
Suara klakson mobil terdengar, tatapan mata Tika sinis saat ada mobil yang mengganggunya sedang berjalan sendirian.
Kaca mobil terbuka, Atika kaget melihat Genta memintanya untuk masuk ke dalam mobil sebelum hari semakin sore dan tiba malam.
"Mau ke mana?"
"Ikut saja,"
"Tika, memanggil Shin terlebih dahulu." Langkah Tika terhenti saat pergelangan tangannya ditahan untuk masuk ke dalam mobil.
"Hanya berdua,"
Wajah Tika langsung panik, dirinya belum ganti baju dan bermake-up. Genta terlalu dadakan sehingga dirinya tidak bisa terlihat lebih cantik.
Suara Tika mengkritik penampilannya terdengar, tatapan Genta sampai memperhatikan melihat di mana kekurangan yang Tika maksud.
"Kamu cantik, tanpa harus di poles lagi." Senyuman Genta terlihat merapikan rambut Tika.
"Cantik dari mana? lihat bibir Tika pucat tanpa lipstik, mata Tika juga, pipi Tika tidak ada pemanis sama sekali." Bibir Tika monyong, meminta Genta membelikan alat make-up dirinya tidak percaya diri berjalan dengan pria tampan namun dirinya seperti gembel.
Genta menatap jam tangannya, dia juga tidak tahu toko kosmetik untuk Tika yang tidak percaya diri keluar tanpa make up.
"Kamu tunggu di sini,"
Tatapan Tika memperhatikan wajahnya yang sebenarnya tetap cantik, namun tanpa lipstik maka secantik apapun tidak mungkin cantik.
Pintu mobil terbuka, Genta menyerahkan sebungkus peralatan make up. Melihat isinya Tika tertawa lepas, lelaki memang bodoh memilih alat make up harganya sangat tinggi dengan paket lengkap padahal Tika tidak membutuhkan semuanya.
"Sekarang apa yang lucu?" Genta menjalankan mobilnya.
"Tidak ada, terima kasih Om." Tika mengambil beberapa yang diperlukan, memakainya ke wajahnya.
Kepala Genta geleng-geleng, matahari terbenam sudah hampir selesai. Harapnya untuk melihat bersama Tika bisa gagal.
Senyuman Tika terlihat, dirinya baru tahu jika ada tempat yang sangat indah untuk bersenang-senang. Jauh dari pantai, namun bisa melihat hamparan pasir sambil melihat matahari terbenam.
Mobil Genta berjalan di hamparan pasir, penutup kepala di buka. Atika langsung berdiri memotret keindahan matahari terbenam.
"Seharusnya bisa lebih indah dari ini." Senyuman Genta terlihat memelankan laju mobilnya.
__ADS_1
"Ini sudah indah sekali Om, rasanya hati Tika damai." Kedua tangan Tika terentang, meminta Genta menghentikan mobil.
Mobil berhenti di tengah hamparan pasir, langit juga sudah berubah menjadi warna jingga kemerahan. Genta langsung naik ke atas mobilnya, menyambut tangan Tika untuk duduk di sampingnya.
Senyuman keduanya terus terlihat mengagumi indahnya pemandangan di depan mata, sesekali Tika melirik ke arah Genta yang duduk santai sambil tersenyum.
"Om pernah pacaran?"
Tatapan Genta masih fokus melihat ke arah depannya, mengabaikan pertanyaan Tika yang tidak masuk akal. Genta tidak punya waktu untuk berpacaran, jangankan pacaran dia tidak punya kesempatan hanya sekedar berkenalan dengan wanita.
Tangan Tika merapikan rambut Genta yang menutupi matanya, ada pasir di pipinya yang terlihat mengotori wajah tampannya.
"Kamu pernah pacaran?"
Tawa Tika terdengar, menggelengkan kepalanya karena dirinya tidak punya waktu untuk berpacaran. Tidak ada lelaki yang bisa membuatnya tertarik, karena bersenang-senang dengan Shin jauh lebih menyenangkan.
Shin bisa. menjadi musuh, kawan, lawan, sahabat, Ibu, Kakak, maka tidak ada lelaki yang bisa melebihi dia untuk melengkapi hidup Tika.
"Bukannya kalian pernah berpisah selama tiga tahun?"
"Siapa yang mengatakannya? aku selalu datang mengunjungi Shin dan begitupun sebaliknya. Hanya saja kita mengawasi, tidak bersama-sama. Ada misi masing-masing saat itu harus kita selesaikan." Tika meletakkan kepalanya di pundak Genta.
"Kenapa Om canggung sekali? Tika tidak akan makan orang." Tawa kecil Tika terdengar, menatap tangan Genta yang ada di pinggang.
"Ini aneh, aku tidak terbiasa." Satu tangan Genta mengacak-acak rambutnya.
"Hanya satu malam sampai misi kita selesai, mungkin setelah ini kita tidak bisa bersama lagi. Om tua dengan kesibukan Om, dan Tika akan mulai kembali mencari kebebasan." Tatapan Tika terlihat tulus, mendengar ucapan Tika membuat hati Genta tidak nyaman.
"Kamu benar, hanya satu malam. Ini juga hanya sekedar misi." Senyuman Genta terlihat, mengusap lengan Tika yang duduk di sampingnya.
Suasana hening sampai langit yang berwarna jingga menghilang, pelukan Tika juga sudah erat di pinggang Genta tanpa mendapatkan penolakan.
"Tik, ini pertama kalinya aku bersama wanita sedekat ini. Bahkan sudah beberapa kali diminta menjalankan misi bersama wanita aku menolaknya." Genta mengusap dadanya.
"Kenapa? Om takut apa?"
"Bukan takut, hanya tidak nyaman saja. Apa kamu merasa nyaman?"
Kepala Tika mengangguk, dirinya juga sepemikiran jika lelaki terlalu membuat repot, tapi bersama Genta tidak membuat Tika merasakannya.
__ADS_1
"Tik, jantung aku deg-degan. Sebaiknya kita mencari makan." Tangan Genta melepaskan pinggang Tika, memalingkan pandangannya.
Melihat sikap pria disampingnya mulai gelisah, bukan membuat Tika menjauh tetapi sikap jahilnya semakin kumat, jika Genta tidak memiliki keberanian melangkah selangkah lebih maju ke arahnya maka Tika yang akan melakukannya.
"Om, tatap mata Tika sebentar saja." Wajah Genta disentuh untuk melihat ke arah Tika yang sedang menahan tawa.
Kedua tangan Genta mendadak dingin, menatap mata indah milik Tika. Wajah Tika mendekati, hidungnya menyentuh hidung mancung Genta.
Mata keduanya terpejam, napas saling terasa setiap dihembuskan. Kedua tangan Tika masih menyentuh wajah pria dingin dihadapannya. Tika menyadari kedua tangan Genta dingin dan bergetar.
"I love you," ucap Tika sambil tersenyum.
Mata Genta langsung terbuka, melangkah mundur menjauhi Tika sampai terjun dari mobil. Tawa Tika terdengar melihat respon Genta yang berlebihan.
"Aku rasa kita sudah melewati batas, kita sudahi misi sampai di sini." Genta meminta Tika turun karena hari sudah gelap.
Suara kaki Tika lompat terdengar, menganggukkan kepalanya memahami jika misi mereka sudah berakhir sesuai yang Genta katakan.
"Selamat tinggal Om, ini mungkin kebersamaan pertama dan terakhir kita." Tangan Tika terulur, berjabatan tangan dengan pria yang sudah membuatnya jatuh cinta, namun Tika sadar tidak bisa memilikinya.
"Ayo kita mencari makan." Genta membukakan pintu mobil.
Atika berjalan meninggalkan Genta begitu saja, tidak mengeluarkan sepatah katapun meksipun Genta berteriak memanggilnya hanya lambaian tangan yang Tika berikan.
"Atika, kamu tidak tahu lokasi sini." Genta berlari mengejar langkah Tika yang terlihat santai.
"Aku membenci perasaan yang tidak bisa memiliki," hati Tika terasa perih karena menginginkan pria yang disukainya namun tidak membalas balik.
"Kamu mendengar aku tidak, ini sudah malam." Tangan Genta menarik kuat.
"Jaga sikap kamu Genta, aku Putrinya Altha yang tidak boleh sembarang disentuh." Tika menepis tangan Genta untuk menjauhinya.
"Terserah, keamanan dan keselamatan kamu menjadi tanggung jawab aku." Genta menggenggam jari-jemari Tika untuk berjalan bersamanya kembali ke mobil.
"Lepaskan aku Genta, jika kamu tidak ingin menyesal." Tika berteriak kuat.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1