama seperti Shin." Ekspresi senyuman menyimpan kesedihan terlihat, pelukan lembut bisa Juna rasakan.
Pelan-pelan Juna menatap anak kucing yang memiliki luka, Shin menunjukkan kepada Juna agar segera diobati karena anak kucing tidak memiliki orang tua dan keluarga.
"Aku bukan Dokter hewan, bagaimana bisa aku mengobatinya?"
"Shin juga bukan Dokter, Shin hanya tahu cara masak. Lalu bagaimana ini? dia harus diobati." Bibir Shin monyong karena sedih.
"Kamu tunggu di sini, aku mengambil mobil terlebih dahulu. Kita ke dokter hewan." Juna menutup bukunya, berlari pulang mengambil mobil.
Senyuman Shin terlihat, menciumi anak kucing untuk segera ke Dokter hewan. Melihat mobil Juna, Shin langsung berlari mendekati mobil.
"Buku Ay Jun, Shin letakkan di sini. Ayo kita ke dokter Papa Jun." Tawa Shin terdengar mendengar Juna protes soal panggilan karena dirinya manusia bukan hewan.
"Aku tidak terlalu menyukai hewan." Dorongan tangan Juna terasa menjauhkan kucing.
"Papa Jun tidak suka sama Shisha?"
"Shisha, siapa?"
Shin melambaikan tangan anak kucing yang mengeong, mata Juna berkedip-kedip tidak percaya Shin menjelaskan soal jenis kelamin kucingnya.
Bertemu sesaat sudah mengetahui jenis kelamin, tubuh kucing diangkat oleh Shin menunjukkan jenis kelamin kucing perempuan.
"Nanti kalau Shisha jatuh cinta, punya pacar, dan hamil lalu melahirkan Papa Jun jadi kakek." Suara tawa Shin terdengar melihat ekspresi kesal Juna yang memalingkan wajahnya.
Senyuman Shin terlihat sepanjang jalan, merasa bahagia pagi-pagi berencana jalan santai dan berakhir bertemu takdirnya. Alam juga mendukung menghadirkan kucing kecil menjadikan alasan dirinya bisa bersama.
"Kamu menyayangi hewan?" Juna memulai pembicaraan lebih dulu.
__ADS_1
Kepala Shin mengangguk, dirinya sangat menyukai hewan, tumbuhan, segala hal yang ada di muka bumi sangat Shin sukai.
"Apa yang tidak kamu sukai?"
"Kekerasan, pelecehan, menghakimi, merendahkan dan menyakiti orang yang lemah." Senyuman Shin terlihat, Shin tidak menyukai segala hal yang merugikan orang lain.
Shin sangat menyayangi hewan, tetapi segala sesuatu yang dirinya sayangi pada akhirnya mati secara tragis. Shin tidak tahu siapa yang melakukannya, tetapi semua orang mengatakan jika dirinya yang melakukan.
"Aku sedih sekali, sangat menyakitkan jika diingat," ucap Shin menahan air matanya.
Juna berdehem, menghentikan mobilnya setelah sampai di tempat Dokter hewan. Shin keluar sambil menggendong kucingnya. Juna berjalan di depan mempersilahkan Shin masuk.
"Arjuna, hai Bro. Sejak kapan kamu kembali?" seorang Dokter menepuk pundak Juna.
"Sudah lama," jawab Juna singkat.
Dokter Rizal tersenyum melihat wanita cantik yang berdiri di belakang Juna sambil menggendong kucing kecil, senyuman manis Shin membuat Dokter Rizal terpesona.
Tatapan Dokter Rizal melihat Juna yang sangat pintar memilih kekasih, melihat ketampanan dan kecantikan membuat iri semua orang.
"Kapan mengundang? secepatnya dihalalkan sebelum ada yang menikung. Aku pikir wanita tercantik Atika, ternyata ada lagi. Keluarga kamu memang perkumpulan para bidadari." Tawa Dokter Rizal terdengar.
Juna menatap Shin untuk menyerahkan kucingnya, dirinya tidak betah bicara berlama-lama dengan Dokter genit yang setiap hari bertemu hewan.
"Shishio!" Juna menepis tangan Rizal yang ingin menyentuh tangan Shin.
"Namanya Shisha, dia cewek. Kasihan anak Mama, Papa nakal sampai lupa nama kamu." Shin melihat Juna yang sudah melangkah pergi tidak ingin mendengarkan ocehan Shin.
Suara tawa Rizal terdengar, sejak kecil Juna masih belum juga berubah. Sikapnya yang dingin dan keras kepala terlalu sempurna, dan tidak pernah menunjukkan kepeduliannya.
Rizal mengambil kucing Shin, melihat luka di kakinya yang sudah membusuk. Rizal tersenyum melihat Shin yang sangat menyayangi binatang.
"Kamu hebat bisa menaklukkan manusia es seperti Juna?" Rizal menatap Shin yang terdiam binggung.
"Dokter mengenal baik Ay Jun?"
Dokter Rizal menganggukkan kepalanya, dirinya mengenal Juna sejak mereka masih kecil. Rizal bahkan mengenali ibu kandung Juna yang berkelas, cantik juga sangat dihormati.
Juna anak yang baik, tetapi sejak Mama dan Papanya berpisah Juna berubah menjadi anak yang sangat dingin, cuek, pemarah dan tidak stabil.
"Juna sangat terpukul atas perpisahan kedua orangtuanya, meksipun ibu tirinya tidak kalah cantik juga sangat baik. Hubungannya dengan Juna sangat dekat." Sikap Juna yang menutup, membuat Rizal dan Juna semakin jauh. Hanya sebatas saling sapa.
"Ay Jun akan kembali menjadi seseorang yang ceria, dan tidak mudah marah lagi. Shin yakin hari itu akan datang." Senyuman manis Shin terlihat meyakinkan Dokter Rizal.
"Jangan tersenyum cantik, nanti aku jatuh cinta." Tawa Rizal terdengar gemes melihat wajah Shin.
__ADS_1
"Selesaikan tugas kamu, berhentilah menggoda. Aku tidak punya waktu untuk menunggu kalian berdua." Tatapan mata Juna tajam, memukul punggung Rizal yang banyak bicara.
Melihat Juna yang marah membuat Rizal semakin tertawa, terlalu unik melihat Juna yang posesif. Bukan hanya Tika, Ria, dan Isel yang dijaga, ditambah lagi satu wanita cantik.
Shin tersenyum kecil, menundukkan kepala tidak berani melawan tatapan Juna yang marah. Shin diminta mundur, Juna membantu Rizal untuk merawat kucing.
Cukup lama Shin menunggu barulah Juna keluar, Shin menatap kucing yang masih harus menginap karena butuh pemulihan. Air mata Shin menetes, tidak ingin pulang tanpa membawa Shisha.
Tatapan tajam Juna menghentikan rengekan Shin, menarik tangannya untuk keluar. Pintu mobil terbuka, Juna memaksa masuk.
"Shisha, Mama pulang dulu. Jangan nakal sayang." Air mata menetes di pipi membuat Juna menghela nafasnya bekali-kali.
Dokter Rizal melambaikan tangan, meminta Shin berhati-hati pulang dan memintanya harus sering main ke tempatnya.
Belum selesai Shin bicara, mobil sudah melaju pergi. Juna menatap tajam ke arah depan.
"Ay Jun," panggil Shin pelan.
"Apa lagi?"
"Ayo kita sarapan, Shin lapar." Kedua tangan Shin terlipat memohon.
***
SUAMIKU MASIH ABG
BIANKA DAN MAFIA KEJAM
MENGEJAR CINTA OM DUREN
MUTIARA & KRISTAL
DENDAM ANAK TIRI
ISTRI BAYARAN BAR-BAR
IBU PENGGANTI
ANTARA AKU KAMU DAN DIA
Author mengucapkan Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Selamat merayakan hari raya idul Fitri semuanya.
***
Di kasih sedikit moments romantis, sebelum kita konflik lagi.
__ADS_1