ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KASUS PANTI


__ADS_3

Kabar soal masalah di panti sampai di telinga Altha, bukan hanya Genta yang turun tangan Gemal dan Yandi juga berada di sana untuk menemukan titik masalah utamanya.


"Al, kamu menyumbangkan apa ke panti?"


"Apa Kak Alt?" Aliya berjalan mendekati suaminya, memeluk pinggang Altha.


Altha mengulangi ucapannya, penyelidikan belum usai tapi Aliya sudah memberikan bantuan.


"Maafkan Aliya, Papi tahu sendiri jika Mami tidak bisa menolak keinginan Tika." Aliya menjelaskan jika Atika meminta bantuan secara langsung untuk mengirim bahan makanan pokok, pakaian, juga obat.


"Masih pagi kalian sudah pelukan." Dimas geleng-geleng kepala meminta izin untuk berbicara dengan Altha.


"Ingin membicarakan soal apa?" Al merasakan penasaran.


"Jangan kepo Aliya, urus saja produk kecantikan kamu sekalian ratu tidur." Dimas tersenyum melihat Ria bangun siang padahal harus sekolah.


Altha dan Dimas masuk ke dalam ruangan pribadi yang biasanya Altha gunakan untuk rapat bersama tim yang bekerja secara rahasia.


"Apa ini soal kasus panti?"


"Iya,"


Dimas duduk, memberikan flashdisk membuka data yang sudah dikirimkan oleh menantunya soal kasus terakhir di panti.


Pemilik panti terdahulu salah satu orang penting yang bekerja di pemerintahan, dia terkenal dengan kecerdasan juga kedermawanan. Segala kekayaan di belikan tanah kosong berhektar-hektar, membangun perkebunan juga rumah mewah di tengahnya.


Dia memberikan kehidupan layak untuk masyarakat sekitar, sehingga suatu hari dia membawa lima anak-anak bertemu istrinya.


Keluarga mereka tidak memiliki keturunan, dan semua anak angkat dibesarkan layaknya anak kandung. Waktu terus berlalu, satu-persatu anak-anak yang tidak memiliki orang tua ikut bersama sepasang suami-istri.


"Ke mana suaminya sekarang, aku tidak mendapatkan laporan keberadaannya?"


"Dia sudah meninggal, dan tiga anak asuhnya juga meninggal. Masalahnya di sini satu dari anak asuh berjuang untuk menjual tanah, dan berlawanan dengan Ibunya." Dimas menunjukkan laporan lain.


"Apa pemerintah terlibat? bagaimana dengan kepolisian?"

__ADS_1


"Mereka semua terlibat, menginginkan lahan untuk dibangun rumah sakit, tapi Ibu panti menolak karena tanah itu akan menjadi tempat pemakaman suaminya juga dirinya." Dimas menghela napasnya.


"Jadi, apa yang dilakukan tim di sana?"


"Ini daftar orang-orang yang diselidiki?"


Pikulan meja kuat, tatapan Altha tajam melihat Dimas yang sudah terdiam. Alt menghubungi Yandi memintanya menarik tim.


"Kasus seperti ini membuat kalian memakan waktu yang lama? apa yang kalian urus?"


"Bukan begitu, masalahnya ...."


"Masalahnya kalian takut mencoret nama baik orang-orang penting, menjaga identitas juga pekerjaan mereka. Kita tidak bekerja untuk menyenangkan orang-orang kaya dan berkuasa, tugas kita melindungi orang-orang yang dijatuhkan, direndahkan, dan teraniaya." Alt menatap Dimas, Gemal, Yandi dan Genta yang hadir dalam rapat melalui video.


"Maafkan kita Pak, tapi setidaknya kita harus memiliki bukti agar bisa melindungi panti." Genta menjelaskan pendapatnya. Bukan niat melindungi, hanya saja tidak ingin melukai hati ibu panti jika dia tahu anaknya yang menjual panti berserta tanahnya.


"Genta, lebih baik terluka karena fakta daripada tidak tahu betapa buruknya anaknya dan selanjutnya mencari korban lain. Cukup satu korban, jangan tambah lagi. Satu kali hukuman belum tentu membuat seseorang meninggalkan kejahatan, apalagi kamu membebaskan dengan alasan menjaga perasaan. Salah tetap salah, sekalian Putra atau putrimu hukum mereka selayaknya agar kamu tahu tugas sebagai orangtua." Nada Altha tegas menatap Genta yang menganggukkan kepalanya.


Seluruh tim diminta kembali, Altha meminta tim lain untuk menahan siapapun yang terlibat. Tidak peduli pangkat maupun jabatan, baginya merampas juga menghalangi rezeki orang tetap salah.


"Alt, kamu masih belum berubah. Terkadang anak muda memiliki pemikiran sendiri, begitulah kamu saat muda dulu. Di panti bukan hanya ada Tika, namun Shin dan Ana juga. Kondisi Ana tidak baik, dia mengalami ketakutan dan rasa bersalah." Dimas menceritakan kembali musibah yang menimpa Ana, bersyukurnya dia pergi bersama Tika dan Shin.


***


Di panti berderai air mata, Genta menceritakan soal Putra angkat ibu panti yang berkhianat. Dia menjual panti, bekerja dengan pemerintah, mengendalikan kepolisian. Genta akan menahan siapapun yang terlibat, termasuk Putra Ibu panti.


"Bu, harus kuat menjaga anak-anak di sini, mereka membutuhkan orang-orang baik untuk melindungi mereka." Genta menggenggam tangan menguatkan.


"Terima kasih atas bantuannya, kami tidak takut lagi untuk keluar. Anak-anak bisa sekolah lagi karena jalanan sudah dibuka." Ibu panti mencium tangan Genta, sangat bersyukur atas keadilan yang diberikan.


"Iya Bu, jika ada masalah apapun laporan kepada saya. Ini nomor pribadi, dan Genta siap datang apapun yang ibu butuhkan." Genta menyerahkan kartu namanya.


"Nama yang indah, kamu anak baik dan semoga kebaikan menyertai kamu,"


"Doakan Bu agar kita segera menikah, jangan sampai Ibu berniat menjodohkan dengan anak panti, siap-siap saja perang dengan Tika." Kedua tangan Tika terlipat di dadanya, tatapan matanya sinis.

__ADS_1


"Atika, jaga ucapan,"


"Tidak mau, dari tadi pegangan tangan terus." Tika semakin kesal melihat tangan Genta.


"Dia calon istri kamu, dia anak baik juga penyayang,"


"Iya Bu, maafkan ucapan Tika. Genta pamit, dan akan menyempatkan waktu untuk berkunjung." Senyuman Genta terlihat, merangkul Tika yang cemburu dengan wanita tua.


Dari kejauhan Gemal memperhatikan Shin yang duduk di bawah pohon sambil menghitung jarinya, berkali-kali diulangi terus.


"Orang pintar terkadang ada saat bodohnya." Gemal menatap Yandi yang sedang menasihati adik iparnya untuk tenang.


Ana masih merasa bersalah karena membahayakan Tika dan Shin, dia tidak bisa membantu apapun meyelamatkan dirinya sendiri.


"Hana, jangan mencemaskan mereka. Kamu harus terbiasa dengan kegilaan dua anak ini, apalagi jika kamu menikah dengan Juna. Siap-siap saja menjadi wanita gila." Gemal berdiri berjalan ke arah Shin yang masih seperti orang bodoh.


Tangan Gemal bertolak pinggang dihadapannya Shin yang masih melamun menunjukkan kelima jarinya.


"Satu, dua, tiga ... lima, jari kamu utuh tidak ada yang kurang Shin,"


"Kak Shin masih penasaran, tiga anak meninggal, satunya dalang dari penjualan panti, ini anak angkatnya sudah empat. Anak angkatnya seharusnya ada lima, lalu di mana satunya? dia tidak disebutkan keberadaannya." Shin menatap tajam memikirkan anak angkat satunya.


"Benar juga, kenapa dia tidak ada?"


Suara tangisan terdengar, seorang wanita berhijab dengan pakaian yang sangat tertutup menangis histeris memeluk anak-anak panti karena mengkhawatirkannya.


"Dia siapa?" Shin menunjuk ke arah wanita yang baru datang dan memeluk Ana juga.


"Dia temannya Ana, tujuan Hana ke sini untuk menemui dia," Gemal tersenyum melihat dua sahabat berpelukan sambil menangis.


***


follow Ig Vhiaazaira


***

__ADS_1


sebenarnya tidak banyak konflik lagi di sini, jadi jangan khawatir. Ini hanya masalah kecil untuk membocorkan hubungan Genta, juga menghadirkan sosok Ana.


__ADS_2