
Tamparan bekali-kali menghantam wajah Rindi, Tika dan Shin meluapkan kegagalan saat pengejaran di markas. Citra hanya bisa memalingkan wajahnya melihat Putrinya menuruni kekerasan Aliya.
"Katakan, siapa pemimpin lambang ini?" Shin menunjukkan lambang.
"Tidak tahu, aku tidak tahu. Sekalipun kalian membunuhku, tidak akan ada jawabannya." Mata Rindi masih menatap tajam.
Tangan Tika mencekik kuat, berbisik ke telinga Rindi jika orang yang memiliki lambang sedang mengincar keselamatan Genta. Bahkan melakukan teror secara langsung ke tempat tinggal Genta.
Kedua tangan Rindi menggenggam erat, menatap Tika sangat tajam yang melepaskan cengkraman. Berurusan dengan Rindi yang tidak takut dengan kematian, tidak bisa dengan kekerasan.
Otaknya sudah tidak jalan lagi, karena apa yang menjadi obsesinya itulah yang paling benar, tidak akan berhenti sebelum mendapatkannya.
Rasa khawatirnya takut kehilangan Genta, Rindi akan mengatakan apapun yang ingin Shin dan Tika ketahui asalkan dia bisa bertemu Genta.
"Kamu mengenal aku sejak bayi?" Shin duduk santai di depan Rindi yang sudah dilepaskan, bahkan tidak merasakan sakit ditubuhnya.
"Iya, aku tahu kamu. Kita bertemu saat kamu bayi, Mami yang membawa kamu kepada Papi." Senyuman Rindi terlihat mengejek Shin yang menyedihkan.
"Kenapa Mami dan Papi kamu menculik aku?"
Rindi menggelengkan kepalanya, dia hanya melihat seorang Dokter membawa Shin ke istana untuk dijadikan budak, dan merasakan penderitaan paling dalam.
"Aku pergi, kamu datang."
"Siapa Dokter itu?" Tika menatap Rindi yang mengangkat kedua bahunya.
Rindi tidak perduli dengan dokter yang menculik Shin, dan apapun alasannya. Dia hanya tahu Shin dibawa ke rumah yang sebenarnya sebuah penjara bawah tanah.
Dokter yang membawa Shin, menggunakan gelang berlambang sebenarnya jika diperhatikan lebih detail, gelang yang digunakan sebenarnya menutupi sebuah tato kecil berwarna merah.
"Apa hubungan kamu dan Irish?"
"Tidak ada, dia hanya tangan kanan Melly. Mereka bekerja untuk semakin kaya. Irish sangat menyukai uang, sedangkan Melly sangat suka menghacurkan kebahagiaan orang. Termasuk rumah tangga seorang polisi dan dosen. Mereka menyedihkan." Tawa Rindi terdengar, menunjuk ke arah Citra yang dulunya cantik dan seksi sekarang berubah menjadi tua.
Senyuman Citra terlihat, melangkah mendekati Rindi yang kejiwaannya terganggu sejak kecil, bahkan saat Maminya meninggal dia tertawa bahagia.
__ADS_1
Citra mengagumi Papinya Rindi yang sangat mencintainya sampai akhir hidupnya, tidak pernah menyerah untuk menyembuhkan Rindi meksipun hasilnya belum terlihat.
Rindi terjun ke dunia kejahatan, melakukan hal berbahaya tanpa tahu rasa sakitnya. Pukulan bertubi-tubi tidak Rindi rasakan, dia mengalami kelainan sejak lahir.
"Bagaimana keadaan kamu setelah Papi kamu pergi?" Citra mengobati luka di wajah Rindi karena ulah Shin dan Tika.
"Papi pergi bekerja, nanti dia pulang. Melly meminta aku menurut sampai Papi pulang." Tawa Rindi terdengar mengejek Citra tua.
"Kenapa dulu Melly menghancurkan rumah tanggaku?" nada bicara Citra sangat lembut, mengenal sekilas Rindi yang memiliki ingatan kuat.
Rindi menyentuh wajah Citra, suami Citra pria yang sangat sulit bekerja sama, dia selalu melawan kejahatan sampai Melly kehabisan jalan keluar.
Menghancurkan rumah tangganya, kemungkinan akan mengubah prinsip Altha, tapi Melly salah besar. Citra bukan lawan yang imbang karena bisa dengan mudah mengkhianati pernikahannya.
Altha bukannya hancur, tapi semakin kuat sampai mendapatkan Istri psikopat, istri Alt berhasil mengalahkan suami Melly hingga meregang nyawa, anaknya juga sama tragis nasibnya.
"Melly merasa takut melawan Aliya?"
"Iya, dia takut dengan Al dan Alin. Mereka saudara kembar, tapi sama-sama gila dan suka membunuh." Rindi sampai merinding ketakutan.
Citra menarik napas panjang, meminta bantuan Rindi untuk menangkap Melly agar mempertanggungjawabkan perbuatannya. Awalnya Citra tidak peduli dengan kemunculan Melly karena dia tidak bisa mendekati keluarga Altha.
Melihat Putrinya mencari kebenaran, hati Citra tergerak ingin Melly bertanggung jawab juga sama seperti Citra yang mendekam di penjara cukup lama.
"Kamu tahu aku hampir membunuh anak-anakku, dan ini penyesalan terbesar dalam hidupku." Air mata Citra menetes, meminta bantuan Rindi memahami perasaannya.
"Aku tahu, kamu bekerja untuk Melly tanpa hati nurani. Dua anak kamu dibakar, dan satu meninggalkan kecelakaan. Aku melihat daftar rencana Melly, tapi dua anak kamu masih hidup karena Al." Rindi mengambil ballpoint menggambarkan lokasi kecelakaan Amora hingga tewas.
Hati Tika langsung hancur saat melihat setiap sisi sudah direncanakan, kematian suami Citra juga sudah ditargetkan jam dan waktunya. Melly mengirim banyak pembunuh bayaran, tapi rencananya gagal dan berubah haluan saat kedatangan Alina sehingga mengambil kesempatan untuk menjebak Alin.
"Kamu tidak tahu, jika sebenarnya pria ini sudah meminum obat penghenti detak jantung, kecelakaan hanya alasan saja." Tawa Rindi terdengar menunjukkan detail lokasi.
"Aku tidak tahu semua ini, Melly membunuh Putriku bahkan Roby yang tidak tahu apapun menjadi korbannya." Citra menangis melihat posisi Mora.
Tangan Tika mengepal erat, hidupnya tidak akan bahagia jika tidak menangkap langsung Melly dengan kedua tangannya. Tika tidak terima atas kepergian Adiknya.
__ADS_1
"Bantu aku menangkap Melly, jika tidak kamu akan kehilangan Genta selamanya." Tika mengusap air matanya.
"Oke, aku akan membantu setelah menikah dengan suamiku."
Shin menatap Tika tajam, bisa kejang-kejang Genta jika dipertemukan dengan Rindi. Bagi Genta, Rindi wanita yang sangat menakutkan dan sekarang menjadi taruhan Genta.
"Aku ingin bertemu dengan suamiku."
"Nanti, setelah kita menangkap Melly."
Kepala Rindi menggeleng, dia tidak akan bergerak jika tidak bertemu dengan Genta. Tujuan Rindi hanya bisa bersama suaminya, apapun masalah Tika dan Melly bukan urusan dirinya.
Suara perdebatan Tika dan Rindi terdengar, Citra menggenggam tangan Rindi agar tenang dan tidak membahas Genta yang masih sibuk bekerja. Citra menawarkan makan untuk Rindi yang langsung menerimanya.
"Tik, gila Kak Genta bertemu Rindi." Shin menarik lengan Tika.
"Aku harus bagaimana? Om tua hanya harus berkorban sedikit." Tika juga kesal jika membayangkan Rindi mencium Genta.
Suara Rindi tertawa terdengar, melihat foto Juna yang sangat tampan. Shin langsung melotot ingin melempar Rindi ke neraka.
"Dia tampan sekali, Rindi suka dia." Foto Juna dipeluk, dicium berkali-kali.
Tika lompat kesenangan, langsung sujud syukur karena secepat kilat Rindi mencintai Kakaknya. Genta langsung dilupakan, membuat Shin menatap gelap karena nasib suaminya dalam bahaya.
"Shin, Kak Juna bisa mengurus dia. Akhirnya Genta selamat."
"Iya, aku akan membunuhnya. Liana juga belum pergi, sekarang ada wanita gila." Shin meremas rambutnya berteriak kesal.
Tatapan Rindi langsung tajam, mendekati Shin meminta menyebut ulang nama yang disebutnya. Shin mengerutkan keningnya kebingungan.
"Li ... Liana, Dokter Liana." Shin memperjelas ucapannya.
"Dia Putri wanita yang menculik kamu, namanya Liana Putrinya Dokter Lian." Rindi membisikkan kepada Shin yang langsung melangkah mundur.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira